Wednesday, 3 October 2012

Adaptasi Masyarakat Menghadapi Perubahan Iklim dalam Ketersediaan Air Minum

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Yudha P. Heston, ST. MT*); Dessy Febrianty, S.Sos *)

*) Peneliti Balai Litbang Sosial Ekonomi Lingkungan Bidang Permukiman,
Pusat Litbang Sosial Ekonomi Lingkungan, Kementerian Pekerjaan Umum
Jl. Adisucipto No. 165 Yogyakarta
yudha.ph@pu.go.id, dshe_antrop@yahoo.com   

Abstract
The Climate Change is the change of physical earth atmosphere condition in example temperature and distribution of rainfall that caused wide impact to human life in various conditions. The Climate Change’s events also able to increase the water crisis, that caused by the length of dry season on the region that has less water characterize. The impact on water area, that influenced by Climate Change, can affect the human social life. The concentration of human habitat in urban area has level of increase in several previous years. City as the center of human activities has become a vulnerable place caused by climate change.  The research formulation of problem is suit for this background, how is the precise strategy for the community of society in every situation, how they adapt on the climate change especially about their need of water supply.
Research has been conducted to find the strategy of adaptation related to community readiness of climate change and water supply. The study was conducted with qualitative – quantitative approach. Analysis of the data using thematic analysis method, namely the inductive data analysis based on a bunch of data collected, and then processed using the principles of inductive reasoning, resulting theory is composed of a hypothetical assumptions and then checked with the data. Quantitative analysis followed by a statistical analysis of descriptive, inferential and valuation adaptation.
The analysis showed adaptation efforts in the availability of water in autonomous been done in context, content, attributes and adaptation process. Areas with a history of a lack of water (such as Kupang and Gunungkidul) has institutional and community preparedness are better than areas with a history of a lot of water. However, they requires more effort to adapt. Measurement of adaptation can be done with qualitative data: Infrastructure and operations areas, and commercial businesses as well as housing and health of the general population as well with qualitative data: the readiness of individuals, communities and institutions.
Key word: Adaptation, Climate, Strategy

Abstraksi
Perubahan iklim yaitu berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi antara lain suhu dan distribusi curah hujan yang membawa dampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan manusia Peristiwa perubahan iklim dapat juga meningkatkan krisis air, yang disebabkan panjangnya musim kemarau pada daerah dengan karakter sedikit air. Dampak pada sektor air, yang dipengaruhi perubahan iklim dapat mempengaruhi kehidupan sosial manusia. Konsentrasi habitat manusia di wilayah perkotaan menunjukkan kenaikan pada beberapa tahun belakangan ini. Kota sebagai pusat aktivitas manusia, menjadi suatu wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Rumusan masalah penelitian sesuai dengan latar belakang adalah, bagaimana strategi yang dapat dilakukan komunitas masyarakat dari berbagai kondisi, dalam beradaptasi menghadapi perubahan iklim dalam ketersediaan air minum?
Penelitian dilakukan untuk menemukan upaya adaptasi terkait kesiapan masyarakat, dalam beradaptasi menghadapi perubahan iklim dalam ketersediaan air bersih. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif - kuantitatif. Analisis data menggunakan metode analisis tematik, yaitu analisis data secara induktif yang didasarkan pada sekelompok data terkumpul, kemudian diolah mempergunakan prinsip-prinsip penalaran induktif, sehingga menghasilkan teori yang tersusun dari asumsi menjadi hipotesis untuk kemudian diperiksa dengan data. Analisis kuantitatif dilanjutkan dengan analisis statistik deskriptif, inferensial dan valuasi adaptasi.
Hasil analisis menunjukkan Upaya adaptasi dalam ketersediaan air secara autonomous telah dilakukan sesuai konteks, konten, atribut dan proses adaptasi. Daerah dengan riwayat kekurangan air (seperti Kupang dan Gunungkidul) memiliki kesiapan komunitas dan kelembagaan yang lebih baik daripada daerah dengan riwayat banyak air namun, memerlukan upaya lebih dalam beradaptasi. Pengukuran adaptasi dapat dilakukan dengan data kualitatif:  Infrastruktur wilayah dan operasinya, bisnis dan komersial serta kesehatan permukiman dan populasi umum juga dengan data kualitatif : kesiapan individu, komunitas dan lembaga.
Kata Kunci: Adaptasi, Iklim, Strategi

        I.            Pendahuluan
Perubahan iklim berdasarkan definisi dari Kementerian Lingkungan Hidup adalah berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi antara lain suhu dan distribusi curah hujan yang membawa dampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan manusia (Kementerian Lingkungan Hidup, 2001 dalam http://iklim.dirgantara-lapan.or.id). Perubahan kondisi fisik terkait suhu dan distribusi curah hujan ditandai dengan beberapa karakteristik global terkait dengan meningkatnya pemanasan suhu permukaan global terutama di daratan; kenaikan konsentrasi karbondioksida di atmosfer sampai menjadi 379 ppm (tahun 2005); peningkatan sekaligus pengurangan presipitasi di satu daerah dan daerah lain dengan perbandingan yang tajam; kenaikan muka laut dengan rata-rata global 0,17 meter; pengurangan tutupan salju rata-rata sampai 7% di kutub utara; gletser yang mencair dan menghangatnya suhu di benua Arktik.
      Akibat perubahan iklim yang terkait dengan kehidupan manusia, yaitu adanya kenaikan suhu sampai 3°C selama seratus tahun terakhir berpengaruh kepada ekosistem penyedia makanan dan air, bertambahnya presipitasi di daerah lintang tinggi dan pengurangan presipitasi di daerah subtropis (lihat gambar 1), kenaikan muka air laut akibat meluasnya lautan dan melelehnya gletser. Penebalan gas rumah kaca akibat konsentrasi karbon yang ada di atmosfer merupakan akibat dari kegiatan ekonomi global seperti eksploitasi kayu di hutan, pembuangan limbah, pembakaran batu bara, minyak dan gas bumi serta peningkatan kadar CFC (Klor, Fluor dan Carbon) yang dihasilkan pendingin ruangan dan lemari pendingin.
















Gambar 1. Perubahan Presipitasi Daerah Lintang Tinggi dan Tropis
Sumber: http://climate4development.worldbank.org/ diunduh 10 Juli 2012
Perubahan iklim memberi dampak juga terhadap air, yaitu mempercepat siklus hidrologi akibat pemanasan. Peningkatan suhu atmosfer menyebabkan bertambahnya simpanan air, yang meningkatkan potensi presipitasi berbentuk hujan lebat. Kenaikan suhu dapat mempercepat proses penguapan atau evaporasi, hal ini dapat mengurangi jumlah dan kualitas air bersih. Perubahan kondisi global juga mempengaruhi penyebaran nyamuk malaria dan penyakit lain. Penggunaan air bawah tanah tanpa kendali, menurunkan debit air tanah yang dapat menyebabkan percepatan intrusi air laut ke darat (lihat gambar2). Hal ini dapat menurunkan atau merembeskan tanah ke bawah, jika tidak ditangani akan menyebabkan tenggelamnya tanah ke laut.






Gambar 2. Intrusi Air Laut
Peristiwa perubahan iklim dapat juga meningkatkan krisis air, yang disebabkan panjangnya musim kemarau pada daerah dengan karakter sedikit air. Krisis air ini dipicu oleh pergantian musim yang tidak stabil. Ancaman lain di daerah subtropis dan tropis yang kering adalah prediksi kekurangan air sampai 10-30% yang dapat menyebabkan bencana kekeringan. Dampak pada sektor air, yang dipengaruhi perubahan iklim dapat mempengaruhi kehidupan sosial manusia. Pola keterpengaruhan perubahan iklim, dari penyebabnya sampai kembali kepada kehidupan manusia dapat dijelaskan dengan sederhana melalui bagan 1.


Bagan 1. Perubahan iklim dan kehidupan sosial
Aktivitas ekonomi
à








Konsumsi energi
à








Emisi Gas Rumah Kaca
à







Konsentrasi kumulatif GRK
à







Kenaikan suhu global            à







Perubahan iklim
à








Dampak pada habitat manusia (air dll) à








Kehidupan sosial

















Konsentrasi habitat manusia di wilayah perkotaan menunjukkan kenaikan pada beberapa tahun belakangan ini. Kota sebagai pusat aktivitas manusia, menjadi suatu wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Penduduk Indonesia 52,03 persennya tinggal di perkotaan, diperkirakan meningkat menjadi kurang lebih 68 persen pada tahun 2025 (gambar 3).
34.95
65.05
39.61
43.95
47.97
51.7
56.01
64.09
69.1
77.73
82.6
60.39
56.05
52.03
48.3
43.99
35.91
30.9
17.4
22.27
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
1970
1980
1990
1995
2002
2005
2010
2015
2020
2025
Perdesaan
Perkotaan
Grafik 1. Perbandingan Penduduk Kota dan Desa
Sumber :Bappenas (2005), Pustra Kementerian PU (2008), diolah dengan asumsi growth 1.5 persen/thn
dalam RPJMN Buku II Bab 8.

Pada wilayah perkotaan, perlu untuk diperhatikan keberadaan komunitas yang dikategorikan sebagai masyarakat miskin. Masyarakat miskin merupakan kelompok rentan terhadap dampak dari perubahan iklim. Kelompok ini sulit untuk melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim, dikarenakan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Konsentrasi penduduk miskin, banyak ditemui di daerah pusat kota, terutama di lingkungan yang kurang tertata atau kumuh.
Kementerian Pekerjaan Umum, sebagai institusi teknis yang berkaitan dengan pengembangan wilayah memiliki tanggung jawab dalam upaya mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim. Tanggung jawab tersebut diterjemahkan dalam penyusunan kebijakan terkait penataan ruang, transportasi, permukiman dan sumber daya air. Kebijakan sektor permukiman dijabarkan lebih lanjut pada Direktorat Jenderal Cipta Karya dan Badan Penelitian dan Pengembangan (Bagan 2).
 Bagan 2. Keterlibatan dalam Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Permukiman
No
Sektor
Keterlibatan Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim
1
Cipta Karya
Pelayanan prasarana dan sarana permukiman pada kawasan perkotaan dan perdesaan yang bertujuan untuk mengurangi kerentanan terhadap risiko banjir/ genangan serta krisis air bersih dan sanitasi.
2
Puslitbang Permukiman
Model permukiman berbasis Eco-settlements untuk hulu DAS. Model Perencanaan Perumahan Perkotaan Rendah Emisi CO2. Teknologi Rumah Terapung untuk Kawasan Banjir, peringkat Green Building
3
Puslitbang Sosekling
Melakukan kajian MAPI pada aspek sosial ekonomi dan lingkungan. Mendukung grand strategy / RAN MAPI PU melalui rekomendasi mitigasi/adaptasi berbasis sosekling
Diolah dari Berbagai Sumber
Latar belakang dari pemanasan global sehingga muncul perubahan iklim dan pengaruhnya dalam ketersediaan air minum, disertai dengan semakin bertambahnya konsentrasi manusia di kota dengan daya dukungnya yang terbatas. Rumusan masalah penelitian sesuai dengan latar belakang adalah, bagaimana strategi yang telah dan dapat dilakukan masyarakat (didukung pemerintah dan dunia usaha), dalam beradaptasi menghadapi perubahan iklim dalam ketersediaan air minum?

     II.            Landasan Teori
A.      Adaptasi Perubahan Iklim
Hasil penelitian dari United Nations Human Settlements Programme (UN-Habitat) yang didokumentasikan dalam laporan The State of Asian Cities, melihat titik tolak adaptasi perubahan iklim dari tiga faktor utama yaitu: analisis dampak, tingkat kerentanan, dan kapasitas adaptasi.  Keterkaitan pemicu perubahan iklim dari dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan dan dampaknya, terdapat dalam bagan 3.

 Bagan 3. Dimensi dan Dampak Sosial, Ekonomi dan Lingkungan dalam Perubahan Iklim
Aspek
Lingkungan
Ekonomi
Sosial
Dimensi dari Perubahan Iklim
Perubahan tata guna lahan: perambahan, pemotongan dan pembakaran hutan, pengelolaan sampah padat, awan kelabu pada atmosfer.
Urban sprawl: peningkatan jumlah penggunaan kendaraan bermotor roda 2, kemacetan, pemeliharaan kendaraan.
Ekonomi “carbon: ketergantungan pada bahan bakar “fosil”, kurang memadainya investasi pada bahan bakar yang dapat diperbarui.
Infrastruktur: perencanaan yang buruk, menyebabkan konsumsi kota yang buruk – kebutuhan besar akan lahan dan sumberdaya alam.
Globalisasi: pola konsumsi antar wilayah yang menyebabkan transportasi barang penghasil limbah kimia. 
Konsumsi dinamis perkapita di antara negara berkembang. Pola konsumsi bergerak dengan korelasi positif sesuai peningkatan kesejahteraan  dipandang dari konsumsi kota secara keseluruhan.
Dampak
Peningkatan suhu: penyusutan air tanah, kekurangan air, kekeringan, degradasi kualitas udara, efek pemanasan pulau.
Peningkatan presipitasi: peningkatan banjir, peningkatan resiko tanah longsor atau lumpur longsor pada lereng yang berbahaya.
Peningkatan muka air laut: banjir di pesisir, intrusi air laut ke cadangan air tanah, peningkatan gelombang badai, peningkatan.
Peristiwa cuaca ekstrim: peningkatan intensitas banjir, peningkatan resiko tanah longsor.
Kehilangan kekayaan biotik.
Penipisan sumber daya alam yang esensial.
Kerusakan infrastruktur: pemadaman listrik, kerentanaan infrastruktur.
Keengganan investasi asing berkaitan dengan resiko lingkungan
Produksi yang tidak efisien.
Kesehatan ekologis tempat bermukim dan ketidakproporsional dampak kehidupan masyrakat berpenghasilan rendah: relokasi, kehilangan tempat dan lahan, kehilangan penghidupan, ketidakamanan makanan. Ketidakproporsional dampak terkait nutrisi, penyediaan air dan energi, memburuknya ketidakadilan berbasis gender terkait hak perumahan, sumberdaya, akses ke informasi.
Ketidakproporsionalan dampak pada orang tua dan remaja: kekurangmampuan untuk menghindari dampak langsung atau tidak langsung dari perubahan iklim, ketidak mampuan untuk mengatasi cidera dan sakit
Sumber: Sustainable Urbanization in Asia: A Sourcebook for Local Governments
Copyright © United Nations Human Settlements Programme, 2012

Tindakan adaptasi juga perlu memasukkan aspek kebutuhan finansial sebagai evaluasi sosial, ekonomi dan lingkungan dari keputusan pilihan adaptasi. Perlu adanya upaya peningkatan kualitas infrastruktur perkotaan dalam mengantisipasi perubahan iklim. Infrastruktur perkotaan yang dimaksud, terutama terkait penyediaan air bersih dan sanitasi. Perencanaan jangka panjang untuk menghadapi perubahan iklim harus menjadi bagian penganggaran keuangan daerah. Upaya yang umum dilakukan, untuk mengurangi bencana banjir dan menanggulangi kekeringan, adalah dengan memaksimalkan penangkapan air hujan dan menambah cadangan air tanah. Pelaksanaannya dapat berupa membuat tampungan air hujan dan membuat lubang-lubang pada perkerasan tutupan lahan.
Rekomendasi strategi adaptasi dari lembaga World Bank (2009), lebih mengutamakan pada adaptasi berbasis ekosistem. Upaya seperti menghijaukan kembali hutan untuk mengurangi aliran arus air permukaan, merehabilitasi situ dan daerah tangkapan air untuk mengurangi banjir, melakukan pengelolaan daerah pesisir, seperti penanaman kembali mangrove dan rehabilitasi karang. Upaya penghijauan lainnya dapat dilakukan pada setiap tempat mungkin, misalnya pada atap bangunan termasuk budidaya tanaman di perkotaan.
Upaya penanganan dalam skala yang lebih kecil terkait dengan lingkungan permukiman. Revitalisasi yang permukiman membutuhkan biaya mahal, dapat diatasi dengan melakukan peningkatan kualitas bangunan yang membutuhkan biaya lebih sedikit. Peningkatan kesiagaan bencana menjadi ukuran penting adaptasi perubahan iklim terutama di kota tepian air. Penyediaan peringatan dini berbasis komunitas dan sistem respon untuk koordinasi yang lebih baik, serta kemampuan instatansi terkait untuk melayani kebutuhan spesifik dari masyarakat. Peningkatan kapasitas adaptasi dapat dilakukan di antara pemangku kepentingan, yaitu pada  komunitas MBR perkotaan, pemerintah lokal dan pusat, organisasi non pemerintah atau lembaga swadaya pemerintah.
Ukuran adaptasi terkait dampak perubahan iklim dapat dibagi menjadi tiga ukuran yaitu infrastrukur wilayah, dunia usaha dan populasi warga. Peran adaptasi dan dampak perubahan iklim ada pada bagan 4.




Bagan 4. Dampak Perubahan Iklim dan Ukuran Adaptasi
Dampak Perubahan Iklim
Ukuran adaptasi
Infrastruktur wilayah dan operasinya
Bisnis dan komersial
Kesehatan permukiman dan populasi umum
Kode (analisis)
R
F
B
Kenaikan suhu rata-rata jangka panjang sampai 3°C
·     Perencanaan kota
·     Penanaman pohon
·     Konservasi air
·     Kontrol hama dan serangga
·     Aksi untuk mengurangi pemanasan termasuk perencanaan bangunan dan ruang hijau
·     Ruang isolasi yang baik
·     Perencanaan pendingin yang lebih baik
·     Kontrol hama dan serangga
·     Konservasi air
Kuantitas dan kualitas air permukaan dan dalam tanah
·     Pembatasan penggunaan air
·     Optimalisasi pelepasan dari tampungan air
·     Penambahan kapasitas penyimpanan
·     Penegakan aturan dalam pengambilan air permukaan dan air tanah
·     Efisiensi air dan program konservasi
·     Harga air
·     Pengelolaan irigasi
·     Efisiensi air dan program konservasi
Kenaikan muka air laut
·     Perencanaan tata guna lahan
·     Konstruksi dan peningkatan tanggul
·     Pembuatan tampungan air
·     Perlindungan daerah pesisir
·     Pengunduran bertahap bibir pantai
·     Modifikasi operasi pelabuhan
·     Perencanaan tata guna lahan
·     Proteksi ekosistem
Kejadian terkait cuaca ekstrim (badai, hujan berkepanjangan, banjir, kekeringan)
·     Rencana tanggap bencana
·     Konstruksi dan peningkatan tanggul
·     Ketinggian bangunan
·     Perencanaan tata guna lahan
·     Peningkatan ketahanan dari jaringan listrik
·     Peningkatan komunikasi bencana
·     Rencana persiapan tanggap darurat
·     Bangunan tahan banjir
·     Ketinggian dari bangunan
·     Rencana persiapan tanggap darurat
·     Rumah tahan banjir
·     Asuransi banjir yang disponsori publik
·     Perubahan kebiasaan tanggap bencana
Peningkatan frekuensi dan intensitas hujan lebat yang singkat
·     Peningkatan ukuran tangkapan badai
·     Peningkatan kapasitas penyerapan air dari lanskap kota
·     Peningkatan kapasitas penyerapan air dari wilayah lahan tertutup perkerasan
·     Perlindungan berupa selokan badai
·     Rancangan bentang lahan untuk mengurangi aliran cepat
Peningkatan frekuensi dan intensitas dari gelombang panas, kekeringan, dan asap
·     Penggunaan pengatur udara
·     Perencanaan kemungkinan panas
·     Pengurangan lalu lintas kota
·     Penanaman tanaman
·     Penggunaan pengatur udara
·     Penjadwalan proteksi ketika dibutuhkan
·     Penggunaan pengatur udara
·     Pendidikan masyarakat pada terkait kebiasaan dan budaya

Strategi adaptasi perubahan iklim terkait ketersediaan air minum (Nickson, 2010 dalam UN Habitat, 2011) bertujuan untuk menyeimbangkan ketersediaan dengan kebutuhan akan air. Strategi ini dilakukan dengan (a) mengurangi kehilangan air, (b) mengurangi penggunaan dengan menambah efisiensi penggunaan air di permukiman dan dunia usaha, (c) penggunaan air ulang konsumsi selain untuk minum dan (d) mengembangkan sumber baru termasuk pilihan sumber yang mempunyai dampak lingkungan terkecil. 

B.      Kapasitas Adaptasi
Penelitian Daniel Holt terkait kapasitas adaptasi/ adaptif (Holt,2007), merupakan penilitian yang bertujuan untuk memberikan pertimbangan kepada pengambil kebijakan terkait dengan identifikasi kesenjangan antara keyakinan pimpinan terkait kesiapan dan keyakinan anggota organisasi. Penelitian ini mendapatkan kesimpulan bahwa komitmen adaptif secara normatif memiliki hasil positif terkait dengan context/ konteks, content/konten, atribut individu, dan variabel proses.
Pengukuran konteks diperlukan untuk mengukur penerimaan dari dukungan organisasi. Contoh dari konteks adalah pernyataan, keberadaan pengembangan kinerja yang mendorong peningkatan performa pekerjaan pegawai. Termasuk di dalamnya iklim komunikasi organisasi. Pengukuran konten terkait dengan ketepatan dari inisiatif kesiapan organisasi. Pengukuran atribut individual terkait dengan dampak positif dan negatif, terutama terkait dengan antusiasme, keaktifan dan kewaspadaan. Atribut individu juga memasukkan sifat inovatif yang dimiliki anggota organisasi. Variabel proses terkait dengan dukungan manajemen, terkait kepemimpinan dan komitmen manajemen untuk melakukan implementasi. Dalam proses dilihat juga partisipasi dan kualitas informasi yang ada pada organisasi.

   III.            Metodologi
A.      Pendekatan Penelitian
Penelitian dilakukan untuk menemukan strategi adaptasi terkait kesiapan masyarakat, dalam beradaptasi menghadapi perubahan iklim dalam ketersediaan air bersih. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif - kuantitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan agar informasi dapat digali sebanyak mungkin dari fenomena dengan lebih mendalam dan terperinci. Studi kasus adalah penelitian pada suatu fenomena khusus yang hadir dalam suatu konteks yang terbatasi (bounded context), meskipun batas-batas antara fenomena dan konteks tidak jelas sepenuhnya. Dengan menggunakan studi kasus, peneliti mendapatkan pemahaman yang utuh dan terintegrasi tentang hubungan antar berbagai macam fakta dan dimensi dari kasus yang ada.
Pengumpulan data didapat dari dua sumber data yaitu primer dan sekunder. Data primer didapat dari wawancara ke sekelompok orang yang dianggap memiliki kompetensi untuk memberikan gambaran akan masalah yang perlu dipecahkan. Data sekunder didapat dari data literatur, baik dari instansi maupun penulusuran website.
Analisis data menggunakan metode analisis tematik, yaitu analisis data secara induktif yang didasarkan pada sekelompok data terkumpul, kemudian diolah mempergunakan prinsip-prinsip penalaran induktif, sehingga menghasilkan teori yang tersusun dari asumsi menjadi hipotesis untuk kemudian diperiksa dengan data.
Analisis dilanjutkan dengan menggunakan teknik statistik deskriptif, korelasi dan regresi. Analisis ini dilakukan terhadap variabel kesiapan individu, kelompok dan lembaga. Setelah ditemukan ukuran dalam variabel tersebut, analisis selanjutnya dilakukan dengan menggunakan metode valuasi, untuk mendapatkan gambaran kebutuhan biaya dan manfaat dari adaptasi yang dilakukan. Alir penelitian mulai dari latar belakang sampai dengan disusunnya strategi terdapat dalam bagan 5.

Bagan 5. Alir Penelitian

Analisis Tematik

Menggali Informasi

Definisi Operasional KUALITATIF 
(Studi Kasus)
Primer
Sekunder
Tahap 1: mengidentifikasi teori kesiapan dengan catatan lapangan
Tahap 2:
memberikan codding pada topik-topik pembicaran penting
Tahap 3: melakukan verifikasi
Tahap 4:
membaca kepustakaan yang terkait dengan masalah dan konteks penelitian

Valuasi adaptasi

Merumuskan upaya kesiapan adaptasi masyarakat menghadapi perubahan iklim  

Studi Pustaka Penetuan Tingkat Kesiapan Masyarakat
Latar belakang
Analisis Kuantitatif

Univariat àstatistik deskriptif
Bivariat à korelasi dan regresi
Multivariat à regresi linier
Faktor yang Mempengaruhi tingkat Kesiapan Adaptasi Masyarakat menghadapi Perubahan Ketersediaan Sumber Air Minum

Individu/ keluarga
Komunitas
Lembaga
 


































B.      Populasi dan Sampel
Populasi penelitian dibagi dalam dua kategori yaitu populasi kualitatif yang terdiri dari pihak pemangku kepentingan terkait penyediaan air minum di lokasi penelitian (PU, Bappeda, Kecamatan, Kelurahan) dan kategori kuantitatif yang terdiri dari pengurus RT, RW dan pengurus KSM (untuk variabel analisis kesiapan komunitas, lembaga dan valuasi), serta masyarakat (variabel analisis kesiapan keluarga dan valuasi).
Sampel penelitian kuantitatif dihitung dengan menggunakan rumus
...........(1)


Keterangan:
(a.)     P = Proporsi keadaan yang akan dicari: keterlibatan sosial ekonomi masyarakat 76,3% terhadap peran serta masyarakat dalam pengelolaan sumber air (Syahrani, dkk 2004)
(b.)     d = Tingkat ketepatan absolute yang dikehendaki (0,07)
(c.)     α = Tingkat kemaknaan (0,05)
(d.)     Q = (1-P), jadi bila P = 1-0,763 = 0,23
Berdasarkan ketetapan di atas, maka besar sampel dalam penelitian ini adalah:  30 tokoh masyarakat dan 142 KK/ lokasi penelitian.

C.       Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini berada pada unit kelurahan yang terletak di 3 Kecamatan pada 3 Kota/Kabupaten yaitu: Kelurahan Wareng, Mulo dan Karangrejek, Kecamatan Wonosari Kabupaten Gunung Kidul Provinsi DIY, Kelurahan Oesapa, Oesapa Barat dan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima Kupang Provinsi NTT mewakili kondisi daerah dengan riwayat kekurangan air bersih, dan Kelurahan 3-4 Ulu, 5 Ulu dan 15 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan dengan riwayat daerah yang berkelimpahan air.

   IV.            Gambaran Umum
Gambaran umum wilayah penelitian di Palembang, Kupang dan Gunung Kidul adalah sebagai sebagai berikut: Kota Palembang merupakan ibukota provinsi Sumatera Selatan dan sekaligus sebagai kota terbesar serta pusat kegiatan sosial ekonomi di wilayah Sumatera Selatan. Luas wilayah Kota Palembang adalah sebesar 400,61 km2  atau 40.061 Ha. Dari segi hidrologi, di Kota Palembang terdapat 4 sungai besar, yaitu Sungai Musi, Sungai Komering, Sungai Ogan dan Sungai Keramasan. Selain sungai tersebut, terdapat sungai besar lainnya yaitu Sungai Komering, Sungai Ogan, dan Sungai Keramasan yang terletak di Seberang Ulu. Kebutuhan air bersih bagi warga Kota Palembang tidak dapat dipisahkan dari PDAM Tirta Musi dan sebagian memanfaatkan air permukaan seperti air sungai, kolam/rawa. Sumber air baku PDAM Tirta Musi berasal dari air permukaan, yaitu Sungai Musi dan Sungai Ogan. Dalam kurun waktu % tahun terakhir terdapat peningkatan pelanggan PDAM Tirta Musi sebesar 34,82% dimana jumlah penduduk Kota palembang yang terlayani air bersih meningkat dari 43,18% (2003) menjadi ± 80% (2009) yaitu sebanyak 1.073.267 jiwa, dengan target pelayanan pada tahun 2012 ini diharapkan mampu melayani 95% penduduk Kota Palembang.
Kota Kupang merupakan salah satu Kabupaten di propinsi Nusa Tenggara timur yang terletak dibagian tenggara. Secara geografis Kota Kupang terletak antara 100 36’ 14” - 100 39’ 58” Lintang Selatan, 1230 32’ 23” - 1230 37’ 01” Bujur Timur. Kota Kupang yang memiliki luas 165,3 Km2 terdiri dari 6 Kecamatan. Secara geologis wilayah ini terdiri dari pembentukan tanah dari bahan keras dan bahan non vulkanis. Bahan-bahan mediteran/rencina/liotsal terdapat di semua kecamatan. Kota Kupang memiliki luas wilayah sebesar 180,27 Km2 atau 18.027 Ha. Persentase rumah tangga di Kota Kupang pad atahun 2010 yang memiliki fasilitas air minum sendiri sebesar 49,98 persen. Selebihnya adalah milik bersama dan milik umum (Tabel 6). Rumah tangga yang menggunakan leding meteran sebagai sumber air minum merupakan kelompok yang paling banyak yaitu sebesar 42,24 persen. Sedangkan yang paling sedikit adalah rumah tangga dengan sumber air minum mata air tidak terlindung dan mata air terlindung yaitu sebesar 0,87 persen.
Tabel 6 Persentase Rumah Tangga Menurut Fasilitas Air Minum
Fasilitas Air Minum
Persentase
Sendiri
49,98
Bersama
45,93
Umum
3.84
Tidak ada
0,25
Jumlah
100,00
Sumber : Indikator Kesra Kota Kupang
Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu dari lima kabupaten/kota di Provinsi DIY, beribukota di Wonosari dan terletak 39 km sebelah tenggara Kota Yogyakarta. Terletak pada daerah perbukitan dan pegunungan, secara geografis terletak antara 110° 46‘ – 110° 50’ Bujur Timur dan 7° 46’- 8° 09’ Lintang Selatan. Lahan di Kabupaten Gunungkidul mempunyai tingkat kemiringan bervariasi, 18,19%  diantaranya merupakan daerah datar dengan tingkat kemiringan 0°-2°, sedangkan daerah dengan tingkat kemiringan antara 15°-40° sebesar 39,54% dan untuk kemiringan lebih dari lebih dari 40° sebesar 15,95%. Di Kabupaten Gunungkidul terdapat dua daerah aliran sungai (DAS) permukaan, yaitu DAS Opak-Oya dan DAS Dengkeng. Masing-masing DAS tersebut terdiri dari beberapa SubDAS yang berfungsi untuk mengairi areal pertanian. Selain itu juga terdapat DAS bawah permukaan, yaitu DAS Bribin. Air permukaan (sungai dan mata air) banyak dijumpai di Gunungkidul wilayah utara dan tengah. Di wilayah tengah beberapa tempat memiliki air tanah yang cukup dangkal dan dimanfaatkan untuk sumur ladang. Wilayah selatan Gunungkidul merupakan kawasan karst yang jarang ditemukan air permukaan. Di wilayah ini dijumpai sungai bawah tanah seperti Bribin, Ngobaran, dan Seropan, serta ditemukan telaga musiman yang multiguna bagi penduduk sekitar. Pemakaian air minum yang disalurkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Kabupaten Gunungkidul tahun 2010 sebanyak 7.390.218 meter kubik. Sebagian besar konsumen PDAM adalah rumah tangga yang tercatat mencapai 33.638 atau sekitar 93,67 persen dari seluruh pelanggan yang ada.
     V.            Hasil dan Pembahasan
A.      Data penelitian
Data kualitatif dari hasil penelitian yang dimasukkan ke dalam matrik, kemudian diberikan kode, dengan membandingkan antara variabel konteks, konten, atribut individu dan proses dengan lokasi serta ukuran adaptasi untuk dapat dijadikan sebagai indeks kualitatif.
Tabel 7. Kumulatif Data Penelitian
Variabel
Indikator
Gunungkidul
Palembang
Kupang
Konteks
Lembaga yang dapat menambah kemampuan, iklim komunikasi.
Sebagian warga hanya  mengandalkan bak penampungan air hujan (PAH), ada juga yang beli air melalui tanki. B
Jogjakarta Plaza Hotel (JPH) memberikan bantuan air bersih pada warga Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul, sebagai bentuk kepedulian terhadap masalah kekeringan.
15 tangki air bersih yang masing-masing berkapasitas 5.000 liter per tangki, disalurkan ke tiga desaF
Untuk menjernihkan air warga menggunakan taburan kaporit.
Agar air tersebut layak digunakan untuk mencuci dan mandi serta aktivitas lainnya mereka menambahkan tawas atau pemutih air selanjutnya disaring.
saat musim kemarau air rawa dan sungai pun kering sehingga mereka terpaksa membeli air. ketika musim hujan air untuk konsumsi (minum, masak) saja yang beli kepada tukang galon yang rutin datang ke perkampungan.
Musim kemarau yang melanda Palembang dua bulan terakhir, mengancam ketersediaan air bersih. B
warga berjalan kaki antara 1-2 kilometer untuk mengambil air bersih di sumur milik warga lainnya yang belum mengering.
di kelurahan tersebut masih ada delapan sumur yang memiliki air. Namun, debit air telah mencapai titik terendah sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga yang jumlahnya mencapai ribuan orang.
Kadang tidak ada air untuk mandi. Sementara untuk konsumsi rumah tangga, kami harus membeli air mineral setiap hari. B
Mendapatkan air lebih murah dari kelembagaan PAMASKARTA dibandingkan dengan PDAM
Menggunakan kesempatan arisan untuk membayar iuran air sesuai tagihan meteran yang sudah dicatat
B
Mengambil air sungai yang gratis walau kualitasnya kurang B

Memenuhi kebutuhan air bersih untuk rumah tangga, karena air PDAM tidak tetap keluarnya (1 minggu 1 kali) R
Alat pengolah air sebagai salah satu mas kawin B
Konten
Ketepatan dan keuntungan keberadaan lembaga, keuntungan individu, kemajuan atau kemunduran.
Permasalahan air di Gunungkidul masih belum berhenti. Beberapa tempat yang ada di Gunungkidul, bahkan harus mengalami tersendatnya aliran air melalui pipa perusahaan daerah air minum (PDAM) Tirta Handayani. R
Dua bulan pertama kemarau, warga Dusun Ploso, Purwosari, Gunung Kidul, Provinsi DI Yogyakarta, kembali mengantre untuk mendapatkan air bersih. B
Air dari sumber Gua Cerme yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer mengalir ke bak penampungan di permukiman mereka tiga hari sekali. R
Air sungai sudah makin keruh, terlebih saat musim air musi surut warga kesulitan mendapatkan air sungai, karena limbah dari rumah sakit. B
meskipun sudah diberi kaporit air tetap saja. kotor dan berwarna kuning coklat.
Kebocoran pipa PDAM karena marak pemasangan illegal dan kondisi pipa yang memang sudah tua. R
kadang-kadang air rawa langsung digunakan  untuk mandi, mencuci juga berwudhu tanpa diproses terlebih
dahulu terutama ketika musim hujan karena air tidak terlalu kotor.
B

Empat Kelurahan masih rawan kekurangan air bersih di Kota Kupang. B
Kecenderungan kekurangan air bersih terjadi karena topograpi daerah yang kountur tanahnya berbukit, kurangnya sumber air baku, serta jumlah penduduk semakin bertambah. R
Sudah lebih dari dua bulan, air juga tidak lagi mengalir lewat ledeng (PDAM). R
Warga yang selama ini menggunakan sumur bawah tanah sebagai sumber air bersih, mulai mengeluh setelah debit air menurun tajam, bahkan kering. B
Sumber air mengalami perpindahan setelah/ akibat gempa 27 Mei 2006. R
Sumber air alternatif dari truk tangki F
Sumber air untuk memenuhi kebutuhan dari sungai (Musi dan Ogan) R
Sumber air alternatif membeli air tangki dan air isi ulang F
Atribut Individu
Pengaruh, kemampuan, inovasi.
warga bisa membeli air bersih dari truk tangki. Namun, harganya cukup mahal, Rp 100.000 untuk ukuran 5.000 liter. Adapun air dari bak penampungan harganya Rp 50 per jeriken ukuran 20 liter dan Rp 100 untuk jeriken 30 liter. F
walau sudah memasuki musim penghujan, warga belum bisa menggunakan air hujan yang biasanya ditampung di bak penampungan. Air hujan baru siap dikonsumsi setelah 4 sampai 5 hujan pertama, sedangkan saat ini di daerah Tepus, dua hujan pertama turun satu minggu yang lalu, lalu berhenti. R

untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga terpaksa menggunakan air aliran sungai musi. R
Air rawa tersebut mereka sedot dengan menggunakan mesin pompa kemudian ditampung di bak atau drum penyimpan air. B
Akibat debit air di Sungai Musi yang terus menyusut, berdampak pada penurunan produksi air hingga 50 persen. R
warga diimbau untuk menghemat penggunaan air. B
Warga lainnya membeli air seharga dengan harga bervariasi antara Rp50.000-Rp60.000 per 5.000 liter. Air ditampung dalam bak penampung yang sudah disiapkan masing-masing keluarga. F
pada puncak kemarau di Oktober seluruh sumur air minum mengering, pengambilan air sumur dibatasi yakni pada pagi dan sore. B
sebagian warga terpaksa mengkonsumsi air berkapur, atau membeli air seharga Rp125.000-Rp200.000 per tangki. F
Di wilayah Alak, hanya terdapat satu sumur umum. Harus antri sampai dini hari baru bisa mengambil air. B
Kondisi itu memaksa sebagian warga mendatangi sumber air di kota tersebut untuk mengambil air demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, antar lain minum, memasak, mandi, dan mencuci. Sumber air yang biasanya didatangi warga ialah Oepura, Airnona, Dendeng, dan Tarus. B
Saat musim kemarau air sangat sulit didapat. Harga air sebesar anak sapi (sama berharganya) F

Penyediaan air bukan merupakan permasalahan B
Air sebagai emas F
Air sebagai benda mulai, diperlambangkan sebagai sesuatu yang ilahi. B
Datangya hujan yang mengiringi kedatangan orang, sebagai membawa berkat. B
Proses
Dukungan kebijakan, partisipasi, dan kualitas informasi.
Sesuai dengan nota dinas nomor 460/753 tentang laporan hasil rapat persiapan dropping air tahun 2012, terdapat delapan kecamatan dan 27 desa yang akan mendapat dropping air. B
Megaproyek Bribin kerja sama RI-Jerman di Dusun Sindon, Desa Dadapayu, Kecamatan Semanu, yang menelan dana Rp 65 miliar bersumber dari APBN dan APBD sejak 2004 silam, hingga kini belum ada tanda-tanda berhasil difungsikan. R
jika proyek tersebut sudah ada kepastian dapat dioperasikan dengan sempurna, PDAM segera berkoordinasi dengan Pemkab Gunungkidul guna persiapan pengelolaan distribusi air di empat wilayah krisis air bersih. R

warga lorong Terusan I Kel 5 Ulu, melakukan unjuk rasa ke kantor Walikota Palembang menuntut janji PDAM Tirta Musi yang akan memasang instalasi air bersih untuk MBR. B
PDAM berjanji akan memasang instalasi air bersih dari bantuan USAID. R
PDAM Tirta Musi Palembang berjuang memerangi kebocoran air bersih terutama di kawasan paling banyak pelanggaran. R
menertibkan pelanggan secara rutin, penggantian pipa dan meteran baru juga menjadi solusi. R
pemerintah setempat menerapkan sistem subsidi untuk pemasangan saluran air bersih (Rp.750.000 seharusnya Rp. 1.100.000).
Subsidi hanya diberikan kepada warga yang dinilai layak mendapatkan keringanan biaya pasang sesuai kreteria.
F
Dinas PU Kota Kupang mencoba memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan membangun enam embung penampung air hujan, yang dapat digunakan oleh PDAM untuk diolah menjadi air bersih. R
dinas PU Kota Kupang terus mencari sumber air untuk kebutuhan air bersih seperti dari mata air Kali Dendeng, Kali Liliba, dan mata air Sago. R
Selain itu dilakukan pengeboran air tanah di beberapa kelurahanR
Perlu adanya juru tagih, di tingkat desa R
Satker air minum provinsi (cipta karya), kerjasama dengan bank, akademisi (UGM) R F
Sms dan menyampaikan keluhan langsung ke pengurus PAMASKARTA Kabupaten, Dinas PU R
Satker air minum provinsi (cipta karya), kerjasama dengan pihak pegadaian
Cipta Karya, PDAMR F

Prakarsa banyak ada di fasilitator kelurahan
Dinas Cipta Karya, NGO, perusahaan swasta
Pokja AMPL, Bappeda R F

Temuan hasil penelitian yang telah diberi kode, kemudian disusun dalam tabel untuk menemukan indeks adaptasi secara kualitatif berdasarkan kondisi yang ada. Menggunakan asumsi jika ukuran adaptasi tidak ada diberi angka 0, jika ada tetapi fenomenanya kecil 1, jika ada dan fenomenanya banyak diberi angka 2. Jumlah fenomena tiap variabel kemudian dibagi dengan nilai maksimum yang ada, misal ada 2 jumlah fenomena konteks, maka dibuat indeks 2 dibagi 6 (nilai maksimum)= 0,3. Ditulis 2/ 0,3.
Tabel 7. Indeks Fenomena Data Penelitian
Variabel
Indikator
Gunungkidul
Palembang
Kupang
Konteks
Lembaga yang dapat menambah kemampuan, iklim komunikasi.
(struktural)
B
Ada (1)
B
Ada (2)
B
Ada (2)
F
Ada (1)
F
Tidak ada (0)
F
Tidak ada (0)
R
Tidak ada (0)
R
Tidak ada (0)
R
Ada (1)
Sub total (jumlah/indeks)

2/ 0,3

2/0,3

3/ 0,5
Konten
Ketepatan dan keuntungan keberadaan lembaga, keuntungan individu, kemajuan atau kemunduran.
(non struktural)
B
Ada (1)
B
Ada (2)
B
Ada (2)
F
Ada (1)
F
Tidak ada (0)
F
Ada (1)
R
Ada (2)
R
Ada (1)
R
Ada (2)
Sub total (jumlah/indeks)

4/0,6

3/0,5

5/0,83
Atribut Individu
Pengaruh, kemampuan, inovasi.
(non struktural)
B
Tidak ada (0)
B
Ada (2)
B
Ada (2)
F
Ada (2)
F
Tidak ada (0)
F
Ada (2)
R
Ada (1)
R
Ada (2)
R
Tidak ada (0)
Sub total (jumlah/indeks)

3/ 0,5

4/ 0,67

4/0,67
Proses
Dukungan kebijakan, partisipasi, dan kualitas informasi.
(strukturual)
B
Ada (1)
B
Ada (1)
B
Tidak ada (0)
F
Ada (1)
F
Ada (2)
F
Ada (1)
R
Ada (2)
R
Ada (2)
R
Ada (2)
Sub total (jumlah/indeks)

4/ 0,67

4/ 0,67

3/ 0,5
Total Indeks Kota/Kabupaten

0,5175

0,535

0,625

Total indeks kemudian diklasifikasikan lagi dalam 4 ukuran yaitu buruk (0-0,25), kurang (0,26-0,5), cukup baik (0,51- 0,75) dan baik (0,76-1). Dari hasil penelitian kualitatif, terlihat bahwa di tiga wilayah penelitian masih masuk pada indeks usaha adapatasi cukup baik.
Dengan melihat fenomena yang ditemukan dari hasil penelitian, terlihat bahwa kota Kupang memiliki indeks tertinggi dibanding wilayah lain. Hal ini dapat dipahami oleh karena kondisi riwayat wilayah yang menuntut untuk memiliki upaya adaptasi. Lebih lagi terlihat bahwa di tiga lokasi penelitian upaya non struktural masih lebih tinggi dibanding dengan upaya struktural (grafik 2). Walau perbedaan tidak begitu besar, namun terlihat bahwa masyarakat sendiri telah melakukan inisiatif tindakan reflektif menghadapi kerentanan perubahan iklim.

Grafik 2. Perbandingan Penduduk Kota dan Desa

Di tiga lokasi penelitian, hampir semua strategi terkait ketersediaan air telah dilakukan, kecuali untuk upaya menggunakan air hasil olah ulang. Upaya lain yang belum sepenuhnya dilakukan adalah mengurangi penggunaan air dan menambah efisiensi penggunaan air (tabel 8).

Tabel 8. Fenomena Strategi Adaptasi Ketersediaan Air minum

Strategi
Palembang
Kupang
Gunungkidul
Mengurangi kehilangan air
Membuat wadah tampungan di dekat sungai.
PDAM memperbarui pipa-pipa sambungan.
Dinas PU Kota Kupang mencoba memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan membangun enam embung penampung air hujan, yang dapat digunakan oleh PDAM untuk diolah menjadi air bersih.
Air hujan ditampung di wadah bak.
Mengurangi penggunaan dengan menambah efisiensi
Air rawa tersebut mereka sedot dengan menggunakan mesin pompa kemudian ditampung di bak atau drum penyimpan air
Kadang tidak ada air untuk mandi. Sementara untuk konsumsi rumah tangga, harus membeli air mineral setiap hari.
Belum
Penggunaan air ulang
Belum
Belum
Belum
Mengembangkan sumber baru
PDAM berjanji akan memasang instalasi air bersih dari bantuan USAID
Dinas PU Kota Kupang mencoba memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan membangun enam embung penampung air hujan, yang dapat digunakan oleh PDAM untuk diolah menjadi air bersih
Megaproyek Bribin kerja sama RI-Jerman di Dusun Sindon, Desa Dadapayu


B.      Pembahasan (verifikasi, dialog pustaka dan konteks)
Kualitatif
Potensi resiko yang dimiliki kota Palembang, kota Kupang dan Kabupaten Gunungkidul terhadap perubahan iklim berbeda sesuai konteks geografis dan demografisnya. Pertumbuhan dan urbanisasi penduduk, dihadapkan pada kondisi peningkatan intensitas dan frekuensi cuaca ekstrim, membutuhkan kapasitas adapatasi dalam menghadapi perubahan iklim.
Kota Palembang bertumbuh menjadi kota besar dengan banyak dijumpai permukiman padat di berbagai sudut kota, terutama di tepian sungai Musi. Kota Kupang menjadi daerah tujuan mencari pekerjaan dan penghidupan bagi penduduk sekitarnya, bahkan ditemui perantau dari luar pulau Timor. Dinamika Kota Palembang dan Kupang terkait pergerakan kendaraan dan populasi memberikan kontribusi dampak gas rumah kaca. Kota Palembang dan kupang merupakan pusat kota, populasi dan sektor ekonomi bagi daerah yang ada disekelilingnya.
Kemajuan inovasi penanganan air bersih dicatat PDAM Kota Palembang, yang melakukan ekspansi pelayanan hampir mencakup seluruh kota. Walaupun kendala ketersediaan air baku ternyata masih juga dijumpai. Kota Kupang melalui Dinas Cipta Karya berusaha untuk mencari dan menampung sumber-sumber air, dengan sumber air alami dan buatan yaitu misal pembangunan Water Treatment Plant di Kali Dendeng, dan pembuatan embung tangkapan air hujan. Kabupaten Gunungkidul berupaya mengembangkan penangkapan air sungai bawah tanah yang sudah dirintis bekerjasama dengan institusi dari Jerman. Selain itu PDAM Gunungkidul juga berupaya meluaskan layanan, walau tidak seekstensif di kota Palembang.
Perubahan iklim yang terjadi telah mempengaruhi ketersediaan misalnya di Palembang terkait berkurangnya kapasitas sungai Musi, kualitas air di Kupang yang tercampur kapur dan berkurangnya ketersediaan air di Gunungkidul. Selain itu kenaikan suhu dan perubahan pola presipitasi menyebabkan pengolahan dan distribusi air terpengaruh, misalnya air melalui pipa di Kupang dan Gunungkidul tidak mengalir selama musim sulit air.
Perubahan iklim terkait perubahan presipitasi dan tinggi muka air laut terbukti menurunkan kualitas dan pengolahan air di perkotaan. Intrusi air laut, yang meningkat intensitasnya mengkontaminasi air tanah dan permukaan, hal ini dapat mengurangi suplai air minum dan menyebarkan polutan berbahaya melalui sistem pengelolaan air kota. Panas yang ditimbulkan bangunan dan permukaan jalan yang diperkeras, menyebabkan peningkatan panas kota di pulau, pemanasan ini menyebabkan peningkatan suhu di tampungan air. Hal ini dapat memicu peningkatan jumlah algal, bakteri dan jamur yang terkandung di dalam air. Peningkatan ini akan menambah biaya pengolahan untuk penyediaan air bersih siap minum.
Adaptasi juga terkait komunikasi pemerintah daerah dengan populasi yang memiliki resiko di wilayahnya. Seperti pemanfaatan air Bribin di Gunungkidul, penambahan jaringan PDAM di Palembang dan pemanfaatan air embung dan waduk di Kupang. Walau demikian masih ditemui kekurangan dalam penyediaan infrastruktur.
Dari hasil pengamatan dan penelusuran literatur ditemukan pentingnya kesadaran dan aksi rumah tangga dan komunitas dalam menghadapi perubahan iklim. Walaupun pemerintah, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk mengambil tindakan adaptasi, namun pengurangan resiko dan ketahanan terhadap perubahan akan kembali diukur dalam skala rumah tangga dan komunitas. Inisiatif komunitas terlihat dalam kasus di Gunungkidul. Ketika peran pemerintah untuk menyediakan jaringan perpipaan kurang kuat dan efektif, maka diperlukan peran aktif komunitas dan rumah tangga untuk meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim. Demikian juga di Kupang, peran aktif komunitas yang diwadahi dalam program “Pamsimas” terbukti dapat meningkatkan pelayanan penyediaan air bersih di daerah.
Peran rumah tangga pada adaptasi terhadap perubahan iklim, berkait erat dengan perilaku manusia, yaitu semua kegiatan untuk mengurangi kerentanan pada sebuah sistem kota, populasi, atau pada individu. Peningkatan kesejahteraan dan akses kepada kepemilikan, informasi atau jaringan sosial dapat membantu individu dan rumah tangga untuk mengurangi resiko negatif.
Upaya penanganan perubahan iklim dalam skala lokal, menjadi satu aspek penting dari strategi adaptasi total pada area perkotaan. Pada tiga lokasi penelitian, dapat terlihat perbedaan karakter yang akan menentukan pola strategi penanganan. Misalnya untuk daerah tepi sungai Musi, berbeda dengan yang tidak di tepi sungai. Daerah tepi laut di Kupang dan daerah di tengah kota di Wonosari, berbeda karakter dengan wilayah lain di Kota atau Kabupaten yang sama.
Kuantitatif
Pengukuran kesiapan yang diberikan 3 indikasi belum siap, dukungan kolektif, proaktif, dibagi menjadi 3 variabel kesiapan yaitu individu, komunitas dan kelembagaan (tabel 9). Pengukuran dengan menggunakan metode statistik kemudian digambarkan ke dalam grafik untuk melihat peta kondisi kesiapan yang ada.

Tabel 9. Variabel Kesiapan
Kesiapan individu
Kesiapan komunitas
Kesiapan kelembagaan
1
Pengetahuan
1
Kearifan lokal
1
Jaringan
2
Persepsi
2
Pengelolaan air musim langka air
2
Ketersediaan informasi
3
Perilaku
3
Keterlibatan anggota
3
Saluran/ channel
4
Perilaku penggunaan air sehari-hari
4
Kepemimpinan
4
Kesepakatan program dan dukungan kebijakan
5
Sakit karena air
5
Keberadaan organisasi
5
manfaat
6
penggunaan air saat musim langka

7
Perilaku pemanfaatan air


Grafik 3. Kesiapan Individu

Grafik 4. Kesiapan Komunitas

Grafik 5. Kesiapan Lembaga

Tidak ada perbedaan yang signifikan dari Kabupaten Gunung Kidul, Kota Kupang dan Kota Palembang  pada kesiapan individu. Ada perbedaan yang signifikan antara Kabupaten Gunung Kidul dengan Kota Palembang serta Kota Kupang dengan Kota Palembang, namun tidak ada perbedaan yang signifikan antara Kabupaten Gunung Kidul dengan Kota Kupang pada kesiapan komunitas dan lembaga.
Adaptasi wilayah, diperlukan sehingga dapat menarik investasi ekonomi, sehingga daerah dapat memiliki dana untuk pengembangan infrastruktur. Infrastruktur yang dimaksud terkait peringatan dan penanganan dini bencana, penerapan standar bangunan dan konstruksi, serta peningkatan  sistem drainase.
Potensi adaptasi yang ditemukan di lokasi penelitian, jika digabung dengan indeks usaha adaptasi yang sudah ditemukan, dapat digambarkan dalam atribut data peta informasi geografis yang sudah dihasilkan Cipta Karya terkait dengan peta indikasi potensi air tanah. Contoh upaya pembuatan upaya adaptasi pada gambar 3.








                                                                                                (sumber Dirjen Cipta Karya)
Ukuran adaptasi ketersediaan air           (Kota Kupang)
Yang Ada (eksisting)
Rencana
Konteks:
Konten:
Atribut Individu:
Proses:
Konteks:
Konten:
Atribut Individu:
Proses:
Total indeks:
Total indeks

Kesiapan individu, komunitas  dan lembaga

Strategi Adaptasi ketersediaan air
Strategi
Yang Ada (eksisting)
Rencana
Mengurangi kehilangan air


Mengurangi penggunaan dengan menambah efisiensi


Penggunaan air ulang


Mengembangkan sumber baru



Catatan:
1.        Inventaris sumber air
a.        Kelurahan Oesapa:
b.        Kelurahan Oesapa Barat:
c.        Kelurahan Lasiana
2.        Proyek adaptasi potensial air :
Kerjasama dengan perusahaan air mineral


Belum siap (0-0,25)

Dukungan kolektif (0,26-0,75)

baik (0,76-1)





Gambar 3. Contoh data strategi adaptasi ketersediaan
                    air minum










Valuasi adaptasi
Biaya adaptasi penyediaan sumber air minum terdiri dari biaya investasi awal, biaya operasional dan pemeliharaan sarana serta biaya iuran/pengeluaran rutin. Biaya awal diprediksikan sebagaimana disajikan pada  Tabel 10. Biaya awal meliputi biaya pengadaan perlengkapan/instalasi serta biaya lain-lain, seperti tukang, konsumsi, dan lainnya yang diasumsikan 10% dari biaya pengadaan.
Tabel 10. Biaya Awal Pengusahaan Air Minum Rumah Tangga
Komponen
Gunungkidul
Kupang
Palembang
Biaya  Pengadaan Perlengkapan/Instalasi
Rp. 1.010.500
Rp. 1.357.500
Rp.    1.210.000
Biaya lain-lain (10%)
 Rp.    101.000
Rp.     135.750
Rp.      121.000
Total
Rp. 1.111.500
Rp. 1.493.250
 Rp.   1.331. 000
Biaya di atas dikeluarkan seluruhnya pada tahun pertama. Tahap  selanjutnya dikeluaran biaya untuk operasional dan pemeliharaan (OP) sarana seta biaya iuran/pengeluaran.
Tabel 11. Biaya Rutin Penyediaan Air Minum Rumah Tangga Per Tahun
Komponen
Gunungkidul
Kupang
Palembang
Biaya  OP
12 Bulan x Rp. 29.700 =  
Rp. 356.400  
12 Bulan x Rp. 81.300 =
 Rp. 975.600
12 Bulan x Rp. 119.200 =   Rp. 1.430.400
Biaya Iuaran/Pembelian Sumber Air Minum Musim Langka Air
6 Bulan x Rp. 62.000 =  Rp. 372.000
6 Bulan x Rp. 115.300 =
Rp. 691.800
6 Bulan x Rp. 112.400 =   Rp. 674.400
Biaya Iuaran/Pembelian Sumber Air Minum Musim Penghujan
6 Bulan x Rp. 30.400 =     Rp. 182.400
6 Bulan x Rp. 73.500 =
 Rp. 441.000
6 Bulan x Rp. 97.300 =      Rp. 583.800
Total
Rp. 910.800
Rp. 2.108.400
Rp. 2.688.600
Variabel berikutnya adalah untuk manfaat. Manfaat langsung dari adaptasi yang dilakukan penduduk antara lain efisiensi pengeluaran penduduk dalam penyediaan air minum serta efisiensi pengeluaran dari penurunan penyakit/peningkatan kesehatan lingkungan. Efisiensi total yang diperoleh masyarakat dari pengeluaran air minum dalam satu tahun (tabel 12).
Tabel 12. Total Efisiensi Pengeluaran Rumah Tangga untuk Konsumsi Air Minum Per Tahun
Kabupaten/Kota
Pengeluaran Eksisting
Analogi Pengeluaran Air Kemasan*
Total Efisiensi
Gunungkidul
Rp. 910.800
4 orang x 7 liter x 365 hari x  Rp. 500 =        Rp. 5.110.000
Rp. 4.199.200
Kupang
Rp. 2.108.400
Rp. 3.001.600
Palembang
Rp. 2.688.600
Rp. 2.421.400
Ket: * 1 galon air minum (20 liter) = Rp. 10.000, 1 liter = Rp. 500
Manfaat selanjutnya adalah efisiensi karena penurunan penderitaan penyakit lingkungan akibat air dan sanitasi. Dalam hal ini diasumsikan terjadi efisiensi tiap KK adalah 50 % dari pengeluaran untuk kesehatan saat ini per tahun (Tabel 13). 
Tabel 13. Total Efisiensi Pengeluaran Rumah Tangga untuk Kesehatan Per Bulan
Kabupaten/Kota
Pengeluaran Eksisting
Asumsi Pengeluaran Pasca Ketersediaan Air Minum
TotalEfisiensi
Gunungkidul
Rp. 51.600
50%  x  Rp. 51.600 = Rp. 25.800
Rp. 25.800
Kupang
Rp. 151.400
50%  x  Rp. 151.400= Rp. 75.700
Rp. 75.700
Palembang
Rp. 203.000
50%  x  Rp. 203.000= Rp. 101.500
Rp. 101.500
Berdasarkan biaya dan manfaat di atas, dapat divaluasi kelayakan ekonomi adaptasi yang dilakukan menggunakan asumsi umur program 20 tahun dan tingkat bunga diskonto 15 %.  Tabel 5 menunjukkan nilai manfaat tunai (net benefit) didapat melebihi net cost-nya. Selisih keduanya adalah nilai manfaat bersih berdasarkan nilai sekarang (NPV). NPV di semua kabupaten/kota adalah positif, artinya cost-benefit ratio akan di atas 1 (terbukti pada Tabel 14).
 Tabel 14. Hasil Analisis Cost-Benefit Ratio 
Parameter
Gunungkidul
Kupang
Palembang
Net Cost (15%)
Rp.  6.752.084
Rp.  11.471.748
Rp. 14.235.172
Net Benefit (15%)
Rp. 27.922.998
Rp. 24.214.630
Rp. 15.624.320
Net Present Value
Rp  21.170.914
Rp. 12.742.882
Rp. 1.389.147
Cost-Benefit Ratio
4, 14
2,11
1,10

   VI.            Kesimpulan
Semua kegiatan adaptasi yang dilakukan di tiga wilayah penelitian merupakan kegiatan reflektif terhadap potensi bencana lokal. Hal ini dapat dipahami oleh karena baik pihak pemerintah maupun masyarakat belum sepenuhnya mawas terhadap perubahan iklim dan dampak yang diakibatkan olehnya. Strategi adaptasi dalam ketersediaan air sebenarnya secara tidak sadar (autonomous) telah dilakukan hanya saja upaya penggunaan air olah ulang dan efisiensi penggunaan belum sepenuhnya dilakukan.
Usaha adaptasi secara umum dapat dibagi menjadi tahapan sebelum dilakukan tindakan adaptasi terhadap perubahan iklim, disebut sebagai tahap persiapan tindakan. Tahap ini terdiri dari upaya identifikasi pilihan adaptasi, terutama dilakukan dengan membuat data inventaris sumber air yang mungkin untuk dikelola. Tahap lainnya adalah dengan mempertimbangkan upaya sinergi kebijakan yang sudah ada dengan adaptasi perubahan iklim, termasuk didalamnya terkait aspek kearifan lokal dan integrasi pengelolaan lingkungan.
Daerah dengan riwayat kekurangan air (seperti Kupang dan Gunungkidul) memiliki kesiapan komunitas dan kelembagaan yang lebih baik daripada daerah dengan riwayat banyak air namun, memerlukan upaya lebih dalam beradaptasi.
Pengukuran adaptasi dapat dilakukan dengan data kualitatif:  Infrastruktur wilayah dan operasinya, bisnis dan komersial serta kesehatan permukiman dan populasi umum juga dengan data kualitatif : kesiapan individu, komunitas dan lembaga.
Pengembangan program oleh sektor berdasarkan tingkat kerentanan dan kesiapan wilayah dibagi dalam matrik berikut (tabel 15).
Tabel 15. Pengembangan Program dan Upaya Adaptasi
Tingkat kerentanan
Kesiapan masyarakat
Belum siap
Dukungan kolektif
Proaktif
Resilience
Informasi
Diskusi
Monitoring
At risk
Mengikat pada komitmen
Membangun infrastruktur sosial
Mengembangkan lembaga
Vulnerable
Intervensi paksa
Intervensi persuasif
Intervensi partisipatif

VII.            Rekomendasi
Dari hasil penelitian dapat dirumuskan rekomendasi, dalam konteks kewilayahan di lokasi penelitian, sebagai berikut:
1.       Perlunya peningkatan kapasitas pengelolaan lingkungan yang menjadi sumber air Perlu  mengembangkan data kewilayahan tematik adaptasi dengan menggunakan data peta dasar yang sudah ada (dari Dirjen Cipta Karya), yaitu dengan menindih (layering) data sumber air tanah dengan digitasi ukuran adaptasi. (untuk pengambil kebijakan)
2.       Strategi adaptasi dapat dilakukan dengan   pengukuran, pemetaan dan penghitungan. (untuk praktisi pengelola air minum)
3.       Penelitian dilanjutkan untuk menyempurnakan formula penghitungan kesiapan adaptasi dan grafik prediksinya.

VIII.            Daftar Pustaka
Holt D.,Dkk, 2007, The Development of an Instrument to Measure Readiness for Knowledge Management, Operational Research Society Ltd, USA
Kusnanto H., 2011, Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim, BPFE, Yogyakarta.
United Nations Human Settlements Programme (UN-Habitat), 2003, Global Report on Human Settlement, Earthscan Publications Ltd, 120 Pentonville Road, London, N1 9JN, United Kingdom
United Nations Human Settlements Programme (UN-Habitat), 2010, The State of Asian Cities 2010/2011, Fukuoka, Japan
United Nations Human Settlements Programme (UN-Habitat), 2012, Sustainable Urbanization in Asia: A Sourcebook for Local Governments, Nairobi, Kenya
--, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, Buku II Bab 8
Website:

No comments:

Ads Inside Post