Friday, 22 May 2015

Pengembangan Rumah RISHA dengan Teknologi Knockdown sesuai Kebutuhan Kontekstual Lokal

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------  Telah dipublikasikan di Prosiding Seminar SCAN UAJY 2015


Yudha Pracastino Heston1)
Peneliti, Balai Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Lingkungan Bidang Permukiman, Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat,
Jalan Laksda Adisucipto 165 Yogyakarta 552811)

ABSTRAK
Kebutuhan rumah di Indonesia masih terus ada dan bertambah, bahkan pada tahun 2014 tercatat kekurangannya/ backlog hampir mencapai 15 juta unit. Salah satu upaya pemenuhannya adalah dengan menyediakan teknologi membangun rumah yang cepat, aman dan juga nyaman. Salah satu produk teknologi perumahan yang berbentuk panel struktur adalah teknologi (Rumah Instan Sederhana) RISHA, yang dihasilkan oleh Puslitbang Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum. Sebagai teknologi pembentuk rumah, RISHA perlu dapat menyesuaikan dengan desain standar minimal sebuah rumah tinggal. Penelitian dilakukan dengan memperbandingkan kondisi rumah type standar 36 dengan rumah RISHA yang seukuran. Penelitian dilakukan dengan menggunakan 107 orang sampel, penghuni RISHA yang ada di Mataram, Bandung dan Palembang, menggunakan data penelitian tahun 2008 yang dikerjakan Balai Pemberdayaan Bidang Ke-PU-an Yogyakarta. Hasil penelitian berupa rekomendasi pengembangan teknologi rumah sesuai kebutuhan kontekstual lokal, untuk teknologi yang memiliki karakteristik seperti teknologi RISHA. 

Kata kunci: rumah, RISHA, teknologi

1.    PENDAHULUAN
      Fenomena pertumbuhan penduduk terjadi akibat terjadinya keseimbangan dinamis antara kekuatan menambah dan mengurangi jumlah penduduk (Nilatus, 2014). Jumlah penduduk akan selalu dipengaruhi oleh kelahiran bayi dan juga jumlah kematian yang terjadi pada semua tingkat usia. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi sistem kependudukan sebagai unsur integral (Goldscheider dalam Nilatus, 2014) yaitu struktur penduduk terkait sebaran umur dan jenis kelamin, komposisi penduduk atau faktor sosio-demografis terkait status perkawinan, pendapatan, ras, pendidikan, pekerjaan atau agama, terakhir terkait distribusi penduduk yang mencakup sebaran dan lokasi penduduk di wilayah tertentu. Pertumbuhan penduduk, selalu berhubungan dengan munculnya peningkatan kebutuhan utama seperti sandang, pangan dan papan. Kebutuhan akan papan atau rumah merupakan kebutuhan yang sifat utamanya adalah kebutuhan fisik dan juga memiliki sifat psikologis. Sifat psikologis dari kebutuhan rumah (Putra, 2014) terkait dengan pemenuhan kebutuhan keamanan, kehidupan sosial, upaya bertahan hidup, dan pemuasan serta prestise atau harga diri.
      Laju pertumbuhan penduduk Republik Indonesia berdasarkan catatan BPS, pada tahun 2000 – 2010 adalah 1,49 persen. Jika kita melihat data jumlah penduduk pada tahun 2014, jumlah penduduk Indonesia sebesar 237,56 juta, maka rata-rata pertambahan penduduk pada kisaran 3,5 juta jiwa per tahun. Konsentrasi penduduk Indonesia masih berada di pulau Jawa. Sampai akhir tahun 2013 (Oktanto, dkk, 2015) jumlah masyarakat miskin yang berada di 6 (enam) provinsi di pulau Jawa mencapai angka 17 juta jiwa. Masyarakat pada kelompok ini memiliki keterbatasan kemampuan untuk dapat mengakses rumah yang layak huni. Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyebutkan angka kekurangan rumah (backlog) di Indonesia pada tahun 2014 adalah sebesar 13,5 juta unit. Pertambahan kebutuhan rumah di Indonesia adalah sebanyak 800.000 unit per tahun, di mana pemerintah hanya dapat menyediakan 400.000 unit di dalamnya.
      Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa intervensi pemerintah untuk sektor perumahan belumlah optimal (Bramantyo, 2012). Penyediaan perumahan masih banyak dilakukan oleh masyarakat dan swasta. Kendala pembangunan perumahan yang sudah dapat diidentifikasi (Bramantyo, 2012) terkait dengan masalah keterbatasan dari aspek supply perumahan, terjadinya peningkatan jumlah rumah tidak layak huni dan sarana dan prasarana perumahan yang belum memadai, serta semakin luasnya wilayah permukiman kumuh.
      Sesuai amanat UU No. 1 tahun 2011 terdapat pembagian tugas pemerintah dan pemerintah daerah terkait upaya penyediaan perumahan. Tugas tersebut (Bramantyo, 2012) adalah bahwa pemerintah pusat menyiapkan alokasi dana untuk mewujudkan perumahan bagi MBR dan melakukan fasilitas penyediaan perumahan dan permukiman bagi MBR. Sedangkan bagi pemerintah daerah, diberikan tugas untuk menyiapkan tanah/ lahan untuk pembangunan perumahan dan permukiman bagi MBR, serta menyiapkan prasarana dan sarana pembangunan bagi MBR di tingkat Kabupaten/ Kota.
      Terkait upaya penyediaan rumah tersebut, pemerintah melalui Puslitbang Permukiman, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan telah menghasilkan teknologi rumah instan sederhana yang diberi nama RISHA. Teknologi yang ditawarkan adalah berupa teknologi struktur beton pra cetak/pre-cast sistem knockdown, yang bertujuan untuk mempersingkat waktu pemasangan, menjamin mutu kualitas kehandalana terutama struktur bangunan dan mempermudah pembangunan rumah. Inovasi RISHA ini telah diterapkan dibeberapa lokasi di Indonesia seperti di Aceh beberapa waktu setelah terjadi bencana alam gempa bumi dan tsunami, di Palembang untuk perumahan PT.Lonsum, dan beberapa tempat lainnya.
      Sebagai sebuah inovasi struktur  yang membentuk ruang, RISHA perlu ditinjau kemampuannya dalam menyediakan kenyamanan arsitektural, manakala RISHA dibangun dengan mengikuti panduan pembangunan rumah type standar 36 m2, yang menjadi ukuran standar rumah untuk MBR. Penelitian ini perlu dilakukan supaya kemampuan struktural RISHA dapat diikuti oleh kemampuan arsitekturalnya dalam menyediakan hunian rumah yang terjangkau dan nyaman terutama bagi MBR.

2.    KAJIAN PUSTAKA
Teknologi Beton dan RISHA
      Penerapan teknologi pracetak di Indonesia bukan merupakan hal yang baru (Hariandja dkk, 2011), di tahun 70an pembangunan rumah susun di Sarijadi Bandung. Contoh lainnya adalah pembangunan rumah dengan menggunakan sistem waffle-crete di Cilincing, Cengkareng dan Batam di tahun 1995. Hingga kini terdapat kurang lebih 40 sistem beton pracetak yang sudah diterapkan untuk pembangunan rumah susun. RISHA merupakan salah satu varian dari beton pracetak, dengan 3 komponen utama, yaitu sambungan berbentuk c, dan dua balok standar (gambar 1)
      Beton (Alizhar, 2009) merupakan material yang terjadi akibat fungsi bahan semen hidrolik (portland cement), agregat kasar, agregat halus, air dan bahan tabahan lainnya (admixture ataupun additive). Definisi lain (Nawy dalam Alizhar, 2009) menyebutkan beton sebagai kumpulan interaksi mekanis dan kimiawi dari material pembentuknya. Beton merupakan struktur bahan konstruksi (Khasani dkk, 2013) satu bahan konstruksi paling umum digunakan. Beton apabila dikerjakan dengan baik sesuai standar akan menjadi bahan yang kuat dan awet. Beton memiliki sifat fleksibel sesuai kebutuhan bentuk yang diperlukan, dan harganya relatif murah.
      Teknologi RISHA merupakan salah satu varian beton precast yang dikembangkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Dengan prinsip modular dan bersifat bongkar pasang (knock down), proses pembangunan untuk tipe 36 m2 dihitung hanya perlu 2 hari. Struktur dan Konstruksinya sudah diuji di laboratorium Puslitbangkim dan juga secara nyata saat gempa di Aceh setahun setelah tsunami. Seluruh bagian RISHA dapat diproduksi di work shop sebelum dipasang (prefabrication), untuk memastikan presisi dari komponen.














Gambar 1. Komponen RISHA dan yang terpasang
Sumber : tim peneliti 2008

      Komponen RISHA di sambung dengan mur-baut. Komponen terdiri dari 3 (tiga) panel beton sebagai elemen struktur. Komponen ini dapat membetuk struktur pondasi, sloof, kolom, balok, dan kuda-kuda, selain itu komponen dapat juga berfungsi sebagai tiang pagar, drainase, carport, dan tangga (optional). Dinding pengisi, penutup lantai dan atap, pintu dan jendela dapat disesuaikan sesuai kebutuhan. Komponen dapat membentuk modul ruang berukuran 1.80 x 180; 1.80 x 3.00; 3.00 x 3.00; bahkan untuk satu lantai dapat berukuran modul 3.00 x 4.20. Dengan prinsip modular ini tidak ada batasan luas bangunan yang dapat dibuat, namun tetap modul kelipatan 9 m2. Ukuran standar RISHA adalah 6.00x6.00 atau tipe 36, sesuai prinsip ukuran rumah sederhana sehat.

Rumah Sederhana
      Rumah sederhana sehat memiliki ukuran 36 m2 dengan pembagian fungsi (Putra, 2014) yaitu dua ruang tidur, ruang tamu menyatu dengan ruang makan, dapur, serta satu kamar mandi (gambar 2). Pengaturan ruang pada rumah tipe 36, terutama juga ditentukan oleh pengaturan perabot  yang ada di dalamnya, karena keterbatasan luas ruang. Penempatan perabot dapat memunculkan adanya fungsi ganda ruangan. Fungsi ganda ruangan, perlu didesain sehingga tidak mengurangi kenyamanan hunian.















Gambar 2. Rumah sederhana tipe 36
Sumber : (putra, 2014 dan wibowo dkk, 2013)



      Kenyamanan tinggal di unit hunian rumah sederhana tipe 36 dipengaruhi oleh faktor (Kwanda dkk, 2003): kualitas bangunan, desain bangunan sarana dan prasarana, serta lokasi. Faktor yang paling dominan mempengaruhi penghuni rumah sederhana tipe 36 terutama terkait faktor kualitas bangunan. Kualitas bangunan yang dimaksud terkait kekuatan atap, kekuatan dinding, kebocoran, kerusakan cat dalam dan luar rumah, kekuatan lantai, kekuatan engsel, ketahanan plafon; sirkulasi udara atau jendela untuk kamar tidur, dapur dan kamar mandi, kualitas pencahayaan di kamar tidur, dapur dan kamar mandi. RISHA secara kualitas telah teruji sebagai sebuah komponen struktur, untuk keberadaanya sebagai sebuah unit hunian, penelitian ini mencoba untuk mendeskripsikan lebih jauh sesuai dengan kebutuhan dari penghuni. Penelitian lain menyebutkan faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli rumah (Firdaos dalam Widiastuti, 2013) adalah lokasi relatif rumah terhadap kota, pertambahan penduduk, pendapatan atau kemampuan konsumen, kemudahan terhadap akses pembiayaan, kelengkapan atau ketersediaan fasilitas dan sarana umum, harga pasar rumah, dan peraturan perundangan terkait ijin, hak dan kewajiban.


3.    METODE PENELITIAN

Statistik deskriptif
      Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian statistik deskriptif kuantitatif. Deskriptif kuantitatif (Tiara, 2014) merupakan metode yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data, menafsirkannya, dan mengklasifikasikan sehingga data yang didapat baik untuk memberikan gambaran yang jelas terkait masalah yang diteliti. Definisi lain mengungkapkan statistika deskriptif sebagai ilmu untuk mengolah, menyajikan data tanpa mengambil keputusan untuk populasi. Metode ini berguna untuk melihat gambaran secara umum dari data yang didapatkan.
Responden dan Lokasi  Penelitian
      Penelitian dilakukan di Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Barat (gambar 3) dengan pertimbangan bahwa di daerah tersebut RISHA dihuni oleh responden yang memiliki karakter sosial ekonomi berbeda. Sampel penelitian ini terdiri dari empat kelompok responden; yaitu penguna RISHA dari perusahaan swasta, perseorangan, pemerintah dan non konsumen. Jumlah kuesioner yang didistribusikan berjumlah 200 eksemplar dan yang kembali dan terjawab dengan baik berjumlah 107 eksemplar.












Gambar 3. RISHA di NTBA
Sumber : tim peneliti

4.    HASIL DAN PEMBAHASAN

Profil responden
Responden penelitian terdiri dari 87 orang laki-laki dan 20 orang wanita (gambar 4), dengan data ini terlihat bahwa walau dominasi pria menentukan kualitas dalam menilai unit hunian, namun wanita juga memiliki kemampuan untuk menilai unit hunian.

 












Gambar 4. Jenis kelamin responden
Sumber : tim peneliti
Pekerjaan responden sebelum tinggal dan sesudah tinggal di rumah RISHA, sedikit mempunyai perbedaan (gambar 5). Pekerjaan responden yang dominan adalah wiraswasta dan petani. Ada perubahan pekerjaan sebelum yaitu wiraswasta dari 40 orang menjadi 36, nelayan sebanyak 13 menjadi hanya 4, dan tidak punya pekerjaan pada saat setelah tinggal di RISHA sebanyak 6 orang. Penambahan jumlah terlihat pada profesi petani dari 27 menjadi 31. Hal ini menjelaskan bahwa ada perubahan profesi responden, dimana sektor seperti petani dan nelayan akan sangat terpengaruh oleh lokasi domisili yang bersangkutan.

 



















Gambar 5. profesi responden
Sumber : tim peneliti

Kisaran jumlah anggota keluarga sebelum dan sesudah menghuni RISHA (gambar 6), hampir serupa yaitu pada kisaran satu sampai sepuluh orang. Jumlah penghuni dominan sebelum adalah empat orang, sedangkan dominan setelah adalah tiga orang. Jumlah anggota keluarga yang tinggal di unit hunian RISHA yang relatif tidak berbeda dengan sebelumnya membuktikan, bahwa unit hunian modular tidak mempengaruhi kebutuhan untuk tinggal bersama keluarga inti, yang biasanya berjumlah 4-5 orang.

 















Gambar 6. Jumlah anggota keluarga
Sumber : tim peneliti

Responden yang tinggal di rumah RISHA, memiliki penghasilan dominan sebanyak Rp.500.000 ke bawah, kemudian di rentang Rp.500.000 sampai Rp.1.000.000. Jika dilihat atau diperbandingkan dengan penghasilan sebelum menghuni (gambar 7), responden terlihat ada penurunan jumlah penghasilannya. Kondisi ini tidak terlepas dari perubahan lokasi tinggal dan perubahan profesi yang dialami.
 



















Gambar 7. Penghasilan responden
Sumber : tim peneliti
Kondisi rumah RISHA yang digunakan, menurut persepsi responden sebagaian besar merupakan bangunan permanen (gambar 8). Persepsi ini dapat muncul, terkait pilihan bahan material yang telah digunakan terutama untuk menyekat ruang dalam dan luar. Hanya 42% responden yang memiliki persepsi bahwa rumah RISHA mereka adalah bangunan semi permanen atau bongkar pasang. Status lahan yang digunakan untuk mendirikan RISHA, sebagian besar merupakan lahan pemerintah, sehingga dapat terlihat bahwa sebagian besar rumah RISHA masih merupakan upaya bantuan hunian dari pemerintah.   
 











Gambar 8. Tipe bangunan dan status lahan
Sumber : tim peneliti

Pembahasan
Rumah RISHA yang digunakan masih dirasakan cukup memadai bagi penghuninya. 60% responden menyetujui pernyataan ini (gambar 9). Namun juga ada sekitar 40% responden yang merasa luas bangunan standar tipe 36 ini perlu ditambah. Jika kita melihat jumlah penghuni di dalam rumah yang ada terdapat lebih dari 4 orang, tentunya dapat dipahami bahwa ukuran standar 1 orang adalah 9 m2. Sehingga memunculkan kondisi kebutuhan ruang yang lebih luas.      

Gambar 9. Kondisi arsitektural RISHA
Sumber : tim peneliti
     
      Rumah RISHA menurut responden telah cukup menyediakan satu kamar terpisah, namun masih juga terdapat 20% responden yang belum puas dengan keberadaan kamar yang terpisah. Kondisi ini menjelaskan bahwa partisi yang digunakan belum cukup baik memberikan privasi bagi kamar yang tersedia.
      Kondisi sangat kurang terlihat dari kebutuhan akan dapur, keberadaan dapur penting, karena setiap fungsi kegiatan dalam hunian selalu terkait dengan keberadaan dapur. Misalnya pagi hari ketika bangun kita perlu ke dapur untuk mencari minum, atau memasak. Kebutuhan menyimpan, mengolah dan menyediakan makanan terletak di ruang yang disebut dapur.
      Kebutuhan akan ventilasi merupakan kondisi yang terlihat perlu ada peningkatan, karena masih ada 40% responden yang merasakan kurangnya ventilasi, atau angin-angin. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan menyediakan lebih jendela dan angin-angin pada bagian atas bangunan. Kinerja RISHA untuk kebutuhan pencahayaan sudah cukup, karena terdapat 90% responden yang menyatakan kepuasan untuk kebutuhan pencahayaan.
      Kondisi atap yang digunakan untuk rumah RISHA, di beberapa tempat masih memerlukan penyempurnaan, terutama terkait dengan kondisi atap ketika terjadi hujan. Masih terdapat 40% responden (gambar 10) yang merasakan atap RISHA yang bocor, dan mengganggu kenyamanan tinggal di dalam rumah.
      Walaupun RISHA telah teruji kekuatannya secara laboratorium maupun lapangan, namun kemampuan ini belum sepenuhnya diterima oleh responden, karena hasil penelitian menemukan ada 45% responden yang meragukan kemampuan ini.
     


Gambar 10. Kondisi arsitektural RISHA (2)
Sumber : tim peneliti

      Rumah RISHA sudah memiliki kinerja cukup baik dalam membagi wilayah batas pribadi dan ruang publik. Kemampuan ini terbaca dari data 80% responden yang mengaku puas untuk pembedaan ruang milik pribadi dan ruang publik.
      Kebutuhan sanitasi hunian masih perlu untuk ditingkatkan, karena masih ada 45% responden yang belum dapat mengolah air kotor yang dihasilkan, dan perlu untuk dialirkan ke luar lingkungan.
      Kondisi bangunan, terkait struktur RISHA, untuk pemasangan komponennya sebagian besar (60%) nya sudah menyatakan sesuai, sedangkan 40% lainnya masih menunjukkan kebutuhan untuk meningkatkan mutu pemasangan struktur (gambar 11). Kemampuan RISHA untuk didirikan dengan cepat, sudah baik, hal ini didukung dengan data penelitian yaitu sebesar 75% responden menyetujui kecepatan pembangunan dari RISHA.

Gambar 11. Kondisi bangunan
Sumber : tim peneliti

      Pengawasan dari produsen sudah pada taraf yang cukup, hampir 70% responden menyetujui pernyataan ini. Untuk pembangunan oleh tukang yang terlatih, masih perlu ditingkatkan kinerjanya, karena masih ada 40% responden yang memiliki pendapat pembangunan RISHA mereka tidak dilakukan oleh tukang terlatih.
      Kinerja rumah RISHA untuk kebutuhan ruang hunian dengan konteks lokal, dapat dilihat dari tiga hal, yaitu perlu tidaknya modifikasi ruangan, material dan struktur serta kesesuaian bangunan dengan konteks lokal. Kemampuan yang paling kuat dari RISHA tipe standar adalah terkait dengan pembentukan ruang hunian yang dapat mencukupi 50% responden. RISHA juga telah menyesuaikan keberadaannya dengan kondisi lokal, pernyataan ini didukung oleh persepsi dari 75% responden.


Gambar 12. Kebutuhan modifikasi
Sumber : tim peneliti

      Kebutuhan responden terutama untuk memenuhi konteks kebutuhan lokal, adalah terkait dengan material bangunan yang digunakan untuk finisihing bangunan. Hal ini dikuatkan dengan data persepsi 60% responden yang menyatakan kebutuhan untuk modifikasi material. Sedangkan kebutuhan untuk modifikasi struktur yang digunakan dinyatakan oleh kurang dari 60% responden.


5.    KESIMPULAN

Dari penelitian dan pengukuran yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa perubahan profesi dipengaruhi atau terpengaruh oleh lokasi domisili responden setelah menggunakan RISHA, perubahan profesi ini juga mempengaruhi pendapatan keluarga. Berdasarkan penelitian sebagian besar rumah RISHA yang dihuni, merupakan bantuan hunian dari pemerintah.  
Keberadaan RISHA sebagai unit hunian modular tidak mempengaruhi jumlah keluarga yang tinggal. Namun ada 40% responden yang merasa luas bangunan standar tipe 36 ini perlu ditambah. RISHA secara umum telah cukup menyediakan satu kamar terpisah, namun untuk peningkatan perlu dipertimbangkan bahan partisi yang lebih baik. Kondisi baik ditunjukkan dari keberadaan pencahayaan. Selain itu kinerja pembagian wilayah privat dan publik sudah baik. Kinerja baik juga ditunjukkan dari proses pemasangan yang cepat. Hal ini juga ditunjang dari pengawasan dari produsen yang baik.
      Kondisi yang sangat perlu diperbaiki adalah kebutuhan akan dapur di dalam unit hunian.  Selain itu kebutuhan akan jumlah bukaan atau ventilasi perlu ada peningkatan, karena masih ada 40% responden yang merasakan kurang. Kondisi atap juga masih memerlukan penyempurnaan, terutama ketika terjadi hujan. Hal lain yang perlu ditingkatkan adalah kebutuhan sanitasi hunian. Pembangunan perlu dipastikan dilakukan oleh tukang yang terlatih.
      Kinerja rumah RISHA yang baik terutama adalah terkait kesesuaian bangunan dengan konteks lokal dan kemampuan RISHA dalam membentuk ruang. Kinerja yang perlu perbaikan terkait dengan material struktur yang digunakan.
      Dari penelitian terlihat bahwa dari segi penyediaan ruang hunian RISHA (gambar 13) yang diupayakan oleh pemerintah, tidak dapat mengabaikan kebutuhan untuk melakukan kontekstualisasi terhadap lingkungan sosial, ekonomi dan lingkungan serta kebutuhan ruang pribadi, preferensi material dan keyakinan kekuatan struktur dan konstruksi dari persepsi konsumen rumah.









Gambar 12. Unit hunian rumah RISHA
Sumber : tim peneliti

6.    UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih disampaikan kepada tim penelitian RISHA Balai Litbang Sosekling Bidang Permukiman di tahun 2007 dan 2008.

7.    DAFTAR PUSTAKA

1.    Alizar, Teknologi Bahan & Konstruksi MODUL KE-6, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan , Universitas Mercu Buana
2.    Binsar H. Hariandja, Hari Nugraha Nurjaman, Sutadji Yuwasdiki, HR. Sidjabat, 2011, Standar Nasional Indonesia Tentang Tata Cara Perancangan Struktur Beton Pracetak Dan Prategang Untuk Bangunan Gedung
3.    Bramantyo, 2012, Efektivitas Regulasi Perumahan Di Indonesia dalam Mendukung Penyediaan Rumah Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MB), Widyariset, Vol. 15 No.1,  April 2012
4.    Kwanda Timoticin, Jani Rahardjo, Bonivasius Risa Wibowo, 2003, Analisis Kepuasan Penghuni Rumah Sederhana Tipe 36 Dikawasan Sidoarjo Berdasarkan Faktor Kualitas Bangunan, Lokasi, Desain, Sarana Dan Prasarana, Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 31, No. 2, Desember 2003: 124-132
5.    Makmur Khasani, Ir.Chundakus Habsya, M.SA, Budi Siswanto, S.Pd., M.Ars., Perancangan Komponen Prapabrikasi Rumah Tinggal Tumbuh, Pendidikan Teknik Bangunan, Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan,  FKIP  UNS
6.    Putra GH, 2014,  Efektivitas Ruang dalam Rumah Tipe 36 Ditinjau dari Perletakan Perabot terhadap Ruang Gerak Penghuni, E-Journal Graduate Unpar Part D – Architecture, Vol. 1, No. 2 (2014) ISSN: 2355-4274
7.    Ronggo Suseno, 2012, Comparative Study Precast Concrete Material And Hebel, Gunadarma University Library : Http://Library.Gunadarma.Ac.Id 1
8.    Soleh, 2014, Ekombis Review, Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis, Vol 2, No 2 (2014) >, ISSN : 2338-8412
9.    Syaadah Nilatus, 2014, Analisis Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Penyerapan Angkatan Kerja, Jurnal Ilmiah Pendidikan Geografi, Vol. 2 no. 1 oktober 2014
10.  Tiara, S., 2014, Analisis Atribut-Atribut Yang Mempengaruhi Penerimaan Pajak Bumi Dan Bangunan (PBB) Terhadap Pendapatan Daerah Di Kota Medan
11.  Oktanto Erwan, Hasiolan Leonardo Budi, Minarsih Maria Magdalena, 2015, Pengaruh Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) dan Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) terhadap Perilaku Konsumtif Masyarakat di Kelurahan Banyumanik Kota Semarang, Journal of Management. ISSN : 2442-4064, Universitas Pandanaran, http://jurnal.unpad.ac.id/.
12.  Widiastuti Erni dan Handayani SWE, 2013, Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian Rumah Bersubsidi dengan Menggunakan Analisis Regresi, Prosiding Seminar Nasional Statistika Universitas Diponegoro ISBN: 978-602-14387-0-1.

13.  https://ucupkelings.wordpress.com/sejarah-statistika/
14.  http://nasional.news.viva.co.id/print_detail/printing/183708-inilah-rincian-penduduk-ri-per-provinsi

No comments:

Ads Inside Post