Monday, 1 February 2016

PENGUKURAN PRODUKTIVITAS SISTEM MANAJEMEN PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) Management System Productivity Measurement of Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
telah diterbitkan di jurnal sosial ekonomi pekerjaan umum vol7. no 3. november 2015

V. Reza Bayu Kurniawan1), Yudha Pracastino Heston2), Chitra Widyasani P.3)


Abstrak

Evaluasi kinerja sangat penting bagi perusahaan. Kaitannya dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), evaluasi kinerja tahunan merupakan tugas Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM). Indikator kinerja PDAM dikategorikan dalam empat aspek yaitu keuangan, pelayanan, operasional, dan sumber daya manusia. Berdasarkan aspek penilaian tersebut, dapat dilakukan penilaian  lebih komprehensif (finansial – non finansial) melalui indikator produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan menganalisa sistem manajemen PDAM melalui pengukuran produktivitas dan memberikan rekomendasi perbaikan kinerja PDAM yang lebih komprehensif. Objek penelitian ini adalah enam PDAM di Indonesia yaitu PDAM Kabupaten Badung, PDAM Kabupaten Gunung Kidul, PDAM Kabupaten Tegal, PDAM Kabupaten Sintang, PDAM Kota Balikpapan, dan PDAM Kabupaten Lombok Utara. Pengukuran produktivitas dilakukan menggunakan konsep dasar dari model matematis Overal Equipment Effectiveness (OEE) yang terdiri dari indikator availability, performance efficiency, dan quality rate. Hasil pengukuran produktivitas adalah PDAM Kota Balikpapan memiliki nilai produktivitas tertinggi, sebesar 66.98% dengan nilai availability 95.83%, nilai performance efficiency 96.40%, dan nilai quality rate 72.50%. Sedangkan nilai produktivitas terendah adalah PDAM Kabupaten Sintang sebesar 10.18% dengan nilai availability 37.50%, nilai performance efficiency 41.30%, dan nilai quality rate 65.70%. Rekomendasi pengukuran produktivitas PDAM dapat menjadi pertimbangan untuk digunakan oleh BPPSPAM.

Kata Kunci: evaluasi kinerja PDAM, produktivitas, availability, performance efficiency, quality rate


Abstract

Performance evaluation is important for bussiness enterprise. For Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) annual performance evaluation is Badan Pendukung Pengembangan Sistem Air Minum (BPPSPAM) task. The indicators to determine performance of PDAM are being categorized into four aspects, they are financial, service, operational, and human resources. Based on the performance evaluation, in depth and comprehensive assesment  (financial – nonfinancial) can be done through productivity indicators. This research purposes to evaluate and analyze PDAM management system through productivity measurement and then give recommendation, that productivity measurement can be done through indicators that have been determined to get more comprehensive result. The objects of this research are six PDAM in Inonesia, they are PDAM Kabupaten Badung, PDAM Kabupaten Gunung Kidul, PDAM Kabupaten Tegal, PDAM Kabupaten Sintang, PDAM Kota Balikpapan, and PDAM Kabupaten Lombok Utara. Productivity measurement can be performed using basic concept of Overall Equipment Effectiveness mathematic model, that consist of availability indicator, performance, efficiency, and quality rate. The results are PDAM Kota Balikpapan has the highest productivity value 66.98 % with availability value 95,83 %, performance efficincy value 96.40% and quality rate value 72,50%. Meanwhile the lowest productivity value is PDAM Kabupaten Sintang, that is 10,18%. PDAM productivity recommendation can be considered for BPPSPAM to use.

Key Word: PDAM performance evaluation, productivity, availability, performance efficiency, quality rate







A.             Pendahuluan
Evaluasi kinerja perusahaan merupakan hal yang sangat penting. Umpan balik atas hasil evaluasi kinerja perusahaan atau biasanya dijelaskan melalui gap dapat berupa saran atau perbaikan untuk peningkatan kinerja dan dapat digunakan oleh manajemen tingkat atas untuk mengambil keputusan. Mahsun (2006) dalam Huda (2013) menyebutkan manfaat dari pengukuran kinerja meliputi menyamakan pemahaman terkait standar yang digunakan dalam mencapai kinerja, memastikan capaian rencana kinerja, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kinerja, memberikan apresiasi dan hukuman secara obyektif atas capaian kinerja, menjadi alat komunikasi dalam mencapai sasaran kinerja, menjadi alat ukur kepuasan pelanggan, menjadi alat bantu pemahaman proses kegiatan, memastikan obyektivitas pengambilan keputusan, menunjukkan upaya peningkatan yang perlu dilaksanakan, dan mengungkapkan permasalahan.
Evaluasi kinerja perusahaan dilakukan oleh setiap perusahaan. Kaitannya dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), evaluasi kinerja tahunan merupakan tugas dari Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM). Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), disebutkan bahwa salah satu fungsi BPPSPAM adalah melaksanakan evaluasi terhadap standar kualitas dan kinerja pelayanan penyelenggaraan SPAM. Evaluasi kinerja PDAM dilakukan oleh BPPSPAM dengan mendasarkan pada hasil audit kinerja PDAM oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) atau Kantor Akuntan Publik (KAP) yang ditunjuk, sehingga hasil evaluasi kinerja dapat dipertanggungjawabkan.
BPPSPAM sebagai badan yang ditunjuk oleh pemerintah untuk melakukan evaluasi kinerja PDAM, bersama dengan BPKP, PERPAMSI dan beberapa PDAM telah menyusun indikator penilaian/evaluasi kinerja PDAM. Indikator-indikator ini merupakan hasil pengembangan pada tahun 2010 meliputi empat aspek penilaian yaitu aspek keuangan, pelayanan, operasional, dan sumber daya manusia. Hasil dari penilaian keempat aspek tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori yaitu PDAM Sehat, PDAM Kurang Sehat, dan PDAM Sakit.
Pembobotan keempat aspek yang telah disusun oleh BPPSPAM bersama dengan BPKP, PERPAMSI dan beberapa PDAM tersebut relatif berimbang dan proporsional. Berdasarkan karakteristiknya, bobot masing-masing aspek yaitu aspek keuangan sebesar 25%, aspek pelayanan sebesar 25%, aspek operasional sebesar 35%, dan aspek sumber daya manusia sebesar 15%. Dari keempat aspek yang digunakan sebagai indikator pencapaian hasil kinerja, aspek operasional merupakan aspek dengan bobot yang paling besar dalam penilaian hasil/evaluasi kinerja PDAM yaitu sebesar 35%. Dasar pertimbangan tersebut dijelaskan melalui buku Kinerja PDAM 2014 oleh BPPSPAM bahwa aspek operasional memiliki peranan yang sangat penting dalam perolehan pendapatan. Sesuai dengan Buku Kinerja PDAM, beberapa indikator yang digunakan untuk menilai aspek operasional yaitu efisiensi produksi, tingkat kehilangan air, jam operasi pelayanan, tekanan air pada sambungan pelanggan, dan penggantian meter air pelanggan.
Berdasarkan keempat aspek penilaian kinerja PDAM yang telah disusun oleh BPPSPAM, dapat dilakukan penilaian secara lebih detail dan komprehensif melalui indikator produktivitas. Penilaian produktivitas perusahaan juga menjadi salah satu dasar penilaian yang sangat penting bagi perusahaan. Dengan produktivitas yang semakin meningkat, diharapkan dapat meningkatkan perkembangan dan kemajuan perusahaan (Supriyanto dan Wisnubroto 2014). Menurut Utami (2002) produktivitas menjadi faktor yang penting karena menggambarkan kinerja ekonomis perusahaan yang meliputi dua hal yaitu kinerja operasional dan kinerja keuangan. Dijelaskan bahwa kinerja operasional dinilai dari aliran input-proses-aliran output, sedangkan kinerja keuangan dinilai berdasarkan aliran keluar dan masuknya dana.
Pengukuran tentang produktivitas di suatu perusahaan dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Indriati dkk (2014) mengukur produktivitas dengan menggunakan metode green productivity. Pendekatan green productivity digunakan sekaligus untuk mengukur kinerja lingkungan dengan environmental performance indicator. Pengukuran produktivitas dengan metode green productivity bertujuan untuk mengurangi dampak limbah ke lingkungan akbat hasil produksi. Widyastuti dkk (2014) juga menggunakan metode green productivity dalam rangka reduksi limbah dan pengelolaan lingkungan sehingga dapat meningkatkan produktivitas perusahaan. Widyastuti dkk (2014) menyimpulkan bahwa dengan menggunakan metode green productivity dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan produktivitas perusahaan sebesar 1.25% serta kontribusi terhadap perbaikan kualitas lingkungan. Dewi dkk (2013) melakukan pengukuran dan perbaikan produktivitas dengan menggunakan metode objective matrix (OMAX) dan perbaikan dengan prinsip 5S. Hasil yang didapatkan di suatu objek yang diteliti menunjukkan peningkatan produktivitas sebesar 117%. Metode OMAX juga digunakan oleh Tanaamah dkk (2013) dalam penelitiannya untuk mengidentifikasi kriteria dan mengukur produktivitas dengan objek hotel. Dari berbagai pendekatan yang digunakan untuk mengukur produktivitas dapat disimpulkan bahwa produktivitas memiliki peranan yang sangat penting bagi perusahaan. Phusavat (2013) menjelaskan bahwa terminologi produktivitas digunakan untuk menunjukkan tingkat seberapa kompetitif suatu perusahaan. Pada penelitian ini, penilaian produktivitas PDAM dapat dihitung dari indikator-indikator yang telah dihimpun di dalam laporan kinerja PDAM oleh BPPSPAM sehingga nantinya penilaian akan evaluasi kinerja PDAM dapat dilakukan dan diinterpretasikan dengan lebih baik.
Secara konseptual, pengukuran produktivitas merupakan bagian dari aspek operasional yang memiliki pengaruh paling besar dalam penilaian evaluasi dan kinerja PDAM. Untuk itu, pengukuran produktivitas PDAM ini dilakukan untuk menganalisa sistem manajemen PDAM dari indikator-indikator yang telah ditetapkan oleh BPPSPAM. Pengukuran produktivitas ini menjadi unsur kebaruan yang ditawarkan dalam tulisan ini.

B.         Kajian Pustaka
Penetapan indikator penilaian/evaluasi kinerja PDAM menggunakan pendekatan Balanced Scorecard. Chaeronsuk dan Chansa-ngavej (2008) menjelaskan bahwa pendekatan Balanced Scorecard menghubungkan antara kinerja keuangan (financial performance) dan kinerja non-keuangan (non-financial performance). Dengan menggunakan pendekatan ini, dapat diberikan gambara terkait kinerja keuangan, pelanggan, proses bisnis internal dan proses pembelajaran serta pertumbuhan. Pendekatan balanced scorecard (Nawirah 2014) dapat dipakai untuk organisasi publik dengan beberapa penyesuaian. Dari keempat aspek tersebut dihasilkan nilai evaluasi dan disimpulkan ke dalam tiga klasifikasi yaitu PDAM Sehat, PDAM Kurang Sehat, dan PDAM Sakit. Perhitungan masing-masing aspek ditampilkan pada Tabel 1.





Tabel 1. Indikator Kinerja, Model Matematis dan Keterangan Indikator Kinerja PDAM untuk Aspek Keuangan, Pelayanan, Operasional, dan Sumber Daya Manusia

No
Indikator Kinerja
Model Matematis
Keterangan
Keuangan
1
Rentabilitas: Kemampuan perusahaan memperoleh laba

a.     ROE
Indikator ini digunakan untuk mengetahui tingkat profitabilitas suatu perusahaan.
b.      Rasio Operasi
Indikator ini menunjukkan kemampuan dalam melakukan efisiensi dan peningkatan pendapatan untuk menutup biaya operasi.
2
Likuiditas: Kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya

a.      Rasio Kas
Indikator Rasio Kas digunakan untuk melihat kemampuan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
b.       Efektivitas Penagihan
Indikator ini menunjukkan kemampuan mengelola pendapatan dari hasil penjualan air kepada pelanggan (piutang air) secara efektif sehigga menjadi penerimaan PDAM.
3
Solvabilitas: Kemampuan memenuhi kewajibannya saat dilikuidasi
Indikator ini digunakan untuk mengetahui kemampuan aktiva/aset dalam menjamin kewajiban/hutang jangka panjangnya.
Pelayanan
1
Cakupan Pelayanan
Indikator ini digunakan untuk melihat kemampuan dalam melakukan pelayanan air di wilayah pelayanan.
2
Pertumbuhan Pelanggan (% per tahun)
Indikator ini menggambarkan aktivitas PDAM dalam menambah jumlah pelanggannya.
3
Tingkat Penyelesaian Aduan
Indikator ini menggambarkan upaya menyelesaikan aduan yang berasal dari pelanggan atau bukan.
4
Kualitas Air Pelanggan
Indikator ini menggambarkan sejauh mana PDAM mampu melayani pelanggannya dengan kualitas air minum (3K) sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum.
5
Konsumsi Domestik
Indikator ini untuk mengetahui tingkat rata-rata konsumsi air per pelanggan runah tangga dalam satu bulan dalam tahun yang bersangkutan, lebih jauh maka dapat pula diketahui rata-rata konsumsi liter per orang per hari, hal ini penting mengingat pendekatan konsumsi minimal (Basic Needs Approach/BNA).
Operasional
1
Efisiensi Produksi
Efisiensi produksi merupakan indikator yang menunjukkan tingkat efisiensi PDAM dalam memanfaatkan kapasitas terpasangnya.
2
Kehilangan Air/Tidak Berekening
Indikator ini menjelaskan kemampuan mengendalikan penjualan air minum melalui sistem distribusi perpipaan.
3
Jam Operasi Layanan
Indikator ini menjelaskan kemampuan mempertahankan pelayanan pegaliran air kepada pelanggannya dengan tingkat kontinyu 1 x 24 jam per hari.
4
Tekanan Air Pada Sambungan Pelanggan
Indikator ini digunakan untuk mengetahui capaian tekanan air PDAM pada rata-rata pipa pelanggannya.
5
Penggantian Meter Pelanggan
Indikator ini digunakan untuk menilai tingkat penggantian meter pelanggannya sesuai ketentuan yang berlaku.
Sumber Daya Manusia
1
Rasio Jumlah pegawai/1000 pelanggan
Indikator ini digunakan untuk mengukur efisiensi pegawai PDAM terhadap pelanggan.
2
Rasio Diklat Pegawai
Indikator ini digunakan untuk menilai tingkat kompetensi pegawai PDAM.
3
Biaya Diklat terhadap Biaya Pegawai
Indikator ini untuk mengetahui tingkat apresiasi dalam mengupayakan pegawai lainnya agar kompeten.
Sumber: Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum



Metode pengukuran produktivitas sistem mengacu pada konsep dasar Overal Equipment Effectiveness (OEE). OEE merupakan metode yang digunakan untuk mengukur kinerja dari suatu sistem produksi. Dalam sistem kehandalan, OEE digunakan sebagai alat ukur (metrik) dalam penerapan program TPM (Total Productive Maintenance) guna menjaga peralatan pada kondisi ideal. OEE merupakan besaran efektivitas peralatan atau mesin. OEE dihitung berdasarkan kemampuan dari alat-alat perlengkapan, efisiensi kinerja dari proses, dan tingkat mutu produk:



                        (1)



Penerapan metode OEE memberikan beberapa manfaat yaitu dapat digunakan untuk menentukan starting point dari perusahaan ataupun peralatan/mesin, selain itu dapat juga digunakan utnuk mengidentifikasi kejadian bottleneck di dalam peralatan/mesin, mengidentifikasi kerugian produktivitas (true productivity loses), dan menentukan prioritas dalam usaha (Ansori dan Mutajib, 2013). Erwin (2014) menggunakan metode OEE untuk melakukan efisiensi yang tepat sasaran dan meningkatkan produktivitas proses produksi dengan studi kasus perusahaan pembuat baterei kering dan baterei Lithium Coin. Menurut Erwin (2014), OEE dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur dan mengevaluasi seberapa efektif kinerja peralatan (dalam hal ini mesin) secara keseluruhan. Kaitannya dengan pengukuran keefektifan mesin dengan menggunakan metode OEE, juga dilakukan oleh Mohammad (2015) yang menyatakan bahwa metode OEE secara tepat dapat mengukur keefektifan mesin pada proses produksi dan mampu mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan mesin serta dapat menjadi bahan perbaikan untuk penerapan Total Productive Maintenance (TPM) bagi perusahaan. Ahmad dkk (2013) menggunakan metode OEE sebagai alat untuk mengukur dan mengetahui kinerja mesin dan peralatan di departemen forging studi kasus PT APP. Habib dan Supriyanto (2012) dalam penelitiannya menggunakan metode OEE sebagai perbaikan efektivitas mesin dengan objek CNC cutting. Djunaidi dan Natasya (2013) melakukan pengukuran produktivitas mesin dengan menggunakan metode OEE. Penerapan metode OEE untuk menghitung produktivitas mesin telah diteliti dengan objek yang berbeda-beda. Pada penelitian ini, metode OEE digunakan sebagai dasar konsep untuk menghitung produktivitas sistem manajemen PDAM. Indikator-indikator yang digunakan untuk menghitung produktivitas sistem manajemen PDAM sesuai dengan indikator-indikator yang telah dievaluasi oleh BPPSPAM. Nilai produktivitas sistem manajemen PDAM nantinya dapat menginterpretasikan kinerja dari aspek finansial dan non-finansial, serta dapat digunakan oleh pengambil keputusan dalam perbaikan sistem manajemen di PDAM hanya melalui satu paramater (produktivitas).  Model matematis untuk menghitung indikator OEE ditampilkan pada Tabel 2.



Tabel 2. Deskripsi Indikator OEE: Availability, Performance Efficiency dan Quality Rate, dan Model Matematis
No
Indikator
Model Matematis
Keterangan
1
Availability
Availability merupakan suatu rasio yang menggambarkan pemanfaatan waktu yang tersedia untuk kegiatan operasi mesin atau peralatan.
2
Performance Efficiency
Performance efficiency merupakan suatu rasio yang menggambarkan kemampuan dari peralatan dalam menghasilkan barang
3
Quality Rate
Quality Rate merupakan suatu rasio yang menggambarkan kemampuan peralatan dalam menghasilkan produk yang sesuai standar.
Sumber: Ansori dan Mutajib, 2013



Menurut Nakajima (1988) dalam Ansori dan Mutajib (2013), kondisi ideal untuk OEE setelah dilaksanakannya TPM pada suatu perusahaan yaitu nilai availability >90%, nilai performance efficiency >95% dan nilai quality rate >99% sehingga kondisi ideal pencapaian nilai OEE adalah >85%. Perhitungan matematis OEE selanjutnya akan disesuaikan dengan indikator-indikator BPPSPAM untuk menilai produktivitas PDAM.

B.             Metode Penelitian
Objek pada penelitian ini adalah enam PDAM di Indonesia yang meliputi PDAM Kabupaten Badung, PDAM Kabupaten Gunung Kidul, PDAM Kabupaten Tegal, PDAM Kabupaten Sintang, PDAM Kota Balikpapan, dan PDAM Kabupaten Lombok Utara. Pemilihan keenam PDAM tersebut berdasarkan karakteristik PDAM yang meliputi hasil penilaian kinerja PDAM (PDAM Sehat, PDAM Kurang Sehat, dan PDAM Sakit), skala bisnis PDAM (PDAM Kota dan PDAM Kabupaten), dan tingkat Non-Revenue Water PDAM. Untuk kategori PDAM dengan kondisi tidak sehat dan NRW bermasalah diwakili oleh PDAM Kabupaten Gunungkidul DIY, PDAM Kabupaten Tegal Jawa Tengah, dan PDAM Kabupaten Sintang Kalimantan Barat. Sedangkan untuk kategori PDAM dengan NRW tidak bermasalah diwakili oleh PDAM Kabupaten Badung-Bali, PDAM Kota Balikpapan, dan PDAM Kabupaten Lombok Utara.
Data yang dihimpun untuk mengukur produktivitas masing-masing PDAM adalah data sekunder dari Buku Kinerja PDAM Wilayah I, II, III, dan IV oleh BPPSPAM tahun 2014. Dari indikator-indikator penilaian/evaluasi kinerja PDAM selanjutnya dihitung produktivitas di masing-masing sampel PDAM dengan menggunakan konsep dasar model matematis OEE. Model matematis untuk menghitung nilai PDAM Availability, PDAM Efficiency, dan PDAM Quality Rate ditampilkan pada Tabel 3. Pengukuran produktivitas PDAM dihitung dengan menggunakan rumus:



                (2)



Tabel 3. Model Matematis PDAM Availability, PDAM Efficiency, dan PDAM Quality Rate Untuk Menghitung Produktivitas PDAM
 No
Indikator
Rumus OEE
Rumus Produktivitas PDAM
1
Availability (%)
2
Performance Efficiency (%)
3
Quality Rate (%)



Pada pengukuran produktivitas PDAM, nilai kondisi ideal perlu dipertimbangkan lagi karena rata-rata PDAM di seluruh Indonesia memiliki tingkat NRW sebesar 20%-40% dan waktu operasi aktual yang bervariasi sehingga akan mempengaruhi nilai produktivitas PDAM.

C.              Hasil dan Pembahasan
Data yang memuat variabel-variabel actual operating time, actual volume, dan Non-Revenue Water (NRW) amount yang akan dihitung dengan menggunakan tiga indikator produktivitas di enam PDAM sampel ditampilkan pada Tabel 4.
Dari data yang sudah dikumpulkan, selanjutnya dilakukan pengukuran produktivitas PDAM yang meliputi availability, performance efficiency, dan quality rate. Hasil pengukuran tiga indikator produktivitas (availability, performance efficiency, dan quality rate) di setiap sampel PDAM ditampilkan pada Tabel 5.



Tabel 4. Data Actual Operating Time, Actual Volume dan NRW Amount di Enam Sampel PDAM (BPPSPAM, 2014)
No
Wil
PDAM
Actual
Operating Time
(detik/tahun)
Actual Volume
(lt/tahun)
NRW Amount
(lt/tahun)
1
IV
Kab. Badung
28.908.000
32.637.132.000
9.889.050.996
2
II
Kab. Gunung Kidul
23.652.000
6.291.432.000
1.616.898.024
3
II
Kab. Tegal
31.536.000
4.730.400.000
1.281.938.400
4
III
Kab. Sintang
11.826.000
650.430.000
223.097.490
5
III
Kota Balikpapan
30.222.000
34.936.632.000
9.607.573.800
6
IV
Kab. Lombok Utara
30.222.000
1.843.542.000
597.307.608




Tabel 5. Hasil Pengukuran PDAM Availability, PDAM Efficiency, PDAM Quality Rate, dan Nilai Produktivitas PDAM
No
Wil
PDAM
Availability (%)
Performance Efficiency (%)
Quality Rate (%)
Produktivitas (%)
1
IV
Kab. Badung
91.67
69.80
69.70
44.60
2
II
Kab. Gunung Kidul
75.00
38.80
74.30
21.62
3
II
Kab. Tegal
100.00
77.40
72.90
56.42
4
III
Kab. Sintang
37.50
41.30
65.70
10.18
5
III
Kota Balikpapan
95.83
96.40
72.50
66.98
6
IV
Kab. Lombok Utara
95.83
40.60
67.60
26.30



Berdasarkan data yang ditampilkan pada Tabel 5, nilai produktivitas terbesar adalah PDAM Kota Balikpapan dan nilai produktivitas terendah adalah PDAM Kabupaten Sintang. PDAM Kota Balikpapan memiliki nilai produktivitas sebesar 66.98% dengan nilai availability sebesar 95.83%, nilai performance efficiency sebesar 96.40%, dan nilai quality rate sebesar 72.50%. Sedangkan nilai produktivitas terendah dari keenam sampel PDAM yang dipilih adalah PDAM Kabupaten Sintang yang memiliki nilai produktivitas sebesar 10.18%. PDAM Kabupaten Sintang memilki nilai availability sebesar 37.50%, performance efficieny sebesar 41.30%, dan quality rate sebesar 65.70%. Selain PDAM Kota Balikpapan yang memilik nilai produktivitas tertinggi, PDAM Kota Tegal juga memiliki nilai ketiga indikator produktivitas yang konsisten ditunjukkan dengan nilai availability yang mencapai 100%, performance efficieny sebesar 77.40%, dan quality rate sebesar 72.90%.
 Availability menunjukkan kemampuan PDAM dalam melayani kebutuhan penyediaan air kepada pelanggannya dalam satu tahun. Berdasarkan data nilai availability yang ditunjukkan pada Tabel 5, PDAM Kabupaten Tegal memiliki nilai availability tertinggi mencapai 100% yang berarti bahwa PDAM Kabupaten Tegal memiliki waktu operasi selama 24 jam dalam satu hari. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pelayanan yang dilakukan oleh PDAM Kabupaten Tegal kepada pelanggannya sangat baik. Dari keenam sampel PDAM yang dipilih, nilai availability terendah adalah PDAM Kabupaten Sintang sebesar 37.50%. Nilai availability yang begitu rendah di PDAM Kabupaten Sintang menunjukkan bahwa PDAM Kabupaten Sintang hanya menggunakan waktu operasinya sebesar 37.50% dari waktu operasi PDAM yang direkomendasikan selama satu tahun.
Indikator kedua untuk menghitung nilai produktivitas adalah performance efficiency. Berdasarkan data performance efficiency yang ditunjukkan pada Tabel 5, PDAM Kota Balikpapan memiliki nilai performance efficiency tertinggi sebesar 96.40% dan PDAM Kabupaten Gunung Kidul memiliki nilai performance efficiency terendah sebesar 38.80%. Performance efficiency merupakan rasio antara volume aktual yang didistribusikan dengan total jam operasi aktual. Dari data performance efficiency, PDAM Kota Balikpapan sangat efisien dalam mengoperasikan unit instalasi pengolahan airnya, ditunjukkan dengan besarnya nilai efisiensi yang mencapai 96.40%. Besarnya nilai performance efficiency dapat memberikan dua kesimpulan yaitu bahwa PDAM Kota Balikpapan mampu menunjukkan tingkat efisiensi operasi yang baik melalui volume riil yang didistribusikan, dan yang kedua menunjukkan bahwa PDAM Kota Balikpapan hampir 100% telah menggunakan kapasitas produksi unit instalasi pengolahan airnya dengan maksimal. Hal ini menjadi tantangan bagi PDAM Kota Balikpapan. Dengan nilai efisiensi sebesar 96.40%, PDAM Kota Balikpapan harus mulai merencanakan untuk menambah kapasitas produksi unit instalasi pengolahan airnya dengan mengimplementasikan berbagai rekomendasi kebijakan jangka panjang dan jangka pendek. Penambahan kapasitas jangka panjang dapat dilakukan dengan membangun unit instalasi pengolahan air yang baru. Pembangunan baru unit instalasi pengolahan air memerlukan biaya yang besar (capital expenditure) namun juga memberikan dampak berupa penambahan kapasitas yang sangat besar. Pembangunan unit instalasi pengolahan air yang baru minimal dapat memberikan penambahan kapasitas sebesar dua kali dari kapasitas produksi saat ini. Rekomendasi jangka panjang dilakukan untuk mengantisipasi prediksi pertumbuhan jumlah pelanggan eksponensial.
Alternatif kebijakan kedua yang dapat dilakukan oleh PDAM Kota Balikpapan dalam mengantisipasi kekurangan kapasitas (capacity backlog) dibandingkan permintaan (demand) yang terus meningkat adalah penambahan kapasitas jangka pendek dengan menerapkan teknologi uprating. Teknologi uprating merupakan salah satu metode optimalisasi peningkatan kapasitas produksi unit pengolahan air dengan biaya rendah. Pamekas (2015) menjelaskan bahwa uprating adalah upaya peningkatan kapasitas produksi air minum dengan tidak menambah luas lahan dan unit instalasi baru. Teknologi ini disebut sebagai optimasi instalasi pengolahan air atau peningkatan kapasitas produksi. Objek pada unit instalasi pengolahan air yang akan dioptimasi dengan mengimplementasikan teknologi uprating terletak pada bak pengendap kedua (secondary sedimentation) dengan cara menambah luas bidang pengendapan partikel tersuspensi yang telah membentuk gumpalan (flok) pada kondisi aliran laminer. Implementasi teknologi uprating dapat meningkatkan kapasitas produksi PDAM Kota Balikpapan untuk mengantisipasi pertumbuhan pelanggan dalam jangka pendek dengan biaya yang rendah.
Indikator ketiga untuk mengukur nilai produktivitas PDAM adalah quality rate. Nilai quality rate menunjukkan tingkat Non-Revenue Water (NRW) atau air tidak berekening di suatu PDAM. Tingkat NRW merupakan salah satu indikator penting yang digunakan untuk menilai tingkat kesehatan PDAM. Dari tingkat NRW dapat disimpulkan kinerja PDAM dari berbagai aspek mulai dari aspek pelayanan, aspek keuangan, aspek operasional, dan aspek sumber daya manusia. Berdasarkan data yang ditampilkan pada Tabel 5, PDAM Kabupaten Gunung Kidul memiliki nilai quaity rate tertinggi sebesar 74.30%. Nilai ini lebih besar dibandingkan dengan nilai quality rate PDAM Kota Balikpapan walau PDAM Kota Balikpapan memiliki nilai produktivitas tertinggi.
Pengukuran produktivitas dapat menunjukkan analisa kinerja PDAM dengan lebih komprehensif melalui tiga indikator pembentuknya (avalability, performance efficiency dan quality rate). Hal ini menunjukkan kinerja finansial dan non-finansial PDAM. Evaluasi secara kualitatif dan validasi metode ini dapat dilakukan dengan observasi instansi sehingga memberikan rekomendasi kepada PDAM yang bersangkutan terkait rekomendasi perbaikan yang harus dilakukan sesuai dengan data-data yang ditunjukkan. Grafik nilai indikator masing-masing produktivitas PDAM (availability, performance efficiency, dan quality rate) ditampilkan pada Gambar 1.



PDAM Kab. Badung

PDAM Kab. Gunung Kidul
Gambar 1. Grafik Produktivitas di PDAM Kab. Badung dan Kab. Gunung Kidul

PDAM Kab. Tegal
PDAM Kab. Sintang

Gambar 2. Grafik Produktivitas di PDAM Kab. Tegal dan Kab. Sintang
PDAM Kota Balikpapan
PDAM Kab. Lombok Utara

Gambar 3. Grafik Produktivitas di PDAM Kota Balikpapan dan Kab. Lombok Utara



D.             Kesimpulan

Dari hasil pengukuran produktivitas, PDAM Kota Balikpapan memiliki nilai availability, performance efficiency dan quality rate yang cenderung tinggi berturut-turut sebesar 95.83%, 96.40%, dan 72.50%. Berbeda dengan grafik PDAM Kab. Sintang yang lebih cenderung ke titik Quality Rate. Besar nilai availability dan efficiency di PDAM Kab. Sintang adalah 37.50% dan 41.30%, sedangkan nilai quality rate sebesar 65.70%. Grafik proporsi nilai produktivitas yang seimbang terletak di PDAM Kab Tegal dan Kota Balikpapan.
Rekomendasi produktivitas PDAM ini dapat menjadi pertimbangan untuk digunakan oleh BPPSPAM dengan mengukur produktivitas PDAM dari variabel jam kerja, volume yang didistribusikan, dan tingkat NRW.

E.              Ucapan Terima Kasih

Terima kasih disampaikan penulis kepada BPPSPAM Kemen PUPR, Perpamsi, PDAM Badung, PDAM Gunung Kidul, PDAM Tegal, PDAM Sintang, PDAM Balikpapan, PDAM Lombok Utara, AKATIRTA, Balitbang PUPR, Yun Prihantina ST. MSc, Wahyu K, S.Sos, M. Jauharul, SE, MM, Nur Alvira, SKM, MPH, Balai Litbang Sosekling Bid. Kim, PKPT dan semua pihak terkait.

F.              Daftar Pustaka

Ahmad, Soenandi, I., dan Aprilia, C. 2013. Peningkatan Kinerja Mesin Dengan Pengukuran Nilai OEE Pada Departemen Forging Di PT. APP. Jurnal Ilmiah Teknik Industri (2013), Vol. 1 No. 2,67-74.
Ansori, N., dan Mustajib, I.F. 2013. Sistem Perawatan Terpadu: Edisi Pertama. Penerbit Graha Ilmu. Indonesia.
BPPSPAM. 2014. Buku Kinerja PDAM 2014 Wil I. Jakarta.
BPPSPAM. 2014. Buku Kinerja PDAM 2014 Wil II. Jakarta.
BPPSPAM. 2014. Buku Kinerja PDAM 2014 Wil III. Jakarta.
BPPSPAM. 2014. Buku Kinerja PDAM 2014 Wil IV. Jakarta.
BPPSPAM. 2014. Petunjuk Teknis Evaluasi Kinerja PDAM.  Jakarta.
Chaeronsuk, C., dan Chansa-ngavej, C. 2008. Intangible Asset Management Framework for Long-term Financial Performance. Journal of Industrial Management & Data Systems, Vol. 108 No. 6 pp.812-828.
Dewi, M.P., Rosiawan, M., dan Sari, Y. 2013. Penerapan Good Manufacturing Practices dan 5S Untuk Peningkatan Produktivitas Di PT. Catur Pilar Sejahtera Surabaya. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 2 No. 1 (2013).
Erwin, H. 2014. Thesis: Evaluasi Proses Produksi Baterei Lithium Coin Berdasarkan Pendekatan Overall Equipment Effectiveness Studi Pada PT FDK Indonesia. Yogyakarta: Perpustakaan Pusat Universitas Gadjah Mada.
Djunaidi, M., dan Natasya, R. 2013. Pengukuran Produktivitas Mesin Dengan Overall Equipment Effectiveness (OEE) Di PT. Sinar Sosro KPB. Cakung. Simposium Nasional Teknologi Terapan (SNTT) 2013.
Habib, A.S., dan Supriyanto, H. 2012. Pengukuran Nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE) Sebagai Pedoman Perbaikan Efektivitas Mesin CNC Cutting. Jurnal Teknik POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-6.
Huda, M. dan  Riharjo I.B. 2013. Analisis Pelaporan Kinerja pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi, Vol. 2 No. 12 (2013).
Indriati, N.N., Rahman, A., Tantrika, C.F.M. 2014. Analisis Produktivitas dan Environmental Performance Indicator (EPI) Pada Produk SKM Dengan Metode Green Productivity Pada Perusahaan Rokok Adi Bungsu Malang. Jurnal Rekayasan dan Manajemen Sistem Industri, Vol. 2 No. 5 (2014).
Mohammad, I.R. 2015. Skripsi: Penerapan Overall Equipment Effectiveness (OEE) Dalam Implementasi Total Productive Maintenance (TPM) Studi Kasus Di PT. Adi Satria Abadi Kalasan. Fakultas Teknik, Sains dan Matematika, Jurusan Elektro dan Ilmu Komputer, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.
Nawirah. 2014. Penerapan Sistem Manajemen Strategi Berbasis Balance Scorecard pada Organisasi Sektor Publik. El Muhasaba: Jurnal Akuntansi Vol 4:2, 2014 (E-ISSN:2442-8922). 
Pamekas. 201f5. NRW dan Uprating Instalasi Pengolahan Air Minum-Bahan Paparan. Jakarta 31 Juli 2015.
Phusavat, K. 2013. Productivity Management in an Organization: Measurement and Analysis. ToKnowPress, Thailand.
Rahayu, D.D. 2015. Pengukuran Kinerja Perusahaan dengan Menggunakan Pendekatan Balanced Scorecard Pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Batu. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB
Supriyanto F.T., dan Wisnubroto, M.Y.P. 2014. Analisis Produktivitas Menggunakan Metode Cobb Douglas dan Metode Habberstad (POSPAC) (Studi Kasus di Pabrik Pengecoran Logam “PT Baja Kurnia”). Jurnal REKAVASI, Vol. 2, No. 1, Mei 2014, 25-32 ISSN: 2338-7750 25.
Tanaamah, A.R., Beeh, Y.R., dan Ngemba, H.R. 2013. Produktivitas Hotel Menggunakan Metode OMAX (Studi Kasus: Hotel Le Beringin Salatiga). Jurnal Teknologi Informasi-Aiti, Vol. 10 No. 2, Agustus 2013: 101-200.
Utami, C.W. 2002. Peningkatan Nilai Perusahaan Melalui Perbaikan Produktivitas Dan Kualitas Pada Sektor Jasa Sebuah Analisis Konseptual.  Jurnal Manajemen & Kewirausahaan, Vol. 4 No. 1: 56-64.
Widyastuti, N., Parwati, C.I., dan Asih E.W. 2014. Analisis Produktivitas Pada Proses Penyepuhan Dengan Metode Green Productivity. Jurnal REKAVASI, Vol. 2, No. 1, Mei 2014, 33-38.






No comments:

Ads Inside Post