Friday, 19 August 2016

IDENTIFIKASI DAN PREDIKSI JUMLAH PRODUKSI DAN KONSUMSI AIR PADA PDAM/ IDENTIFICATION AND PREDICTION OF WATER PRODUCTION AND CONSUMPTION IN PDAM

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

telah dipresentasikan pada Pekan Inovasi Sains dan Teknologi Balitbang PUPR, 11 Agustus 2016

Yudha Pracastino Heston1) Chitra Widyasani Surya Putri2)  V. Reza Kurniawan3) Yun Prihantina Mulyani 4)
1,2)Balai Litbang Sosekling Bidang Permukiman, PKPT, Balitbang Kementerian PUPR
3)Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
4)Program Studi Teknik Industri, Jurusan Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada
Jl. Adisucipto No. 165 Yogyakarta
Email: 1)yudha.ph@pu.go.id; 2) chitrawsp@gmail.com; 3) reza.kurniawan@ustjogja.ac.id; 4)yun.prihantina@mail.ugm.ac.id


Abstrak
Pemerintah telah menetapkan target akses air minum 100% pada tahun 2019. Berdasarkan hasil pemetaan kondisi PDAM di tahun 2014, terdapat 51% PDAM yang memiliki kinerja sehat, 29% PDAM berkinerja kurang sehat, dan 20% PDAM dengan kondisi sakit. Penelitian ini dilakukan untuk melihat kebutuhan air bersih, dari aspek penyediaan dan permintaan (supply – demand), dan prediksi keberlanjutan di masa datang. Pada penelitian ini akan dihitung jumlah pasokan air dan kebutuhan air di masing-masing PDAM di seluruh Indonesia. Selanjutnya untuk menghitung titik impas pasokan dan kebutuhan air akan dilakukan peramalan (forecasting) terhadap data historis jumlah pelanggan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa terdapat 189 PDAM yang pada kurang dari 5 tahun, memiliki titik impas antara penyediaan dan kebutuhan. Dan wilayah 2 memiliki jumlah PDAM terbanyak yaitu sebanyak 62 PDAM. Untuk kurun waktu 5 sampai 10 tahun mendatang, terdapat 45 PDAM yang akan mencapai titik impas. Pada kurun waktu tersebut wilayah 1 memiliki jumlah PDAM terbanyak, yaitu sebesar 15 PDAM. Sedangkan dalam kurun waktu 10-15 tahun mendatang terdapat 33 PDAM yang akan mencapai titik impas. Untuk kurun waktu 15-20 tahun mendatang terdapat 12 PDAM yang akan mencapai titik impas. Dan lebih dari 20 tahun mendatang terdapat 46 PDAM yang akan mencapai titik impas.
Kata kunci: penyediaan, kebutuhan, air, PDAM

Abstract
The government has set a target of 100% access to drinking water in 2019. Based on the results of the mapping taps conditions in 2014, there were 51% PDAM which have healthy performance, 29% PDAM performing less healthy, and 20% taps with pain conditions. This study was conducted to see the need for clean water, from the aspect of supply and demand, and the prediction of future sustainability. In this study will count the number of water supply and water demand in each PDAM in Indonesia. Furthermore, to calculate the breakeven point and the supply of water needs to be done forecasting against historical data subscribers. The survey results revealed that there are 189 taps are at less than 5 years old, has a breakeven point between supply and needs. And region 2 has the highest number of taps as many as 62 taps. For a period of 5 to 10 years, there are 45 taps will break even. In that period the number of taps region 1 had the highest, amounting to 15 taps. Meanwhile, within the next 10-15 years, there are 33 taps will break even. For the period of the next 15-20 years there are 12 taps will break even. And over the next 20 years there are 46 taps will break even.
Keywords: supply, demand, water, PDAM.


PENDAHULUAN
Pemerintah telah menetapkan target akses air minum 100% pada tahun 2019 (Kementerian PU, 2014). Hal ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk di dalamnya institusi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Penyediaan air melalui jaringan pipa PDAM memiliki dimensi sosial dan juga komersial pada saat yang bersamaan, sesuai dengan kaidah keberadaan air bersih. Berdasarkan hasil pemetaan kondisi PDAM di tahun 2014, terdapat 51% PDAM yang memiliki kinerja sehat, 29% PDAM berkinerja kurang sehat, dan 20% PDAM dengan kondisi sakit (Perpamsi, 2014). Penilaian ini menunjukkan bahwa masih adanya beberapa kendala dari institusi penyedia air, khususnya PDAM.
          Upaya penyediaan air bersih secara berkelanjutan, salah satunya pembiayaan, akan selalu dihadapkan pada berbagai tantangan (Cashman dan Ashley, 2008). Salah satu tantangan yang akan dihadapi oleh institusi penyedia air dalam upaya penyediaan air bersih secara berkelanjutan adalah backlog produksi. Kekurangan penyediaan air (backlog produksi) dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pertumbuhan populasi yang signifikan, sumber air baku yang terbatas, niat baik pengambil kebijakan, isu keterjangkauan/akses, dan tata kelola kelembagaan. Keberlanjutan penyediaan air juga ditentukan oleh faktor-faktor teknis yang meliputi audit air, District Meter Area (DMA), pencegahan terhadap kerusakan dan pencurian air, aliran dan tekanan, apresiasi, dan status air berekening/revenue water (Misra dan Malhotra, 2012). Kecenderungan alokasi air bersih untuk kebutuhan domestik yang mayoritas didominasi untuk irigasi sudah banyak berkurang karena sudah dilakukan penghematan konsumsi air (Magiera dkk, 2006).
          Gbadegesin dan Olorunfemi (2011) menjelaskan bahwa pengembangan kapasitas teknis dan manajerial institusional serta aspek lain yang meliputi partisipasi, desentralisasi, tarif, dan bagi peran antar tingkatan dapat mendukung keberlanjutan penyediaan air. Kodikara dalam Roozbahani dkk (2012) menyebutkan, untuk mengatasi kekurangan air dapat dilakukan beberapa pilihan tindakan yaitu mencari sumber air baru, mengurangi kebutuhan, mengganti dengan air daur ulang, efisiensi dan optimasi sistem operasi dari pasokan air. Berdasarkan hasil analisa tahunan pasokan dan permintaan (supply - demand), perusahaan penyedia air bersih perlu melakukan langkah perbaikan meliputi identifikasi alternatif kebijakan, memastikan kebutuhan dan biaya yang dibagi menjadi modal (modal awal, pemeliharaan dan penggantian), operasional (tetap dan variabel), dan mendiagnosa program dengan biaya rendah termasuk waktu, kapasitas, dan pilihan skema (Padula dkk, 2013). Ukuran dari kinerja dan capaian penyedia air dapat berupa frekuensi, besar, dan durasi dari kebutuhan pasokan air yang terkait dengan biaya, intensitas energi dan kinerja lingkungan (Matrosov, 2012).
          Kebutuhan air tidak saja terbatas pada masa kini, melainkan perlu adanya aspek keberlanjutan layanan. Penelitian ini dilakukan untuk melihat kebutuhan air bersih, dari aspek pasokan dan permintaan (supply – demand), dan prediksi keberlanjutan di masa datang. Pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah jumlah PDAM yang memiliki titik impas pasokan dan permintaan pada rentang waktu tertentu (<5 10-15="" 10="" 15-20="" 5="" atau="" tahun="">20 tahun) dan bagaimana strategi pengelolaan terkait dengan kebutuhan keberlanjutan penyediaan air tersebut.

METODE PENELITIAN
          Obyek pada penelitian ini adalah seluruh PDAM di Indonesia yang meliputi 86 PDAM di Wilayah 1, 107 PDAM di Wilayah 2, 89 PDAM di Wilayah 3, dan 44 PDAM di Wilayah 4. PDAM Wilayah 1 adalah PDAM yang terletak di Pulau Sumatera, PDAM Wilayah 2 adalah PDAM yang terletak di Pulau Jawa, PDAM Wilayah 3 adalah PDAM yang terletak di Pulau Kalimantan dan Sulawesi, dan PDAM Wilayah 4 adalah PDAM yang terlat di Papua, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Bali (BPPSPAM, 2014).
          Pada penelitian ini akan dihitung jumlah pasokan air dan kebutuhan air di masing-masing PDAM di seluruh Indonesia. Selanjutnya untuk menghitung titik impas pasokan dan kebutuhan air akan dilakukan peramalan (forecasting) terhadap data historis jumlah pelanggan. Data historis jumlah pelanggan dihitung dari tahun 2009 hingga tahun 2013 berdasarkan buku kinerja PDAM yang dirilis oleh BPPSPAM. Titik impas adalah kondisi ketika pasokan air sudah terserap 100% guna kebutuhan permintaan air. Berdasarkan hasil hitung titik impas ini, dapat dikategorikan pada tahun ke berapa PDAM mencapai titik impas. Kerangka kerja dalam penelitian ini ditampilkan pada Gambar 1.
 













Gambar 1. Kerangka Kerja Penelitian

          Titik impas dihitung dengan menghitung jumlah pasokan dan kebutuhan air (supply – demand). Capaian rasio 100% antara penyediaan dan kebutuhan air dihitung berdasarkan prediksi pertumbuhan jumlah pelanggan di masing-masing PDAM. Model matematis untuk menghitung penyediaan (supply) dan kebutuhan air (demand) adalah sebagai berikut:

Analisa Supply
Penyediaan Air
Analisa Demand
Kebutuhan Air
Rasio Supply dan Demand
Dengan
Annual Cap          = Kapasitas produksi per tahun        (lt/tahun)
Annual Vol           = Volume riil per tahun                       (lt/tahun)
Annual Demand = Jumlah permintaan per tahun       (lt)
Cap                        = Kapasitas produksi                          (lt/detik)
Vol                          = Volume riil                                         (lt/detik)
Rev                         = Total pendapatan                            (Rp)
OT                          = Jam operasional                               (detik/tahun)
P                              = Tarif                                                    (Rp/lt)

Selanjutnya, dilakukan peramalan (forecasting) untuk memprediksi jumlah pelanggan di masing-masing PDAM. Metode peramalan yang akan digunakan meliputi Weighting Moving Average (WMA), Moving Average (MA), dan NAIVE. WMA dan MA merupakan metode peramalan yang handal dengan model yang sederhana. Hatchett (2009) menyebutkan bahwa model MA adalah metode peramalan yang paling populer sebagai dasar peramalan. Model MA dipahami sebagai model yang sederhana dengan hanya mempertimbangkan data historis. Lucas dan Zhang (2016) mengembangkan model Exponentially Weighted Moving Average (EWMA) yang dapat dikembangkan dengan mudah untuk dimensi yang lebih tinggi dan alternatif distribusi peramalan. Lucas dan Zhang (2016) menggunakan EWMA untuk mendapatkan hasil yang lebih baik guna peramalan volatilitas hasil saham dan nilai tukar. Metode NAIVE digunakan sebagai pembanding model terbaik peramalan di setiap PDAM. WMA, MA, dan NAIVE akan diberikan perlakuan (intercept) guna mengetahui skenario model terbaik hasil peramalan. Dari ketiga metode peramalan yang digunakan, akan dipilih metode terbaik untuk meramalkan jumlah pelanggan dengan indikator R2 (R Square) dan error terkecil.

Metode
Model
Moving Average
Weighting Moving Average
NAIVE
Dengan
Yt = jumlah pelanggan pada tahun ke-t
W = bobot

Titik impas dapat dihitung dengan menggunakan hasil rasio penyediaan air dengan prediksi kebutuhan air. Model matematis untuk menghitung titik impas adalah sebagai berikut.

Variabel
Model
Konsumsi air/konsumen (Q
Rasio titik impas (RTI)
Dengan
RTI                         = Rasio titik impas
Annual vol            = volume riil per tahun                       (lt/tahun)
Annual demand   = jumlah permintaan per tahun       (lt)
Q                             = konsumsi air/konsumen                 (lt/tahun)

          Berdasarkan hasil pengukuran titik impas, dapat dipetakan pada tahun ke berapa PDAM mencapai titik impas (kondisi penyediaan dan kebutuhan air sudah mencapai 100%) sehingga PDAM dapat mempersiapkan strategi pengelolaan air terkait dengan kebutuhan keberlanjutan penyediaan air.

HASIL DAN PEMBAHASAN
A.           Kategorisasi PDAM
          Pengukuran titik impas dihitung melalui rasio antara penyediaan (supply) – kebutuhan (demand) dan prediksi jumlah pelanggan. Nilai supplydemand dihitung melalui perbandingan nilai demand yang merupakan hasil kali total pendapatan per tahun (Rev) dan tarif (P) dengan nilai supply yang merupakan perbandingan volume (annual vol) dengan kapasitas (annual cap). Berdasarkan data audit BPKP tahun 2014, dengan mempertimbangkan variable kapasitas tahunan (annual cap), volume tahunan (annual vol), dan rata-rata waktu operasi (OT) didapatkan nilai rata-rata efisiensi di masing-masing wilayah layanan PDAM di Indonesia seperti yang ditampilkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Nilai Rata-Rata Efisiensi PDAM di Wilayah 1, Wilayah 2, Wilayah 3, dan Wilayah 4 di Indonesia (Data Audit BPKP 2014)
No
Wilayah
Jumlah PDAM
Rata-Rata
Annual Cap (lt)
Rata-Rata Annual Vol (lt)
Rata-Rata OT (detik/tahun)
Rata-Rata Efisiensi
1
Wilayah 1
109
7.791.369.028
5.414.945.780
20.119.872
53%
2
Wilayah 2
108
25.367.804.167
19.685.520.667
28.287.500
66%
3
Wilayah 3
107
7.588.644.729
5.205.625.907
23.160.785
55%
4
Wilayah 4
47
7.973.967.064
5.750.623.149
23.036.936
61%

Berdasarkan Tabel 1 dapat disimpulkan bahwa rata-rata PDAM di Indonesia sudah mencapai efisiensi >50%. Hal ini menunjukkan tingkat inefisiensi yang masih tinggi karena idle capacity produksi air minum yang masih relatif besar dengan tingkat efisiensi tertinggi 66%. Secara jelas, perbandingan kapasitas/tahun dan volume/tahun ditampilkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Grafik perbandingan kapasitas/tahun dengan volume/tahun PDAM di Wilayah 1, Wilayah 2, Wilayah 3, dan Wilayah 4

Berdasarkan grafik perbandingan kapasitas dan volume per tahun, wilayah dengan kapasitas dan volume tertinggi adalah Wilayah 2. Tingginya nilai kapasitas dan volume tahunan di Wilayah 2 disebabkan salah satunya oleh kondisi demografis layanan PDAM. PDAM yang terletak di Wilayah 2 adalah PDAM yang berlokasi di Pulau Jawa dengan layanan penduduk yang padat dibanding dengan PDAM yang terletak di Wilayah 1, Wilayah 3, dan Wilayah 4. Berdasarkan hasil analisa supply dapat disimpulkan bahwa rata-rata PDAM di Indonesia masih memiliki idle capacity yang besar (sekitar 40%) yang masih dapat digunakan untuk mengakses pelanggan yang belum terlayani maupun sebagai cadangan kapasitas (capacity saving) yang dapat digunakan untuk mengatasi pertumbuhan pelanggan. Hal yang menjadi tantangan terkait idle capacity adalah pada tahun ke berapa kelebihan kapasitas yang dimiliki oleh mayoritas PDAM dapat memenuhi penambahan permintaan kebutuhan air minum (demand) tanpa adanya suatu perlakuan khusus untuk menambah kapasitas produksi IPA. 
          Selanjutnya, nilai demand dihitung dengan mempertimbangkan total pendapatan per tahun dengan tarif air minum. Berdasarkan data audit BPKP tahun 2014, nilai rata-rata demand per tahun untuk PDAM yang terletak di Wilayah 1, Wilayah 2, Wilayah 3, dan Wilayah 4 ditampilkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Nilai Demand PDAM di Wilayah 1, Wilayah 2, Wilayah 3, dan Wilayah 4 (Data Audit BPKP 2014)
No
Wilayah
Rata-Rata
Rev (Rp)
Rata-Rata
P (Rp/lt)
Rata-Rata
Demand per tahun (lt)
1
Wilayah 1
18.263.555.959
3.154
5.752.062.844
2
Wilayah 2
66.737.748.065
3.555
15.112.894.369
3
Wilayah 3
19.349.075.196
3.730
4.420.003.865
4
Wilayah 4
19.230.435.000
3.471
5.202.373.945

Berdaarkan Tabel 2, wilayah dengan rata-rata demand per tahun tertinggi adalah Wilayah 2 sebesar 15.112.894.369 lt. Nilai demand mendukung hasil dari nilai supply bahwa faktor yang menyebabkan tingginya angka demand dan supply di Wilayah 2 adalah kondisi demografis di Pulau Jawa yang merupakan daerah jangkauan PDAM Wilayah 2.
          Rasio supply-demand merupakan perbandingan antara nilai demand (annual demand) dengan nilai supply (annual supply). Hasil nilai rasio supply-demand ditampilkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Nilai rasio supply-demand dan efisiensi PDAM di Wilayah 1, Wilayah 2, Wilayah 3, dan Wilayah 4 (Data Audit BPKP 2014)
No
Wilayah
Rata-Rata Annual Cap (lt)
Rata-Rata Annual Vol (lt)
Rata-Rata Annual Demand
Efisiensi
Rata-Rata Demand/Supply
1
Wilayah 1
7.791.369.028
5.414.945.780
5.752.062.844
53%
74%
2
Wilayah 2
25.367.804.167
19.685.520.667
15.112.894.369
66%
60%
3
Wilayah 3
7.588.644.729
5.205.625.907
4.420.003.865
55%
58%
4
Wilayah 4
7.973.967.064
5.750.623.149
5.202.373.945
61%
65%

Berdasarkan data perhitungan rasio supply-demand pada Tabel 3, dapat disimpulkan bahwa rata-rata presentase rasio tertinggi supply-demand adalah PDAM yang terletak di Wilayah 1 dengan nilai sebesar 74%. Hal ini menunjukkan bahwa 74% rata-rata kapasitas produksi yang dimiliki oleh PDAM di Wilayah 1 telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum pelanggan. Di lain sisi, Wilayah 1 memiliki nilai efisiensi sebesar 53% yang berarti bahwa masih terdapat sekitar 47% idle capacity dari volume riil yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum pelanggan. Performa terbaik ditunjukkan oleh PDAM di Wilayah 4 dengan nilai rasio supply-demand sebesar 65% dan efisiensi sebesar 61%. Kemampuan produksi yang digunakan untuk melayani pelanggan dan volume riil yang dihasilkan dari total kapasitas produksi saat ini tidak berbeda secara signifikan di Wilayah 4. Grafik perbandingan antara rasio supply-demand dan tingkat efisiensi di masing-masing wilayah ditampilkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Grafik perbandingan rasio supply-demand dan efisiensi PDAM di Wilayah 1, Wilayah 2, Wilayah 3, dan Wilayah 4.

Rasio supply-demand yang telah didapatkan selanjutnya akan dibandingkan dengan prediksi jumlah pelanggan. Melalui perhitungan prediksi jumlah pelanggan ini nantinya dapat dikategorikan PDAM yang telah mencapai titik impas pasokan dan permintaan pada waktu tertentu yaitu <5 10="" 15="" 20="" 5="" dan="" tahun="">20 tahun. Prediksi jumlah pelanggan dihitung dengan metode peramalah yang meliputi WMA, MA dan NAIVE. Untuk memprediksi jumlah pelanggan di setiap PDAM, diperlukan tiga tahap yaitu grouping, generating parameter, dan method selection. Grouping yaitu mengelompokkan trend pertumbuhan pelanggan di setiap PDAM apakah trend pertumbuhan pelanggan positif, negatif, atau fluktuatif. Generating parameter mengacu pada metode peramalan yang digunakan dengan n=2 dan n=3. Pada tahap ini akan dihitung parameter optimal untuk setiap metode peramalan. Tahap akhir dalam memprediksi jumlah pelanggan adalah method selection. Pada tahapan ini akan dipilih metode terbaik prediksi pertumbuhan pelanggan di setiap PDAM berdasarkan kriteria R2 (R-square) dan error. Kriteria R2 (R-Square) menunjukkan kemampuan model dalam memprediksi, sedangkan error adalah tingkat akurasi model dalam memprediksi. Melalui perhitungan titik impas yang diukur dari rasio supply-demand dengan prediksi jumlah pelanggan, maka dapat dikategorikan PDAM yang sudah mencapai titik impas pada tahun tertentu seperti yang ditampilkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil kategorisasi PDAM berdasarkan titik impas pasokan dan kebutuhan air pada waktu tertentu
Tahun Kebutuhan
Wilayah 1
Wilayah 2
Wilayah 3
Wilayah 4
Jumlah
Presentase
Jumlah
Presentase
Jumlah
Presentase
Jumlah
Presentase
<5 o:p="" tahun="">
37
43%
62
58%
56
63%
34
77%
5 – 10 th
15
17%
13
12%
14
16%
3
7%
10 – 15 th
15
17%
14
13%
3
3%
1
2%
15 – 20 th
4
5%
5
5%
2
2%
1
2%
>20 th
15
17%
12
11%
14
16%
5
11%
Jumlah
86
100%
106
100%
89
100%
44
100%


Berdasarkan Tabel 4, Wilayah 1 dengan jumlah 86 PDAM memiliki 37 PDAM yang mencapai titik impas <5 10="" 15="" 20="" 4="" 5="" baru="" dan="" dengan="" impas="" mencapai="" pdam="" rentang="" tahun="" titik="" waktu="" yang="">20 tahun. Potensi terbesar titik impas terjadi <5 2="" 4.="" 44="" 4="" 62="" adalah="" dari="" di="" ditampilkan="" gambar="" grafik="" impas="" jumlah="" kategorisasi="" memiliki="" mencapai="" o:p="" pada="" pdam.="" pdam="" per="" perbandingan="" presentase="" secara="" tahun="" terbesar="" terletak="" titik="" wilayah="" yang="">

Gambar 4. Grafik kategorisasi PDAM (<5 10="" 15="" 20="" 5="" dan="" tahun="">20 tahun) di Wilayah 1, Wilayah 2, Wilayah 3, dan Wilayah 4

Dari grafik perbandingan kategorisasi, mayoritas PDAM di Indonesia akan mencapai titik impas dengan rentang waktu <5 189="" 1="" 2="" 325="" 34="" 37="" 3="" 4="" 56="" 58="" 62="" air="" atau="" berjumlah="" dan="" dari="" dengan="" di="" diperlukan="" impas="" indonesia.="" itu="" karena="" keberlanjutan="" kebutuhan="" keseluruhan="" mencapai="" minum.="" o:p="" oleh="" pdam.="" pdam="" pengelolaan="" penyediaan="" rincian="" sebanyak="" secara="" strategi="" tahun="" terdapat="" terkait="" titik="" total="" wilayah="" yang="">

B.            Strategi Pengelolaan PDAM Terkait Keberlanjutan Kebutuhan Penyediaan Air
Rekomendasi strategi pengelolaan yang diimplementasikan oleh PDAM mempertimbangkan faktor-faktor yang signifikan dan relevan terkait keberlanjutan kebutuhan penyediaan air minum. Faktor dasar dalam perumusan strategi yang akan direkomendasikan adalah nilai air tak berekening (Non-Revenue Water/NRW existing) dan tingkat kesehatan PDAM. Tingkat NRW dan kesehatan PDAM merupakan parameter tujuan kinerja PDAM yang dievaluasi oleh BPPSPAM dan merefleksikan aspek keuangan, aspek pelayanan, aspek operasional, dan aspek sumber daya manusia.
Strategi pengelolaan PDAM terkait keberlanjutan penyediaan air dipetakan dengan menggunakan analisa SWOT. Pendekatan kuantitatif SWOT membagi empat strategi yaitu turn-around, aggresive, defensive dan diversification seperti yang dapat dilihat pada Gambar 5. PDAM dengan presentase NRW yang tinggi dan kondisi yang tidak sehat direkomendasikan untuk menerapkan strategi defensive. PDAM dengan presentase NRW yang tinggi dan kondisi yang sehat direkomendasikan menerapkan strategi diversification. PDAM dengan presentase NRW yang rendah dan kondisi yang tidak sehat direkomendasikan menerapkan strategi aggresive dan PDAM dengan presentase NRW yang rendah serta kondisi yang sehat direkomendasikan menerapkan strategi turn-around.

Gambar 5. Kuadran Strategi Pengelolaan PDAM terkait Keberlanjutan Kebutuhan Penyediaan air minum

Berdasarkan buku kinerja PDAM oleh BPPSPAM (2014) dapat dipetakan 64 PDAM berdasarkan tingkat NRW dan kondisi kesehatan PDAM ke dalam 4 strategi kuantitatif SWOT. Hasil pemetaan strategi ke-64 PDAM ditampilkan pada Gambar 6.

Gambar 6. Pemetaan Strategi Kuantitatif SWOT Untuk 64 PDAM Berdasarkan Buku Kinerja BPPSPAM Tahun 2014

Hasil pemetaan 64 PDAM ke dalam strategi kuantitatif SWOT adalah sebanyak 34% PDAM direkomendasikan untuk menerapkan strategi defensive, 34% PDAM direkomendasikan untuk menerapkan strategi aggresive, 16% PDAM direkomendasikan untuk menerapkan strategi turn-around, dan 16% PDAM direkomendasikan untuk menerapkan strategi diversifikasi.
PDAM yang tergolong dalam kategori kuadran 1 adalah PDAM dengan kondisi paling ideal yaitu kondisi di mana PDAM memiliki tingkat NRW yang rendah (<32 baik="" dan="" kesehatan="" nilai="" tingkat="" yang="">3,17) dan direkomendasikan dengan strategi aggresive. Tindakan strategis (strategic action) yang dapat diterapkan pada PDAM yang memiliki strategi aggresive adalah penambahan skala bisnis PDAM yang meliputi penambahan kapasitas produksi, penambahan jumlah sambungan rumah (distribusi), penambahan jumlah operator IPA, dan penambahan jumlah tenaga lapangan. PDAM yang masuk dalam kategori kuadran 2 adalah PDAM dengan kondisi NRW rendah (<32 dalam="" direkomendasikan="" i="" ini="" juga="" kategori="" kesehatan="" menerapkan="" namun="" pdam="" rendah="" sehat="" strategi="" tidak="" tingkat="" untuk="" yang="">turn-around
. Tindakan strategis yang dapat diterapkan pada PDAM yang memiliki strategi turn-around adalah peningkatan kapasitas manajerial dalam hal ini sumber daya manusia seperti operator IPA dan tenaga lapangan, efisiensi biaya, dan mengubah budaya kerja menjadi lebih optimal. PDAM yang masuk dalam kategori kuadran 3 adalah PDAM dengan kondisi NRW tinggi (>32,55) dengan kondisi sehat. PDAM pada kategori ini direkomendasikan untuk menerapkan strategi diversifikasi. Strategi diversifikasi dapat diterapkan melalui beberapa tindakan strategis yaitu pengembangan produk usaha semisal memproduksi air dalam kemasan, dan melakukan inovasi dalam mengatasi kebocoran sambungan. Strategi diversifikasi menekankan aspek inovasi dan diferensiasi layanan oleh PDAM. Kuadran terakhir adalah kuadran 4 yaitu kategori PDAM dengan kondisi yang sangat tidak ideal, ditunjukkan dengan presentase tingkat NRW yang tinggi (>32,55) dan juga kondisi yang tidak ideal. PDAM-PDAM dalam kuadran ini direkomendasikan untuk menerapkan strategi defensive. Strategi defensive diterapkan dengan tindakan pengajuan pemutihan hutang PDAM (terkait aspek keuangan), menekan NRW serendah mungkin, dan menekan biaya operasional dan belanja perusahaan.
Tindakan strategis yang dirumuskan di setiap strategi PDAM di Indonesia secara general juga telah diterapkan di kawasan MENA (Middle East North Africa). Magiera dkk (2006) menjelaskan mekanisme demand management meliputi economic incentives seperti tarif, insentif untuk pemeliharaan lingkungan, subsidi dan perlakuan economic incentives lainnya dalam rangka efisiensi penggunaan air, technological upgrading atau peningkatan aspek teknologi, pendidikan dan komunikasi yang dapat direfleksikan ke dalam peningkatan budaya kerja sumber daya manusia, dan penggunaan kembali air limbah. Misra dan Malhotra (2012) mengidentifikasikan strategi keberlanjutan pasokan air minum di New Delhi, India, meliputi perbaikan jaringan pasokan air, audit pasokan air, pelatihan dan peningkatan sumber daya manusia, membendung air hujan, dan pendistribusian melalui pembangunan underground reservoirs (UGR) di beberapa area yang berbeda. Strategi terkait keberlanjutan penyediaan air minum yang telah dilakukan oleh Magiera dkk (2006); dan Misra dan Malhotra (2012) dapat dikategorikan ke dalam aspek finansial, peningkatan infrastruktur teknologi, efisiensi operasional, dan aspek manajemen sumber daya manusia. Faktor-faktor tersebut juga merupakan indikator tindakan strategis yang dapat dilakukan oleh PDAM di Indonesia yang telah dikategorikan ke dalam empat rekomendasi strategi dengan pendakatan kuantitatif SWOT. 
Tindakan strategis (strategic action) yang dirumuskan untuk menerapkan masing-masing strategi sesuai kondisi PDAM di Indonesia merupakan upaya untuk menjamin keberlanjutan penyediaan kebutuhan air minum. PDAM yang telah dikategorikan capaian titik impasnya pada tahun tertentu (<5 10="" 15="" 20="" 5="" dan="" tahun="">20 tahun) harus memiliki strategi pengelolaan untuk menjamin keberlanjutan penyediaan air. Penambahan skala bisnis, diferensiasi produk layanan PDAM, efisiensi keuangan, maupun perlakuan pada manajemen PDAM merupakan beberapa tindakan strategis yang dapat diterapkan oleh PDAM di Indonesia berdasarkan evaluasi kinerja saat ini dan menjadi perbaikan kinerja di masa yang akan datang. Oleh karena itu, penting bahwa setiap PDAM mengetahui tahun pada saat mencapai kondisi impasnya (capaian 100% pasokan dan kebutuhan air) dan strategi pengelolaan yang harus diterapkan terkait keberlanjutan penyediaan kebutuhan air untuk masyarakat.  

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian diketahui bahwa terdapat 189 PDAM yang pada kurang dari 5 tahun, memiliki titik impas antara penyediaan dan kebutuhan. Dan wilayah 2 memiliki jumlah PDAM terbanyak yaitu sebanyak 62 PDAM. Untuk kurun waktu 5 sampai 10 tahun mendatang, terdapat 45 PDAM yang akan mencapai titik impas. Pada kurun waktu tersebut wilayah 1 memiliki jumlah PDAM terbanyak, yaitu sebesar 15 PDAM. Sedangkan dalam kurun waktu 10-15 tahun mendatang terdapat 33 PDAM yang akan mencapai titik impas. Untuk kurun waktu 15-20 tahun mendatang terdapat 12 PDAM yang akan mencapai titik impas. Dan lebih dari 20 tahun mendatang terdapat 46 PDAM yang akan mencapai titik impas.
Sebagian besar PDAM memiliki titik impas di bawah 5 tahun, sehingga perlu ada strategi yang tepat untuk kondisi dan karakter spesifik yang dihadapi oleh masing-masing PDAM.   strategi aggressive dapat dipilih untuk PDAM misalnya Kabupaten Klaten, Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Bogor, yaitu dengan meningkatkan kapasitas produksi, menambah jumlah sambungan rumah, menambah jumlah operator yang mengoperasikan IPA serta menambah jumlah tenaga lapangan. Strategi diversifikasi dapat dipilih untuk PDAM misalnya Kabupaten Sleman, Kota Denpasar dan Kota Pekalongan, dengan cara antara lain mengembangkan produk usaha, seperti memproduksi air kemasan dan melakukan inovasi dalam mengatasi kebocoran sambungan. Dtrategi turn-around dapat dipilih untuk PDAM misalnya Kabupaten Jepara, Kota Balikpapan dan Kabupaten Gunung Kidul dengan cara antara lain meningkatkan kapasitas manajerial termasuk operator dan tenaga lapangan, efisiensi biaya dan mengubah budaya kerja menjadi lebih optimal. Strategi defensive dapat dipilih untuk PDAM misalnya Kota Jogja, Kabupaten Jembrana dan Kota Pontianak dengan misalnya mengajukan pemutihan hutang PDAM, menekan NRW serendah mungkin dan menekan biaya operasional dan belanja perusahaan.

UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan Terima Kasih penulis sampaikan kepada Kepala Balai Litbang Soseklingkim Bapak Achjat Dwiatno, Kepala Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi Bapak Bobby Prabowo, tim peneliti, Wahyu K, M. Jauharul, Annisa IM, Rudita, Perpamsi, BPPSPAM, AKATIRTA, PDAM yang menjadi lokasi penelitian kami.

DAFTAR PUSTAKA
Naja, A.S., 2014, Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management): Konsep dan Hakikat, Jurnal Dinamika Informatika Vol 6, No 2 (2014)

Cashman, A. dan Ashley, R., 2008, Costing the Long-Term Demand for Water Sector Infrastructure, Foresight, vol. 10 iss 3 pp. 9-26, ISSN 1463-6689

Gbadegesin A.S. dan Olorunfemi F.B., 2011, Sustainable Technological Policy Option for Rural Water Supply Management In Selected Rural Areas of Oyo State, Nigeria, Management of Environmental Quality: An International Journal Vol.22 No. 4, 2011, pp. 486-501, 1477-7835

Hatchett, R.B., 2009, Thesis: Optimal Length of Moving Averages To Use When Forecasting Basis, Proquest LLC
Lucas, A. dan Zhang X., 2016, Score-driven exponentially weighted moving averages and Value-at-Risk forecasting, International Journal of Forecasting 32 (2016) 293-302

Magiera, P., Taha, S., dan Nolte, L., 2006, Water demand management in the Middle East and North Africa, Management of Environmental Quality: An International Journal Vol. 17 No. 3, pp. 289-298

Matrosov E.S., Padula S., Harou J.J., 2012, Selecting Portofolios of Water Supply and Demand Management Strategies Under Uncertainty – Contrasting Economic Optimisation and ‘Robust Decision Making’ Approaches, Water Resour Manage, 27:1123-1148, DOI 10.1007/s11269-012-0118-x

Misra, K. dan Malhotra, G., 2012, Water Management: the obscurity of demand and supply in Delhi, India, Management of Environmental quality: An International Journal Vol. 23 No.1, 2012 pp. 23-35, 1477-7835 DOI 10.1108/14777831211191575

Padula S., Harou J.J., Papageorgiou L.G., Ji Y, Ahmad M., Hepworth N., 2013, Least, Least Economic Cost Regional Water Supply Planning – Optimising Infrastructure Investment and Demand Management for South East England’s 17,6 Million People, Water Resour Manage 27:5017-5044, DOI 10.1007/s11269-013-0437-6

Pusat Komunikasi Publik, 2014, Target 100 Persen Capaian Akses Air Minum pada 2019, URL: http://pu.go.id/main/view_pdf/9790, diakses online 8 April 2016, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia

Roozbahani A, Zahraie B, Tabesh M., 2012, Promethee with Precedence Order in the Criteria (PPOC) as a New Group Decision Making Aid: An Application in Urban Water Supply Management, Water Resour Manage, 26:3581-3599, DOI 10.1007/s11269-012-0091-4

Tim peneliti, 2015, Litbang Kebijakan Efisiensi Layanan PDAM, Laporan Akhir Kegiatan Penelitian, Balai Litbang Sosekling Bidang Permukiman.





No comments:

Ads Inside Post