Yudha P. Heston
A. Latar Belakang
Program pembangunan rumah susun secara
massal, merupakan salah satu usaha pemerintah untuk dapat memberikan tempat
tinggal yang layak bagi warganya. Program ini di latarbelakangi oleh
permasalahan umum nasional, berkaitan dengan meluasnya permukiman kumuh yang
terletak di kota – kota besar dan metropolitan.
UN Habitat, sebuah lembaga
internasional yang menangani masalah permukiman, memperkirakan hampir satu
miliar manusia tinggal di permukiman kumuh, di kota-kota dunia. Dimana sebagian
besar permukiman kumuh tersebut berada di kota – kota negara berkembang. Mereka
memperkirakan, jika masalah permukiman kumuh tidak tertangani dengan baik, maka
jumlah penduduk yang tinggal di kawasan kumuh akan meningkat dua kali lipat di
tahun 2030.
Melihat kecenderungan itu, program
penyediaan perumahan vertikal menjadi salah satu upaya untuk mengurangi, bahkan
lebih lagi dalam meredam laju pertumbuhan permukiman kumuh.
Niat serius Pemerintah Indonesia untuk
memacu pembangunan rumah susun, tertuang dalam Keputusan Presiden No. 22 tahun
2006 tentang Tim Koordinasi Percepatan Pembangunan Rumah Susun di Kawasan
Perkotaan. Yang ditunjuk sebagai koordinator adalah Menteri Koordinator Bidang
Perekonomian. Dengan melihat susunan keanggotan dalam Keppres tersebut,
seharusnya masalah koordinasi bukan lagi merupakan hambatan. Akan tetapi dalam
pelaksanaan pembangunan di lapangan, masalah koordinasi institusi masih terjadi.
Selain dari percepatan pemenuhan
kebutuhan jumlah rumah susun, terdapat hal lain yang perlu mendapatkan
perhatian khusus. Hal tersebut adalah masalah penghunian dan pengelolaan rumah
susun ke depan. Dengan semakin banyaknya rumah susun yang dibangun, diperlukan
sistem pengelolaan dan penghunian yang baik dan terpadu.
Keterbatasan tenaga pengelola di
pemerintah daerah, dan banyaknya permasalahan dalam penghunian dan pengelolaan
memerlukan perhatian dan penanganan yang tepat. Karena dengan cara penghunian
dan pengelolaan yang baik, akan meningkatkan nilai keberlanjutan penghunian
rusun. Sehingga permasalahan seperti pengalihan kepemilikan tidak terjadi.
Dengan penghunian dan pengelolaan yang benar, akan mengoptimalkan penghunian
unit rusun terbangun, yang akan membantu mengurangi jumlah backlog perumahan nasional.
B. Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan penelitian berkaitan
dengan, Bagaimana seharusnya sistem penghunian dan pengelolaan rusun di
Indonesia, sehingga penghunian rumah susun tepat sasaran dan pengelolaannya
menyediakan rusun yang tertib, sehat, aman dan nyaman?
C. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi permasalahan pengelolaan dan penghunian rumah susun di
Indonesia. Terutama dari segi penghunian dan pengelolaannya, yang mendorong
keinginan untuk tinggal secara permanen di rumah susun. Sehingga langkah upaya
selanjutnya dapat diambil untuk menyelesaikan masalah tersebut.
D. Definisi Operasional
Definisi dari istilah yang dipergunakan
dalam penelitian ini dijelaskan dalam definis operasional. Berdasarkan definisi
yang memiliki kekuatan hukum (legal) ataupun definisi umum.
Definisi Rumah Susun menurut UU No 16
tahun 1985 Tentang Rumah susun, adalah : bangunan gedung bertingkat yang
dibangun dalam suatu lingkungan, yang terbagi dalam bagian-bagian yang
distrukturkan secara fungsional dalam arah horizontal maupun veritikal dan
merupakan satuan satuan yang masing- masing dapat dimiliki dan digunakan secara
terpisah, terutama untuk tempat hunian, yang dilengkapi dengan bagian-bersama, benda
bersama dan tanah-bersama.
Rumah Susun Sederhana (Rusuna) adalah :
rumah susun yang diperuntukan bagi masyarakat berpenghasilan menengah bawah dan
berpenghasilan rendah.
Rusun sewa adalah : rusun yang
penggunaan unit huniannya diperoleh dengan membayar sewa tiap waktu tertentu
kepada pemilik sah unit rusun, dan tidak dapat dimiliki.
Rusun milik adalah : rusun yang
penggunaan unit huniannya dimiliki dan dipergunakan dengan akta jual beli yang
sah.
Rusun sewa – milik : rusun yang
penggunaan unit huniannya dimiliki setelah pada kurun waktu tertentu dihuni
dengan membayarkan uang sewa tiap waktu tertentu kepada pemilik sah unit rusun.
Penghuni adalah : perseorangan yang
bertempat tinggal dalam satuan rumah
Susun.
MBR (Masyarakat
Berpenghasilan Rendah) adalah : keluarga/rumah tangga yang berpenghasilan
sampai dengan dua juta rupiah per bulan.
Pengelola adalah : badan atau organisasi
yang bertugas atau ditunjuk untuk mengelola rumah susun.
Perhimpunan penghuni adalah : perhimpunan
yang anggotanya terdiri dari para penghuni.
E. Metodologi
Pendekatan Penelitian
Studi penghunian dan pengelolaan dalam
rangka percepatan pemenuhan kebutuhan rumah susun dilakukan dengan pendekataan
kualitatif dan didukung dengan metode kuantitatif. Secara kualitatif, yaitu
dengan melakukan studi kebijakan dan literatur. Baik yang telah dikeluarkan
pemerintah maupun swasta, berkaitan dengan pembangunan rumah susun. Studi
literatur, berkaitan dengan masalah nyata dan terkini yang menyebabkan
terlambatnya program pembangunan rumah susun di Indonesia.
Pendekatan Metoda yang Dipilih
Penelitian dilakukan dengan
menggunakan pendekatan deduksi positivisme dengan mencari teori pendukung yang
dikaji terhadap kenyataan sosial budaya yang terjadi di lapangan atau pada
tingkat kenyataan.
Teori yang relevan dengan fokus sesuai
bahasan dipakai sebagai langkah awal pelaksanaan kajian. Teori di deduksi
sebagai pengarah/ guideline pelaksanaan kajian. Deduksi teori dapat dimunculkan
sebagai sebuah hipotesa awal kegiatan kajian.
Dari hipotesa alat uji yang digunakan
adalah (sampel dari kasus sosial yang ditemukan nyata di rumah susun Benhil II,
Cokrodirjan dan Batam, alat penelitian menggunakan teori berkaitan dengan rasa
ruang – perilaku meruang terutama berkaitan dengan hunian rumah susun, penyelesaian
masalah dengan mengutamakan kekuatan komunitas, skala pengukuran analisa dengan
menggunakan dialog manajemen konflik khususnya dalam pengelolaan rumah susun.
Hasil analisa penelitian dapat
dicarikan penggeneralisasiannya dalam sebuah usulan konsep general.
Pengumpulan Data
Data dalam penelitian dikumpulkan dari
sumber primer yaitu dari penghuni dan pengelola rumah susun. Studi secara
kuantitatif dilakukan di tiga lokasi penelitian, yaitu di rumah susun
Cokrodirjan Yogyakarta, Bendungan Hilir II, Jakarta dan Griya Pelita Mas,
Batam. Studi kuantitatif dilakukan untuk meninjau permasalahan keterlambatan
dari sudut pandang bangunan rumah susun itu sendiri.
Total Sampel yang diteliti, diambil
secara random dan proporsional adalah
143 dari 986 Kepala Keluarga, dengan pembagian 50/300 KK dari Griya Pelita Mas
Batam, 63/614 KK dari Rusun Benhil II Jakarta, 30/72 KK dari Rusun Cokrodirjan
Yogyakarta. Responden di rumah susun Cokrodirjan berasal dari Yogyakarta
sendiri karena salah satu syarat menghuni Rusunawa Cokrodirjan adalah warga
asli Yogyakarta yang dibuktikan dengan kepemilikan KTP Yogyakarta. Sedangkan
asal responden di daerah Jakarta setengah
berasal dari Jakarta dan setengahnya merupakan
perantauan, dari luar Jakarta .
Sistem sewa – jual yang ada di rusun Benhil II memunculkan kondisi yang
demikian ini. Untuk daerah Batam yang merupakan daerah tujuan pencari kerja
terdapat keberagaman asal daerah dari responden penelitian ini. Namun demikian
sebagian besar responden berasal dari daerah di Pulau Sumatera.
Pengumpulan data sekunder dilakukan
dengan mengumpulkan sumber pustaka terhadap penghunian dan pengelolaan rumah
susun yang ada di literatur dan tulisan di media massa.
Teknik Observasi, dengan melakukan
pengamatan langsung di lokasi rumah susun yang diteliti.
Teknik wawancara mendalam, untuk
menangkap informasi yang akurat dari penghuni, pengelola dan pembangun rumah
susun.
Analisis yang dilakukan
Analisis kualitatif dilakukan terhadap
literatur dan bahan bacaan berkaitan dengan penghunian dan pengelolaan rumah
susun.
Analisis kuantitatif meliputi analisis
korelasi (hubungan) terhadap variabel penghunian dan pengelolaan rumah susun.
F. Analisa dan Pembahasan
1. Pihak Penyelenggara Pembangunan
Dalam penyelenggaraan pembangunan
rumah susun terdapat tiga pihak yang berperan. yaitu pertama pihak pembangun, bangunan
dan lingkungan rumah susun itu sendiri serta penghuni rumah susun. Ketiga pihak
ini memiliki unsur dan faktor – faktor penghambat dalam penyelenggaraan program
pembangunan rumah susun.
Pihak pembangun rumah susun secara
garis besar dibagi menjadi dua. Yaitu dari pemerintah dan swasta. Dari pihak
pemerintah, dibagi menjadi dua yaitu instansi pusat yang dibiayai oleh APBN.
Seperti Kementrian Negara Perumahan Rakyat dan Departemen Pekerjaan Umum.
Instansi daerah yang menggunakan APBD baik di tingkat Provinsi maupun
Kabupaten/Kota.
Pihak pembangun yang berasal dari
swasta, dapat dibagi juga menjadi dua. Yaitu dari pihak semi pemerintah (BUMN/Badan/Perum)
dan pengembang. Instansi semi pemerintah seperti PT Jamsostek, Perum Perumnas,
Badan Otorita Batam. Dari Pihak Swasta seperti PT Perdana Gapura Prima Tbk, PT
Primaland Internusa, PT Anggana, PT Rajawali Core Indonesia, dsb.
Rumah Susun mempunyai arti yang sama
dengan apartemen. Akan tetapi bagi masyarakat indonesia pemaknaan rumah susun seringkali
lebih mengarah kepada unit hunian yang diperuntukkan bagi masyarakat
berpenghasilan rendah. Sedangkan apartemen lebih ditujukan kepada hunian susun
bagi masyarakat berpenghasilan menengah dan tinggi.
2. Penghuni Rumah Susun
Penghuni rumah susun, khususnya rusun
sederhana, memiliki beberapa karakteristik. Penghuni dapat berasal dari
kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang berasal dari lokasi pemindahan
penduduk (relokasi). Kelompok penghuni yang berasal dari pekerja/pegawai suatu
perusahaan/ instansi. Kelompok lain penghuni rumah susun adalah mahasiswa.
3. Pengelola Rumah Susun
Dari hasil
penelitian di tiga lokasi, dapat digambarkan bentuk pengelolaan. Badan
Pengelola di rumah susun Bendungan Hilir II Jakarta adalah badan yang dibentuk
- ditunjuk dan diawasi oleh Perhimpunan Penghuni Rumah Susun (PPRS) yang
bertugas untuk mengelola Rumah Susun Bendungan Hilir.
Tugas – tugas Badan
Pengelola adalah melaksanakan
pemeriksaan, pemeliharaan, kebersihan dan perbaikan rumah susun dan
lingkungannya pada bagian bersama, benda bersama dan tanah bersama. Mengawasi
ketertiban dan keamanan penghuni, serta pengguna bagian bersama, benda bersama
dan tanah bersama. Memberikan laporan secara berkala kepada pengurus sekurang –
kurangnya setiap 3 (tiga) bulan. Mempertanggung jawabkan kepada pengurus
tentang penyelenggaraan pengelolaan .
Hak dan Kewenangan
Badan Pengelola adalah membuat tata tertib dan aturan lainnya yang berhubungan
dengan pengelolaan rumah susun. Menetapkan dan memungut iuran pengelolaan. Hak
dan Kewenangan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dan 2 pasal ini harus dengan
persetujuan pengurus.
Di Yogyakarta, Pengelolaan
Rumah Susun Milik Pemerintah Kota Yogyakarta diwadahi dalam organisasi dengan
nama Badan Pengelola Rumah Susun. Badan Pengelola Rumah Susun adalah lembaga
non struktural dan berbentuk badan layanan milik Pemerintah Kota Yogyakarta.
Badan Pengelola
Rumah Susun mempunyai tugas:
a.
Menyusun perencanaan, program, anggaran dan laporan
b.
Melaksanaan sosialisasi, pemasaran dan promosi untuk
mencapai tingkat hunian maksimal
c.
Melaksanaan manajemen operasional penghunian
d.
Melakukan kerjasama dengan pihak lain dalam rangka
peningkatan pendapatan
e.
Melakukan pengaturan terhadap hal – hal yang berkaitan
dengan kepentingan bersama, baik antara penghunian maupun dengan masyarakat
sekitar berdasarkan musyawarah dan mufakat
Di Griya Pelita Mas
Batam, bentuk pengembangan rumah susun dimiliki oleh developer swasta.
Pengelolaan ditaggung developer sampai 2 tahun setelah konstruksi bangunan
rusun selesai. Setelah itu pengelolaan penghunian diserahkan pada sistem
administrasi pemerintahan umum dengan menggunakan Rukun Tetangga (RT).
4. Masalah Penghunian dan Pengelolaan yang Menghambat Keberlanjutan Rumah Susun.
Keterlambatan program pembangunan
rusun, juga sedikit banyak dipengaruhi dengan tidak terhuninya bangunan rusun
yang telah ada. Masalah yang sering menjadi kendala dari bangunan rusun adalah
sarana prasarana yang terbengkelai akibat tersendatnya proses serah terima dari
pembangun ke pengelola.
Kebersihan

Berdasarkan pengumpulan data melalui kuesioner maka ketiga lokasi penelitian menganggap bahwa kualitas lingkungan rumah susun mereka tergolong bersih. Walau ditemukan kasus ketidak puasan pada beberapa individu terhadap kualitas kebersihan lingkungan mereka. Di Rusun Benhil II misalnya, terdapat kotoran – kotoran sampah, yang ternyata bagi masyarakat penduduk rumah susun masih dianggap dalam batas kewajaran.
Air Bersih dan Air Kotor
Penyediaan air bersih
dalam rumah susun, masih merupakan sebuah persoalan yang perlu untuk dicarikan
alternatif dalam penyediaannya. Dari hasil penelitian ditemukan kecenderungan
bahwa kualitas air minum kurang baik. Sebanyak 30 % warga rusun merasa kurang
dengan pelayanan air bersih di lingkungan rusun. Sedangkan warga yang merasa puas dengan
pelayanan air bersih rusun adalah sebesar 17 %.
Kondisi Rusun
Cokrodirjan, penyediaan air bersihnya masih memprihatinkan. Penghuni
mengungkapkan pendapatnya bahwa air sangat kotor, berasa kurang enak bila
dimasak, air kuning, karena tidak bisa dikonsumsi atau kurang baik untuk
kesehatan, dan hal kurang baik lainnya. Di Rusun Benhil II penghuni
mengungkapkan supaya tarif airnya jangan terlalu mahal, terkadang mati apabila
sedang diperlukan, kurang bersih dan kadang tidak ada air, kadang air keruh,
hingga perlu disaring dulu.
Demikian juga
dengan pengolahan air kotor, ternyata masih belum dapat memuaskan penghuni
rusun. Responden yang merasa masih terganggu dengan pengolahan air kotor ada
sebanyak 28 % sedangkan yang merasa cukup puas dengan pelayanan pengolahan air
kotor yaitu hanya sebesar 12% saja. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa
ternyata baik air bersih maupun kotor menjadi bagian dari masalah penyediaan
rusun. Hal – hal yang dikeluhkan oleh penghuni rumah susun berkaitan dengan bau
yang menyengat, kebocoran, dan mampet karena sampah.
Kegiatan Sosial
Kegiatan sosial
yang biasa digunakan penghuni bersosialisasi dengan penghuni rumah susun
lainnya, di Rusun Cokrodirjan adalah di
Arisan ibu – ibu, pertemuan rutin tiap bulan, paguyuban, puskesmas,
posyandu, arisan, mengambil jimpitan. Kegiatan dilakukan di gedung
yang bisa digunakan bersama masyarakat lain dan Kantor rusun. Warga Benhil II
menggunakan Aula Rusun, Ruang Serba Guna & Taman, Lapangan Olah Raga,
Mesjid Kompleks Rumah Susun sebagai tempat sosialisasi mereka. Sedangkan Warga
Griya Pelita Mas menggunakan lapangan olah raga, rumah, jalan, dan tempat
ibadah.
Tempat Ibadah
Kebutuhan akan
tempat peribadatan masih belum memuaskan penghuni rusun. Sebagai salah satu
fasilitas sosial, rumah peribadatan menjadi bagian yang sebaiknya disediakan
untuk menjamin kualitas lingkungan rusun. Dari hasil penelitian masih terdapat
warga rusun yang belum menemukan kepuasan dalam menjalankan ibadahnya di
lingkungan rusun, walaupun terdapat juga warga yang sudah merasakan
terpenuhinya kebutuhan akan tempat ibadah. Perbandingan puas dan tidak puasnya
adalah 2 dibanding 3
Fasilitas Kesehatan
Kurangnya
penyediaan klinik untuk menjamin kesehatan warga rusun juga merupakan salah
satu bagian dari masalah penyediaan rusun. Penghuni menggambarkan kondisi
fasilitas kesehatan dengan tidak adanya praktek dokter dan layanan kesehatan,
mengandalkan puskesmas yang dekat. Walau demikian diadakannya posyandu di rusun
membantu warga.
Ruang Pertemuan
Fasilitas ruang
pertemuan yang menjadi ruang utama adanya pertemuan antar warga ternyata masih
dirasakan kurang. Kecenderungan yang merasakan kurangnya fasilitas pertemuan
dirasakan di ketiga lokasi penelitian, hal ini cukup memprihatinkan mengingat
pentingnya fasilitas ini.
Tempat Bermain Anak
Fasilitas untuk
tempat bermain anak – anak juga masih kurang dengan hanya menempatkan 10%
penghuni yang merasa bahwa penyediaan tempat bermain baik dan 41% merasakan
kurang. Hal ini membuat kita dapat melihat bahwa perhatian untuk anak – anak
warga rusun belum menjadi prioritas pengembangan dan pengelolaan rumah susun.
Perpustakaan
Kondisi yang lebih
parah adalah masalah penyediaan perpustakaan, sebagai bagian dari pelayanan
kepada masyarakat mengenai informasi dan data, keberadaan perpustakaan di
lingkungan rusun dalam kondisi memprihatinkan. 72 % warga merasakan perlunya
keberadaan perpustakaan bagi mereka.
Ruang Terbuka
Ruang terbuka dan
atau taman juga menjadi kebutuhan fasilitas umum. Dari hasil penelitian
ditemukan bahwa kebutuhan akan ruang terbuka atau taman dirasakan kurang bagi
warga rusun yaitu sebesar 34%. Sementara yang menganggap bahwa kebutuhan itu
sudah terpenuhi hanya 7 % saja.
Fasilitas Olahraga

Fasilitas belanja
Fasilitas
perbelanjaan yang sudah terdapat di lingkungan rusun, cukup mewadai bagi
kebutuhan warga rusun untuk membeli kebutuhan mereka sehari – hari.
Antisipasi Kebakaran
Penyediaan
fasilitas untuk antisipasi adanya kebakaran ternyata juga belum disediakan
dengan sebaiknya, dari pengamatan di lapangan dan hasil penghitungan kuesioner,
ditemukan kurang siapnya rumah susun terhadap bahaya kebakaran.
Kemampuan dan Kemauan Membayar
Dari hasil penelitian mengenai
Identifikasi Kemampuan dan Kemauan Membayar Masyarakat Berpenghasilan Menengah
Rendah (Widaningrum, 2007), ditemukan bahwa hanya pada rumah susun tipe 21 saja
masyarakat berpenghasilan rendah memiliki kemampuan terjangkau untuk membayar.
Yaitu sebesar 77 % responden, dengan kemauan membayar sebesar 30 %. Sedangkan
untuk unit tipe 36 prosentase kemampuan membayar menurun drastis menjadi 43%
dengan kemauan membayar yang hanya 5 %.
Masih dari penelitian yang sama yang
dilakukan di Rusunawa Tamansari Bandung, disebutkan bahwa kemampuan membayar
penghuni berada pada kisaran Rp. 75.000,00 – Rp. 450.000,00 per bulan. Padahal
jika dibandingkan dengan Permenpera no. 07 tahun 2007 untuk kelompok sasaran
III biaya bulanan terendah dihitung sebesar Rp. 393.750,00 pada dua bulan
pertama dan naik menjadi Rp. 559.196,00 pada bulan ketiga. Sehingga subsidi
yang sudah diberikan pemerintah, belum mencapai kemampuan membayar penduduk yang
termasuk MBR.
Untuk membangun satu rumah susun berdasarkan perhitungan Permenpera
no. 07 tahun 2007 ada pada kisaran harga perunit Rp.125.009.359,00. Hal ini
yang kemudian oleh pemerintah diupayakan dengan membuat pola subsidi silang.
Subsidi silang dilakukan dengan membagi menjadi tiga kelompok sasaran dengan
hitungan membayar per unit yaitu sebesar Rp 75.000.000,00; Rp 110.000.000,00
dan Rp. 144.000.000,00.
Biaya rutin

Alasan penghuni
rusun, yang menganggap biaya rutin bulanan yang harus dibayarkan ke pengelola
mahal, adalah antara lain: Biaya tidak sebanding dengan penghasilan perbulan;
yang bisa sewa hanya orang-orang yang berpendapatan tinggi; Tidak sesuai dengan
fasilitas kamar yang terbuka dengan lantai semen; kurang pas untuk warga miskin
ekonomi ke bawah; susah untuk mencari uang sedangkan harga kebutuhan mahal;
gaji yang diterima tidak bisa ditabung lagi; tidak sesuai dengan kehidupan
sekarang yang lagi krisis; kecil tapi mahal.
Sedangkan untuk
alasan kurang mahal adalah: Dibanding yang lain (hunian sewa lain) rusun lebih
bagus fasilitasnya; dibanding tempat lain kurang tinggi; dibanding dengan
menyewa rumah pribadi lebih murah.
Sedangkan yang
menganggap wajar memiliki alasan bahwa biaya masih terjangkau; memang kemampuan
dari semua penghuni rumah susun; masih terjangkau bagi ekonomi lemah; wajar
untuk rakyat yang miskin; karena sesuai pendapatan dan sesuai pasaran
Biaya yang
dibayarkan rutin bulanan selain uang sewa adalah: untuk Rusun Cokrodirjan Yogyakarta
listrik, air, sampah, administrasi, jimpitan/ronda, denda. Untuk benhil II Jakarta
perawatan perlengkapan Rumah Susun, pengelolaan di Rumah Susun, PAM, Listrik,
Kebersihan dan Pelayanan Umum. Di Griya Pelita Mas Batam, biaya dipergunakan
untuk keamanan, kebersihan pembayaran kos, biaya darurat anak kos, dan air
bersih.
Pemindahan Kepemilikan
Masalah lain yang
menjadikan program pembangunan tidak mencapai tujuannya disebabkan adanya Pemindahan
Kepemilikan. Sebagai contoh kasus diungkapkan pada paparan hasil penelitian
berikut.
Di Griya Pelita Mas
pengembang tidak dan tidak perlu mengetahui adanya pemindahan hak kepemilikan
kepada orang lain. Sedangkan di Rusun Cokrodirjan karena sistem hanya sewa dan
dengan harga yang murah, maka minim pengalihan hak menghuni, ditambah lagi masa
sewa yang singkat hanya 3 tahun. Di Rusun Benhil II hunian yang sudah terbeli,
pemindahan kepemilikan sulit terpantau. Di mana pengelola mengetahui adanya
pemindahan kepemilikan.
Di Rusun
Cokrodirjan dan Griya Pelita Mas, pengelola merasa tidak mengetahui adanya
pemindahan hak kepemilikan kepada orang lain. Pemindahan hak kepemilikan banyak
terjadi di Griya Pelita Mas dan rusun Benhil II, hal ini disebabkan oleh status
hunian dan atau harga atas hunian yang relatif tinggi. Warga Rusun Benhil II
sebagian besar mengetahui adanya pemindahan
kepemilikan.
Secara umum faktor
yang berperan dalam penghunian dan pengelolaan digambarkan sebagai berikut.
No
|
Faktor Utama Penghunian dan
Pengelolaan
|
|
1
|
Administrasi dan Keuangan
|
Biaya sewa
|
Cara Pembayaran
|
||
Biaya pemeliharaan fasum - fasos
|
||
Pemidahan kepemilikan
|
||
Pembuatan AD/ART
|
||
Neraca keuangan operasional Rusun
|
||
Pengawasan penggunaan anggaran
|
||
Administrasi kepegawaian dan gaji
|
||
Kerjasama dengan pihak luar
|
||
Sanksi terkait
|
||
Kebersihan ruang publik
|
||
2
|
Pelayanan Umum
|
Keamanan
|
Penerangan
Umum
|
||
Air bersih
|
||
Air kotor
|
||
Fasilitas sosial
|
||
Pengawasan dan pengaturan antar hunian
|
||
3
|
Tata Kehidupan Sosial
|
Pengendalian fasilitas umum
|
Sosialisasi NSPM penghunian rusun
|
||
Pembentukan perhimpunan penghuni
|
||
Pengelolaan oleh badan pengelola
|
||
Pemasaran hunian rumah susun
|
||
Koordinasi instansi terkait pengelolaan rusun
|
||
Pendataan penghuni rusun
|
||
Penanganan keadaan darurat dan bencana
|
||
|
5. Kesiapan Penghuni Rusun dari Aspek
Sosial Ekonomi dan Budaya
Budaya tinggal yang
berubah merupakan faktor keengganan bagi (calon) penghuni untuk tinggal di
rusun. MBR yang memiliki kekuatan sosial lebih kuat dibanding kelas masyarakat
lain, membutuhkan ruang komunal yang lebih. Pola ini yang agak kurang dapat
ditemukan di rusun. Selain itu kecenderungan untuk menambah ruang sesuai
kebutuhan, sulit untuk diakomodasi struktur bangunan rusun yang masif. Misal
keinginan penghuni untuk memelihara binatang sebagai hiburan kurang dapat
diakomodasi.
Walau demikian
penghuni tetap dapat melakukan adaptasi di lingkungan rusun. Dari penelitian
mengenai pengaturan antar hunian, di dapati bahwa penghuni merasakan kondisi
yang cukup baik. Akan tetapi kondisi yang dikeluhkan adalah tentang penghuni
yang mementingkan diri sendiri, munculnya sikap individualis, ruang jemuran
kurang cahaya,
Didalam kehidupan
tinggal di rusun juga ditemui adanya kasus benturan sosial antar sesama
penghuni. Namun taraf benturan yang dialami masih berada dalam batas yang
wajar. Terdapat 21 % warga rusun yang pernah mengalami benturan sosial. Tetapi
secara umum masih berada dalam situasi yang harmonis.
Walau kondisi
sosial dalam keadaan harmonis tetapi warga rusun ternyata merasakan kebutuhan
adanya pengawasan dalam kehidupan keseharian mereka. Hal ini menimbulkan sebuah
pemikiran munculnya gejala akan adanya kebutuhan suasana yang lebih baik dalam
hal tinggal bersama di rumah susun. Kecenderungan kekuatiran muncul konflik
sosial dalam warga rusun dapat dilihat dari kisaran jumlah besarnya jawaban
warga yang membutuhkan pengawasan dalam kehidupan mereka di rumah susun yaitu
sebesar 61% responden.
Selain itu masih
ada satu masalah lagi, yaitu pembangunan rusun yang berada di pinggir kota
menyebabkan adanya perasaan dijauhkan dari tempat bekerja bagi MBR. Terutama
bagi penghuni rusun yang merupakan masyarakat terkena relokasi. Keengganan
dengan alasan ini banyak muncul.
Terdapat juga
kecenderungan kenaikan pengeluaran biaya rutin, dibandingkan tinggal di lokasi
sebelumnya. Sehingga muncul keengganaan (calon) penghuni untuk menghuni rumah
susun yang sudah dibangun.
G. Kesimpulan dan Rekomendasi
1. Kesimpulan
Di rumah susun yang
dibangun pemerintah, pembatasan peruntukan penghuni cenderung lebih mudah untuk
dilakukan. Sedangkan untuk rumah susun yang dibangun pihak swasta, peruntukan
lebih sering dilakukan dengan mekanisme pasar. Yaitu berdasarkan penawaran dan
ketersediaan.
Pungutan rutin
bulanan dilakukan oleh Perhimpunan Penghuni atau Badan Pengelola. Sumber uang
pengelolaan rumah susun berasal dari biaya sewa, biaya pelayanan umum, sewa
parkir, dan kutipan pedagang kaki lima. Penggunaan uang untuk biaya
operasional, gaji pengelola, sampah dan keamanan, biaya pelayanan milik
bersama, perawatan, biaya akomodasi.
Dari penelitian
ditemukan gejala, bahwa penghuni rusunawa Cokrodirjan Yogyakarta merasakan
optimalisasi penggunaan fasum dan fasos milik mereka. Sedangkan untuk penghuni Rusun
Bendungan Hilir Jakarta tidak semuanya merasakan optimalisasi fasum dan fasos
sesuai yang mereka bayarkan.
Pengurus Perhimpunan
Penghuni di Jakarta terdiri dari Ketua, Sekretaris, Bendahara, Pengawas
Pengelola. Penambahan jumlah pengurus disesuaikan dengan kebutuhan. Syarat
utama adalah pengurus adalah penghuni yang sah dari rumah susun. Pengurus
dipilih dari dan oleh anggota dalam Rapat Umum. Pengurus diwadahi dalam
organisasi dengan nama Badan Pengelola. Badan Pengelola terdiri dari unsur
pimpinan dan pembantu pimpinan. Unsur pimpinan Manajer dengan dibantu oleh
kepala Unit Administrasi dan Umum, Unit Pelayanan Hunian dan Staf. Sedangkan di
Batam penghuni rumah susun pengelolaan urusan komunitas berada di bawah dua
ketua RT.
Kondisi penyediaan
fasilitas umum rumah susun di tiga lokasi penelitian, menurut penghuni, dari
lima sarana yang diteliti (tingkat kebersihan, kondisi keamanan, kondisi
penerangan, air bersih dan pengolahan air kotor) seluruh lokasi penelitian
melukiskan pada kondisi cukup.
Hal yang perlu
menjadi catatan karena kurang adalah kondisi penerangan di Griya Pelita Mas Batam.
Di Bendungan Hilir Jakarta hal yang perlu menjadi catatan adalah mengenai
pengolahan air kotor. Di rusun Cokrodirjan Yogyakarta ada tiga hal yang perlu
menjadi perhatian yaitu yang pertama adalah kondisi keamanan. Kondisi rumah
susun Yogyakarta sendiri tidak terdapat pemisahan secara fisik dengan
lingkungan kampung sendiri. Penghuni, warga sekitar maupun tamu dapat keluar
masuk lingkungan rumah susun. Kondisi pengolahan air bersih dan pengolahan air
kotor.
Dari ketiga lokasi
penelitian konsisi penyediaan fasilitas sosial masih berada pada kondisi cukup
ke arah kurang. Untuk fasilitas sosial yang baik menurut penghuni di Rusun
Bendungan Hilir adalah Fasilitas Ibadah, Fasilitas Pertemuan, Fasilitas
Olahraga dan Fasilitas Pendidikan. Di Griya Pelita Mas, fasilitas sosial yang
baik menurut penghuni hanyalah Fasilitas Perbelanjaan. Sedangkan di rusunawa
Cokrodirjan belum ada fasilitas sosial yang baik dalam memenuhi kebutuhan
warga.
Keberadaan Badan
Pengelola dipandang perlu oleh penghuni hal ini dibuktikan dari tingginya
jawaban memerlukan Badan Pengelola oleh penghuni. Didukung lagi perasaan taat
kepada Badan Pengelola yang dimiliki oleh penghuni. Alasan yang diberikan
penghuni adalah kemudahan informasi/ peraturan & tentang cara berpenghuni yang ada di dalam Badan
Pengelola, mendukung terciptanya kenyamanan Penghuni.
2. Rekomendasi
Diperlukan sistem
penghunian dan pengelolaan rumah susun yang mengatur:
1. Sistem seleksi penghuni
Dengan
menetapkan sistem seleksi penghuni yang dapat dipedomani di wilayah hukum
Negara Kesatuan Republik Indonesia ,
akan mengarahkan unit – unit terbangun kepada masyarakat sasaran yang tepat.
Sehingga pemenuhan kebutuhan MBR akan rumah layak huni dapat berjalan.
2. Sistem pendataan penghuni
Basis data
terutama mengenai penghasilan dan pekerjaan penghuni, dapat dipakai sebagai
alat atur untuk membangun pola penghunian dan pengelolaan yang berkelanjutan. Dapat
dilakukan pembaharuan data secara berkala tiap 2 (dua) tahun untuk menjaga
akurasi data.
3. Penggunaan dan pemeliharaan ruang/barang milik bersama
Kesepakatan penggunaan
dan pemeliharaan ruang/barang milik bersama di tataran kelompok unit hunian dan
rusun secara keseluruhan diperlukan untuk menjaga keberlanjutan pemeliharaan.
4. Penjagaan keamanan lingkungan
Keamanan
lingkungan dapat diciptakan dengan memperkuat potensi sosial budaya masyarakat
penghuni. Yaitu dengan melakukan pengenalan lingkungan.
5. Kebersihan lingkungan bersama
Pengelolaan
kebersihan, dengan menggunakan potensi penghuni dengan pengawasan badan
pengelola dan pemerintah daerah.
6. Pengaturan aktifitas usaha/ekonomi diwilayah rusun
Badan pengelola
perlu melakukan pengenalan dan penegakan peraturan kegiatan usaha. Sehingga
tercipta suasana kondusif untuk melakukan kegiatan ekonomi, sesuai dengan
lingkungan rusun yang tersedia.
7. Sanksi sosial dan administratif
Penegakan sanksi
oleh Badan Pengelola dengan meminta bantuan pemerintah (dinas sosial atau
permukiman) untuk adanya ketertiban penghunian dan pengelolaan rumah susun.
DAFTAR PUSTAKA
Artikel
Balai Pemberdayaan Bidang Ke-PU-an. 2007. Laporan Akhir Kajian Sosial Penghunian dan Pengelolaan Rumah Susun. Yogyakarta
Deputi Menpera Bidang
Perumahan Formal, Asisten Deputi Pengembangan Sistem. Paparan, 18 Desember 2007.
Percepatan Pembangunan Rumah Susun
Sederhana (Apartemen Rakyat)Di Kawasan Perkotaan. Jakarta.
Julianery BE. Kompas. Senin, 19 September 2005 Persoalan Bersusun-susun di Rumah Susun.
Harian Umum Sore Sinar Harapan. Jumat, 22 Desember 2006. Permukiman Kumuh Belum Tertangani.
Kompas. Jumat, 5
September 2008. Program Rusunawa Gagal -
Pemerintah Tidak Akan Menaikkan Harga Rusunami. Jakarta
Kusumawati, M.A.
dkk. Buletin Cipta Karya Edisi No.09/V/ September 2007. Rusunawa Solusi Permukiman Aman untuk MBR. Jakarta
Soeriaatmadja, R.E. 1995. Prosiding Seminar, Arsitektur Berkelanjutan
Tantangan Abad XXI. Pola Pikir Strategi
Pembangunan Berkelanjutan. Institut Teknologi Bandung.
Widaningrum, D.I.
2007. Identifikasi Kemampuan dan Kemauan
Membayar Masyarakat Berpenghasilan Menengah Rendah. Institut Teknologi Bandung.
Produk Hukum
Keputusan Presiden
No. 22 tahun 2006 tentang Tim Koordinasi Percepatan Pembangunan Rumah Susun di
Kawasan Perkotaan.
Undang Undang No.
16 tahun 1985 Tentang Rumah susun.
Website
1 komentar:
An interesting discussion is worth comment.
I do think that you ought to publish more about this topic,
it might not be a taboo matter but usually folks don't talk about
such issues. To the next! All the best!!
Posting Komentar