Pengembangan metode penilaian cepat sanitasi
berkelanjutan merupakan sebuah alat ukur yang digunakan untuk menilai kondisi
sanitasi di suatu wilayah dengan melibatkan data-data dasar yang ditemukenali
di dalam dokumen daerah dan berhubungan dengan masalah sanitasi, yaitu:
Kabupaten/Kota dalam Angka, Buku Putih Sanitasi, SLHD, SSK, Rencana Tata Ruang,
Momerandum Program Sanitasi (MPS), Dokumen PDAM, EHRA dan Profil Kesehatan.
Buku petunjuk ini dimaksudkan sebagai acuan
dan informasi awal untuk mengenali dan menilai tingkat sanitasi di suatu
wilayah ditinjau dari 5 aspek, yaitu: aspek
kesehatan, aspek sumber daya lingkungan dan alam, aspek teknologi dan operasi,
aspek finansial dan ekonomi, aspek sosial-budaya dan aspek kelembagaan.
Informasi tersebut berguna bagi pemerintah di tingkat daerah maupun pusat untuk
memberikan tindak lanjut strategi penanganan masalah sanitasi khususnya khususnya pada daerah-daerah di Indonesia yang dihadapkan
dengan berbagai tantangan sanitasi baik kondisi fisik maupun kondisi non fisik
meliputi daerah spesifik yang cenderung merupakan kawasan kumuh, rendahnya
pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan lingkungan, dominasi penduduk
pendatang di daerah spesifik, kualitas layanan sanitasi dan tingkat kesadaran
masyarakat yang belum baik, keragaman tingkat ekonomi penduduk, kurangnya
prioritas terhadap daerah yang seringkali terpinggirkan, serta kebiasaan buang
tinja yang selama ini dilakukan.
Kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak selalu kami
harapkan
Akhir kata, diharapkan buku ini bermanfaat
dan kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan buku ini.
Tim Peneliti
Yudha
Pracastino Heston
Nur Alvira P
Windy
Firisqika
Agnes Annisa
Okataviana
Prapti
Suhesti Alusia
Hari
Suharyono
Istanta
Zamyuni
Kuntoro Edy
Rudita
2014
© Balai
Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi dan Lingkungan Bidang Permukiman
Puslitbang
Sosekling
Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum
A.
Latar Belakang
I
|
ndonesia
telah menunjukkan peningkatan dua kali lipat prosentase rumah tangga dengan
fasilitas sanitasi yang lebih baik, namun masih berada pada arah yang belum
tepat untuk mencapai target sanitasi MDGs 2015. Untuk mencapai target nasional
MDGs, diperlukan pencapaian tambahan 26 juta orang dengan sanitasi yang lebih
baik pada tahun 2015.Pertumbuhan penduduk Indonesia yang begitu cepat yaitu 124
Jiwa/km² (BPS, 2012) pada tahun 2010 memberikan dampak pada penurunan daya
dukung lingkungan dan dalam konteks pembangunan infrastruktur terutama
pembangunan sarana dan prasarana sanitasi di Indonesia sangatlah buruk. Data
United Nation, (2008) menyatakan bahwa Indonesia termasuk negara kedua dengan
proporsi penduduk tanpa akses sanitasi layak, artinya Indonesia sangat
membutuhkan pengelolaan sanitasi, karena sebagian besar sungai-sungai dan
bendungan di Indonesia tercemar oleh limbah rumah tangga karena pengelolaan
sanitasi yang buruk. Potret sanitasi Indonesia memperlihatkan 30% belum
memiliki sanitasi yang baik, hanya 1% anggaran APBD kota untuk sanitasi dan
kerugian ekonomi mencapai 6,3 milyar dolar per tahun karena sanitasi yang
buruk, pencemaran ke badan air dan lahan mencapai 14.000 ton tinja per hari
yang artinya 75% sumber air minum terancam rusak dan genangan di pemukiman
makin sering terjadi diperburuk oleh perubahan pola hujan.
Sebuah studi menggambarkan bahwa akibat sanitasi yang buruk,
sebuah keluarga di Indonesia bisa kehilangan rata-rata 1,25 juta Rupiah setiap
bulannya. Apabila kondisi kemiskinan ditambah dengan sanitasi yang buruk dan
diperparah dengan kultur dan sosial budaya tidak sehat, maka akan banyak
dijumpai angka kesakitan dan balita yang kekurangan gizi. Dapat dipastikan
keluarga miskin di Indonesia sulit melepaskan diri dari lingkaran
kemiskinannya. Sanitasi dan perilaku kebersihan yang buruk serta air minum yang
tidak aman berkontribusi terhadap 88
persen kematian anak akibat diare di
seluruh dunia. Bagi anak-anak yang bertahan hidup, seringnya menderita diare
berkontribusi terhadap masalah gizi,
sehingga menghalangi anak-anak untuk dapat mencapai potensi maksimal mereka.
Kondisi ini selanjutnya menimbulkan implikasi serius terhadap kualitas sumber
daya manusia dan kemampuan produktif suatu bangsa di masa yang akan datang.
Berbagai inovasi dalam mengatasi
permasalahan sanitasi terus dilakukan mengingat tuntutan dari berbagai
permasalahan sanitasi yang telah dijelaskan di atas. Sanitasi yang
berkelanjutan dianggap dapat membantu melindungi dan meningkatkan kesehatan
manusia melalui sebuahrancangan sistem sanitasi yang baru dengan
mempertimbangkan aspek kesehatan, aspek sumber daya lingkungan dan alam, aspek
teknologi dan operasi, aspek finansial dan ekonomi, aspek sosial-budaya dan
aspek kelembagaan. Untuk mewujudkan rancangan ini, diperlukan suatu
pengembangan metode penilaian cepat sanitasi berkelanjutan agar dapat menghasilkan Road Map atau pemetaan
peningkatan kualitas sanitasidi suatu wilayah.
B. Tujuan
T
|
ujuan dari penyusunan
bukupetunjuk ini adalah memperkenalkan variabel dan indikator pengukuran yang tepat dan cepat untuk layanan
sanitasi di suatu wilayah sehingga dapat memberikan peta
ukuran layanan sanitasi, memunculkan program-program kegiatan, dan sebagai
peringatan dini kondisi sanitasi di suatu wilayah.
C. Keluaran
I
|
ndikator keluaran (output) dari buku ini adalah berupa 1 (satu) alat
ukur penilaian cepat sanitasi berkelanjutan. Sedangkan hasil yang ingin
dicapai (outcome) adalah, Pemetaan Sosekling oleh Cipta Karya dalam Penilaian
Cepat Sanitasi Berkelanjutan, bekerjasama dengan pemangku kepentingan di
daerah.
B
|
uku petunjuk ini diharapkan dapat bermanfaat bagi Direktorat
Bina Program Cipta Karya dan Penataan Ruang, Direktorat PPLP Cipta Karya,
Pemerintah daerah, Pokja AMPL dan institusi terkait, dalam memetakan kondisi
sanitasi di masing- masing lokasi, sebagai dasar dalam pengambilan keputusan,
guna meningkatkan kondisi sanitasi.
E. Tinjauan teori
M
|
enurut WCED, dalam Hadi (2005:2),
ada dua kunci konsep utama dari defenisi pembangunan berkelanjutan, yaitu
konsep kebutuhan (needs) yang sangat esensial untuk penduduk miskin dan perlu
prioritas serta konsep keterbatasan (limitation) dari kemampuan lingkungan
untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang. Dalam
pengertian ini pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang menggunakan
dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana untuk meningkatkan
kesejahteraan secara adil.
Konsep pembangunan berkelanjutan
menempatkan pembangunan dalam perspektif jangka panjang. Konsep tersebut
menuntut adanya solidaritas antar generasi (Salim dalam Hadi, 2005:2). Secara
implisit mengandung arti memanfaatkan keberhasilan pembangunan sebesar-besarnya
dengan tetap memelihara kualitas sumber daya alam. Oleh sebab itu, pembangunan
berkelanjutan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan generasi sekarang tanpa
mengurangi kemungkinan bagi generasi masa depan untuk meningkatkan
kesejahteraan.
Secara praktis,
istilah sanitasi dalam Water and Sanitation Program (2011) ini dapat diartikan
sebagai alat pengumpulan dan pembuangan tinja serta air buangan masyarakat
secara higienis sehingga tidak membahayakan bagi kesehatan seseorang maupun
masyarakat secara keseluruhan. (Depledge, 1997).Saat meningkatkan kualitas
fasilitas sanitasi yang ada dan/atau merancang system sanitasi yang baru,
kriteria keberlanjutan terkait aspek-aspekdi bawah ini perlu dipertimbangkan:
1. Kesehatan: termasuk risiko terpapar oleh virus/bakteri penyakit
patogen dan substansi berbahaya lainnya yang dapat mempengaruhi kesehatan
masyarakat di semua titik sistem sanitasi mulai dari kakus/jamban, pengumpulan,
pengolahan hingga pemanfaatan kembali atau pembuangan ke badan air
2. Sumber daya lingkungan dan alam: meliputi energi yang
dibutuhkan, air dan sumber daya alam lainnya yang diperlukan untuk konstruksi,
pengoperasian dan pemeliharaan sistem, dan juga potensi munculnya emisi hasil
pengolahan ke lingkungan sekitar
3. Teknologi dan operasi: berkaitan dengan fungsi dan kemudahan
sistem untuk dibangun, dioperasikan dan dipelihara dengan menggunakan sumber
daya manusia yang ada. Aspek ini juga perlu mempertimbangkan kekuatan struktur,
kerentanan terhadap bencana, kondisi dan situasi topografi serta fleksibilitas
dan kemampuan penyesuaian elemen teknis terhadap infrastuktur yang ada,
demografi, pembangunan sosio-ekonomi dan perubahan iklim
4. Aspek finansial dan ekonomi: berkaitan dengan kapasitas rumah
tangga dan masyarakat untuk membayar layanan sanitasi, termasuk dalam tahap
konstruksi, operasi dan pemeliharaan dan depresiasi system.
5. Aspek sosial-budaya dan kelembagaan: mempertimbangkan penerimaan
sistem secara sosial-budaya dan ketepatan sistem, kenyamanan, persepsi terhadap
sistem, isu jender dan dampak terhadap martabat hidup, kontribusi pada
peningkatan ekonomi dan ketahanan pangan, serta aspek hukum dan kelembagaannya.
Pemilihan teknologi sanitasi yang terjangkau dan berkelanjutan
adalah suatu hal yang penting namun perlu diingat bahwa adanya kebutuhan
masyarakat terhadap sanitasi yang lebih memadai adalah hal yang lebih penting.
Penerima manfaat merupakan pengambil keputusan akhir dalam menggunakan ataupun
menolak teknologi sanitasi. Merekalah yang menentukan keberhasilan suatu
intervensi di sektor sanitasi karena nilai dari investasi tidak hanya
tergantung pada dukungan masyarakat saja, tetapi lebih pada kepedulian penerima
manfaat yang merasakan dampak positif dari
teknologi sanitasi yang memadai
teknologi sanitasi yang memadai
1.
a. Tahap
Pengumpulan Data
Proses
pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan diskusi kelompok
dengan menggunakan 2 tipe sumber data, yaitu:
1)
Data Sekunder, merupakan data yang diperoleh dalam
bentuk sudah jadi, yaitu data yang telah dikeluarkan oleh sector-sektor kunci yang berkaitan
dengan aspek sanitasi berkelanjutan, seperti: Badan Pusat Statistika (BPS),
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), Dinas Cipta Karya dan Tata
Ruang, Badan Lingkungan Hidup (BLH), Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM),
Intalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Dokumen dari instansi-instansi tersebut seperti: Kabupaten/Kota dalam Angka,
Buku Putih Sanitasi, Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD), Strategi Sanitasi
Kabupaten (SSK), Rencana Deteil Tata Ruang (RDTR), Momerandum Program Sanitasi
(MPS), Dokumen PDAM, Enviroment Health Risk Assessment (EHRA) dan Profil
Kesehatan Kabupaten/Kota
2)
Data
Primer, merupakan data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh tim peneliti
langsung dari responden melalui metode
FGD dengan cara menggunakan sebuah forum diskusi bersama informan-informan
kunci yang berasal dari instansi sector sanitasi. Materi
yang didiskusikan telah di rancang sejak awal.
b. Tahap
Analisis Data
1)
Hasil pengumpulan data primer dan sekunder akan
diseleksi kembali untuk ditetapkan sebagai
indikator pengukuran layanan sanitasi di suatu wilayah. Indikator yang
telah ditetapkan akan dikelompokkan ke dalam beberapa sub variabel dan
disederhanakan menjadi 5 variabel inti. Setiap indikator pengukuran yang telah
dikelompokkan sesuai dengan variabelnya, akan dibuat parameter pengukuran
kedalam 4 tingkatan yang telah digunakan
dalam menilai sanitasi sector fisik, yaitu: Sangat Baik (Highly Improved Service),Baik (Improved
Service), Cukup (Basic Service)
dan Buruk (No or Unacceptable Service).
Interpretasi dari parameter tersebut akan menggunakan standar atau taget yang
di modifikasi namun berlaku secara nasiona seperti yang digunakan dalam
Peraturan Menteri Kesehatan, Kementerian PU, Kementerian Lingkungan Hidup
maupun secara international seperti standar MDG’s.
2)
Hasil dari pengukuran sanitasi aspek non fisik
akan di komparasi dengan aspek fisik untuk mengetahui interaksi dari dua aspek
ini dalam menjamin keberlanjutan layanan sanitasi di suatu wilayah.
3)
Instumen pengukuran yang telah dihasilkan bersifat perkiraan (judgment),
berdasarkan analisis dan pertimbangan logika dari para peneliti dan ahli, untuk
menyempurnakan instrument ini.
c. Tahap Penyajian
Hasil
dari penyempurnaan instrument ini dapat digunakan dalam uji coba penilaian
pengukuran cepat sanitasi berkelanjutan Aspek Non Fisik yang terdiri dari
variabel, indikator dan parameter dimana hasil akhir dari penguraan dapat
dibuat barometer dengan 4 skala risiko penilaian yaitu sangat baik, baik,
cukup, buruk.
2. Proses menemukan
indikator, variabel dan parameter yang tepat dalam penyusunan instrument
penilaian cepat sanitasi berkelanjutan
Grounded Theory
|
1
|
2
|
b. Hasil Pengembangan Metode Penilaian
Cepat Sanitasi Berkelanjutan
1.
Definisi
Operasional Indikator Penilaian Cepat Sanitasi Berkelanjutan
Variabel
|
Indikator
|
Definisi
|
||
Aspek Kesehatan
|
1.
10
Besar Pola Penyakit Rawat Jalan Puskesmas
|
Penyakit
berbasis sanitasi:
· Disebabkan
oleh virus: ISPA, TBC, Diare, Polio, Campak, Cacingan
· Disebabkan
oleh binatang: leptospirosis, pes
· Disebabkan
oleh vektor nyamuk: DBD, Malaria, Cikungunya.
|
||
2. Prosentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan
Sehat
|
Tempat Umum yang dimaksud adalah suatu sarana
yang dikunjungi banyak orang dan berpotensi menjadi tempat penyebaran
penyakit seperti
hotel, terminal pasar dan Tempat Pengelolaan Makanan Sehat meliputi rumah
makan dan restoran, jasaboga atau catering, industri makanan, kantin, warung,
makanan jajanan dan lain sebagainya.
|
|||
3.
Prosentase
Rumah Sehat
|
Rumah
sehat yang dimaksud adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat
kesehatan, yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih,
tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang
baik, kepadatan hunian rumah yang
sesuai dan lantai rumah tidak terbuat dari tanah.
|
|||
4. Prosentase Rumah Tangga ber PHBS
|
Rumah Tangga berPHBS
yang dimaksud adalah rumah tangga yang
melakukan 10 PHBS di rumah tangga yaitu :persalinan di tolong oleh tenaga
kesehatan, memberi bayi ASI ekslusif, menimbang balita setiap bulan,
menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air brsih dan sabun,
menggunakan jamban sehat, memberantas jentik di rumah sekali seminggu,
makan buah dan sayur setiap hari, melakukan aktifitas fisik setiap hari,
tidak merokok di dalam rumah.
|
|||
5.
Prosentase
KLB Penyakit Berbasis Lingkungan (Limbah)
|
Penyakit
berbasis sanitasi masuk dalam kategori dengan status KLB, yaitu:
· Mengalami
kenaikan jumlah kasus 3 kali 3 minggu berturut
· Mengalami
kenaikan 2 kali lipat dibandingkan dengan bulan yang sama satu tahun
sebelumnya
· Mengalami
kenaikan 2 kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya
· Mengalami
kenaikan Case Fatality Rate ≥50% dibandingkan periode waktu sebelumnya
· Mengalami
kenaikan kunjungan penyakit berbasis sanitasi 2 kali lipat dibandingkan
periode waktu sebelumnya
· Untuk
penyakit Kholera, Cacar, Pes, DHF, terdapat minimal 1 kasus, dimana di 4
minggu sebelumnya tidak daerah tersebut telah dinyatakan bebas
· Terdapat
1 kasus baru penyakit berbasis sanitasi lingkungan yang sebelumnya tidak
pernah ada/tidak di kenal
|
|||
6. Kepemilikan Rumah Tangga Terhadap Tempat BAB
|
Kepemilikkan
BAB yang dimaksud dibagi menjadi 4 kriteria, yaitu:
· Improved, apabila penggunaan sarana pembuangan kotoran nya
sendiri, jenis kloset latrine dan tempat pembuangan akhir tinjanya tangki
septik atau SPAL.
· Shared, apabila penggunaan sarana pembuangan kotorannya
telah memenuhi syarat namun masih menggunakan fasilitas sanitasi bersama
minimal 2 rumah tangga atau lebih
· Unimproved, apabila Fasilitas jamban masih memungkinkan kontak antara manusia
dengan kotoran.
Fasilitastersebut tanpaslabatau platform atau cemplung
· Open defecation, apabila Buang air besardiladang, hutan,
semak-semak, badan airatauruang
terbukalainnya, ataupembuangankotoran
manusiadenganlimbah padat
|
|||
7.
Prevalensi
penyakit diare
|
Diare yang dimaksud
adalah penyakit yang berbasis lingkungan yang dikarenakan masih buruknya
kondisi sanitasi dasar, lingkungan fisik maupun rendahnya perilaku masyarakat
untuk hidup bersih dan sehat. Penyakit ini ditandai dengan tinja atau feses berubah menjadi lembek atau
cair yang biasanya terjadi paling sedikit tiga kali dalam 24 jam
|
|||
8.
Praktek Pembuangan Kotoran Anak Balita Di Rumah
Responden Yang Rumahnya Ada Balita
|
Praktek pembuangan kotoran anak balita
di rumah responden yang di rumahnya
ada balita, memenuhi criteria aman sebagai berikut:
·
Anak Balita yang diantar untuk
BAB di jamban
·
Anak Balita yang BAB di
penampung (popok sekali pakai/ pamskalas,
popok yang dapat dicuci, gurita, ataupun celana), kotoran di buang ke jamban,
dan penampung dibersihkan di WC
·
Praktik pembuangan yang relatif aman
·
Anak Balita BAB tidak di ruang terbuka
(lahan di rumah atau diluar rumah)
·
Anak Balita yang BAB di
penampung (popok sekali pakai/ pamskalas,
popok yang dapat dicuci, gurita, ataupun celana), tidak membuang kotoran di ruang terbuka/
tidak di jamban.
|
|||
Aspek Sumber
Daya Lingkungan Dan Alam
|
1.
Data Kepadatan Penduduk
|
Kepadatan penduduk yang
dimaksud adalah jumlah penduduk yang mendiami suatu wilayah atau daerah
tertentu dengan satuan per kilometer persegi. Berdasarkan kepadatan
penduduknya, tiap-tiap daerah dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu :
·
Kelebihan Penduduk (over
population) Kelebihan penduduk adalah keadaan daerah tertentu selama
waktu yang terbatas, dimana bahan-bahan keperluan hidup tidak mencukupi
kebutuhan daerah tersebut secara layak. Daerah yang mengalami kelebihan
penduduk biasanya akan mengalami kesulitan pemenuhan kebutuhan pokok penduduk
(pangan, sandang dan tempat tinggal).
·
Kekurangan Penduduk (under population)
Kekurangan penduduk adalah keadaan suatu daerah tertentu, dimana keadaan jumlah penduduk sudah sedemikian kecilnya, sehingga sumber alam yang ada hanya sebagian yang mampu untuk dimanfaatkan.
·
Penduduk Optimum (optimum population)
Penduduk optimum adalah jumlah penduduk yang sebaik-baiknya berdasarkan daerah tertentu. Penduduk dapat berproduksi maksimum perkapita berdasarkan sumber alam yang tersedia dan teknologi yang berkembang. |
||
2. Prosentase Keluarga Menurut Jenis Sarana Air
Bersih dan Sumber Air Minum
|
· Air bersih yang dimaksud
adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya
memenuhi syarat-syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak,
besumber dari: 1) Air hujan, air angkasa, dalam
wujud lainnya dapat berupa salju; 2) Air permukaan, air yang berada di
permukaan bumi dapat berupa air sungai, air danau, air laut; 3) Air tanah yang biasanya bernetuk sumur
gali
· Air minum yang dimaksud adalah air yang melalui proses
pengolahan atau tanpa pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan (fisik, kimia
dan mikrobiologis) dan dapat langsung diminum.
|
|||
3.
Pengelola Limbah BBB
|
Limbah B3 yang diamksud
adalah suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau
beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik
secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusakan
lingkungan hidup dan atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan,
kelangsungan hidup manusia serta mahluk hidup lain.
|
|||
4. a. Kualitas air tanah akibat pencemaran tanah
|
||||
1)
TDS
|
Total Dissolved Solid atau TDS yang dimaksud
merupakan bahan-bahan terlarut (diameter < 10-6 mm) dan koloid
(diameter 10-6 mm – 10-3 mm) yang berupa
senyawa-senyawa kimia dan bahan-bahan lain, yang tidak tersaring pada kertas
saring berdiameter 0,45 µm (Rao, 1992 dalam Effendi, 2003).
|
|||
2)
Kekeruhan
|
Kekeruhan yang diamaksud menggambarkan sifat
optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan
dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam air. Kekeruhan disebabkan
adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya
lumpur dan pasir halus), maupun bahan anorganik dan organik yang berupa
plankton dan mikroorganisne lain
|
|||
3)
PH
|
pH yang dimaksud
merupakan suatu parameter penting untuk menentukan kadar asam/basa dalam air.
Perubahan pH air dapat menyebabkan berubahnya bau, rasa, dan warna.
|
|||
4)
Nitrat
|
Nitrat (NO3) adalah bentuk utama
nitrogen di perairan alami dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan
tanaman dan algae. Nitrat nitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat
stabil. Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen
di perairan
|
|||
5)
Flourida
|
Flourida yang dimaksud
adalah fluorspar (CaF2), cryolite (Na3AlF6),
dan fluorapatite. Keberadaan fluorida
juga dapat berasal dari pembakaran batu bara. Fluorida banyak digunakan dalam
industri besi baja, gelas, pelapisan logam, aluminium, dan pestisida
|
|||
6)
Kedasahan
|
Kesadahan air yang dimaksud berkaitan erat
dengan kemampuan air membentuk busa. Semakin besar kesadahan air, semakin
sulit bagi sabun untuk membentuk busa karena terjadi presipitasi. Busa tidak
akan terbentuk sebelum semua kation pembentuk kesadahan mengendap. Pada
kondisi ini, air mengalami pelunakan atau penurunan kesadahan yang disebabkan
oleh sabun. Endapan yang terbentuk dapat menyebabkan pewarnaan pada bahan
yang dicuci. Pada perairan sadah (hard),
kandungan kalsium, magnesium, karbonat, dan sulfat biasanya tinggi
|
|||
B.
b. Kuantitas Permukaan Air Tanah
|
||||
1)
Daya
Dukung Air Tanah
|
Kepadatan maksimum vegetasi yang dapat mendukung air tanah di daerah
gersang dan setengah kering, agar dapat mendukung generasi masa depanselama
periode pertumbuhan tanaman, mendapatkan kondisi iklim yang diharapkan,
memperbaiki tekstur tanah dan manajemen program.
|
|||
2)
Kedalaman
Muka Air Tanah
|
Batas
atau jarak antara permukaan tanah dengan muka air tanah
|
|||
C. Cakupan Layanan Air Limbah Domestik – Sistem
Onsite
|
Jumlah
wilayah yang telah terlayani oleh system air limbah domestik sistem onsite
dalam satu satuan wilayah kota/kabupaten
|
|||
D. Cakupan Layanan Air Limbah Domestik – Sistem
Offsite
|
Jumlah wilayah yang telah terlayani oleh system air
limbah domestik sistem offsite dalam satu satuan wilayah kota/kabupaten
|
|||
E.
Jumlah
Kebutuhan Air Bersih Untuk Domestik
|
Prosentase akses air minum yang aman melalui
Sistem Penyediaan Air Minum dengan jaringan perpipaan dan bukan jaringan
perpipaan terlindungi dengan kebutuhan pokok minimal 60 liter/orang/ hari
· air leding meteran,
· sumur pompa/bor dengan jarak > 10 m dari
sumber pencemar,
· sumur terlindungi dengan jarak > 10 m
dari sumber pencemar,
· mata air terlindungi dengan jarak > 10 m
dari sumber pencemar, dan
· air hujan
(kota dalam angka)
|
|||
F. Kejadian Banjir
|
Adanya
genangan air (SSK-BPS)
|
|||
|
|
|||
Aspek Teknologi
dan Operasi
|
1.
Prosentase
Keluarga Dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar
|
Prosentase
jamban rumah tangga kumulatif (profil
kesehatan)
|
||
2. Jumlah Kk Yang Memiliki Saluran Pengelolaan
Air Limbah
|
Prosentase
SPAL rumah tangga kumulatif (profil kesehatan)
|
|||
3.
Drainase
Lingkungan Sekitar Rumah
|
Genangan air di drainase sekitar permukiman(EHRA)
|
|||
4. Kualitas Tangki Septik yang Dimiliki: Suspek
Aman dan Tidak Aman
|
Prosentase
tangki septik yang dikuras(BPS)
|
|||
5.
Produksi
Air Bersih PDAM
|
Kapasitas produksi efektif (m3/dt)(PDAM)
|
|||
6. Saluran Akhir Pembuangan Tinja
|
saluran
akhir pembungan tinja tergolong aman (septic
tank)
|
|||
7. Produksi, Distribusi, Penjualan dan Tingkat
Kehilangan Air
|
tingkat kebocoran (%)
|
|||
8.
IPAL
Terpadu
|
Jumlah
unit layanan IPAL terpadu
|
|||
Aspek finansial
dan ekonomi
|
1. Program Pengembangan dan Penyehatan Lingkungan Sehat (Pembiayaan
APBD)
|
Jumlah program yang dimiliki suatu wilayah
untuk penyehatan lingkungan
|
||
2. Anggaran Pengelolaan Lingkungan Hidup
|
Rupiah pengelolaan program
|
|||
3. Perhitungan Pertumbuhan Pendanaan APBD Untuk Operasional/Pemeliharaan
dan Investasi Sanitasi
|
Rupiah biaya operasi dan pemeliharaan
investasi sanitasi di tahun sebelumnya
|
|||
4.
Perkiraan Besaran
Pendanaan APBD Untuk KebutuhanOperasional/Pemeliharaan Aset Sanitasi
Terbangun
|
Rupiah biaya operasi dan pemeliharaan sanitasi
terbangun
|
|||
5. Perkiraan Kemampuan APBD Dalam Mendanai Program/Kegiatan SSK*
|
1.
Perencanaan
Teknis Renovasi pembangunan IPLT
2. Renovasi pembangunan IPLT
3. Pendampingan dalam rangka pembangunan IPLT
4. Pelatihan teknis operator IPLT
5. Operasi dan Pemeliharaan IPLT
6. Monitoring dan evaluasi
|
|||
6.
Kesediaan/Kepedulian
Pemda Kab/Kota untuk Menganggarkan Biaya Om Di Dalam DPA APBD
|
1. FGD: Pembahasan sistem pengurasan lumpur tinja
berkala (data, konsumen, tarif, pola, dsb)
2.
Sosialisasi Sistem Pengurasan Lumpur Tinja Berkala ke
Masyarakat
3.
Program
Kemitraan dengan Swasta untuk Penyedotan Lumpur Tinja Berkala
4.
Penerapan Sistem secara berkala (skala proritas
kecamatan)
5.
Perbaikan
Infrastruktur pendukung, seperti IPLT dan truk sedot tinja.
|
|||
7. Kesediaan/Kepedulian Pemda Kab/Kota untuk Memberikan Subsidi Untuk OM
|
Jumlah program layanan sanitasi yang
dimiliki oleh pemerintah kota/kabupaten untuk memberikan subsidi operasi dan
pemeliharaan
|
|||
8. Kesediaan dan Kapasitas Rumah Tangga dan Masyarakat untuk Membayar
Layanan Sanitasi
|
Jumlah atau indeks rata-rata dana yang disediakan
rumah tangga untuk membayar layanan sanitasi
|
|||
Aspek
sosial-budaya dan kelembagaan
|
1. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
|
Jumlah Program Pemberdayaan Masyarakat(Pengembangan Media Promosi Kesehatan
& Teknologi KIE, Pengembangan Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat dan
Generasi Muda, Peningkatan Pendidikan Kesehatan Kepada Masyarakat)
|
||
2.
Tujuan,
Sasaran, dan Tahapan Strategi
Pencapaian Pengelolaan Sanitasi Rumah Tangga
|
Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat terdiri dari 5 pilar:
1. Stop buang air besar sembarangan
2. Cuci tangan pakai sabun;
3. Pengelolaan air minum/makanan rumah tangga;
4. Pengelolaan sampah rumah tangga;
5. Pengelolaan limbah cair rumah tangga
|
|||
3. Tujuan, Sasaran, dan Strategi Pengelolaan Air Bersih dan Minum
|
Tingkat Terlayani PDAM:
Pelayanan air baku melalui jaringan PDAM
|
|||
4. Pengelolaan Sarana Jamban Keluarga Dan MCK Oleh
Masyarakat
|
Tingkat Terlayani Sarana Jamban Keluarga dan MCK
oleh Masyarakat
|
|||
5. Media Komunikasi yang Ada
|
Media Komunikasi untuk sosialisasi,
pelatihan, bimbingan, pendampingan / konsultasi teknis terkait sanitasi
|
|||
6. Kegiatan Komunikasi yang ada
|
Kegiatan Komunikasi terkait sanitasi dalam suatu
wilayah
|
|||
7. Legalitas Izin Mendirikan Bangunan
|
-
|
|||
8.
Prosentase
Keluarga Miskin
|
Jumlah Keluarga Miskin dalam persen di suatu wilayah
|
|||
2. Penetapan
Variabel, Indikator, Parameter dan Kategori Penilaian Cepat Sanitasi Berkelanjutan
Hasil pengolahan dan analisis data
dari studi dokumentasi, metode FGD, dan expert judgment dengan metode delphi
yang telah dilakukan, menghasilkan penetapan: 5 variabel, 18 sub variabel, 40 Indikator,
Parameter dan Kategori Penilaian yang
akan digunakan dalam penilaian sanitasi berkelanjutan.
Variabel
|
Indikator
|
Kategori
|
Parameter Kuantitatif
|
Parameter Kualitatif
|
|
Kesehatan
|
10 besar pola penyakit
rawat jalan puskesmas
|
Sangat Baik
|
Penyakit berbasis
sanitasi tidak masuk dalam urutan 10 besar penyakit rawat jalan di puskesmas
pada Periode Waktu Penialain
|
Penyakit berbasis
sanitasi tidak masuk dalam urutan 10 besar penyakit rawat jalan di puskesmas
pada Periode Waktu Penialain
|
|
Baik
|
Penyakit berbasis
sanitasi di rawat jalan puskesmas mengalami penurunan dibandingkan periode
waktu sebelumnya
|
Penyakit berbasis
sanitasi di rawat jalan puskesmas mengalami penurunan dibandingkan periode
waktu sebelumnya
|
|||
Cukup
|
Penyakit berbasis
sanitasi di rawat jalan puskesmas berada pada kondisi yang sama (peringkat
yang sama) dibandingkan periode waktu sebelumnya
|
Penyakit berbasis
sanitasi di rawat jalan puskesmas berada pada kondisi yang sama (peringkat
yang sama) dibandingkan periode waktu sebelumnya
|
|||
Buruk
|
Penyakit berbasis
sanitasi di rawat jalan puskesmas berada pada kondisi (peringkat yang sama)
dibandingkan periode waktu sebelumnya
|
Penyakit berbasis
sanitasi di rawat jalan puskesmas berada pada kondisi (peringkat yang sama)
dibandingkan periode waktu sebelumnya
|
|||
Prosentase tempat umum
dan pengelolaan makanan sehat
|
Sangat Baik
|
>80,00% Prosentase
Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan Sehat Memenuhi Syarat Kesehatan pada
Periode Waktu Penialain
|
Prosentase Tempat Umum
dan Pengelolaan Makanan Sehat memenuhi Target Nasional (>80%) atau Target
Daerah
|
||
Baik
|
53,34%-80,00%
Prosentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan Sehat Memenuhi Syarat
Kesehatan pada Periode Waktu Penilaian
|
Prosentase Tempat Umum
dan Pengelolaan Makanan Sehat mengalami peningkatan dibandingkan dengan
periode waktu sebelumnya
|
|||
Cukup
|
26,68-53,33% Prosentase
Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan Sehat Memenuhi Syarat Kesehatan pada
Periode Waktu Penialain
|
Prosentase Tempat Umum
dan Pengelolaan Makanan Sehat tidak mengalami peningkatan dibandingkan dengan
periode waktu sebelumnya
|
|||
Buruk
|
<26 dan="" kesehatan="" makanan="" memenuhi="" o:p="" pada="" pengelolaan="" penialain="" periode="" prosentase="" sehat="" syarat="" tempat="" umum="" waktu="">26>
|
Prosentase Tempat Umum
dan Pengelolaan Makanan Sehat mengalami penurunan dibandingkan dengan periode
waktu sebelumnya
Prosentase rumah sehat
Sangat Baik
>= 75% Rumah di
Suatu Wilayah dinyatakan Sehat dari Total Rumah yang Diperiksa pada Periode
Waktu Penilaian
Prosentase Rumah Sehat
memenuhi Target Nasional (>= 75%) atau Target Daerah
Baik
49,33%-74,00% Rumah di
Suatu Wilayah dinyatakan Sehat dari Total Rumah yang Diperiksa pada Periode
Waktu Penilaian
Prosentase Rumah Sehat
mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Cukup
24,68%-49,32% Rumah di
Suatu Wilayah dinyatakan Sehat dari Total Rumah yang Diperiksa pada Periode
Waktu Penialaian
Prosentase Rumah Sehat
tidak mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Buruk
<24 dari="" di="" dinyatakan="" diperiksa="" o:p="" pada="" penilaian="" periode="" rumah="" sehat="" suatu="" total="" waktu="" wilayah="" yang="">24>
Prosentase Rumah Sehat
mengalami penurunan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Prosentase rumah tangga
berPHBS
Sangat Baik
>=70% Rumah Tangga
di Suatu Wilayah sudah berPHBS pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase rumah tangga
ber PHBS memenuhi Target Nasional (>=70%) atau Target Daerah
Baik
46%-69% Rumah Tangga di
Suatu Wilayah sudah berPHBS pada Periode Waktu Penialain
Prosentase Rumah Tangga
berPHBS mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Cukup
24%-45% Rumah Tangga di
Suatu Wilayah sudah berPHBS pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase Rumah Tangga
berPHBS tidak mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode waktu
sebelumnya
Buruk
<24 berphbs="" di="" o:p="" pada="" penilaian="" periode="" rumah="" suatu="" sudah="" tangga="" waktu="" wilayah="">24>
Prosentase Rumah
berPHBS mengalami penurunan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Prosentase KLB penyakit
berbasis lingkungan (limbah)
Sangat Baik
Tidak ada Penyakit
Berbasis Lingkungan berada Pada Kondisi KLB pada Periode Waktu Penilaian
Tidak ada Penyakit
Berbasis Lingkungan berada Pada Kondisi KLB pada Periode Waktu Penilaian
Baik
33%-65% Penyakit
Berbasis Lingkungan berada Pada Kondisi KLB pada Periode Waktu Penilaian
Terjadi peningkatan
jumlah KLB pada penyakit berbasis lingkungan dibandingkan dengan periode
waktu sebelumnya
Cukup
66%-99% Penyakit
Berbasis Lingkungan berada Pada Kondisi KLB pada Periode Waktu Penilaian
Tidak Terjadi
peningkatan jumlah KLB pada penyakit berbasis lingkungan dibandingkan dengan
periode waktu sebelumnya
Buruk
Seluruh Penyakit
Berbasis Lingkungan berada Pada Kondisi KLB pada Periode Waktu Penilaian
Terjadi penurunan
jumlah KLB pada penyakit berbasis lingkungan dibandingkan dengan periode
waktu sebelumnya
Kepemilikkan rumah
tangga terhadap tempat BAB
Sangat Baik
>=80,00% Rumah
Tangga di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar
Kesehatan pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase rumah tangga
yang menggunakan jamban sesuai standar kesehatan memenuhi Target Nasional (>=80%)
atau Target Daerah
Baik
52,67%-79%% Rumah
Tangga di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar
Kesehatan pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase rumah tangga
yang menggunakan jamban mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu
sebelumnya
Cukup
26,64%-52,66% Rumah
Tangga di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar
Kesehatan pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase rumah tangga
yang menggunakan jamban sesuai standar kesehatan mengalami peningkatan dibandingkan
periode waktu sebelumnya
Buruk
<26 di="" jamban="" kesehatan="" memenuhi="" menggunakan="" o:p="" pada="" penilaian="" periode="" rumah="" standar="" suatu="" tangga="" telah="" waktu="" wilayah="" yang="">26>
Prosentase rumah tangga
yang menggunakan jamban sesuai standar kesehatan mengalami penurunan
dibandingkan periode waktu sebelumnya
Prevalensi penyakit
diare
Sangat Baik
<= 285/1000
Prevalensi Penyakit Diare di suatu Wilayah
Prevalensi penyakit
diare di suatu wilayah memenuhi target nasional (<= 285/1000) atau Target
Daerah
Baik
286/1000-380/1000
Prevalensi Penyakit Diare di suatu Wilayah
Prevalensi penyakit
diare di suatu wilayah mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu
sebelumnya
Cukup
379/1000 - 474/1000
Prevalensi Penyakit Diare di suatu Wilayah
Prevalensi penyakit
diare di suatu wilayah tidak mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu
sebelumnya
Buruk
>475/1000 Prevalensi
Penyakit Diare di suatu Wilayah
Prevalensi penyakit diare
di suatu wilayah mengalami penurunan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Praktek pembuangan
kotoran anak balita di rumah responden yang rumahnya ada balita
Sangat Baik
>=80,00% Rumah
Tangga di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar
Kesehatan untuk Membuang Kotoran Berak Anak pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase Rumah Tangga
di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar Kesehatan
untuk Membuang Kotoran Berak Anak telah memenuhi Target Nasional (>=80%)
atau Target Daerah
Baik
52,67%-79%% Rumah
Tangga di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar
Kesehatan untuk Membuang Kotoran Berak Anak pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase Rumah Tangga
di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar Kesehatan
untuk Membuang Kotoran Berak Anak mengalami peningkatan dibandingkan periode
waktu sebelumnya
Cukup
26,64%-52,66% Rumah
Tangga di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar
Kesehatan untuk Membuang Kotoran Berak Anak pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase Rumah Tangga
di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar Kesehatan
untuk Membuang Kotoran Berak Anak tida mengalami peningkatan dibandingkan
periode waktu sebelumnya
Buruk
<26 anak="" berak="" di="" jamban="" kesehatan="" kotoran="" membuang="" memenuhi="" menggunakan="" o:p="" pada="" penilaian="" periode="" rumah="" standar="" suatu="" tangga="" telah="" untuk="" waktu="" wilayah="" yang="">26>
Prosentase Rumah Tangga
di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar Kesehatan
untuk Membuang Kotoran Berak Anak mengalami penurunan dibandingkan periode
waktu sebelumnya
spek Sumber Daya
Lingkungan Dan Alam
Data Kepadatan Penduduk
Sangat Baik
< 200 Jiwa/Hektar
Jumlah kepadatan
penduduk memenuhi standar < 200 jiwa/hektar yang ditetapkan
Baik
200-399 Jiwa/hektar
Jumlah kepadatan
penduduk mengalami penurunan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Cukup
400-500 Jiwa/Hektar
Jumlah kepadatan
penduduk tidak mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Buruk
> 500 Jiwa/Hektar
Jumlah kepadatan
penduduk mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Prosentase Keluarga
Menurut Jenis Sarana Air Bersih dan Sumber Air Minum
Sangat Baik
>80,00% Prosentase
Keluarga menurut Jenis Sarana Air Bersih dan Sumber Air Minum Memenuhi Syarat
Kesehatan pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase Keluarga
menurut Jenis Sarana Air Bersih dan Sumber Air Minum memenuhi Target Nasional
(>80%) atau Target Daerah
Baik
53,34%-80,00%
Prosentase Keluarga menurut Jenis Sarana Air Bersih dan Sumber Air Minum
Memenuhi Syarat Kesehatan pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase Keluarga
menurut Jenis Sarana Air Bersih dan Sumber Air Minum mengalami peningkatan dibandingkan dengan
periode waktu sebelumnya
Cukup
26,68-53,33% Prosentase
Keluarga menurut Jenis Sarana Air Bersih dan Sumber Air Minum Memenuhi Syarat
Kesehatan pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase Keluarga
menurut Jenis Sarana Air Bersih dan Sumber Air Minum tidak mengalami peningkatan dibandingkan
dengan periode waktu sebelumnya
Buruk
<26 air="" bersih="" dan="" jenis="" keluarga="" kesehatan="" menurut="" minummemenuhi="" o:p="" pada="" penilaian="" periode="" prosentase="" sarana="" sumber="" syarat="" waktu="">26>
Prosentase Keluarga
menurut Jenis Sarana Air Bersih dan Sumber Air Minum mengalami penurunan dibandingkan
dengan periode waktu sebelumnya
1)
TDS
Sangat Baik
< 500
Nilai TDS memenuhi
standar < 500jiwa/hektar yang ditetapkan
Baik
500-1000
Nilai TDS mengalami
penurunan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Cukup
1000-1500
Nilai TDS tidak
mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Buruk
> 1500
Nilai TDS mengalami
peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
2)
Kekeruhan
Sangat Baik
< 5.0
Nilai kekeruhan
memenuhi standar <5 .0="" o:p="">5>
Baik
5.0-15.0
Nilai kekeruhan mengalami
penurunan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Cukup
15.0-25.0
Nilai kekeruhan tidak
mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Buruk
> 25.0
Nilai kekeruhan
mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
3)
PH
Sangat Baik
6.5-7.5
Baik
5.5-6.5 atau 7.5-8.5
Cukup
4.5 atau 8.5-9.5
Buruk
< 4.5 atau > 9.5
4)
Nitrat
Sangat Baik
< 5.0
Nilai Nitrat memenuhi
standar <5 .0="" nbsp="" o:p="">5>
Baik
5.0-10.0
Nilai Nitrat mengalami
penurunan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Cukup
10.0-50.0
Nilai Nitrat tidak
mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Buruk
>50.0
Nilai Nitrat mengalami
peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
5)
Kedasahan
Sangat Baik
< 5.0
Nilai kedasahan
memenuhi standar <5 .0="" nbsp="" o:p="">5>
Baik
5.0-10.0
Nilai kedasahan
mengalami penurunan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Cukup
10.0-50.0
Nilaikedasahan tidak
mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Buruk
>50.0
Nilai kedasahan
mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
1)
Daya Dukung Air Tanah
Sangat Baik
> 2000
Terdapat kenaikan
prosentase akses air minum ≥ 10% dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
1500-2000
Terdapat kenaikan
prosentase akses air minum 9%-5% dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
1000-1500
Terdapat kenaikan
prosentase akses air minum 4% -1% dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
< 1000
terjadi penurunan
prosentase akses air minum
dibandingkan tahun sebelumnya
2)
Akses penggunaan Air
Bersih
Sangat Baik
1.0-2.0
Baik
2.1-3.0
Cukup
3.1-4
Buruk
>= 4.1
3)
Kedalaman Muka Air
Tanah
Sangat Baik
0-5.0
Baik
5.0-10.0
Cukup
10.0-15.0
Buruk
>15.0
Cakupan Layanan Air
Limbah Domestik – Sistem Onsite
Sangat Baik
> 60% Sistem Onsite
Prosentase pengembangan
air limbah domestik sistem on site memenuhi Target Nasional (>60%) atau
Target Daerah
Baik
40-60% Sistem Onsite
Prosentase pengembangan
air limbah domestik sistem Onsite mengalami peningkatan dibandingkan dengan
periode waktu sebelumnya
Cukup
20-39% Sistem Onsite
Prosentase pengembangan
air limbah domestik sistem Onsite tidak mengalami peningkatan dibandingkan
dengan periode waktu sebelumnya
Buruk
< 20% Sistem Onsite
Prosentase pengembangan
air limbah domestik sistem Onsite mengalami penurunan dibandingkan dengan
periode waktu sebelumnya
Cakupan Layanan Air
Limbah Domestik – Sistem Offsite
Sangat Baik
<1 o:p="">1>
Prosentase pengembangan
air limbah domestik sistem off site memenuhi Target Nasional (< 1%) atau
Target Daerah
Baik
1-2%
Prosentase pengembangan
air limbah domestik sistem Onsite mengalamipenurunan dibandingkan dengan
periode waktu sebelumnya
Cukup
3-4%
Prosentase pengembangan
air limbah domestik sistem Onsite tidak mengalami penurunan dibandingkan
dengan periode waktu sebelumnya
Buruk
>4%
Prosentase pengembangan
air limbah domestik sistem Onsite mengalamipeningkatan dibandingkan dengan
periode waktu sebelumnya
Jumlah Kebutuhan Air
Bersih Untuk Domestik
Sangat Baik
>=80,00% Jumlah Kebutuhan
Air Bersih untuk Domestik telah Terpenuhi
Prosentase jumlah
kebutuhan air bersih memenuhi Target Nasional (>= 80%%) atau Target Daerah
Baik
52,67%-79%% Jumlah Kebutuhan Air Bersih untuk Domestik
telah Terpenuhi
Prosentase jumlah
kebutuhan air bersih mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode waktu
sebelumnya
Cukup
26,64%-52,66% Jumlah Kebutuhan Air Bersih untuk Domestik
telah Terpenuhi
Prosentasejumlah
kebutuhan air bersih tidak mengalami
peningkatan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Buruk
<26 air="" bersih="" domestik="" jumlah="" kebutuhan="" nbsp="" o:p="" telah="" terpenuhi="" untuk="">26>
Prosentase jumlah
kebutuhan air bersih mengalami
penurunan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Kejadian Banjir
Sangat Baik
Tidak Pernah Terjadi
Genangan Air
Baik
Terjadi Genangan Air
dengan Tinggi Rata-Rata < 30 CM, Lama Genangan < 2 Jam, Frekuensi kejadian < 2 Kali Setahun
Cukup
Terjadi Genangan Air
dengan Tinggi Rata-Rata > 30 CM, Lama Genangan 2 Jam, Frekuensi kejadian
> 2 Kali Setahun
Buruk
Kadang-kadang meluap,
agak sering menyebabkan banjir, sering menyebabkan banjir, selalu menyebabkan
banjir
Aspek Teknologi dan
Operasi
Prosentase Keluarga
Dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar
Sangat Baik
Prosentase keluarga
pemilik saluran pengelolaan air limbah di atas atau sama dengan 62,41%
Terdapat kenaikan
prosentase kepemilikan ≥ 10% dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Prosentase keluarga
pemilik saluran pengelolaan air limbah antara 37,43%-62,40%
Terdapat kenaikan
prosentase kepemilikan 9%-5% dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Prosentase keluarga
pemilik saluran pengelolaan air limbah antara 24,96%-37,42%
Terdapat kenaikan
prosentase kepemilikan4% -1% dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Prosentase keluarga
pemilik saluran pengelolaan air limbah di bawah atau sama dengan 12,48%
Tidak terdapat kenaikan
atau terjadi penurunan prosentase kepemilikan
dibandingkan tahun sebelumnya
Jumlah Kk Yang Memiliki
Saluran Pengelolaan Air Limbah
Sangat Baik
Prosentase keluarga
pemilik sumur resapan di atas atau sama dengan 62,41%
Baik
Prosentase keluarga
pemilik sumur resapan antara 37,43%-62,40%
Cukup
Prosentase keluarga
pemilik sumur resapan antara 24,96%-37,42%
Buruk
Prosentase keluarga
pemilik sumur resapan di bawah atau sama dengan 12,48%
Drainase Lingkungan
Sekitar Rumah
Sangat Baik
Tersedianya sistem
jaringan drainase sehingga tidak terjadi genangan (lebih dari 30 cm, selama 2
jam) dan tidak lebih dari 2 kali setahun
Terdapat penurunan
prosentase genangan ≥ 10% dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Tersedianya sistem
jaringan drainase sehingga tidak terjadi genangan (lebih dari 40 cm, selama 2
jam) dan tidak lebih dari 2 kali setahun
Terdapat penurunan prosentase
genangan9%-5% dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Tersedianya sistem
jaringan drainase sehingga tidak terjadi genangan (lebih dari 40 cm, selama 2
jam) dan tidak lebih dari 4 kali setahun
Terdapat penurunan
prosentase genangan4%-1% dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Tidak tersedia sistem
jaringan drainase sehingga tidak terjadi genangan
Tidak Terdapat
penurunanatau terjadi kenaikan prosentase genangandibandingkan tahun
sebelumnya
Kualitas Tangki Septik
yang Dimiliki: Suspek Aman dan Tidak Aman
Sangat Baik
Terdapat jadwal
pengurasan untuk septik tank di wilayah pengukuran dan semua keluarga
menggunakan septik tank sesuai standar
Terdapat kenaikan
prosentase pengurasan ≥ 10% dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Semua keluarga di
wilayah pengukuran menggunakan septik tank sesuai standar
Terdapat kenaikan
prosentase pengurasan 9%-5% dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Lebih dari 62,41%
keluarga di wilayah pengukuran menggunakan septik tank sesuai standar
Terdapat kenaikan prosentase
pengurasan4% -1% dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Kurang dari 62,41%
keluarga di wilayah pengukuran menggunakan septik tank sesuai standar
Tidak terdapat kenaikan
atau terjadi penurunan prosentase pengurasan
dibandingkan tahun sebelumnya
Produksi Air Bersih
PDAM
Sangat Baik
Produksi/kapasitas
lebih dari 90 %
Terdapat kenaikanm
produksi rata-rata ≥ 10 dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Produksi/kapasitas
antara 80 %-90%
Terdapat kenaikan
produksi rata-rata 9-5
dibandingkan tahun
sebelumnya
Cukup
Produksi/kapasitas
antara 70 %-80%
Terdapat kenaikan
produksi rata-rata 4-1 dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Produksi/kapasitas
kurang dari 70 %
Tidak terdapat kenaikan
atau terjadi penurunan rata-rata
dibandingkan tahun sebelumnya
Saluran Akhir
Pembuangan Tinja
Sangat Baik
Prosentase keluarga
membuang akhir ke tangki septik dan saluran pipa/ sewer di atas atau sama
dengan 62,41%
Terdapat kenaikan
prosentase ≥ 10% dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Prosentase keluarga
membuang akhir ke tangki septik dan saluran pipa/ sewer antara 37,43%-62,40%
Terdapat kenaikan
prosentase 9%-5% dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Prosentase keluarga
membuang akhir ke tangki septik dan saluran pipa/ sewer antara 24,96%-37,42%
Terdapat kenaikan
prosentase 4% -1% dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Prosentase keluarga
membuang akhir ke tangki septik dan saluran pipa/ sewer di bawah 24,96
Tidak terdapat kenaikan
atau terjadi penurunan prosentase
dibandingkan tahun sebelumnya
Produksi, Distribusi,
Penjualan dan Tingkat Kehilangan Air
Sangat Baik
Selisih distribusi-air
terekening/distribusi air kurang dari sama dengan 25 %
Terdapat penurunan
prosentase ≥ 10% dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Selisih distribusi-air terekening/distribusi
air antara 25% - 30%
Terdapat penurunan
prosentase 9%-5% dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Selisih distribusi-air
terekening/distribusi air antara 30% - 35%
Terdapat penurunan
prosentase 4%-1% dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Selisih distribusi-air
terekening/distribusi air di atas sama dengan 35 %
Tidak Terdapat
penurunanatau terjadi kenaikan prosentase dibandingkan tahun sebelumnya
IPAL Terpadu
Sangat Baik
Terdapat lebih dari
sama dengan 300 KK yang dilayani IPAL terpadu
Terdapat kenaikan
jumlah unit ≥ 3 dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Terdapat 299-200 KK
yang dilayani IPAL terpadu
Terdapat kenaikan
sejumlah 2 unit dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Terdapat 199-100 KK
yang dilayani IPAL terpadu
Terdapat kenaikan
sejumlah 1 unit dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Terdapat kurang dari
100 KK yang dilayani IPAL terpadu
Tidak terdapat kenaikan
atau terjadi penurunan unit
dibandingkan tahun sebelumnya
Program Pengembangan
dan Penyehatan Lingkungan Sehat (Pembiayaan APBD)
Sangat Baik
Terdapat kenaikan
jumlah program ≥ 3 dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Terdapat kenaikan
sejumlah 2 program dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Terdapat kenaikan
sejumlah 1 program dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Tidak terdapat kenaikan
atau terjadi penurunan program
dibandingkan tahun sebelumnya
Aspek finansial dan
ekonomi
Anggaran Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Sangat Baik
Terdapat kenaikan
besaran anggaran program ≥ Rp 1 milyar dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Terdapat kenaikan
besaran anggaran program Rp 500 juta sampai Rp 999 ratus juta dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Terdapat kenaikan
besaran anggaran program sampai dengan Rp 499 juta dibandingkan tahun
sebelumnya
Buruk
Tidak terdapat kenaikan
atau terjadi penurunan anggaran program
dibandingkan tahun sebelumnya
Perhitungan Pertumbuhan
Pendanaan APBD Untuk Operasional/Pemeliharaan dan Investasi Sanitasi
Sangat Baik
Terdapat kenaikan
besaran anggaran operasi dan pemeliharaan≥ Rp 1 milyardibandingkan tahun
sebelumnya
Baik
Terdapat kenaikan
besaran anggaran operasi dan pemeliharaan Rp 500 juta sampai Rp 999 ratus
juta dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Terdapat kenaikan
besaran anggaran operasi dan pemeliharaan sampai dengan Rp 499 juta
dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Tidak terdapat kenaikan
atau terjadi penurunan anggaran operasi dan pemeliharaan dibandingkan tahun sebelumnya
Perkiraan Besaran
Pendanaan APBD Untuk Kebutuhan Operasional/Pemeliharaan Aset Sanitasi Terbangun
Sangat Baik
Tersedia anggaran biaya
OM untuk sanitasi di atas 5 %
Baik
Tersedia anggaran biaya
OM untuk sanitasi 5-2 %
Cukup
Tersedia anggaran biaya
OM untuk sanitasi di bawah 2 %
Buruk
Tidak tersedia anggaran
biaya OM untuk sanitasi
Perkiraan Kemampuan
APBD Dalam Mendanai Program/Kegiatan SSK*
Sangat Baik
Terdapat kenaikan
besaran anggaran program ≥ Rp 1 milyar dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Terdapat kenaikan
besaran anggaran program Rp 500 juta sampai Rp 999 ratus juta dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Terdapat kenaikan
besaran anggaran program sampai dengan Rp 499 juta dibandingkan tahun
sebelumnya
Buruk
Tidak terdapat kenaikan
atau terjadi penurunan anggaran program
dibandingkan tahun sebelumnya
Kesediaan/Kepedulian
Pemda Kab/Kota untuk Menganggarkan Biaya OM Di Dalam DPA APBD
Sangat Baik
Terdapat kenaikan
besaran anggaran program ≥ Rp 1 milyar dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Terdapat kenaikan
besaran anggaran program Rp 500 juta sampai Rp 999 ratus juta dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Terdapat kenaikan
besaran anggaran program sampai dengan Rp 499 juta dibandingkan tahun
sebelumnya
Buruk
Tidak terdapat kenaikan
atau terjadi penurunan anggaran program
dibandingkan tahun sebelumnya
Kesediaan/Kepedulian
Pemda Kab/Kota untuk Memberikan Subsidi Untuk OM
Sangat Baik
Terdapat kenaikan
besaran anggaran program ≥ Rp 1 milyar dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Terdapat kenaikan
besaran anggaran program Rp 500 juta sampai Rp 999 ratus juta dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Terdapat kenaikan
besaran anggaran program sampai dengan Rp 499 juta dibandingkan tahun
sebelumnya
Buruk
Tidak terdapat kenaikan
atau terjadi penurunan anggaran program
dibandingkan tahun sebelumnya
Kesediaan dan Kapasitas
Rumah Tangga dan Masyarakat untuk Membayar Layanan Sanitasi
Sangat Baik
≥62,41% membayar
layanan sanitasi
Baik
49,92%-62,40% membayar
layanan sanitasi
Cukup
37,43%-49,91% membayar
layanan sanitasi
Buruk
< 37,42% membayar
layanan sanitasi
Program Promosi
Kesehatan
dan Pemberdayaan
Masyarakat
Sangat Baik
>=62,41% Pencapaian
STBM
Baik
49,92%-62,40%
Pencapaian STBM
Cukup
37,43%-49,91%
Pencapaian STBM
Buruk
< 37,42% Pencapaian
STBM
Aspek sosial-budaya dan
kelembagaan
Tujuan, Sasaran, dan
Tahapan Strategi Pencapaian
Pengelolaan Sanitasi Rumah Tangga
Sangat Baik
>80% Terlayani PDAM
Baik
60%-80% Terlayani PDAM
Cukup
40%-59% Terlayani PDAM
Buruk
<39 o:p="" pdam="" terlayani="">39>
Tujuan, Sasaran, dan
Strategi Pengelolaan Air Bersih dan Minum
Sangat Baik
50%-70% Penduduk
Terlayani (< 300 Jiwa/H) dan 80% 90% Terlayani (> 300 Jiwa/H)
Baik
37,6%-49% Penduduk
Terlayani dan 70%-79% Terlayani
Cukup
26%37,5% Penduduk
Terlayani dan 50%-69% Terlayani
Buruk
<=25% terlayani dan
< 49% Terlayani
Pengelolaan Sarana
Jamban Keluarga Dan MCK Oleh Masyarakat
Sangat Baik
Terdapat kemitraan,
pengembangan wewenang dan pengaturan oleh masyarakat untuk pengelolaan jamban
dan MCK
Baik
Terdapat kebutuhan
untuk mengundang pihak luar dalam
pengelolaan jamban dan MCK
Cukup
Terdapat kebutuhan
informasi dalam pengelolaan jamban dan
MCK
Buruk
Pengelolaan Sarana
Jamban Keluarga Dan MCK tidak dilakukan oleh Masyarakat
Media Komunikasi yang
Ada
Sangat Baik
Suatu Wilayah Melakukan
Kegiatan Komunikasi dengan tiga atau lebih jenis media
Baik
Suatu Wilayah Melakukan
Kegiatan Komunikasi dengan dua jenis media
Cukup
Suatu Wilayah Melakukan
Kegiatan Komunikasi Dengan satu jenis media
Buruk
Suatu Wilayah Tidak
Pernah Melakukan Kegiatan Komunikasi
Kegiatan Komunikasi
yang ada
Sangat Baik
Suatu Wilayah Melakukan
Kegiatan Komunikasi Secara Rutin lebih dari 2 sebulan
Baik
Suatu Wilayah Melakukan
Kegiatan Komunikasi Secara Rutin 1-2 kali sebulan
Cukup
Suatu Wilayah Melakukan
Kegiatan Komunikasi Secara Insidental
Buruk
Suatu Wilayah Tidak
Pernah Melakukan Kegiatan Komunikasi
Prosentase Keluarga
Miskin
Sangat baik
≤12,5% Keluarga Miskin
Suatu Wilayah
Baik
12,6%-15% Keluarga
Miskin Suatu Wilayah
Cukup
16-20% Keluarga Miskin
Suatu Wilayah
Buruk
>20% Keluarga Miskin Suatu Wilayah
Daftar Pustaka
|
UNICEF Bagian Air, Lingkungan dan Sanitasi. Paket Informasi
Tahun Sanitasi Internasional 2008. Jakarta, UNICEF, 2008.
Water and Sanitation
Program, Opsi Sanitasi Yang Terjangkau
Untuk Daerah Spesifik. The World Bank, 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar