Tampilkan postingan dengan label sanitasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sanitasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Juli 2017

Perjalanan Memetakan Kebutuhan Air Bersih-Sanitasi di Kawasan Pariwisata Morotai

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
telah diterbitkan di Majalah Dinamika Riset, Edisi II Tahun 2017

Kabupaten Pulau Morotai baru berusia 8 tahun, setelah mekar dari sebuah kecamatan bagian dari Kabupaten Halmahera Utara. Untuk sampai ke pulau ini, perjalanan lewat jalur udara ditempuh dari Manado selama 1 jam dengan transit di Bandara Sultan Baabullah, Ternate, dan berlanjut ke Morotai selama 40 menit.

S Hatim, dari Bappeda Morotai, mengatakan air bersih di Morotai masih susah. Sumber air bersih hanya ada dua. Dari lima kecamatan, kondisi air bersih Morotai masih kurang. Dua kecamatan sebagai tujuan wisata sudah mending, tapi di Morotai Jaya, Morotai Timur, dan Morotai Utara, kekurangan air bersihnya parah. Apalagi mereka bukan daerah tujuan wisata.

Kendati masih kurang, dari 88 desa di Morotai, 70% telah terjangkau air bersih. “Sebenarnya, pusat wisata di Dodola juga terkendala air bersih. Pemerintah propinsi membuat sumur bor di satu titik di Dodola. Air dialirkan ke tiga aliran. Tapi itu kurang. Turis pun antri mandi, termasuk para bule.” Toilet dikelola UPTD.

“Kami sangat membutuhkan air bersih, terutama di lokasi wisata. Sarana prasarana umum pun sebetulnya masih minim. Jangankan untuk wisata, masyarakat umum pun urgent (mendesak). Selain pribadi, pemda membangun WC umum. Prioritas kebutuhan air bersih dan sanitasi.

Kendala air bersih dan sanitasi karena kondisi geografi. PDAM menjalankan dua titik sumber air: sumber mata air dari gunung dan sumur bor. Air dari sumur mengandung kapur dalam jumlah tinggi. Sementara, sumber mata air dari gunung ketika musim hujan menjadi keruh. Jarak dari hulu ke kota sekitar 10 kilometer.

Untuk itu, untuk air minum, warga mengandalkan air galon produksi swasta. Air ini diolah dari persediaan air sumber mata air ketika tidak musim hujan sehingga terjaga kebersihannya. Sementara, untuk mandi dan cuci, warga menggunakan air seadanya. Sewaktu Sail Morotai 2012—yang dihadiri SBY—dibangun sarana air bersih yang bisa olah air laut sehingga bisa langsung minum. Tapi sekarang tidak jalan.

Kepala Dinas Perumahan Morotai Zulkifli menyebutkan sebagian warga masih memiliki budaya sanitasi yang kurang baik. Mereka tidak memiliki WC sehingga buang air di hutan atau jauh dari warga lain.

Untuk pembangunan rumah warga, material lokal mahal. Karena gunung api tak aktif, pasir makin minim dan harus diambil dari pantai. Akibatnya terjadi abrasi, termasuk di pantai di jalur jalan nasional. Kondisi itu diatasi dengan membuat bronjong kendati bukan solusi permanen. Pemda pun tak berdaya melarang pengambilan pasir karena demi pembangunan. Biaya pembangunan rumah pun lebih mahal, dua kali harga di Ternate.

Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran Dinas Pariwisata Morotai  Asmar menjelaskan bahwa pengembangan wisata Morotai justru terkendala oleh kebijakan pemkab. Dia menyayangkan APBD tidak mengakomodasi kebutuhan promosi wisata.

Idealnya, kata Asmar, separuh jumlah APBD untuk wisata karena jadi andalan Morotai. Jika anggaran Rp10 miliar, setidaknya Rp 5 miliar untuk wisata. Tapi hal ini tidak terealisasi karena pengajuan anggaran ditolak. Dicoret atau istilah Asmar disate-sate. 

Untuk tahun 2017 ini, anggaran yang disetujui sebesar Rp 120 juta hanya untuk program bimbingan teknis, terutama untuk pemandu wisata. Padahal, pada 2016 dinas merencanakan adanya pusat informasi wisata yang hingga kini belum ada. “Kami tidak bisa promosi,” kata Asmar yang membawahi 17 staf termasuk para guide belum tersertifikat.

Menurut dia, potensi wisata Morotai amat besar, terutama wisata bahari, sejarah, bahkan kuliner, hingga produk kerajinan hasil didikan UPTD Dodola pada warga. “Hal paling penting menyangkut aminity seperti air bersih dan telekomuniasi, juga akses ke spot-spot wisata.”

Namun sarana air bersih belum mendukung. Air PDAM sering macet atau mengalir dalam jumlah kecil. Bahkan pernah keluar air bercampur lumpur. Sumber Air PDAM berjarak 12-15 kilometer dari permukiman. selain PDAM, warga mengandalkan sumur dan air sungai.

Untuk sarana air bersih di daerah kota, seperti Daruba, sudah baik. Selama acara festival pun, sarana air baik dan tanpa keluhan. Namun, di luar jika ada acara dan permukiman desa, air masih jadi kendala. “Sering ngadat. Masyarakat sampai cuek.”

Salah satu lokasi wisata di Morotai berpusat di Kecamatan Morotai Selatan yang terdiri dari 25 desa. Sekretaris Kecamatan Morotai Selatan Nurhayati Taher menegaskan bahwa kebutuhan air bersih masih jadi kendala di wilayahnya. Karena itu, warga lebih mengandalkan air kemasan galon untuk minum. “Air berwarna coklat waktu hujan. Air dari PDAM untuk minum juga mengandung kapur. Makanya kami saring dulu pakai kain, didiamkan, baru dituang,” tutur dia.

Meski sudah ada PDAM, sejumlah desa di Morotai Selatan mengalami kekurangan air yakni di Desa Pilo, Pandanga, dan Juwanga. Warga juga masih mengandalkan air minum dari sungai, selain untuk irigasi sawahnya. Kondisi ini terjadi di Desa Aha yang dihuni sekitar 100 keluarga pendatang dari Sulawesi dan tinggal di rumah-rumah panggung.

Untuk sanitasi, masih ditemukan perilaku warga yang kurang tepat. Di daerah rawa-rawa di Daruba, warga masih buang air besar secara sembarangan. Mereka membuat WC gantung berupa bilik kayu, ukuran setengah kali setengah meter dan berjarak hanya 3 meter dari rumah.  “Soal itu, kami belum melakukan penyuluhan karena masih sibuk terkendala pilkada belakangan ini.”

Patung jenderal Amerika Serikat (Mc. Arthur) yang menyerang pasukan Jepang pada perang dunia II, berdiri di Pulau Zum-zum, salah satu pulau tujuan wisata di Kabupaten Morotai.
Pulau ini tak berpenghuni. Terdapat dermaga kecil, tempat perahu dan kapal bersandar, dengan ornamen roket  atau peluru kendali. Air di sekitar pulau tampak jernih, memperlihatkan sejumlah ikan di perairan itu. Pulau itu dihiasi pasir putih lembut.


Selain patung, terdapat tugu dan besi-besi sisa landasan pesawat dan helikopter.  Pepohonan dan angin meneduhkan suasana di pulau, kendati cuaca panas terik. Sayangnya, sampah botol minuman masih teronggok. Tak ada tempat sampah di pulau itu.

Setelah dari Zum-zum, tujuan berikut Pulau Koloray, sekitar 5-10 menit dari Zum-zum. Pulau ini padat penduduk, sekitar 120 kepala keluarga atau sekira 400 orang. Sejumlah perahu warga terlihat di sana. Koloray menjadi desa wisata. Perumahan warga telah tertata rapi dan lumayan bersih.

Dari dermaga, telah terlihat petunjuk arah, toko oleh-oleh (salah satu produknya halua, jajanan dari kacang), hingga papan sapta pesona dan papan ornamen berisi kutipan ungkapan bijak penduduk setempat. Sebagian rumah juga telah menjadi homestay sejak ajang Sail Morotai 2012.

Kehidupan di Koloray ditopang oleh nelayan. Sayid Amaya, 42 tahun, bercerita hasil utama ikan cakalang.  Sebagian ikan dibuat sebagai ikan garam atau ikan asin. Sembako dipasok dari Morotai. Sayuran ditanam di pulau lain. Ada SD inpres dan SMP Muhammadiyah di pulau ini.

Untuk air, warga membuat sumur timba. Air mengandung kapur. Awal tahun ini BTN membantu bak penampungan dan pompa air bertenaga surya. Hampir semua rumah sudah terhubung dengan pipa air dari bak tampung, kendati di rumah-rumah jauh dari bak, air masih sering mati.  “Air sumur tidak pernah kering,” ujar Sayid.

Untuk sanitasi, ada 11 WC umum. “Susahnya paling kalau ada ombak besar dan angin kencang, tidak bisa pergi sampai pergi,” ujar Aisun Saba, 47 tahun.
Sayangnya, sejumlah warga kerap terserang penyakit ginjal dan infeski saluran pernafasan akut. Terakhir, tiga orang terkena sakit ginjal karena tingginya kandungan kapur air sumur di sana. Warga berobak ke satu-satunya pos kesehatan desa. 

Adapun sakit ISPA karena cuaca panas dan banyak debu. Perilaku hidup sehat warga juga masih susah, seperti buang air besar di laut. “Untuk pasien, 2-3 orang datang per hari,” ujar perawat Widati, 30 tahun, asal Madura dan tinggal di Koloray selama 7 tahun. Untungnya, sekira 60% warga punya kartu layanan kesehatan gratis.
Setelah dari Koloray, tujuan selanjutnya adalah Pulau Dodola. Inilah tujuan wisata bahari utama di Morotai. Dodola juga jadi pusat Sail Morotai 2012. Alhasil, pulau ini memiliki sejumlah penginapan berbentuk rumah panggung, jetski, banana boat, dan kano. Di pulau ini terdapat fasilitas air bersih berupa kamar mandi dan toilet, serta tempat untuk bilas bagi wisatawan.

Beberapa catatan hasil diskusi dengan instansi yang dikunjungi, terkait dengan penyediaan air bersih dan sanitasi, antara lain: Penyakit yang banyak terjadi adalah penyakit ginjal, gizi buruk, dan malaria karena kualitas air dan sanitasi yang buruk. Di desa Totodoku selalu terjadi KLB Diarhe karena krisi air, dan juga Desa Juanga yang memiliki krisis air dan hanya mengandalkan air hujan. Sebenarnya sudah ada aliran PDAM namun kurang lancar.

Air di Morotai mengandung kapur dan e-coli yang sangat tinggi, Dari lima kecamatan, kondisi air bersih masih kurang. Kecamaran Morotai Selatan dan Kecamatan Morotai Selatan Barat sebagai tujuan wisata sudah lumayan walau belum semua terpenuhi, tapi di Morotai Jaya, Morotai Timur, dan Morotai Utara, masih sangat kekurangan air bersih

PDAM hanya melayani 35% penduduk di Kabupaten Pulau Morotai, yaitu melayani 2281 pelanggan di 11 desa terlayanai di Kecamatan Morotai Selatan, dan untuk Kecamatan Morotai utara dan Morotai Selatan Barat dulu sudah ada namun dalam proses perbaikan.

PDAM memiliki sumber air baku dari air terjun SP2 Nakamura dan sumur bor. Sumber air baku pada air terjun SP2 Nakamura memiliki debit 30 lt/detik dan keruh pada musim penghujan. Sumber air pada sumur bor (3 titik) memang berkapur hingga saat ini masih terkendala teknologi.

Peran PDAM untuk pengembangan pariwisata, bergantung dari permintaan pemda, yang kemudian PDAM merencanakan dan membangun, kemudian pengelolaan kembali ke Pemda.

Air bersih dikawasan wisata Pulau Dodola sudah ada IPA, namun kualitas dan kuantitasnya belum memenuhi saat musim wisatawan (bau, berasa, keruh, dan debit air kecil), jadi saat wisatawan banyak datang, banyak mengantri untuk air.

Untuk air minum, masyarakat banyak menggunakan air depot, namun sebagian belum teruji kualitasnya. Terdapat 15 depot air minum, 13 depot memenuhi syarat fisik, namun belum teruji  untuk kandungannya. Krisis air bersih di Kecamatan Morotai Selatan berada di desa Piloho, Pandanga, dan Juanga.

Terkait sanitasi, sudah dibentuk Pokja Sanitasi di SKPD Kabupaten Pulau Morotai.
Tingkat BABs mencapai 57%, yang langsung ke laut, masih terkendala dengan kurangnya kesadaran dan kebiasaan masyarakat. Sebagian masyarakat di Daruba (pusat kabupaten Pulau Morotai) juga hanya menggunakan WC gantung di rawa-rawa, atau langsung kelaut.

Belum semua masyarakat memiliki WC. Fasilitas WC Umum ada di Kecamatan Morotai Selatan sebanyak 5 buah, dan di Dodola ada 3 Buah (bantuan APBN).

Saluran pembuangan septictank masyarakat sudah ada namun langsung dibuang mengendap ke bawah dan pengelolaannya belum layak.

Sampah merupakan salah satu permasalahan pada pengelolaan pariwisata di Morotai. Pola kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan masih belum dapat dirubah. Fasilitas yang ada tidak digunakan bahkan dirusak.



Jumat, 12 Desember 2014

BUKU MODUL Pengembangan Metode Penilaian Cepat Sanitasi Berkelanjutan

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Pengembangan metode penilaian cepat sanitasi berkelanjutan merupakan sebuah alat ukur yang digunakan untuk menilai kondisi sanitasi di suatu wilayah dengan melibatkan data-data dasar yang ditemukenali di dalam dokumen daerah dan berhubungan dengan masalah sanitasi, yaitu: Kabupaten/Kota dalam Angka, Buku Putih Sanitasi, SLHD, SSK, Rencana Tata Ruang, Momerandum Program Sanitasi (MPS), Dokumen PDAM, EHRA dan Profil Kesehatan.
Buku petunjuk ini dimaksudkan sebagai acuan dan informasi awal untuk mengenali dan menilai tingkat sanitasi di suatu wilayah ditinjau dari 5 aspek, yaitu: aspek kesehatan, aspek sumber daya lingkungan dan alam, aspek teknologi dan operasi, aspek finansial dan ekonomi, aspek sosial-budaya dan aspek kelembagaan. Informasi tersebut berguna bagi pemerintah di tingkat daerah maupun pusat untuk memberikan tindak lanjut strategi penanganan masalah sanitasi khususnya khususnya pada daerah-daerah di Indonesia yang dihadapkan dengan berbagai tantangan sanitasi baik kondisi fisik maupun kondisi non fisik meliputi daerah spesifik yang cenderung merupakan kawasan kumuh, rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan lingkungan, dominasi penduduk pendatang di daerah spesifik, kualitas layanan sanitasi dan tingkat kesadaran masyarakat yang belum baik, keragaman tingkat ekonomi penduduk, kurangnya prioritas terhadap daerah yang seringkali terpinggirkan, serta kebiasaan buang tinja yang selama ini dilakukan.
Kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak selalu kami harapkan
Akhir kata, diharapkan buku ini bermanfaat dan kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan buku ini.


Tim Peneliti
Yudha Pracastino Heston
Nur Alvira P
Windy Firisqika
Agnes Annisa Okataviana
Prapti Suhesti Alusia
Hari Suharyono
Istanta
Zamyuni Kuntoro Edy
Rudita
  
2014
  
©  Balai Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi dan Lingkungan Bidang Permukiman
Puslitbang Sosekling
Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum

A.     Latar Belakang

I
ndonesia telah menunjukkan peningkatan dua kali lipat prosentase rumah tangga dengan fasilitas sanitasi yang lebih baik, namun masih berada pada arah yang belum tepat untuk mencapai target sanitasi MDGs 2015. Untuk mencapai target nasional MDGs, diperlukan pencapaian tambahan 26 juta orang dengan sanitasi yang lebih baik pada tahun 2015.Pertumbuhan penduduk Indonesia yang begitu cepat yaitu 124 Jiwa/km² (BPS, 2012) pada tahun 2010 memberikan dampak pada penurunan daya dukung lingkungan dan dalam konteks pembangunan infrastruktur terutama pembangunan sarana dan prasarana sanitasi di Indonesia sangatlah buruk. Data United Nation, (2008) menyatakan bahwa Indonesia termasuk negara kedua dengan proporsi penduduk tanpa akses sanitasi layak, artinya Indonesia sangat membutuhkan pengelolaan sanitasi, karena sebagian besar sungai-sungai dan bendungan di Indonesia tercemar oleh limbah rumah tangga karena pengelolaan sanitasi yang buruk. Potret sanitasi Indonesia memperlihatkan 30% belum memiliki sanitasi yang baik, hanya 1% anggaran APBD kota untuk sanitasi dan kerugian ekonomi mencapai 6,3 milyar dolar per tahun karena sanitasi yang buruk, pencemaran ke badan air dan lahan mencapai 14.000 ton tinja per hari yang artinya 75% sumber air minum terancam rusak dan genangan di pemukiman makin sering terjadi diperburuk oleh perubahan pola hujan.
Sebuah studi menggambarkan bahwa akibat sanitasi yang buruk, sebuah keluarga di Indonesia bisa kehilangan rata-rata 1,25 juta Rupiah setiap bulannya. Apabila kondisi kemiskinan ditambah dengan sanitasi yang buruk dan diperparah dengan kultur dan sosial budaya tidak sehat, maka akan banyak dijumpai angka kesakitan dan balita yang kekurangan gizi. Dapat dipastikan keluarga miskin di Indonesia sulit melepaskan diri dari lingkaran kemiskinannya. Sanitasi dan perilaku kebersihan yang buruk serta air minum yang tidak aman berkontribusi  terhadap 88 persen kematian anak akibat diare  di seluruh dunia. Bagi anak-anak yang bertahan hidup, seringnya menderita diare berkontribusi terhadap  masalah gizi, sehingga menghalangi anak-anak untuk dapat mencapai potensi maksimal mereka. Kondisi ini selanjutnya menimbulkan implikasi serius terhadap kualitas sumber daya manusia dan kemampuan produktif suatu bangsa di masa yang akan datang.
Berbagai inovasi dalam mengatasi permasalahan sanitasi terus dilakukan mengingat tuntutan dari berbagai permasalahan sanitasi yang telah dijelaskan di atas. Sanitasi yang berkelanjutan dianggap dapat membantu melindungi dan meningkatkan kesehatan manusia melalui sebuahrancangan sistem sanitasi yang baru dengan mempertimbangkan aspek kesehatan, aspek sumber daya lingkungan dan alam, aspek teknologi dan operasi, aspek finansial dan ekonomi, aspek sosial-budaya dan aspek kelembagaan. Untuk mewujudkan rancangan ini, diperlukan suatu pengembangan metode penilaian cepat sanitasi berkelanjutan agar dapat menghasilkan Road Map atau pemetaan peningkatan kualitas sanitasidi suatu wilayah.

B.     Tujuan

T
ujuan dari penyusunan bukupetunjuk ini adalah memperkenalkan variabel dan indikator pengukuran yang tepat dan cepat untuk layanan sanitasi di suatu wilayah sehingga dapat memberikan peta ukuran layanan sanitasi, memunculkan program-program kegiatan, dan sebagai peringatan dini kondisi sanitasi di suatu wilayah.

C.      Keluaran

I
ndikator keluaran (output) dari buku ini adalah berupa 1 (satu) alat ukur penilaian cepat sanitasi berkelanjutan. Sedangkan hasil yang ingin dicapai (outcome) adalah, Pemetaan Sosekling oleh Cipta Karya dalam Penilaian Cepat Sanitasi Berkelanjutan, bekerjasama dengan pemangku kepentingan di daerah.

B
uku petunjuk ini diharapkan dapat bermanfaat bagi Direktorat Bina Program Cipta Karya dan Penataan Ruang, Direktorat PPLP Cipta Karya, Pemerintah daerah, Pokja AMPL dan institusi terkait, dalam memetakan kondisi sanitasi di masing- masing lokasi, sebagai dasar dalam pengambilan keputusan, guna meningkatkan kondisi sanitasi.

E.      Tinjauan teori

M
enurut WCED, dalam Hadi (2005:2), ada dua kunci konsep utama dari defenisi pembangunan berkelanjutan, yaitu konsep kebutuhan (needs) yang sangat esensial untuk penduduk miskin dan perlu prioritas serta konsep keterbatasan (limitation) dari kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang. Dalam pengertian ini pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang menggunakan dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana untuk meningkatkan kesejahteraan secara adil.
Konsep pembangunan berkelanjutan menempatkan pembangunan dalam perspektif jangka panjang. Konsep tersebut menuntut adanya solidaritas antar generasi (Salim dalam Hadi, 2005:2). Secara implisit mengandung arti memanfaatkan keberhasilan pembangunan sebesar-besarnya dengan tetap memelihara kualitas sumber daya alam. Oleh sebab itu, pembangunan berkelanjutan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan generasi sekarang tanpa mengurangi kemungkinan bagi generasi masa depan untuk meningkatkan kesejahteraan.
Secara praktis, istilah sanitasi dalam Water and Sanitation Program (2011) ini dapat diartikan sebagai alat pengumpulan dan pembuangan tinja serta air buangan masyarakat secara higienis sehingga tidak membahayakan bagi kesehatan seseorang maupun masyarakat secara keseluruhan. (Depledge, 1997).Saat meningkatkan kualitas fasilitas sanitasi yang ada dan/atau merancang system sanitasi yang baru, kriteria keberlanjutan terkait aspek-aspekdi bawah ini perlu dipertimbangkan:
1.      Kesehatan: termasuk risiko terpapar oleh virus/bakteri penyakit patogen dan substansi berbahaya lainnya yang dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat di semua titik sistem sanitasi mulai dari kakus/jamban, pengumpulan, pengolahan hingga pemanfaatan kembali atau pembuangan ke badan air
2.      Sumber daya lingkungan dan alam: meliputi energi yang dibutuhkan, air dan sumber daya alam lainnya yang diperlukan untuk konstruksi, pengoperasian dan pemeliharaan sistem, dan juga potensi munculnya emisi hasil pengolahan ke lingkungan sekitar
3.      Teknologi dan operasi: berkaitan dengan fungsi dan kemudahan sistem untuk dibangun, dioperasikan dan dipelihara dengan menggunakan sumber daya manusia yang ada. Aspek ini juga perlu mempertimbangkan kekuatan struktur, kerentanan terhadap bencana, kondisi dan situasi topografi serta fleksibilitas dan kemampuan penyesuaian elemen teknis terhadap infrastuktur yang ada, demografi, pembangunan sosio-ekonomi dan perubahan iklim
4.      Aspek finansial dan ekonomi: berkaitan dengan kapasitas rumah tangga dan masyarakat untuk membayar layanan sanitasi, termasuk dalam tahap konstruksi, operasi dan pemeliharaan dan depresiasi system.
5.      Aspek sosial-budaya dan kelembagaan: mempertimbangkan penerimaan sistem secara sosial-budaya dan ketepatan sistem, kenyamanan, persepsi terhadap sistem, isu jender dan dampak terhadap martabat hidup, kontribusi pada peningkatan ekonomi dan ketahanan pangan, serta aspek hukum dan kelembagaannya.
Pemilihan teknologi sanitasi yang terjangkau dan berkelanjutan adalah suatu hal yang penting namun perlu diingat bahwa adanya kebutuhan masyarakat terhadap sanitasi yang lebih memadai adalah hal yang lebih penting. Penerima manfaat merupakan pengambil keputusan akhir dalam menggunakan ataupun menolak teknologi sanitasi. Merekalah yang menentukan keberhasilan suatu intervensi di sektor sanitasi karena nilai dari investasi tidak hanya tergantung pada dukungan masyarakat saja, tetapi lebih pada kepedulian penerima manfaat yang merasakan dampak positif dari
teknologi sanitasi yang memadai

1.     
a.       Tahap Pengumpulan Data
Proses pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan diskusi kelompok dengan menggunakan 2 tipe sumber data, yaitu:
                                   1)      Data Sekunder, merupakan data yang diperoleh dalam bentuk sudah jadi, yaitu data yang telah dikeluarkan oleh sector-sektor kunci yang berkaitan dengan aspek sanitasi berkelanjutan, seperti: Badan Pusat Statistika (BPS), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, Badan Lingkungan Hidup (BLH), Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), Intalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dokumen dari instansi-instansi tersebut seperti: Kabupaten/Kota dalam Angka, Buku Putih Sanitasi, Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD), Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK), Rencana Deteil Tata Ruang (RDTR), Momerandum Program Sanitasi (MPS), Dokumen PDAM, Enviroment Health Risk Assessment (EHRA) dan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota
                                   2)      Data Primer, merupakan data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh tim peneliti langsung dari responden melalui metode FGD dengan cara menggunakan sebuah forum diskusi bersama informan-informan kunci yang berasal dari instansi sector sanitasi. Materi yang didiskusikan telah di rancang sejak awal.
b.      Tahap Analisis Data
                                   1)      Hasil pengumpulan data primer dan sekunder akan diseleksi kembali untuk ditetapkan sebagai  indikator pengukuran layanan sanitasi di suatu wilayah. Indikator yang telah ditetapkan akan dikelompokkan ke dalam beberapa sub variabel dan disederhanakan menjadi 5 variabel inti. Setiap indikator pengukuran yang telah dikelompokkan sesuai dengan variabelnya, akan dibuat parameter pengukuran kedalam 4 tingkatan yang  telah digunakan dalam menilai sanitasi sector fisik, yaitu: Sangat Baik (Highly Improved Service),Baik (Improved Service), Cukup (Basic Service) dan Buruk (No or Unacceptable Service). Interpretasi dari parameter tersebut akan menggunakan standar atau taget yang di modifikasi namun berlaku secara nasiona seperti yang digunakan dalam Peraturan Menteri Kesehatan, Kementerian PU, Kementerian Lingkungan Hidup maupun secara international seperti standar MDG’s.
                                   2)      Hasil dari pengukuran sanitasi aspek non fisik akan di komparasi dengan aspek fisik untuk mengetahui interaksi dari dua aspek ini dalam menjamin keberlanjutan layanan sanitasi di suatu wilayah.
                                   3)      Instumen pengukuran yang telah dihasilkan bersifat perkiraan (judgment), berdasarkan analisis dan pertimbangan logika dari para peneliti dan ahli, untuk menyempurnakan instrument ini.
c.    Tahap Penyajian
Hasil dari penyempurnaan instrument ini dapat digunakan dalam uji coba penilaian pengukuran cepat sanitasi berkelanjutan Aspek Non Fisik yang terdiri dari variabel, indikator dan parameter dimana hasil akhir dari penguraan dapat dibuat barometer dengan 4 skala risiko penilaian yaitu sangat baik, baik, cukup, buruk.



2.      Proses menemukan indikator, variabel dan parameter yang tepat dalam penyusunan instrument penilaian cepat sanitasi berkelanjutan
Grounded Theory
1
2
b.      Hasil Pengembangan Metode Penilaian Cepat Sanitasi Berkelanjutan
1.      Definisi Operasional Indikator Penilaian Cepat Sanitasi Berkelanjutan
Variabel
Indikator
Definisi
Aspek Kesehatan
1.    10 Besar Pola Penyakit Rawat Jalan Puskesmas
Penyakit berbasis sanitasi:
·     Disebabkan oleh virus: ISPA, TBC, Diare, Polio, Campak, Cacingan
·     Disebabkan oleh binatang: leptospirosis, pes
·     Disebabkan oleh vektor nyamuk: DBD, Malaria, Cikungunya.
2.    Prosentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan Sehat  
Tempat Umum yang dimaksud adalah  suatu sarana yang dikunjungi banyak orang dan berpotensi menjadi tempat penyebaran penyakit seperti hotel, terminal pasar dan Tempat Pengelolaan Makanan Sehat meliputi rumah makan dan restoran, jasaboga atau catering, industri makanan, kantin, warung, makanan jajanan dan lain sebagainya.
3.    Prosentase Rumah Sehat
Rumah sehat yang dimaksud adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang baik, kepadatan  hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah tidak terbuat dari tanah.
4.    Prosentase Rumah Tangga ber PHBS

Rumah Tangga berPHBS yang dimaksud adalah    rumah tangga yang melakukan 10 PHBS di rumah tangga yaitu :persalinan di tolong oleh tenaga kesehatan, memberi bayi ASI ekslusif, menimbang balita setiap bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air brsih dan sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik di rumah sekali seminggu, makan buah dan sayur setiap hari, melakukan aktifitas fisik setiap hari, tidak merokok di dalam rumah.
5.    Prosentase KLB Penyakit Berbasis Lingkungan (Limbah)

Penyakit berbasis sanitasi masuk dalam kategori dengan status KLB, yaitu:
·    Mengalami kenaikan jumlah kasus 3 kali 3 minggu berturut
·    Mengalami kenaikan 2 kali lipat dibandingkan dengan bulan yang sama satu tahun sebelumnya
·    Mengalami kenaikan 2 kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya
·    Mengalami kenaikan Case Fatality Rate ≥50% dibandingkan periode waktu sebelumnya
·    Mengalami kenaikan kunjungan penyakit berbasis sanitasi 2 kali lipat dibandingkan periode waktu sebelumnya
·    Untuk penyakit Kholera, Cacar, Pes, DHF, terdapat minimal 1 kasus, dimana di 4 minggu sebelumnya tidak daerah tersebut telah dinyatakan bebas
·    Terdapat 1 kasus baru penyakit berbasis sanitasi lingkungan yang sebelumnya tidak pernah ada/tidak di kenal
6.    Kepemilikan Rumah Tangga Terhadap Tempat BAB

Kepemilikkan BAB yang dimaksud dibagi menjadi 4 kriteria, yaitu:
·     Improved, apabila penggunaan sarana pembuangan kotoran nya sendiri, jenis kloset latrine dan tempat pembuangan akhir tinjanya tangki septik atau SPAL.
·     Shared, apabila penggunaan sarana pembuangan kotorannya telah memenuhi syarat namun masih menggunakan fasilitas sanitasi bersama minimal 2 rumah tangga atau lebih
·     Unimproved, apabila Fasilitas jamban  masih memungkinkan kontak antara manusia dengan kotoran. Fasilitastersebut tanpaslabatau platform atau cemplung
·     Open defecation, apabila Buang air besardiladang, hutan, semak-semak, badan airatauruang terbukalainnya, ataupembuangankotoran manusiadenganlimbah padat
7.    Prevalensi penyakit diare
Diare yang dimaksud adalah penyakit yang berbasis lingkungan yang dikarenakan masih buruknya kondisi sanitasi dasar, lingkungan fisik maupun rendahnya perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat. Penyakit ini ditandai dengan tinja atau feses berubah menjadi lembek atau cair yang biasanya terjadi paling sedikit tiga kali dalam 24 jam
8.    Praktek Pembuangan Kotoran Anak Balita Di Rumah Responden Yang Rumahnya Ada Balita
Praktek pembuangan kotoran anak balita di rumah responden yang di rumahnya ada balita, memenuhi criteria aman sebagai berikut:
·      Anak Balita yang diantar untuk BAB di jamban
·      Anak Balita yang BAB di penampung (popok sekali pakai/ pamskalas, popok yang dapat dicuci, gurita, ataupun celana), kotoran di buang ke jamban, dan penampung dibersihkan di WC
·      Praktik pembuangan yang relatif aman
·      Anak Balita BAB tidak di ruang terbuka (lahan di rumah atau diluar rumah)
·      Anak Balita yang BAB di penampung (popok sekali pakai/ pamskalas, popok yang dapat dicuci, gurita, ataupun celana), tidak membuang kotoran di ruang terbuka/ tidak di jamban.
Aspek Sumber Daya Lingkungan Dan Alam
1.      Data Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk yang dimaksud adalah jumlah penduduk yang mendiami suatu wilayah atau daerah tertentu dengan satuan per kilometer persegi. Berdasarkan kepadatan penduduknya, tiap-tiap daerah dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu :
·      Kelebihan Penduduk (over population) Kelebihan penduduk adalah keadaan daerah tertentu selama waktu yang terbatas, dimana bahan-bahan keperluan hidup tidak mencukupi kebutuhan daerah tersebut secara layak. Daerah yang mengalami kelebihan penduduk biasanya akan mengalami kesulitan pemenuhan kebutuhan pokok penduduk (pangan, sandang dan tempat tinggal).
·      Kekurangan Penduduk (under population)
Kekurangan penduduk adalah keadaan suatu daerah tertentu, dimana keadaan jumlah penduduk sudah sedemikian kecilnya, sehingga sumber alam yang ada hanya sebagian yang mampu untuk dimanfaatkan.
·      Penduduk Optimum (optimum population)
Penduduk optimum adalah jumlah penduduk yang sebaik-baiknya berdasarkan daerah tertentu. Penduduk dapat berproduksi maksimum perkapita berdasarkan sumber alam yang tersedia dan teknologi yang berkembang.
2.      Prosentase Keluarga Menurut Jenis Sarana Air Bersih dan Sumber Air Minum
·      Air bersih yang dimaksud adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat-syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak, besumber dari: 1) Air hujan, air angkasa, dalam wujud lainnya dapat berupa salju; 2) Air permukaan, air yang berada di permukaan bumi dapat berupa air sungai, air danau, air laut;  3) Air tanah yang biasanya bernetuk sumur gali
·      Air minum yang dimaksud adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan (fisik, kimia dan mikrobiologis) dan dapat langsung diminum.
3.      Pengelola Limbah BBB
Limbah B3 yang diamksud adalah suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusakan lingkungan hidup dan atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta mahluk hidup lain.
4.  a. Kualitas air tanah akibat pencemaran tanah
1)        TDS
Total Dissolved Solid atau TDS yang dimaksud merupakan bahan-bahan terlarut (diameter < 10-6 mm) dan koloid (diameter 10-6 mm – 10-3 mm) yang berupa senyawa-senyawa kimia dan bahan-bahan lain, yang tidak tersaring pada kertas saring berdiameter 0,45 µm (Rao, 1992 dalam Effendi, 2003).
2)        Kekeruhan
Kekeruhan yang diamaksud menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam air. Kekeruhan disebabkan adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus), maupun bahan anorganik dan organik yang berupa plankton dan mikroorganisne lain
3)        PH
pH yang dimaksud merupakan suatu parameter penting untuk menentukan kadar asam/basa dalam air. Perubahan pH air dapat menyebabkan berubahnya bau, rasa, dan warna.
4)        Nitrat
Nitrat (NO3) adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae. Nitrat nitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil. Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan
5)        Flourida
Flourida yang dimaksud adalah  fluorspar (CaF2), cryolite (Na3AlF6), dan fluorapatite. Keberadaan fluorida juga dapat berasal dari pembakaran batu bara. Fluorida banyak digunakan dalam industri besi baja, gelas, pelapisan logam, aluminium, dan pestisida
6)        Kedasahan
Kesadahan air yang dimaksud berkaitan erat dengan kemampuan air membentuk busa. Semakin besar kesadahan air, semakin sulit bagi sabun untuk membentuk busa karena terjadi presipitasi. Busa tidak akan terbentuk sebelum semua kation pembentuk kesadahan mengendap. Pada kondisi ini, air mengalami pelunakan atau penurunan kesadahan yang disebabkan oleh sabun. Endapan yang terbentuk dapat menyebabkan pewarnaan pada bahan yang dicuci. Pada perairan sadah (hard), kandungan kalsium, magnesium, karbonat, dan sulfat biasanya tinggi
B.   b. Kuantitas Permukaan Air Tanah
1)     Daya Dukung Air Tanah
Kepadatan maksimum vegetasi yang dapat mendukung air tanah di daerah gersang dan setengah kering, agar dapat mendukung generasi masa depanselama periode pertumbuhan tanaman, mendapatkan kondisi iklim yang diharapkan, memperbaiki tekstur tanah dan manajemen program.
2)     Kedalaman Muka Air Tanah
Batas atau jarak antara permukaan tanah dengan muka air tanah
C.   Cakupan Layanan Air Limbah Domestik – Sistem Onsite
Jumlah wilayah yang telah terlayani oleh system air limbah domestik sistem onsite dalam satu satuan wilayah kota/kabupaten
D.  Cakupan Layanan Air Limbah Domestik – Sistem Offsite
Jumlah wilayah yang telah terlayani oleh system air limbah domestik sistem offsite dalam satu satuan wilayah kota/kabupaten
E.   Jumlah Kebutuhan Air Bersih Untuk Domestik
Prosentase akses air minum yang aman melalui Sistem Penyediaan Air Minum dengan jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan terlindungi dengan kebutuhan pokok minimal 60 liter/orang/ hari
·     air leding meteran,
·     sumur pompa/bor dengan jarak > 10 m dari sumber pencemar,
·     sumur terlindungi dengan jarak > 10 m dari sumber pencemar,
·     mata air terlindungi dengan jarak > 10 m dari sumber pencemar, dan
·     air hujan
(kota dalam angka)
F.      Kejadian Banjir
Adanya genangan air (SSK-BPS)


Aspek Teknologi dan Operasi
1.      Prosentase Keluarga Dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar
Prosentase jamban rumah tangga kumulatif  (profil kesehatan)
2.      Jumlah Kk Yang Memiliki Saluran Pengelolaan Air Limbah
Prosentase SPAL rumah tangga kumulatif (profil kesehatan)
3.      Drainase Lingkungan Sekitar Rumah
Genangan air di drainase sekitar permukiman(EHRA)
4.      Kualitas Tangki Septik yang Dimiliki: Suspek Aman dan Tidak Aman
Prosentase tangki septik yang dikuras(BPS)
5.      Produksi Air Bersih PDAM
Kapasitas produksi efektif (m3/dt)(PDAM)
6.      Saluran Akhir Pembuangan Tinja
saluran akhir pembungan tinja tergolong aman (septic tank)
7.      Produksi, Distribusi, Penjualan dan Tingkat Kehilangan Air
tingkat kebocoran (%)
8.      IPAL Terpadu
Jumlah unit layanan IPAL terpadu
Aspek finansial dan ekonomi
1.      Program Pengembangan dan Penyehatan Lingkungan Sehat (Pembiayaan APBD)
Jumlah program yang dimiliki suatu wilayah untuk penyehatan lingkungan
2.      Anggaran Pengelolaan Lingkungan Hidup
Rupiah pengelolaan program
3.      Perhitungan Pertumbuhan Pendanaan APBD Untuk Operasional/Pemeliharaan dan Investasi Sanitasi
Rupiah biaya operasi dan pemeliharaan investasi sanitasi di tahun sebelumnya
4.      Perkiraan Besaran Pendanaan APBD Untuk KebutuhanOperasional/Pemeliharaan Aset Sanitasi Terbangun
Rupiah biaya operasi dan pemeliharaan sanitasi terbangun
5.      Perkiraan Kemampuan APBD Dalam Mendanai Program/Kegiatan SSK*
1.      Perencanaan Teknis Renovasi pembangunan IPLT
2.      Renovasi pembangunan IPLT
3.      Pendampingan dalam rangka pembangunan IPLT
4.      Pelatihan teknis operator IPLT
5.      Operasi dan Pemeliharaan IPLT
6.      Monitoring dan evaluasi
6.      Kesediaan/Kepedulian Pemda Kab/Kota untuk Menganggarkan Biaya Om Di Dalam DPA APBD
1.      FGD: Pembahasan sistem pengurasan lumpur tinja berkala (data, konsumen, tarif, pola, dsb)
2.      Sosialisasi Sistem Pengurasan Lumpur Tinja Berkala ke Masyarakat
3.      Program Kemitraan dengan Swasta untuk Penyedotan Lumpur Tinja Berkala
4.      Penerapan Sistem secara berkala (skala proritas kecamatan)
5.      Perbaikan Infrastruktur pendukung, seperti IPLT dan truk sedot tinja.
7.      Kesediaan/Kepedulian Pemda Kab/Kota untuk Memberikan Subsidi Untuk OM
Jumlah program layanan sanitasi yang dimiliki oleh pemerintah kota/kabupaten untuk memberikan subsidi operasi dan pemeliharaan
8.      Kesediaan dan Kapasitas Rumah Tangga dan Masyarakat untuk Membayar Layanan Sanitasi
Jumlah atau indeks rata-rata dana yang disediakan rumah tangga untuk membayar layanan sanitasi
Aspek sosial-budaya dan kelembagaan
1.      Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat  
Jumlah Program Pemberdayaan Masyarakat(Pengembangan Media Promosi Kesehatan & Teknologi KIE, Pengembangan Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat dan Generasi Muda, Peningkatan Pendidikan Kesehatan Kepada Masyarakat) 
2.      Tujuan, Sasaran, dan Tahapan  Strategi Pencapaian Pengelolaan Sanitasi Rumah Tangga
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat terdiri dari 5 pilar:
1.      Stop buang air besar sembarangan
2.      Cuci tangan pakai sabun;
3.      Pengelolaan air minum/makanan rumah tangga;
4.      Pengelolaan sampah rumah tangga;
5.      Pengelolaan limbah cair rumah tangga
3.      Tujuan, Sasaran, dan Strategi Pengelolaan Air Bersih dan Minum
Tingkat Terlayani PDAM:
Pelayanan air baku melalui jaringan PDAM
4.      Pengelolaan Sarana Jamban Keluarga Dan MCK Oleh Masyarakat
Tingkat Terlayani Sarana Jamban Keluarga dan MCK oleh Masyarakat
5.      Media Komunikasi yang Ada
Media Komunikasi untuk sosialisasi, pelatihan, bimbingan, pendampingan / konsultasi teknis terkait sanitasi
6.      Kegiatan Komunikasi yang ada
Kegiatan Komunikasi terkait sanitasi dalam suatu wilayah
7.      Legalitas Izin Mendirikan Bangunan
-
8.      Prosentase Keluarga Miskin
Jumlah Keluarga Miskin dalam persen di suatu wilayah

2.      Penetapan Variabel, Indikator, Parameter dan Kategori Penilaian Cepat Sanitasi Berkelanjutan
Hasil pengolahan dan analisis data dari studi dokumentasi, metode FGD, dan expert judgment dengan metode delphi yang telah dilakukan, menghasilkan penetapan: 5 variabel, 18 sub variabel, 40 Indikator, Parameter dan Kategori Penilaian yang akan digunakan dalam penilaian sanitasi berkelanjutan. 
Variabel
Indikator
Kategori
Parameter Kuantitatif
Parameter Kualitatif
Kesehatan
10 besar pola penyakit rawat jalan puskesmas
Sangat Baik
Penyakit berbasis sanitasi tidak masuk dalam urutan 10 besar penyakit rawat jalan di puskesmas pada Periode Waktu Penialain
Penyakit berbasis sanitasi tidak masuk dalam urutan 10 besar penyakit rawat jalan di puskesmas pada Periode Waktu Penialain
Baik
Penyakit berbasis sanitasi di rawat jalan puskesmas mengalami penurunan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Penyakit berbasis sanitasi di rawat jalan puskesmas mengalami penurunan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Cukup
Penyakit berbasis sanitasi di rawat jalan puskesmas berada pada kondisi yang sama (peringkat yang sama) dibandingkan periode waktu sebelumnya
Penyakit berbasis sanitasi di rawat jalan puskesmas berada pada kondisi yang sama (peringkat yang sama) dibandingkan periode waktu sebelumnya
Buruk
Penyakit berbasis sanitasi di rawat jalan puskesmas berada pada kondisi (peringkat yang sama) dibandingkan periode waktu sebelumnya
Penyakit berbasis sanitasi di rawat jalan puskesmas berada pada kondisi (peringkat yang sama) dibandingkan periode waktu sebelumnya
Prosentase tempat umum dan pengelolaan makanan sehat
Sangat Baik
>80,00% Prosentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan Sehat Memenuhi Syarat Kesehatan pada Periode Waktu Penialain
Prosentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan Sehat memenuhi Target Nasional (>80%) atau Target Daerah
Baik
53,34%-80,00% Prosentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan Sehat Memenuhi Syarat Kesehatan pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan Sehat mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Cukup
26,68-53,33% Prosentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan Sehat Memenuhi Syarat Kesehatan pada Periode Waktu Penialain
Prosentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan Sehat tidak mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Buruk
<26 dan="" kesehatan="" makanan="" memenuhi="" o:p="" pada="" pengelolaan="" penialain="" periode="" prosentase="" sehat="" syarat="" tempat="" umum="" waktu="">
Prosentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan Sehat mengalami penurunan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Prosentase rumah sehat



Sangat Baik
>= 75% Rumah di Suatu Wilayah dinyatakan Sehat dari Total Rumah yang Diperiksa pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase Rumah Sehat memenuhi Target Nasional (>= 75%) atau Target Daerah
Baik
49,33%-74,00% Rumah di Suatu Wilayah dinyatakan Sehat dari Total Rumah yang Diperiksa pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase Rumah Sehat mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Cukup
24,68%-49,32% Rumah di Suatu Wilayah dinyatakan Sehat dari Total Rumah yang Diperiksa pada Periode Waktu Penialaian
Prosentase Rumah Sehat tidak mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Buruk
<24 dari="" di="" dinyatakan="" diperiksa="" o:p="" pada="" penilaian="" periode="" rumah="" sehat="" suatu="" total="" waktu="" wilayah="" yang="">
Prosentase Rumah Sehat mengalami penurunan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Prosentase rumah tangga berPHBS



Sangat Baik
>=70% Rumah Tangga di Suatu Wilayah sudah berPHBS pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase rumah tangga ber PHBS memenuhi Target Nasional (>=70%) atau Target Daerah
Baik
46%-69% Rumah Tangga di Suatu Wilayah sudah berPHBS pada Periode Waktu Penialain
Prosentase Rumah Tangga berPHBS mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Cukup
24%-45% Rumah Tangga di Suatu Wilayah sudah berPHBS pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase Rumah Tangga berPHBS tidak mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Buruk
<24 berphbs="" di="" o:p="" pada="" penilaian="" periode="" rumah="" suatu="" sudah="" tangga="" waktu="" wilayah="">
Prosentase Rumah berPHBS mengalami penurunan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Prosentase KLB penyakit berbasis lingkungan (limbah)
Sangat Baik
Tidak ada Penyakit Berbasis Lingkungan berada Pada Kondisi KLB pada Periode Waktu Penilaian
Tidak ada Penyakit Berbasis Lingkungan berada Pada Kondisi KLB pada Periode Waktu Penilaian
Baik
33%-65% Penyakit Berbasis Lingkungan berada Pada Kondisi KLB pada Periode Waktu Penilaian
Terjadi peningkatan jumlah KLB pada penyakit berbasis lingkungan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Cukup
66%-99% Penyakit Berbasis Lingkungan berada Pada Kondisi KLB pada Periode Waktu Penilaian
Tidak Terjadi peningkatan jumlah KLB pada penyakit berbasis lingkungan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Buruk
Seluruh Penyakit Berbasis Lingkungan berada Pada Kondisi KLB pada Periode Waktu Penilaian
Terjadi penurunan jumlah KLB pada penyakit berbasis lingkungan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Kepemilikkan rumah tangga terhadap tempat BAB
Sangat Baik
>=80,00% Rumah Tangga di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar Kesehatan pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase rumah tangga yang menggunakan jamban sesuai standar kesehatan memenuhi Target Nasional (>=80%) atau Target Daerah
Baik
52,67%-79%% Rumah Tangga di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar Kesehatan pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase rumah tangga yang menggunakan jamban mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Cukup
26,64%-52,66% Rumah Tangga di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar Kesehatan pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase rumah tangga yang menggunakan jamban sesuai standar kesehatan mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Buruk
<26 di="" jamban="" kesehatan="" memenuhi="" menggunakan="" o:p="" pada="" penilaian="" periode="" rumah="" standar="" suatu="" tangga="" telah="" waktu="" wilayah="" yang="">
Prosentase rumah tangga yang menggunakan jamban sesuai standar kesehatan mengalami penurunan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Prevalensi penyakit diare
Sangat Baik
<= 285/1000 Prevalensi Penyakit Diare di suatu Wilayah
Prevalensi penyakit diare di suatu wilayah memenuhi target nasional (<= 285/1000) atau Target Daerah
Baik
286/1000-380/1000 Prevalensi Penyakit Diare di suatu Wilayah
Prevalensi penyakit diare di suatu wilayah mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Cukup
379/1000 - 474/1000 Prevalensi Penyakit Diare di suatu Wilayah
Prevalensi penyakit diare di suatu wilayah tidak mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Buruk
>475/1000 Prevalensi Penyakit Diare di suatu Wilayah
Prevalensi penyakit diare di suatu wilayah mengalami penurunan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Praktek pembuangan kotoran anak balita di rumah responden yang rumahnya ada balita
Sangat Baik
>=80,00% Rumah Tangga di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar Kesehatan untuk Membuang Kotoran Berak Anak pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase Rumah Tangga di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar Kesehatan untuk Membuang Kotoran Berak Anak telah memenuhi Target Nasional (>=80%) atau Target Daerah
Baik
52,67%-79%% Rumah Tangga di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar Kesehatan untuk Membuang Kotoran Berak Anak pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase Rumah Tangga di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar Kesehatan untuk Membuang Kotoran Berak Anak mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Cukup
26,64%-52,66% Rumah Tangga di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar Kesehatan untuk Membuang Kotoran Berak Anak pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase Rumah Tangga di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar Kesehatan untuk Membuang Kotoran Berak Anak tida mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Buruk
<26 anak="" berak="" di="" jamban="" kesehatan="" kotoran="" membuang="" memenuhi="" menggunakan="" o:p="" pada="" penilaian="" periode="" rumah="" standar="" suatu="" tangga="" telah="" untuk="" waktu="" wilayah="" yang="">
Prosentase Rumah Tangga di Suatu Wilayah telah Menggunakan Jamban yang Memenuhi Standar Kesehatan untuk Membuang Kotoran Berak Anak mengalami penurunan dibandingkan periode waktu sebelumnya
spek Sumber Daya Lingkungan Dan Alam
Data Kepadatan Penduduk
Sangat Baik
< 200 Jiwa/Hektar
Jumlah kepadatan penduduk memenuhi standar < 200 jiwa/hektar yang ditetapkan
Baik
200-399 Jiwa/hektar
Jumlah kepadatan penduduk mengalami penurunan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Cukup
400-500 Jiwa/Hektar
Jumlah kepadatan penduduk tidak mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Buruk
> 500 Jiwa/Hektar
Jumlah kepadatan penduduk mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Prosentase Keluarga Menurut Jenis Sarana Air Bersih dan Sumber Air Minum
Sangat Baik
>80,00% Prosentase Keluarga menurut Jenis Sarana Air Bersih dan Sumber Air Minum Memenuhi Syarat Kesehatan pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase Keluarga menurut Jenis Sarana Air Bersih dan Sumber Air Minum memenuhi Target Nasional (>80%) atau Target Daerah
Baik
53,34%-80,00% Prosentase Keluarga menurut Jenis Sarana Air Bersih dan Sumber Air Minum Memenuhi Syarat Kesehatan pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase Keluarga menurut Jenis Sarana Air Bersih dan Sumber Air Minum  mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Cukup
26,68-53,33% Prosentase Keluarga menurut Jenis Sarana Air Bersih dan Sumber Air Minum Memenuhi Syarat Kesehatan pada Periode Waktu Penilaian
Prosentase Keluarga menurut Jenis Sarana Air Bersih dan Sumber Air Minum  tidak mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Buruk
<26 air="" bersih="" dan="" jenis="" keluarga="" kesehatan="" menurut="" minummemenuhi="" o:p="" pada="" penilaian="" periode="" prosentase="" sarana="" sumber="" syarat="" waktu="">
Prosentase Keluarga menurut Jenis Sarana Air Bersih dan Sumber Air Minum mengalami penurunan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
1)     TDS
Sangat Baik
< 500
Nilai TDS memenuhi standar < 500jiwa/hektar yang ditetapkan
Baik
500-1000
Nilai TDS mengalami penurunan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Cukup
1000-1500
Nilai TDS tidak mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Buruk
> 1500
Nilai TDS mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
2)     Kekeruhan
Sangat Baik
< 5.0
Nilai kekeruhan memenuhi standar <5 .0="" o:p="">
Baik
5.0-15.0
Nilai kekeruhan mengalami penurunan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Cukup
15.0-25.0
Nilai kekeruhan tidak mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Buruk
> 25.0
Nilai kekeruhan mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
3)     PH
Sangat Baik
6.5-7.5
Baik
5.5-6.5 atau 7.5-8.5
Cukup
4.5 atau 8.5-9.5
Buruk
< 4.5 atau > 9.5
4)     Nitrat
Sangat Baik
< 5.0
Nilai Nitrat memenuhi standar <5 .0="" nbsp="" o:p="">
Baik
5.0-10.0
Nilai Nitrat mengalami penurunan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Cukup
10.0-50.0
Nilai Nitrat tidak mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Buruk
>50.0
Nilai Nitrat mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
5)     Kedasahan
Sangat Baik
< 5.0
Nilai kedasahan memenuhi standar <5 .0="" nbsp="" o:p="">
Baik
5.0-10.0
Nilai kedasahan mengalami penurunan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Cukup
10.0-50.0
Nilaikedasahan tidak mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
Buruk
>50.0
Nilai kedasahan mengalami peningkatan dibandingkan periode waktu sebelumnya
1)     Daya Dukung Air Tanah
Sangat Baik
> 2000
Terdapat kenaikan prosentase akses air minum ≥ 10% dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
1500-2000
Terdapat kenaikan prosentase akses air minum 9%-5% dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
1000-1500
Terdapat kenaikan prosentase akses air minum 4% -1% dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
< 1000
terjadi penurunan prosentase akses air minum  dibandingkan tahun sebelumnya
2)     Akses penggunaan Air Bersih
Sangat Baik
1.0-2.0
Baik
2.1-3.0
Cukup
3.1-4
Buruk
>= 4.1
3)     Kedalaman Muka Air Tanah
Sangat Baik
0-5.0
Baik
5.0-10.0
Cukup
10.0-15.0
Buruk
>15.0
Cakupan Layanan Air Limbah Domestik – Sistem Onsite
Sangat Baik
> 60% Sistem Onsite
Prosentase pengembangan air limbah domestik sistem on site memenuhi Target Nasional (>60%) atau Target Daerah
Baik
40-60% Sistem Onsite
Prosentase pengembangan air limbah domestik sistem Onsite mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Cukup
20-39% Sistem Onsite
Prosentase pengembangan air limbah domestik sistem Onsite tidak mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Buruk
< 20% Sistem Onsite
Prosentase pengembangan air limbah domestik sistem Onsite mengalami penurunan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Cakupan Layanan Air Limbah Domestik – Sistem Offsite
Sangat Baik
<1 o:p="">
Prosentase pengembangan air limbah domestik sistem off site memenuhi Target Nasional (< 1%) atau Target Daerah
Baik
1-2%
Prosentase pengembangan air limbah domestik sistem Onsite mengalamipenurunan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Cukup
3-4%
Prosentase pengembangan air limbah domestik sistem Onsite tidak mengalami penurunan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Buruk
>4%
Prosentase pengembangan air limbah domestik sistem Onsite mengalamipeningkatan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Jumlah Kebutuhan Air Bersih Untuk Domestik
Sangat Baik
>=80,00% Jumlah Kebutuhan Air Bersih untuk Domestik telah Terpenuhi
Prosentase jumlah kebutuhan air bersih memenuhi Target Nasional (>= 80%%) atau Target Daerah
Baik
52,67%-79%%  Jumlah Kebutuhan Air Bersih untuk Domestik telah Terpenuhi
Prosentase jumlah kebutuhan air bersih mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Cukup
26,64%-52,66%  Jumlah Kebutuhan Air Bersih untuk Domestik telah Terpenuhi
Prosentasejumlah kebutuhan air bersih  tidak mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Buruk
<26 air="" bersih="" domestik="" jumlah="" kebutuhan="" nbsp="" o:p="" telah="" terpenuhi="" untuk="">
Prosentase jumlah kebutuhan air bersih  mengalami penurunan dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya
Kejadian Banjir
Sangat Baik
Tidak Pernah Terjadi Genangan Air
Baik
Terjadi Genangan Air dengan Tinggi Rata-Rata < 30 CM, Lama Genangan < 2  Jam, Frekuensi kejadian < 2 Kali Setahun
Cukup
Terjadi Genangan Air dengan Tinggi Rata-Rata > 30 CM, Lama Genangan 2 Jam, Frekuensi kejadian > 2 Kali Setahun
Buruk
Kadang-kadang meluap, agak sering menyebabkan banjir, sering menyebabkan banjir, selalu menyebabkan banjir
Aspek Teknologi dan Operasi
Prosentase Keluarga Dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar
Sangat Baik
Prosentase keluarga pemilik saluran pengelolaan air limbah di atas atau sama dengan 62,41%
Terdapat kenaikan prosentase kepemilikan ≥ 10% dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Prosentase keluarga pemilik saluran pengelolaan air limbah antara 37,43%-62,40%
Terdapat kenaikan prosentase kepemilikan 9%-5% dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Prosentase keluarga pemilik saluran pengelolaan air limbah antara 24,96%-37,42%
Terdapat kenaikan prosentase kepemilikan4% -1% dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Prosentase keluarga pemilik saluran pengelolaan air limbah di bawah atau sama dengan 12,48%
Tidak terdapat kenaikan atau terjadi penurunan prosentase kepemilikan  dibandingkan tahun sebelumnya
Jumlah Kk Yang Memiliki Saluran Pengelolaan Air Limbah
Sangat Baik
Prosentase keluarga pemilik sumur resapan di atas atau sama dengan 62,41%
Baik
Prosentase keluarga pemilik sumur resapan antara 37,43%-62,40%
Cukup
Prosentase keluarga pemilik sumur resapan antara 24,96%-37,42%
Buruk
Prosentase keluarga pemilik sumur resapan di bawah atau sama dengan 12,48%
Drainase Lingkungan Sekitar Rumah
Sangat Baik
Tersedianya sistem jaringan drainase sehingga tidak terjadi genangan (lebih dari 30 cm, selama 2 jam) dan tidak lebih dari 2 kali setahun
Terdapat penurunan prosentase genangan ≥ 10% dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Tersedianya sistem jaringan drainase sehingga tidak terjadi genangan (lebih dari 40 cm, selama 2 jam) dan tidak lebih dari 2 kali setahun
Terdapat penurunan prosentase genangan9%-5% dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Tersedianya sistem jaringan drainase sehingga tidak terjadi genangan (lebih dari 40 cm, selama 2 jam) dan tidak lebih dari 4 kali setahun
Terdapat penurunan prosentase genangan4%-1% dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Tidak tersedia sistem jaringan drainase sehingga tidak terjadi genangan
Tidak Terdapat penurunanatau terjadi kenaikan prosentase genangandibandingkan tahun sebelumnya
Kualitas Tangki Septik yang Dimiliki: Suspek Aman dan Tidak Aman
Sangat Baik
Terdapat jadwal pengurasan untuk septik tank di wilayah pengukuran dan semua keluarga menggunakan septik tank sesuai standar
Terdapat kenaikan prosentase pengurasan ≥ 10% dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Semua keluarga di wilayah pengukuran menggunakan septik tank sesuai standar
Terdapat kenaikan prosentase pengurasan 9%-5% dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Lebih dari 62,41% keluarga di wilayah pengukuran menggunakan septik tank sesuai standar
Terdapat kenaikan prosentase pengurasan4% -1% dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Kurang dari 62,41% keluarga di wilayah pengukuran menggunakan septik tank sesuai standar
Tidak terdapat kenaikan atau terjadi penurunan prosentase pengurasan  dibandingkan tahun sebelumnya
Produksi Air Bersih PDAM
Sangat Baik
Produksi/kapasitas lebih dari 90 %
Terdapat kenaikanm produksi rata-rata ≥ 10 dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Produksi/kapasitas antara 80 %-90%
Terdapat kenaikan produksi rata-rata 9-5

dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Produksi/kapasitas antara 70 %-80%
Terdapat kenaikan produksi rata-rata 4-1 dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Produksi/kapasitas kurang dari 70 %
Tidak terdapat kenaikan atau terjadi penurunan rata-rata  dibandingkan tahun sebelumnya
Saluran Akhir Pembuangan Tinja
Sangat Baik
Prosentase keluarga membuang akhir ke tangki septik dan saluran pipa/ sewer di atas atau sama dengan 62,41%
Terdapat kenaikan prosentase ≥ 10% dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Prosentase keluarga membuang akhir ke tangki septik dan saluran pipa/ sewer antara 37,43%-62,40%
Terdapat kenaikan prosentase 9%-5% dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Prosentase keluarga membuang akhir ke tangki septik dan saluran pipa/ sewer antara 24,96%-37,42%
Terdapat kenaikan prosentase 4% -1% dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Prosentase keluarga membuang akhir ke tangki septik dan saluran pipa/ sewer di bawah 24,96
Tidak terdapat kenaikan atau terjadi penurunan prosentase  dibandingkan tahun sebelumnya
Produksi, Distribusi, Penjualan dan Tingkat Kehilangan Air
Sangat Baik
Selisih distribusi-air terekening/distribusi air kurang dari sama dengan 25 %
Terdapat penurunan prosentase ≥ 10% dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Selisih distribusi-air terekening/distribusi air antara 25% - 30%
Terdapat penurunan prosentase 9%-5% dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Selisih distribusi-air terekening/distribusi air antara 30% - 35%
Terdapat penurunan prosentase 4%-1% dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Selisih distribusi-air terekening/distribusi air di atas sama dengan 35 %
Tidak Terdapat penurunanatau terjadi kenaikan prosentase dibandingkan tahun sebelumnya
IPAL Terpadu
Sangat Baik
Terdapat lebih dari sama dengan 300 KK yang dilayani IPAL terpadu
Terdapat kenaikan jumlah unit ≥ 3 dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Terdapat 299-200 KK yang dilayani IPAL terpadu
Terdapat kenaikan sejumlah 2 unit dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Terdapat 199-100 KK yang dilayani IPAL terpadu
Terdapat kenaikan sejumlah 1 unit dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Terdapat kurang dari 100 KK yang dilayani IPAL terpadu
Tidak terdapat kenaikan atau terjadi penurunan unit  dibandingkan tahun sebelumnya
Program Pengembangan dan Penyehatan Lingkungan Sehat (Pembiayaan APBD)
Sangat Baik
Terdapat kenaikan jumlah program ≥ 3 dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Terdapat kenaikan sejumlah 2 program dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Terdapat kenaikan sejumlah 1 program dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Tidak terdapat kenaikan atau terjadi penurunan program  dibandingkan tahun sebelumnya
Aspek finansial dan ekonomi
Anggaran Pengelolaan Lingkungan Hidup
Sangat Baik
Terdapat kenaikan besaran anggaran program ≥ Rp 1 milyar dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Terdapat kenaikan besaran anggaran program Rp 500 juta sampai Rp 999 ratus juta  dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Terdapat kenaikan besaran anggaran program sampai dengan Rp 499 juta dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Tidak terdapat kenaikan atau terjadi penurunan anggaran program  dibandingkan tahun sebelumnya
Perhitungan Pertumbuhan Pendanaan APBD Untuk Operasional/Pemeliharaan dan Investasi Sanitasi
Sangat Baik
Terdapat kenaikan besaran anggaran operasi dan pemeliharaan≥ Rp 1 milyardibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Terdapat kenaikan besaran anggaran operasi dan pemeliharaan Rp 500 juta sampai Rp 999 ratus juta  dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Terdapat kenaikan besaran anggaran operasi dan pemeliharaan sampai dengan Rp 499 juta dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Tidak terdapat kenaikan atau terjadi penurunan anggaran operasi dan pemeliharaan  dibandingkan tahun sebelumnya
Perkiraan Besaran Pendanaan APBD Untuk Kebutuhan Operasional/Pemeliharaan Aset Sanitasi Terbangun
Sangat Baik
Tersedia anggaran biaya OM untuk sanitasi di atas 5 %
Baik
Tersedia anggaran biaya OM untuk sanitasi 5-2 %
Cukup
Tersedia anggaran biaya OM untuk sanitasi di bawah 2 %
Buruk
Tidak tersedia anggaran biaya OM untuk sanitasi
Perkiraan Kemampuan APBD Dalam Mendanai Program/Kegiatan SSK*
Sangat Baik
Terdapat kenaikan besaran anggaran program ≥ Rp 1 milyar dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Terdapat kenaikan besaran anggaran program Rp 500 juta sampai Rp 999 ratus juta  dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Terdapat kenaikan besaran anggaran program sampai dengan Rp 499 juta dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Tidak terdapat kenaikan atau terjadi penurunan anggaran program  dibandingkan tahun sebelumnya
Kesediaan/Kepedulian Pemda Kab/Kota untuk Menganggarkan Biaya OM Di Dalam DPA APBD
Sangat Baik
Terdapat kenaikan besaran anggaran program ≥ Rp 1 milyar dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Terdapat kenaikan besaran anggaran program Rp 500 juta sampai Rp 999 ratus juta  dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Terdapat kenaikan besaran anggaran program sampai dengan Rp 499 juta dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Tidak terdapat kenaikan atau terjadi penurunan anggaran program  dibandingkan tahun sebelumnya
Kesediaan/Kepedulian Pemda Kab/Kota untuk Memberikan Subsidi Untuk OM
Sangat Baik
Terdapat kenaikan besaran anggaran program ≥ Rp 1 milyar dibandingkan tahun sebelumnya
Baik
Terdapat kenaikan besaran anggaran program Rp 500 juta sampai Rp 999 ratus juta  dibandingkan tahun sebelumnya
Cukup
Terdapat kenaikan besaran anggaran program sampai dengan Rp 499 juta dibandingkan tahun sebelumnya
Buruk
Tidak terdapat kenaikan atau terjadi penurunan anggaran program  dibandingkan tahun sebelumnya
Kesediaan dan Kapasitas Rumah Tangga dan Masyarakat untuk Membayar Layanan Sanitasi
Sangat Baik
≥62,41% membayar layanan sanitasi
Baik
49,92%-62,40% membayar layanan sanitasi
Cukup
37,43%-49,91% membayar layanan sanitasi
Buruk
< 37,42% membayar layanan sanitasi
Program Promosi Kesehatan
dan Pemberdayaan Masyarakat  
Sangat Baik
>=62,41% Pencapaian STBM
Baik
49,92%-62,40% Pencapaian STBM
Cukup
37,43%-49,91% Pencapaian STBM
Buruk
< 37,42% Pencapaian STBM
Aspek sosial-budaya dan kelembagaan
Tujuan, Sasaran, dan Tahapan  Strategi Pencapaian Pengelolaan Sanitasi Rumah Tangga
Sangat Baik
>80% Terlayani PDAM
Baik
60%-80% Terlayani PDAM
Cukup
40%-59% Terlayani PDAM
Buruk
<39 o:p="" pdam="" terlayani="">
Tujuan, Sasaran, dan Strategi Pengelolaan Air Bersih dan Minum
Sangat Baik
50%-70% Penduduk Terlayani (< 300 Jiwa/H) dan 80% 90% Terlayani (> 300 Jiwa/H)
Baik
37,6%-49% Penduduk Terlayani dan 70%-79% Terlayani
Cukup
26%37,5% Penduduk Terlayani dan 50%-69% Terlayani
Buruk
<=25% terlayani dan < 49% Terlayani
Pengelolaan Sarana Jamban Keluarga Dan MCK Oleh Masyarakat
Sangat Baik
Terdapat kemitraan, pengembangan wewenang dan pengaturan oleh masyarakat untuk pengelolaan jamban dan MCK
Baik
Terdapat kebutuhan untuk mengundang pihak luar  dalam pengelolaan jamban dan MCK
Cukup
Terdapat kebutuhan informasi  dalam pengelolaan jamban dan MCK
Buruk
Pengelolaan Sarana Jamban Keluarga Dan MCK tidak dilakukan oleh Masyarakat
Media Komunikasi yang Ada
Sangat Baik
Suatu Wilayah Melakukan Kegiatan Komunikasi dengan tiga atau lebih jenis media
Baik
Suatu Wilayah Melakukan Kegiatan Komunikasi dengan dua jenis media
Cukup
Suatu Wilayah Melakukan Kegiatan Komunikasi Dengan satu jenis media
Buruk
Suatu Wilayah Tidak Pernah Melakukan Kegiatan Komunikasi
Kegiatan Komunikasi yang ada
Sangat Baik
Suatu Wilayah Melakukan Kegiatan Komunikasi Secara Rutin lebih dari 2 sebulan
Baik
Suatu Wilayah Melakukan Kegiatan Komunikasi Secara Rutin 1-2 kali sebulan
Cukup
Suatu Wilayah Melakukan Kegiatan Komunikasi Secara Insidental
Buruk
Suatu Wilayah Tidak Pernah Melakukan Kegiatan Komunikasi
Prosentase Keluarga Miskin
Sangat baik
≤12,5% Keluarga Miskin Suatu Wilayah
Baik
12,6%-15% Keluarga Miskin Suatu Wilayah
Cukup
16-20% Keluarga Miskin Suatu Wilayah
Buruk
>20%  Keluarga Miskin Suatu Wilayah










Daftar Pustaka

UNICEF Bagian Air, Lingkungan dan Sanitasi. Paket Informasi Tahun Sanitasi Internasional 2008. Jakarta, UNICEF, 2008.

Water and Sanitation Program, Opsi Sanitasi Yang Terjangkau Untuk Daerah Spesifik. The World Bank, 2011.



"Sekolah Rakyat dalam Cermin Pengalaman SMK Jawa Tengah"

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------...