Rabu, 04 Februari 2026

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Resume Buku : Melacak Kinerja Supervisi dan Manajemen Konstruksi
- tersedia di Perpustakaan Politeknik Pekerjaan Umum- 
https://lib.politeknikpu.ac.id/



Di balik pagar seng proyek pembangunan gedung bertingkat yang megah, kita sering membayangkan kecanggihan teknologi sedang bekerja. Implementasi Building Information Modeling (BIM), penggunaan drone untuk pemantauan, hingga sistem manajemen digital seharusnya menjamin proyek selesai tepat waktu dan bermutu tinggi. Namun, sebagai konsultan yang sering berada di pusaran transformasi digital konstruksi, saya masih melihat paradoks yang nyata: teknologi sudah canggih, namun masalah klasik seperti keterlambatan kronis dan penurunan mutu tetap menghantui.

Mengapa hal ini terjadi? Ternyata, di balik layar, ada gap besar antara regulasi yang ideal dengan realitas di lapangan. Berikut adalah lima fakta mengejutkan yang mengungkap mengapa digitalisasi konstruksi di Indonesia masih sering terjebak dalam "teater administratif."

--------------------------------------------------------------------------------

1. Aturan Ketat, Praktik Longgar: Dilema "Macan Kertas" PP 16/2021

Indonesia sebenarnya memiliki regulasi yang sangat detail melalui PP No. 16 Tahun 2021. Secara normatif, proyek Bangunan Gedung Negara dengan kriteria tertentu—seperti bangunan di atas 4 lantai, luas di atas 5.000 m2, atau proyek kompleks—wajib melibatkan Manajemen Konstruksi (MK) sejak tahap perencanaan.

Namun, realitasnya sering kali berbicara lain. Penenderan MK kerap terlambat dan dilakukan bersamaan dengan paket fisik. Akibatnya, MK kehilangan kesempatan melakukan supervisi pada tahap perencanaan, padahal di situlah potensi masalah teknis dan Value Engineering seharusnya dikendalikan. Prosedur teknis pun sering kali tereduksi menjadi sekadar formalitas pengisian dokumen.

"Secara normatif aturan-aturan yang telah ada sudah sangat baik, namun dalam praktiknya di lapangan pengawasan masih cenderung longgar dan prosedural semata."

Tanpa keterlibatan MK sejak dini, pengawasan hanya menjadi aktivitas administratif untuk memenuhi syarat pembayaran, bukan pengendalian mutu yang esensial.

--------------------------------------------------------------------------------

2. Pentingnya Ketegangan: Mengapa Kontraktor dan Pengawas Tidak Boleh Terlalu "Akur"

Sering ada anggapan keliru bahwa hubungan yang sangat harmonis antara kontraktor dan tim pengawas adalah tanda proyek yang sehat. Namun, dari perspektif strategis, kondisi "tidak akur" dalam batas profesional justru diperlukan untuk menjaga integritas proyek.

Tim pengawas (MK atau Supervisi) adalah perpanjangan tangan Pemilik Proyek (PPK), bukan "tangan kanan" kontraktor. Ketika pengawas terlalu akomodatif, independensi mereka luntur. Mereka harus berani bertindak tegas dan tidak memihak dalam menegakkan Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS). Jika kontraktor melakukan pelanggaran, pengawas wajib memberikan teguran tertulis atau bahkan menghentikan pekerjaan tanpa rasa sungkan.

"Kondisi tidak 'akur' antara kontraktor dan manajemen konstruksi justru bermanfaat agar proses pengawasan dapat berjalan objektif, memastikan kontraktor bekerja sesuai standar tanpa adanya keberpihakan."

--------------------------------------------------------------------------------

3. BIM 5D: Alat Pendeteksi "Clash" yang Terhambat Budaya dan Biaya

Building Information Modeling (BIM) sering kali salah dipahami hanya sebagai alat pembuat gambar 3D. Padahal, kekuatan sejatinya terletak pada BIM 5D yang mengintegrasikan biaya (Cost) dan kuantitas (Quantity) secara real-time. Dengan fitur clash detection pada perangkat seperti Autodesk Revit atau Navisworks, tumpang tindih antar disiplin (misal: pipa MEP menabrak balok struktur) bisa dideteksi sebelum semen dituangkan.

Namun, transformasi ini terhambat oleh realitas pahit:

  • Investasi Tinggi: Lisensi perangkat lunak seperti Revit mencapai kisaran Rp26 juta, ditambah kebutuhan perangkat keras spesifikasi tinggi.
  • Dominasi Manual: Meski menggunakan BIM, banyak proyek masih menggunakan spreadsheet manual untuk perhitungan volume (Quantity Take-off). Akibatnya, standar perhitungan seperti Standard Method of Measurement (SMM) tidak konsisten.
  • Budaya Kerja: Banyak konsultan belum memiliki tenaga ahli BIM tetap karena beban biaya pegawai yang tinggi, sehingga BIM sering hanya digunakan sebagai "hiasan" di laporan akhir proyek.

--------------------------------------------------------------------------------

4. Masalah SDM: Dari "Personil Titipan" hingga Absensi di Momen Kritis

Teknologi digital tidak ada gunanya jika personel di lapangan tidak kompeten atau tidak hadir secara fisik. Salah satu praktik "teater administratif" yang paling merusak adalah manipulasi personel saat Pre-Award Meeting. Konsultan sering mengajukan nama-nama ahli dengan sertifikasi SKA/SKT tinggi hanya untuk memenangkan tender, namun segera melakukan addendum personil untuk menggantinya dengan tenaga yang lebih murah di lapangan.

Lebih parah lagi, ditemukan kasus di mana pengawas absen saat momen kritis seperti pembesian (reinforcement) dan pengecoran (pouring). Ketidakhadiran ahli di lapangan pada tahap ini meningkatkan risiko kegagalan bangunan yang fatal. Tanpa mata ahli yang memverifikasi kesesuaian gambar kerja dengan material yang terpasang, jaminan kualitas hanyalah isapan jempol di atas kertas laporan harian.

--------------------------------------------------------------------------------

5. Komunikasi: Lubang Hitam di Balik Kegagalan Koordinasi

Kegagalan proyek jarang disebabkan oleh masalah teknis murni; penyebab utamanya adalah kegagalan komunikasi. Instruksi yang tidak jelas atau sistem komunikasi yang tidak terstruktur menciptakan "lubang hitam" informasi antara pemilik, konsultan, dan kontraktor.

Solusi teknologinya sudah ada, yaitu Common Data Environment (CDE) seperti platform Estimator.id yang memungkinkan akses data satu pintu secara real-time. Namun, teknologi ini tidak efektif tanpa adanya:

  • SOP Pengambilan Keputusan: Proyek sering terhenti karena tidak ada perwakilan berwenang yang standby di lapangan untuk mengambil keputusan cepat saat terjadi kendala.
  • Transparansi Laporan: Keengganan melaporkan "kabar buruk" kepada PPK secara jujur membuat masalah kecil membengkak menjadi konflik kontrak yang berujung pada Contract Change Order (CCO) yang tidak terkendali.

--------------------------------------------------------------------------------

Penutup: Menuju Standar Baru di 2024 dan Seterusnya

Konstruksi Indonesia berada di titik balik. Pemerintah telah menetapkan target ambisius: standardisasi BIM pada 2024 dan adopsi penuh pada 2029. Namun, teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu menyelamatkan proyek jika integritas manusia dan kepatuhan pada RKS masih diabaikan.

Keberhasilan proyek di era digital tetap bersandar pada sinergi antara teknologi yang presisi, kompetensi SDM yang tersertifikasi, dan integritas pengawasan yang tidak bisa ditawar.

Pertanyaan untuk kita semua: "Apakah kita sudah siap bertransformasi secara mental dan integritas, atau kita hanya akan terus bersembunyi di balik tumpukan dokumen administratif sementara kualitas bangunan dikorbankan?"

Kamis, 01 Mei 2025

PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA PROYEK THE DEVELOPMENT AND UPGRADING OF THE STATE UNIVERSITY OF JAKARTA (PHASE 2) CIVIL WORKS (Studi Kasus Pekerjaan Pemasangan Dinding Bata Ringan)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Muhammad Zidane Imadudine, Muhamad Rasyid Wahyu Saputra, Yudha Pracastino Heston, Rizky Citra Islami

ABSTRAK 

Proyek The Development and Upgrading of The State University of Jakarta (Phase 2) Civil Works, meliputi pembangunan 5 menara (A, B, C, D dan CDCE). Efisiensi sumberdaya diperlukan dalam proyek konstruksi, termasuk produktivitas tenaga kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui koefisien tenaga kerja pada pekerjaan pemasangan dinding bata ringan pada proyek. Penelitian dilakukan dengan membandingkan koefisien tenaga kerja perhitungan lapangan dengan pedoman Permen PUPR Nomor 1 Tahun 2022. Metode penelitian kuantitatif dengan pengumpulan data melalui pengamatan langsung dan pencatatan aktivitas. Hasil pengumpulan data dianalisis, dan ditemukan koefisien produktivitas tenaga kerja, 0,014 OH untuk pekerja, 0,029 OH untuk tukang batu, dan 0,015 OH untuk mandor. Koefisien ini lebih rendah dibandingkan dengan yang tercantum dalam Permen PUPR Nomor 1 Tahun 2022, yang mencantumkan nilai 0,13 OH untuk tukang batu, 0,671 OH untuk pekerja, dan 0,003 OH untuk mandor. Rata-rata angka produktivitas, menunjukkan 34,482 m²/hari untuk tukang batu, 71,428 m²/hari untuk pekerja, dan 69,04 m²/hari untuk mandor. Hasil penelitian menunjukkan produktivitas proyek melebihi standar normatif, yaitu 7,69 m²/hari untuk tukang batu, 1,49 m²/hari untuk pekerja, dan 333,33 m²/hari untuk mandor. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penelitian lebih lanjut terhadap faktor-faktor yang berkontribusi pada produktivitas tenaga kerja.

Kata Kunci: produktivitas, tenaga, kerja, proyek
ABSTRACT
The Development and Upgrading of the State University of Jakarta (Phase 2) Civil Works Project involves the construction of five towers: A, B, C, D, and CDCE. Efficient resource utilization, particularly labor productivity, is critical for project success. This study aims to determine the labor productivity coefficient in the installation of lightweight brick walls on the project. A quantitative method was used, with data collected through direct observation and activity recording. The results were compared to the standard values in PUPR Regulation No. 1 of 2022. The observed labor productivity coefficients were 0.014 OH for workers, 0.029 OH for masons, and 0.015 OH for foremen—substantially lower than the normative values of 0.671 OH, 0.13 OH, and 0.003 OH, respectively. In terms of output, the average productivity rates reached 71.428 m²/day for workers, 34.482 m²/day for masons, and 69.04 m²/day for foremen. These exceed the normative standards of 1.49 m²/day, 7.69 m²/day, and 333.33 m²/day, respectively. The findings suggest that actual productivity surpasses regulatory benchmarks. Further research is recommended to explore factors influencing this performance.

Keywords: productivity, labor, project

DOI: https://doi.org/10.56911/jik.v4i1.46

Implementasi BIM pada Ruang Lingkup Arsitektural Bangunan Gedung

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

https://lnkd.in/dUqxnMKb


🎉 KLINIK BIM PU #33 🎉

🚀 Tema: Implementasi BIM pada Ruang Lingkup Arsitektural Bangunan Gedung

Klinik BIM adalah wadah kolaborasi untuk belajar dan berdiskusi bersama para expert BIM, terbuka untuk umum, dan akan membahas bagaimana BIM dapat memberikan solusi cerdas dalam pengelolaan proyek konstruksi, khususnya bagi pemilik proyek.

🔍 Apa yang akan dipelajari?
- Konsep dasar dan prinsip kerja BIM dalam bidang arsitektur.
- Strategi integrasi BIM dalam pengembangan desain bangunan gedung.
- Studi kasus implementasi BIM pada proyek arsitektural nyata.
- Tantangan umum dan solusi dalam penerapan BIM pada skala proyek berbeda.
- Potensi BIM dalam mendukung keberlanjutan (sustainability) dan efisiensi operasional bangunan.

📅 Tanggal: 25 April 2025
⏰ Waktu: 09.00 - 11.00 WIB

💡 Penyaji:

Dr. Yudha Pracastino Heston, S.T., M.T. - Dosen Prodi Teknologi Konstruksi Bangunan Gedung Politeknik PU

✨ Jangan lewatkan kesempatan emas ini untuk memperdalam pemahaman BIM Anda!

Jumat, 20 Desember 2024

PENYESUAIAN RUANG PADA RUMAH TINGGAL PASCA PANDEMI COVID-19 DI SEMARANG (Dwelling Space Adjustment Post-Covid-19 Pandemic in Semarang)

Abstrak 

Pandemi Covid-19 ditemukan pertama kali merebak di Indonesia, pada bulan Maret 2020. Rumah menjadi benteng terhadap serangan pandemi Covid-19, untuk menghindari penularan akibat interaksi langsung dengan orang lain. Penelitian dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian: Dengan mempertimbangkan perubahan kondisi internal dan eksternal dari bangunan, penyesuaian seperti apa yang paling optimal untuk rumah tinggal? Metode penelitian yang digunakan adalah eksploratif yaitu penelitian yang bertujuan untuk memetakan obyek secara relatif mendalam. Penelitian dilakukan di Kota Semarang. Hasil analisis menunjukkan bahwa perubahan ruang dalam rumah akibat pandemi Covid-19 dipengaruhi oleh variabel seperti jumlah penghuni, luas bangunan, riwayat Covid-19 keluarga, jumlah fasilitas sanitasi, dan aktivitas bekerja dari rumah. Faktor signifikan terbesar adalah kondisi bekerja atau sekolah dari rumah. Kelompok rentan, seperti lansia, bayi, dan difabel, merasakan ketidaknyamanan akibat perubahan ini. Kebutuhan utama kelompok rentan adalah kamar mandi terpisah dengan sirkulasi udara yang baik dan ruang luas untuk anak-anak bermain. Formasi ruangan yang direkomendasikan mencakup kamar mandi dekat ruang tidur atau kamar mandi dalam, dengan setiap 2 kamar tidur memiliki 1 kamar mandi. Perlunya penyesuaian pada regulasi terkait Bangunan Gedung Hijau seperti Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2021 dan Permen PUPR No. 21 Tahun 2021 juga ditekankan, untuk memperhatikan aspek kenyamanan, aksesibilitas, keselamatan, dan kesehatan dalam rumah. 

Kata Kunci: Pandemi, Covid-19, Semarang, rumah, ruang 


fullpaper link:

Senin, 14 Oktober 2024

Webinar “Mengapa tangan bersih masih penting?”

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------





Senin, 05 Agustus 2024

Improving Supervisory Consultant Performance in Construction Projects: Assessments in the LKPP's SIKaP Application for Enhanced Efficiency

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

This article focuses on enhancing the performance of supervisory consultants in construction projects through assessments conducted in the LKPP's SIKaP application. Supervision plays a crucial role in ensuring the smooth execution of construction activities and addressing potential obstacles. The quality and safety of construction operations have become increasingly important, necessitating effective supervision. The article highlights the importance of conducting assessments to measure the success of supervisory consultants in meeting project objectives and adhering to established standards. It emphasizes the evaluation of various performance criteria, including human resources, equipment, materials, costs, time, and quality. The assessment process enables the identification of strengths and weaknesses, facilitating corrective measures and improving future performance.

Rabu, 01 Mei 2024

PENERAPAN BIM UNTUK PERBANDINGAN VOLUME DAN BIAYA KONSTRUKSI TANGGA DARURAT GEDUNG ANEX PROYEK PEMBANGUNAN KOMPLEKS PERANTARAAN PASAR BARU

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Abstract


Kompleks Perantaraan Pasar Baru merupakan Kompleks Kantor Berita Antara yang dimiliki oleh Perusahaan Umum Lembaga Kantor Berita Nasional (Perum LKBN) Antara yang berlokasi di Jalan Antara No. 53-61, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Manajemen Perum LKBN Antara berkeinginan untuk memiliki kantor pusat dan memutuskan untuk merenovasi gedung yang terdiri dari 3 bangunan utama yaitu Gedung Anex, Grya Aneta, dan Grha Antara. Pada pelaksanaan proyek tersebut digunakan Metode Rancang bangun dengan harapan dapat meningkatkan efesiensi material dan biaya. Namun, pada pelaksanaan proyek konstruksi dapat terjadi perbedaan perhitungan volume yang mengakibatkan ketidaksesuaian antara perhitungan rencana dengan realisasi di lapangan. Untuk meminimalkan risiko kerugian baik bagi kontraktor maupun pemilik proyek, maka perhitungan volume dan penyusunan anggaran biaya memiliki peranan yang penting dalam menunjang keberhasilan proyek konstruksi. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan alternatif perhitungan volume menggunakan BIM. Penelitian ini menganalisis perbandingan pehitungan volume rencana dan realisasi. Selain volume peneliti juga membandingkan biaya yang dibutuhkan untuk konstruksi tangga darurat rencana dan realisasi. Dari analisis data yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa perhitungan volume dan biaya dengan penggunaan metode BIM software Glodon Cubicost memiliki hasil yang lebih relevan dengan realisasi di lapangan dengan rasio -0,226% dan selisih biaya sebesar Rp 1.814.092,74

Keywords


BIM; Perhitungan Volume; Biaya; Realisasi Lapangan



link download = https://ejournal.politeknikpu.ac.id/index.php/jik/article/view/67/47

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------...