Selasa, 28 Juni 2011

Kajian Pemanfaatan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Lingkungan Permukiman

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Abstrak
Program Pamsimas adalah program berbasis masyarakat, dan pemanfaatan dari penyediaan air Pamsimas, sangatlah tergantung pada perilaku masyarakat sebagai penerima manfaat. Demikian sebaliknya, pilihan penggunaan air juga akan mempengaruhi perilaku masyarakat dalam kehidupan keseharian.
Analisis dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif, tabulasi silang dan korelasi. Dengan mempertimbangkan 7 aspek yaitu: asal instansi penyedia air bersih, dari mana diperoleh sebagian besar air bersih yang digunakan, jarak sumber air dengan tempat tinggal, layanan air bersih tersebut dipergunakan 24 jam sehari, layanan tersebut memenuhi untuk kebutuhan rumah tangga, apakah terdapat perbedaan ketersediaan, jumlah dan mutu air berdasarkan musim, dan pemanfaatan pengumpulan air
Dari kajian yang dilakukan terhadap pelaksanaan program Pamsimas di Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Banjar, dan Kota Kupang, pengelola perlu mendapat gambaran mengenai perilaku penggunaan air pada masyarakat penerima manfaat.

Kata Kunci: pemanfaatan, penyediaan, air minum, masyarakat

Abstract
PAMSIMAS Program is a community-based programs, and utilization of water supply PAMSIMAS, it depends on the behavior of society as beneficiaries. And vice versa, the choice of water use will also affect people's behavior in daily life.
The analysis was done by using descriptive statistics, cross tabulation and correlation. By considering the 7 aspects, namely: the origin of these agencies, clean water, from which obtained the majority of water use, the distance of the source water with shelter, clean water services are used 24 hours a day, the service cater for the needs of the household, whether there are differences in the availability, the number and quality of water based on the season, and utilization of water collection.
From studies conducted on the implementation of the program PAMSIMAS in Tasikmalaya district, Banjar District, and the city of Kupang, the manager needs to get an idea about the behavior of water use in the beneficiary community.

Keywords: utilization, supply, drinking water, community

Pendahuluan
Pemenuhan kebutuhan akan air bersih, merupakan salah satu indikator keberlanjutan pembangunan dalam Millenium Development Goals (MDGs). Pemerintah Indonesia telah mencanangkan untuk dapat memenuhi target MDGs tersebut sampai tahun 2015. Penyediaan air bersih merupakan bagian target MDG’s yang kesepuluh (Masduqi, 2007). Pemerintah mengharapkan, sebanyak 67,8% penduduk dapat menikmati akses air bersih. Sementara sampai tahun 2011, menurut Direktur Bina Program Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum akses pelayanan baru dirasakan 47% penduduk Indonesia.
Sebagai upaya untuk mewujudkan target tersebut, berbagai upaya dilakukan, salah satunya dengan mengoptimalkan peran Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan mengembangkan program-program penyediaan air bersih. Salah satu program pemerintah terkait dengan penyediaan air bersih adalah program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS).  Pamsimas merupakan program dan aksi nyata pemerintah dan masyarakat dengan dukungan Bank Dunia (Pamsimas, 2009).
Program Pamsimas adalah program berbasis masyarakat, dan pemanfaatan dari penyediaan air Pamsimas, sangatlah tergantung pada perilaku masyarakat sebagai penerima manfaat. Sehingga pengukuran kinerja dan pemanfaatannya seharusnya dilihat dari sudut pandang masyarakat. Kajian yang dilakukan adalah untuk melihat, bagaimana kinerja pemanfaatan air bersih dari masing-masing instansi, peruntukan pemanfaatan air, dan pelaku pemanfaatan air, dari sudut pandang masyarakat penerima manfaat. 
Dasar Teori
Penyediaan air bersih ditinjau dari aspek teknis dapat digolongkan menjadi dua (Chatib, 1996):
1.      Sistem penyediaan air bersih individual: di mana penggunaan air yang dihasilkan diguanakan untuk kepentingan individual, untuk keluarga dan kalangan terbatas. Sumber air baku dari air tanah, tidak menggunakan transmisi dan distribusi.
2.      Sistem penyediaan air bersih komunitas: penggunaan untuk masyarakat komunitas umum sampai skala kota. Dapat digunakan untuk kepentingan domestik, sosial, industri dan kepentingan lain. Memiliki sistem jaringan dan pengelolaan yang lebih komplek daripada sistem penyediaan air bersih individu.

Kodoatie (2003) mengidentifikasi permasalahan dalam penyediaan infrastruktur air, yaitu karena keterbatasan dana pemerintah, peningkatan jumlah penduduk (terutama di kota besar), euforia otonomi daerah (berkaitan dengan pengembangan infrastruktur dan pembagian kewenangan), dan pelayanan air bersih yang belum merata.

Persoalan penyediaan air bersih menurut Soemarwoto (2001), berdasarkan tingkat kebutuhan dipengaruhi oleh aktivitas, pola hidup dan kondisi sosial ekonomi masyarakat penerima manfaat. Penggunaan atau peruntukan air memiliki karakter kuantitas dan baku mutu tersendiri. 
Data dan Analisis
Penelitian dilakukan dari bulan Februari 2010 sampai Oktober 2010. Populasi penelitian adalah masyarakat penerima manfaat di kota Kupang, Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Banjar. esar sampel, menggunakan kuota per kabupaten/ kota sebesar 64 responden (Sosekkim, 2010).

Pengambilan sampel dilakukan acak dengan rancangan Cluster Proportional to Population Size diakukan dengan cara, membagi daerah Penelitian kabupaten atau kota yang masuk dalam program Pamsimas ke dalam Klaster Kecamatan yang diambil secara acak, kemudian dari klaster kecamatan akan diturunkan ke tingkat desa/ kelurahan. Menetapkan jumlah klaster yang akan dipilih atas dasar kesatuan analisis sampel yang dikehendaki yaitu dari kecamatan ke desa (tabel 1).

Tabel 1. Teknik Pengambilan Sampel dengan Klaster
Kota Kupang
Kabupaten Tasikmalaya
Kabupaten Banjar
Kecamatan 
Kelurahan
Kecamatan 
Desa
Kecamatan 
Desa
Alak
Nunbaun Sabu
Bantarkalong
Wakap
Karang Intan
Awang Bangkal Barat
Maulafa
Naikolan.
Cigalontang
Cidugaleun
Mataraman
Lok Tamu
Oebobo
Liliba
GN Tanjung
Cinunjang
Simpang Empat
Sungkai Baru


Sehingga ditemukan jumlah sampel per kelurahan/desa (tabel 2)

Tabel 2. Distribusi Jumlah Sampel 

Kelurahan/Desa
Jumlah Jiwa
Jumlah sampel (n)
Kota Kupang
Nunbaun Sabu
142
7
Naikolan
399
19
Liliba
791
38
Kabupaten Tasikmalaya
Wakap
512
24
Cidugaleun
623
30
Cinunjang
212
10
Kota Banjar
Awang Bangkal Barat
814
31
Lok Tamu
463
17
Sungkai Baru
429
16

Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, dengan menggunakan pertanyaan tertutup. Analisis statistik dilakukan terhadap variabel-variabel penelitian, dengan terlebih dahulu mengkompilasi data. Analisis terhadap variabel dilakukan dengan:
1)         Distribusi frekuensi
Dilakukan untuk memaparkan distribusi frekuensi dari variabel terpilih, dan kemudian melakukan interpretasi.  
2)         Analisis tabulasi silang
Dilakukan dengan membuat pembandingan antara variabel yang sudah ditentukan.
3)         Korelasi
Dilakukan dengan menggunakan metode Pearson, dengan tingkat kepercayaan 95%.



Kajian pemanfaatan air dilakukan dengan memperbandingkan 7 aspek penyediaan air bersih, ditambah dengan aspek pemanfaatan air yang sudah didapatkan (tabel 3).


Tabel 3. Definisi Operasional
No.
Aspek
Keterangan
1
asal instansi penyedia air bersih,
Pamsimas, PDAM, swadaya masyarakat, swadaya rumah tangga
2
dari mana diperoleh sebagian besar air bersih yang digunakan,
Danau, sumur, kran/hidran umum, air perpipaan, air dalam kemasan
3
jarak sumber air dengan tempat tinggal,
< 10 meter, 10-500 meter, 500-1000 meter, > 1000 meter
4
layanan air bersih tersebut dipergunakan 24 jam sehari,
Ya, tidak
5
layanan tersebut memenuhi untuk kebutuhan rumah tangga,
Ya, tidak
6
Kualitas air yang diterima
Ya, tidak
7
perbedaan ketersediaan jumlah dan mutu air berdasarkan musim
Ya, tidak
8
pemanfaatan pengumpulan air
Memasak, mandi, mencuci, sanitasi, berkebun di halaman, beternak, membersihkan rumah

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa hampir 50 % dari masyarakat penerima manfaat program Pamsimas, menggunakan air yang disediakan program (tabel 4). Dilihat dari kepentingan program, angka 50% dapat terlihat sebagai sebuah kekurang tepatan melakukan analisis penerima manfaat. Sebagai sebuah kebutuhan, air bersih dari Pamsimas dialirkan dari sumber mata air ke hidran umum, yang dapat dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Sebanyak 121 (seratus dua puluh satu) keluarga dari 3 lokasi penelitian menggunakan air dari Pamsimas, melalui hidran umum yang disediakan oleh program. Sedangkan sisanya sebagian besar memanfaatkan sumur, baik yang diupayakan secara bersama oleh masyarakat, ataupun diupayakan oleh keluarga.

Tabel 4. Darimana Mendapatkan Pelayanan PAB

Frequency
%
Pemerintah Pusat (PAMSIMAS)
123
47.9
Pemerintah Daerah (PDAM)
12
4.7
Swadaya Masyarakat
64
24.9
Swadaya Rumah Tangga
36
14.0
Pamsimas dan swadaya rumah tangga
1
0.4
PDAM dan swadaya rumah tangga
21
8.2
Total
257
100.0

Program Pamsimas memang tidak menyediakan air bersih sampai ke rumah, yang biasa diistilahkan sebagai sambungan rumah, akan tetapi dari hasil penelitian ditemukan 2 (dua) keluarga dapat memiliki sambungan rumah. Hal ini dapat dilihat sebagai upaya keluarga tersebut, untuk menyambung air dari hidran umum dengan pipa atau selang sehingga, air dapat sampai ke rumah. Hal ini tidak menjadi pelanggaran dari ketentuan program, sejauh tidak mengurangi kapasitas dan kualitas ketersediaan air bagi keluarga yang lain.

Hasil analisis korelasi antara penyedia air bersih dan sumber air bersih ditemukan angka signifikan korelasi 100%, hal ini mengindikasikan bahwa penyedia air bersih memiliki kesamaan dengan sumber air bersih yang dipilih. Sebagai contoh program Pamsimas, hampir mutlak masyarakat akan mengambil air dari hidran umum. Sedangkan untuk swadaya masyarakat dan rumah tangga, hampir pasti menggunakan sumber air dari sumur.

Penyedia air bersih, jika ditinjau dari 3(tiga) lokasi penelitian, seperti terlihat pada (gambar 1). Maka akan terlihat bahwa kota Kupang memiliki variasi paling banyak, untuk instansi penyedia air bersih. Pulau Timor merupakan daerah yang termasuk sulit untuk mendapatkan sumber air bersih. Walau demikian di kota Kupang masih terdapat sumur yang dapat dimanfaatkan oleh keluarga dan tetangga sekitar sumur. Bahkan di musim kemarau masyarakat harus membeli air dari truk tangki. Pelaksanaan pekerjaan instalasi air bersih dari program Pamsimas, diperbolehkan dengan mengumpulkan air dari sumber PDAM dan dimasukkan ke hidran umum, untuk dapat dimanfaatkan bagi masyarakat. Bagi masyarakat yang sudah memiliki sumber air bersih, maka tidak perlu bagi mereka memanfaatkan air dari program Pamsimas.
Gambar 1. Darimana Mendapatkan Pelayanan PAB menurut Kota/Kabupaten

Di 2 (dua) lokasi penelitian selain Kupang, masyarakat responden belum mendapatkan akses pelayanan dari PDAM, sehingga program Pamsimas dapat dirasakan manfaatnya. Walau demikian, terdapat juga masyarakat yang telah memiliki sumber air berupa sumur.    

Dari data tabulasi silang antar instansi penyedia dan asal air, Pemanfaat Pamsimas sebagian besar (98%), sesuai dengan sumber air yang didesain dari program, memperoleh air dari kran/ hidran umum. Pemanfaat PDAM berdasarkan penelitian, hanya sebesar 33% yang menggunakan air perpipaan, bahkan 50% mengaku mendapat air dari air dalam kemasan, dan 16% dari sumur. Fakta ini menunjukkan bahwa jawaban valid untuk pemanfaat dari jasa PDAM hanya 33%. Untuk swadaya masyarakat 60% menjawab menggunakan sumur, dan 28% dari sumber mata air. Sedangkan pemanfaat swadaya masyarakat mengaku mendapat air dari sumur (100%).

Klasifikasi pengukuran jarak dibagi dalam empat kelompok. Yang pertama mewakili jarak lingkungan rumah yaitu kurang dari dan sama dengan 10 meter. Yang kedua lebih besar dari 10 meter sampai dengan 500 meter, yaitu lingkup lingkungan antar rumah (biasa diistilahkan sebagai lingkup Rukun Tetangga (RT). Kemudian jarak sumber air dengan rumah tangga sejauh 500 meter sampai 1000 meter. Dan terakhir kelompok jarak di atas 1000 meter.

Program Pamsimas, menurut masyarakat penerima manfaat sebagian besar berada pada jarak kurang dari 500 meter. Sebesar 95% responden memiliki jarak kurang dari 500 meter ke sumber air pamsimas dari rumah mereka. Sebagian kecil masih berada lebih dari 500 meter, akan tetapi sudah terdapat 35% masyarakat responden yang mendapat air Pamsimas dari jarak kurang dari 10 meter (gambar 2).

Gambar 2. Jarak Sumber Air

Hasil penelitian mengenai jarak sumber air dengan penyedia air menemukan tingkat signifikansi yang sangat erat.  Nilai signifikansi hampir mencapai 100% (99,5%). Bagi Program Pamsimas, hal ini menunjukkan keberhasilan program, yaitu untuk mendekatkan sumber air ke penerima manfaat.          

Tingkat signifikansi hubungan antara penyedia air dengan jarak sumber air ke rumah, dapat memberikan petunjuk karakter penyedia air. Pertama desain Pamsimas yang menyediakan air dalam hubungannya dengan pengembangan komunitas, sehingga berada pada lingkup antara 10 sampai 500 meter dari rumah. Untuk sumber air dari PDAM sifatnya per rumah, sambungannya biasa disebut sambungan rumah, sehingga jaraknya berada pada lingkup 10 meter. Demikian juga untuk swadaya rumah tangga, yang berupa sumur ada pada lingkup yang sama. Untuk swadaya masyarakat, dominasi pengguna ada pada jarak yang sama dengan Pamsimas, yaitu pada lingkup 10 sampai 500 meter.

Keberadaan Pamsimas yang menempatkan hidran umum di lingkup RT, dirasakan manfaatnya terutama di dua lokasi penelitian, yaitu Kabupaten Banjar dan Tasikmalaya. Di Awang Bangkal Barat, Kabupaten Banjar sebelum ada air dari program Pamsimas, masyarakat harus mengumpulkan air jauh dari rumah mereka beberapa kilometer melewati hutan. Sedangkan di Tasikmalaya, keberadaan air Pamsimas di sekitar lingkungan rumah juga memberikan manfaat lebih, terutama karena di lokasi penelitian kondisi geografis permukiman yang kurang baik dan belum mudah untuk dapat dicapai, karena jalan menuju permukiman yang belum baik.
Air Pamsimas menurut responden penelitian, dapat digunakan selama 24 jam sehari. Sebanyak 95% responden menyatakan hal ini. Sumber air lainnya secara umum juga memiliki kemampuan untuk menyediakan air secara berkesinambungan dalam 24 jam sehari. Hanya saja sumber air dari PDAM yang belum dapat secara berkesinambungan menyediakan air 24 jam sehari di lokasi penelitian. Berturut – turut dari yang terbaik, menurut kemampuan menyediakan air selama 24 jam adalah pertama dari swadaya masyarakat, Pamsimas, swadaya rumah tangga dan terakhir dari PDAM (tabel 5).

Dari hasil uji korelasi ditemukan bahwa tidak terdapat signifikansi hubungan antara penyedia air dengan kemampuan penyediaan air selama 24 jam, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan penyediaan air selama 24 jam tidak tergantung dari instansi penyedia jasa, tetapi lebih pada ketersediaan sumber air, lokasi sumber dan penerima manfaat dan kondisi geografi, dan iklim.

Tabel 5. Layanan Air Bersih 24 jam




Layanan Air Bersih Tersebut Dipergunakan 24 jam Sehari
Total

Iya
Tidak

Pemerintah Pusat (PAMSIMAS)               47.9%
Count
115
8
123

%
93.5%
6.5%
100.0%

Pemerintah Daerah (PDAM)                        4.7%
Count
6
6
12

%
50.0%
50.0%
100.0%

Swadaya Masyarakat                                 24.9%
Count
61
3
64

%
95.3%
4.7%
100.0%

Swadaya Rumah Tangga                           14.0%
Count
27
8
36

%
75.0%
22.2%
100.0%

Pamsimas dan swadaya rumah tangga     0.4%
Count
1
0
1

%
100.0%
.0%
100.0%

PDAM dan swadaya rumah tangga          8.2%
Count
21
0
21

%
100.0%
.0%
100.0%



231
25
257


89.9%
9.7%
100.0%








Di lokasi penelitian Kota Kupang di mana permintaan air terhadap PDAM yang tinggi, karena kurang banyaknya sumber air yang didapatkan oleh masyarakat, sering terkendala adanya pematian sumber listrik dari PLN. Pemutusan sumber listrik dari PLN seringkali juga menyebabkan matinya aliran air yang didapat dari PDAM. Di dua lokasi penelitian di Kota Kupang, sumber air di Hidran Umum Pamsimas berasal dari aliran air PDAM. Untuk air Pamsimas, dari sumber air PDAM, dapat menyediakan air 24 jam, oleh karena sudah terlebih dahulu ditampung di hidran umum, pada saat air mengalir atau tidak terkendala pemadaman listrik.

Dari persepsi responden pengguna air Pamsimas, diketahui bahwa kebutuhan masyarakat akan air bersih bagi konsumsi rumah tangga telah dapat dicukupi. Dari hasil pertanyaan mengenai jumlah air yang dikumpulkan per harinya, jawaban terbesar adalah mengumpulkan air sebesar 80-100 liter untuk keperluan primer dan 20 liter untuk keperluan sekunder. Jawaban lain juga memberi gambaran bahwa responden mengumpulkan air secukupnya menurut ukuran kebutuhan mereka.

Tidak hanya dari program Pamsimas persepsi kecukupan air dari responden penerima manfaat, responden pengguna air PDAM, swadaya masyarakat dan swadaya rumah tangga pun menyatakan kecukupan mereka akan air yang disediakan. Kondisi ini dapat dibaca sebagai kebutuhan primer akan air, menyebabkan segala upaya dilakukan untuk dapat mencukupinya. Halangan berupa jarak, waktu, biaya akan dikalahkan untuk memenuhi kebutuhan ini.

Ditinjau dari kekuatan hubungan korelasi, alokasi kecukupan air kaitannya dengan penyedia air, berada pada posisi signifikan dengan tingkat kepercayaan 95%. Hal ini menunjukkan bahwa semua bentuk pilihan penyediaan air harus dapat mencukupi kebutuhan dari konsumen, karena jika tidak maka konsumen akan mencari bentuk penyediaan air lainnya.  

Jika kuantitas penyediaan air, oleh masyarakat pemanfaatan dirasakan cukup memenuhi, kondisi kualitas air yang digunakan cenderung relatif baik. Kondisi ini dimiliki oleh semua instansi penyedia air di lokasi penelitian. Hal ini juga menjadi bukti bahwa kebutuhan akan air, diikuti dengan kebutuhan akan kuantitas dan kualitas air standar yang diperlukan untuk konsumsi.

Aspek selanjunya dari pemanfaatan air ialah, kondisi ketersediaan, jumlah dan mutu air berdasarkan musim. Kondisi negara Indonesia dengan dua musim, menciptakan perbedaan sumber air di musim kemarau. Pada aspek ini dapat terlihat keunggulan dari Pamsimas, yang menggunakan survey sumber air untuk dapat menyuplai Hidran Umum yang terbangun. Akan tetapi untuk menjadi catatan, di beberapa titik survey (di Kabupaten Tasikmalaya), peneliti menemukan lokasi Pamsimas yang belum melewati kondisi kemarau, karena infrastruktur Pamsimas yang baru jadi beberapa bulan. Hal ini sedikit banyak berpengaruh terhadap jawaban, walau kemudian responden memberikan perkiraan mereka, peneliti dapat setuju karena di titik tersebut air di dapat dari sumber mata air.

Jawaban responden masyarakat, secara umum menyatakan ada pengaruh perbedaan musim terhadap kemampuan penyedia air memberikan jumlah dan mutu air bersih. Pemakai Pamsimas dengan jawaban tidak terdapat perbedaan antara musim kemarau dan penghujan, dalam ketersediaan mutu dan jumlah air, memiliki prosentase jawaban yang tidak begitu dominan. Prosentase respoden yang menjawab sama adalah 60% sedangkan yang menjawab tidak atau berbeda adalah 40% (gambar 3).

Urutan daftar penyedia, mulai dari yang paling tidak terpengaruh terhadap perubahan musim sampai yang paling terpengaruh adalah sebagai berikut: Pamsimas, swadaya masyarakat, PDAM, swadaya rumah tangga. Dari analisis korelasi yang dilakukan, ditemukan hasil bahwa sumber penyedia air berkorelasi dengan perbedaan ketersediaan kuantitas dan mutu air berdasarkan musim di lokasi penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa di lokasi penelitian terjadinya musim kemarau menyebabkan penurunan jumlah dan mutu air bersih yang dapat disediakan oleh program baik itu yang disediakan oleh Pamsimas, PDAM maupun swadaya masyarakat dan rumah tangga.


Gambaran kinerja pemanfaatan air dari empat instansi dapat dilihat dalam (tabel 6). Terlihat bahwa Pamsimas dibanding dengan sumber penyedia jasa lain di lokasi penelitian sudah memiliki kemampuan yang baik untuk dalam pemanfaatannya. Hanya saja untuk aspek jarak sumber air, belum dapat mencapai rumah. Sehingga dalam pengembangan ke depan masih perlu dikembangkan pengurangan jarak dari rumah ke hidran umum terdekat.

Tabel 6. Perbandingan Kinerja Penyedia Air Bersih
No.
Aspek
Pamsimas
PDAM
Swadaya RT
Swadaya Masy.
1
Jarak sumber air  
10-500 meter
0-10 meter
0-10 meter
10-500 meter
2
Layanan air 24 jam sehari
Ya
Tidak
Ya
Ya
3
Layanan memenuhi kebutuhan
Ya
Ya
Ya
Ya
4
Kualitas air
Baik
Baik
Baik
Baik
5
Ketersediaan berdasarkan musim
Sama (60-40)
Tidak sama
Tidak sama
Tidak sama
           
Pemanfaatan sumber air utama, berdasarkan hasil penelitian digunakan untuk terutama untuk kepentingan memasak, mandi dan mencuci. Untuk kebutuhan sanitasi, kebersihan rumah, berkebun dan berternak dapat dimengerti sebagai tidak semua responden melakukan dengan sumber air utama. Atau tidak melakukan aktifitas berkebun dan beternak.

Dari penelitian juga terlihat peran ibu rumah tangga yang besar dalam pengumpulan air untuk pemanfaatan utama air. Untuk memasak, mandi dan mencuci, sanitasi serta membersihkan rumah, sebagian besar air dikumpulkan oleh ibu rumah tangga. Sedangkan untuk kebutuhan berkebun dan beternak air dikumpulkan sebagian besar oleh suami/kepala rumah tangga. Dengan adanya kemudahan dan jaminan akses air, akan memberikan manfaat yang lebih kepada ibu rumah tangga atau kaum perempuan, dalam menyediakan air untuk keperluan seluruh keluarga.

Tabel 7. Pengumpulan Air Bersih
No.
Pemanfaatan pengumpulan air
jumlah
%
Keterangan
1
Memasak
256
100
dikumpulkan isteri, 79%
2
Mandi
256
100
dikumpulkan seluruh keluarga, 84%
3
Mencuci
246
96
dikumpulkan isteri, 67%
4
Sanitasi
192
75
dikumpulkan isteri, 37%
5
Berkebun di halaman
49
19
dikumpulkan suami, 39%
6
Beternak
41
16
dikumpulkan suami, 54%
7
Membersihkan rumah
192
75
dikumpulkan isteri, 73%
Kesimpulan

Kinerja Pamsimas di lokasi penelitian menurut perbandingan performa kinerja disbanding dengan instansi penyedia air bersih lainnya adalah baik. Penilaian ini dilihat untuk aspek yang diteliti yaitu jarak sumber air, layanan air 24 jam sehari, layanan memenuhi kebutuhan, kualitas air dan ketersediaan berdasarkan musim.
Jarak sumber air Pamsimas dapat lebih didekatkan ke rumah penerima manfaat dengan upaya swadaya rumah tangga, yaitu menambah jaringan ke rumah, tanpa mengganggu ketersediaan air untuk umum.

Kendala musim yang menyebabkan penurunan jumlah dan mutu air, memerlukan solusi sumber air alternatif di musim kemarau, misalnya dengan air laut, air hujan dan upaya melakukan penjernihan.

Rekomendasi

Pengelola Pamsimas dan masyarakat penerima manfaat perlu lebih tepat menentukan lokasi hidran umum
Menjamin tersedianya akses air yang tetap baik dari jumlah dan kualitas à kesejahteran keluarga (ibu rumah tangga)


Daftar Pustaka

Masduqi, Ali., dkk.2007.Capaian Pelayanan Air Bersih Perdesaan Sesuai Millennium Development Goals – Studi Kasus di Wilayah DAS Brantas. Jurnal Purifikasi, Vol 8 No2. Surabaya: ITS
Chatib, Benny.1996. Sistem Penyediaan Air Bersih. Diklat Tenaga Teknik PAM. Bandung : LPM-ITB
Kodoatie, Robert J. 2003.Pengantar Manajemen Infrastruktur.Yogyakarta. Penerbit : Pustaka Pelajar
Soemarwoto, Otto.2001. Atur Diri Sendiri : Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
_____. 2009. Pedoman Pengelolaan Pamsimas. Central Project Management Unit, Jakarta. Direktorat Jenderal Cipta Karya
____.2010. Laporan Kajian Sosial Ekonomi Pengelolaan Pamsimas, Yogyakarta. Balai Litbang Sosial Ekonomi Bidang Permukiman

Jumat, 01 April 2011

pamsimas, problem and stages

The implementation program of Water Supply and Sanitation Community-based drink, otherwise known as PAMSIMAS, has been running for approximately two years. The program which began in 2008, initially had problems related to the coordination and synchronization program each agency involved in the program. Change the controlling institution / executing agency of the Ministry of Health to the Ministry of Public Works, cause problems at the beginning of the program. At the beginning of the year 2008, according to one official PAMSIMAS program, PAMSIMAS must walk with the limitations of existing devices [1].
The issue of coordination between sectors visible, when the program has reached the stage of construction, in some places, the raw water to be used, test results have not come out. Though PAMSIMAS water tested by Public Health Service mandatory, and must have qualified as clean water.
Implementation PAMSIMAS not only hindered the coordination problem. As an illustration, we can see in three locations PAMSIMAS implementation, namely the city of Kupang, Kabupaten Banjar and Tasikmalaya regency. In three places, there are some problems, which need to be considered PAMSIMAS stakeholders.

Kupang City
In the city of Kupang, the main problem for PAMSIMAS program is looking for sources of water that can be used as raw water PAMSIMAS. In addition, the availability of raw water, too often a constraint, this is due to a decrease in discharge due to climate island of Timor. Sources of water available in the city of Kupang is uneven. Because of the difficulty of finding water sources, managers need to get the owners of water sources (wells) that the social spirit, to make private wells as a source of raw water.
Geological structure of land in the city of Kupang prone to contamination. This is due to soil type Kupang quickly reduce waste water on the surface, so water is easily contaminated underground. The solution is to perform first wastewater discharged into the ground.
Infrastructure materials PAMSIMAS many brought in from outside the island, this led to the expensive infrastructure installed. Another problem related to the management of sanitation is poor. Spatial changes that are less controlled. The performance of the facilitators, especially related to the problem of frequent delays in receiving salaries and difficulty in obtaining a facilitator with sufficient capability to handle the management of PAMSIMAS.
Beneficiary communities in the city of Kupang, the results of research are also still feel burdened and heavy to be able to collect the money themselves. There is also internal strife community self-supporting institution or with outside parties. Managing behavior problems, suggesting the need for attention to the stage time PAMSIMAS program.
Banjar Regency
In Banjar District found a problem related to community concern about the use and maintenance of the water. There are behavioral defecate on the banks of the river using a toilet float. Communities also feel burdened by the self-generated funds. This condition can be caused by, yet uneven provision of good sanitation facilities in schools and neighborhoods, trash, and sewer line. This occurred mainly in rural areas and suburbs. There are limitations to local government budgets, causing the construction of clean water and sanitation infrastructure has not been evenly distributed in Banjar district.
Found a consultant with the communications gap between government agencies. This led to the determination of target villages, not in accordance with the priority scale. Entry List for Use of Budget PAMSIMAS program at Banjar District, in 2010, fell not on time so that implementation is delayed. From two years of implementation PAMSIMAS in Banjar district can be concluded, that the time for the preparation process of empowerment and behavior change, too limited or narrow, not sufficient.

Tasikmalaya District
Problems in Tasikmalaya regency PAMSIMAS program related to the management and maintenance of facilities and infrastructure PAMSIMAS, after waking up. Necessary unity of understanding between agencies involved in program development PAMSIMAS. Included in the administration of agency budgets in the development PAMSIMAS.
In Tasikmalaya Regency is the case, means PAMSIMAS built first, and checked the quality of the water, indicating a gap of communication and coordination between sectors.
Community activities related to the culture ponds and sanitation, is a challenge for program PAMSIMAS. Community empowerment program in the program PAMSIMAS require more attention and time of implementation guidelines.


Program Stages
In three of the City / County location PAMSIMAS program implementation, shown the importance of community empowerment in the phase of the program execution time PAMSIMAS. To explore the effectiveness of time, an examination of the perceptions, knowledge and experience of managing the program, which consists of facilitators, village, and the management of water and sanitation sector institutions in society.
The result is, all the stages which are not categorized as effective, is in the planning stages. Most of the form of empowerment. The nine stages are: sectoral coordination of districts, the preparation longlist districts, establishment of villages PAMSIMAS location, method of MPA-PHST, Preparation proaksi, triggers with CLTS, Mobilization CHAPTER behavior changes, behavior changes CHAPTER Certification, and Preparation RKM . Left stages of implementation according to the guidelines PAMSIMAS compared with the time stage of the research results can be seen in table 1.


Table 1.
Stages PAMSIMAS Activities


 
 





















From the research, it can be concluded that in general, providing time to implement the program PAMSIMAS is enough, especially for construction activities. The process of empowerment in PAMSIMAS programs, need to be noticed and corrected, especially in the determination of the village until the certification CHAPTER behavior, which included community and changing patterns of behavior.
The capacity of recipient communities varied programs, influential in the effectiveness phase of the program. Communities that have high capacity (terutam of educational background and economic ability) will be easier in mengembangankan program.
Needed clarity in the material aspects or stages of socialization in the community, particularly regarding the sequence of the socialized aspects. PAMSIMAS program managers need to do an evaluation after a socialization, so if there is a lack of unfamiliarity in the community, can be fixed. From the results of Focus Group Disscusion found, still needs to be disseminated lanjtuan to implementing the program, because it still met the inequality defining the program.
Increased preparedness community self-supporting institution in terms of quantity and quality, to capture and develop programs PAMSIMAS, became one of the research findings. The ability of the community in social institutions, their economic ability to pay dues and the preservation of the environment around water sources become important elements of program sustainability.
Improved coordination across sectors need to be more intensive, because of the Focus Group Disscusion there are sectors that have not been involved, even the working group that should exist at the district / city has not seen its existence. The results of the assessment phase, the effectiveness of time as can be seen in table 2.





Table 2.
Stages Assessment Activities PAMSIMAS


 

 










 








































Recommendations for program managers
As a step to streamline the time, necessary to formulate the coordination structures at district / city (in terms of schedule, agenda, agencies involved, roles and responsibilities, budget and related issues), so as to create coordination between programs and sectors, at every stage of activity through regular meeting agreed.
To improve the effectiveness of time associated with the stages of PAMSIMAS, may be setting time (time management / schedule), with periodic re-warning (reminding), for interested parties submit the village to the list.
From the research, empowerment activities can not be implemented simultaneously with the physical development projects, which need to be prepared in a different time (the process is done first, so if time is less empowerment, there is still time in years the implementation of physical development).
At the time of socialization in the community, the need for clarity and decisiveness on stage PAMSIMAS activities.
Managers need to consider the availability of water resources, water quality (physical, chemical, biological) and quantity (liters / family), which is distributed to the beneficiaries.
PAMSIMAS Managers need to consult and coordinate with the taps, especially regarding service areas, water resources, maintenance of infrastructure, quality of water services and the determination of family contributions of beneficiaries. Managers need to conduct value-benefit calculation, the results are communicated to the beneficiary community, after they implemented the program PAMSIMAS. So that together they try to maintain the sustainability of their drinking water supplies independently, through the maintenance of infrastructure institutional management, order fee, and increase the capacity and capability in the management of drinking water. Mainly because the value of great benefits, cause payback period can be very quickly accomplished.

Recommendations for beneficiary communities
Details of activities to be carried out in RKM prepared by involving the community. Not only handed over to the companion of society (empowerment, health, engineering).
Needs and capabilities improvement program receiving communities can be bridged by increasing the quality and ability of community companion.
SPAM Management Agency need to think about PAMSIMAS development, as a business unit of the community (make bussiness plan), to sustain operations and further development.
MFI and BP SPAM needs to increase the number of women's involvement in the composition of its membership, given the contribution of women in the household water supply.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Sekolah Rakyat dalam Cermin Pengalaman SMK Jawa Tengah"

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------...