telah diterbitkan di Majalah Dinamika Riset, Edisi II Tahun 2017
Kabupaten Pulau Morotai baru berusia
8 tahun, setelah mekar dari
sebuah kecamatan bagian dari Kabupaten
Halmahera Utara. Untuk sampai ke pulau ini, perjalanan lewat jalur udara
ditempuh dari Manado selama 1 jam dengan transit di Bandara Sultan Baabullah,
Ternate, dan berlanjut ke Morotai selama 40 menit.
S Hatim, dari Bappeda
Morotai, mengatakan air bersih di Morotai masih susah. Sumber air bersih hanya
ada dua. Dari lima kecamatan, kondisi air bersih Morotai masih kurang. Dua
kecamatan sebagai tujuan wisata sudah mending, tapi di Morotai Jaya, Morotai
Timur, dan Morotai Utara, kekurangan air bersihnya parah. Apalagi mereka bukan
daerah tujuan wisata.
Kendati masih kurang,
dari 88 desa di Morotai, 70% telah terjangkau air bersih. “Sebenarnya, pusat
wisata di Dodola juga terkendala air bersih. Pemerintah propinsi membuat sumur
bor di satu titik di Dodola. Air dialirkan ke tiga aliran. Tapi itu kurang.
Turis pun antri mandi, termasuk para bule.” Toilet dikelola UPTD.
“Kami sangat membutuhkan air bersih, terutama
di lokasi wisata. Sarana prasarana umum pun sebetulnya masih minim. Jangankan
untuk wisata, masyarakat umum pun urgent (mendesak). Selain
pribadi, pemda membangun WC umum. Prioritas kebutuhan air bersih dan sanitasi.
Kendala air bersih
dan sanitasi karena kondisi geografi. PDAM menjalankan dua titik sumber air:
sumber mata air dari gunung dan sumur bor. Air dari sumur mengandung kapur
dalam jumlah tinggi. Sementara, sumber mata air dari gunung ketika musim hujan
menjadi keruh. Jarak dari hulu ke kota sekitar 10 kilometer.
Untuk itu, untuk air
minum, warga mengandalkan air galon produksi swasta. Air ini diolah dari
persediaan air sumber mata air ketika tidak musim hujan sehingga terjaga
kebersihannya. Sementara, untuk mandi dan cuci, warga menggunakan air seadanya.
Sewaktu Sail Morotai 2012—yang
dihadiri SBY—dibangun sarana air bersih yang bisa olah air laut sehingga bisa
langsung minum. Tapi sekarang tidak jalan.
Kepala Dinas
Perumahan Morotai Zulkifli menyebutkan sebagian warga masih memiliki budaya
sanitasi yang kurang baik. Mereka tidak memiliki WC sehingga buang air di hutan
atau jauh dari warga lain.
Untuk pembangunan rumah warga, material
lokal mahal. Karena gunung api tak aktif, pasir makin minim dan harus diambil
dari pantai. Akibatnya terjadi abrasi, termasuk di pantai di jalur jalan
nasional. Kondisi itu diatasi dengan membuat bronjong kendati bukan solusi
permanen. Pemda pun tak berdaya melarang pengambilan pasir karena demi
pembangunan. Biaya pembangunan rumah pun lebih mahal, dua kali harga di
Ternate.
Kepala Bidang
Promosi dan Pemasaran Dinas Pariwisata Morotai
Asmar menjelaskan bahwa pengembangan wisata Morotai justru terkendala
oleh kebijakan pemkab. Dia menyayangkan APBD tidak mengakomodasi kebutuhan
promosi wisata.
Idealnya, kata
Asmar, separuh jumlah APBD untuk wisata karena jadi andalan Morotai. Jika
anggaran Rp10 miliar, setidaknya Rp 5 miliar untuk wisata. Tapi hal ini tidak
terealisasi karena pengajuan anggaran ditolak. Dicoret atau istilah Asmar
disate-sate.
Untuk tahun 2017
ini, anggaran yang disetujui sebesar Rp 120 juta hanya untuk program bimbingan
teknis, terutama untuk pemandu wisata. Padahal, pada 2016 dinas merencanakan
adanya pusat informasi wisata yang hingga kini belum ada. “Kami tidak bisa
promosi,” kata Asmar yang membawahi 17 staf termasuk para guide belum tersertifikat.
Menurut dia,
potensi wisata Morotai amat besar, terutama wisata bahari, sejarah, bahkan
kuliner, hingga produk kerajinan hasil didikan UPTD Dodola pada warga. “Hal
paling penting menyangkut aminity seperti
air bersih
dan telekomuniasi, juga akses ke spot-spot wisata.”
Namun sarana air
bersih belum mendukung. Air PDAM sering macet atau mengalir dalam jumlah kecil. Bahkan pernah
keluar air bercampur lumpur. Sumber Air PDAM berjarak 12-15 kilometer dari
permukiman. selain PDAM, warga mengandalkan sumur dan air sungai.
Untuk sarana air
bersih di daerah kota, seperti Daruba, sudah baik. Selama acara festival pun,
sarana air baik dan tanpa keluhan. Namun, di luar jika ada acara dan permukiman
desa, air masih jadi kendala. “Sering ngadat. Masyarakat sampai cuek.”
Salah satu lokasi
wisata di Morotai berpusat di Kecamatan Morotai Selatan yang terdiri dari 25
desa. Sekretaris Kecamatan Morotai Selatan Nurhayati Taher menegaskan bahwa
kebutuhan air bersih masih jadi kendala di wilayahnya. Karena itu, warga lebih
mengandalkan air kemasan galon untuk minum. “Air berwarna coklat waktu hujan.
Air dari PDAM untuk minum juga mengandung kapur. Makanya kami saring dulu pakai
kain, didiamkan, baru dituang,” tutur dia.
Meski sudah ada
PDAM, sejumlah desa di Morotai Selatan mengalami kekurangan air yakni di Desa
Pilo, Pandanga, dan Juwanga. Warga juga masih mengandalkan air minum dari
sungai, selain untuk irigasi sawahnya. Kondisi ini terjadi di Desa Aha yang
dihuni sekitar 100 keluarga pendatang dari Sulawesi dan tinggal di rumah-rumah
panggung.
Untuk sanitasi,
masih ditemukan perilaku warga yang kurang tepat. Di daerah rawa-rawa di
Daruba, warga masih buang air besar secara sembarangan. Mereka membuat WC
gantung berupa bilik kayu, ukuran setengah kali setengah meter dan berjarak hanya 3
meter dari rumah. “Soal itu, kami belum
melakukan penyuluhan karena masih sibuk terkendala pilkada belakangan ini.”
Patung jenderal Amerika Serikat (Mc. Arthur) yang
menyerang pasukan Jepang pada perang dunia II, berdiri di Pulau Zum-zum, salah
satu pulau tujuan wisata di Kabupaten Morotai.
Pulau ini tak
berpenghuni. Terdapat dermaga kecil, tempat perahu dan kapal bersandar, dengan
ornamen roket atau peluru kendali. Air
di sekitar pulau tampak jernih, memperlihatkan sejumlah ikan di perairan itu.
Pulau itu dihiasi pasir putih lembut.
Selain patung, terdapat tugu dan besi-besi sisa landasan pesawat dan helikopter. Pepohonan dan angin meneduhkan suasana di pulau, kendati cuaca panas terik. Sayangnya, sampah botol minuman masih teronggok. Tak ada tempat sampah di pulau itu.
Setelah dari
Zum-zum, tujuan berikut Pulau Koloray, sekitar 5-10 menit dari Zum-zum. Pulau
ini padat penduduk, sekitar 120 kepala keluarga atau sekira 400 orang. Sejumlah
perahu warga terlihat di sana. Koloray menjadi desa wisata. Perumahan warga
telah tertata rapi dan lumayan bersih.
Dari dermaga, telah
terlihat petunjuk arah, toko oleh-oleh (salah satu produknya halua, jajanan
dari kacang), hingga papan sapta pesona dan papan ornamen berisi kutipan
ungkapan bijak penduduk setempat. Sebagian rumah juga telah menjadi homestay
sejak ajang Sail Morotai 2012.
Kehidupan di
Koloray ditopang oleh nelayan. Sayid Amaya, 42 tahun, bercerita hasil utama
ikan cakalang. Sebagian ikan dibuat
sebagai ikan garam atau ikan asin. Sembako dipasok dari Morotai. Sayuran
ditanam di pulau lain. Ada SD inpres dan SMP Muhammadiyah di pulau ini.
Untuk air, warga
membuat sumur timba. Air mengandung kapur. Awal tahun ini BTN membantu bak
penampungan dan pompa air bertenaga surya. Hampir semua rumah sudah terhubung
dengan pipa air dari bak tampung, kendati di rumah-rumah jauh dari bak, air
masih sering mati. “Air sumur tidak
pernah kering,” ujar Sayid.
Untuk sanitasi, ada
11 WC umum. “Susahnya paling kalau ada ombak besar dan angin kencang, tidak
bisa pergi sampai pergi,” ujar Aisun Saba, 47 tahun.
Sayangnya, sejumlah
warga kerap terserang penyakit ginjal dan infeski saluran pernafasan akut.
Terakhir, tiga orang terkena sakit ginjal karena tingginya kandungan kapur air
sumur di sana. Warga berobak ke satu-satunya pos kesehatan desa.
Adapun sakit ISPA
karena cuaca panas dan banyak debu. Perilaku hidup sehat warga juga masih
susah, seperti buang air besar di laut. “Untuk pasien, 2-3 orang datang per
hari,” ujar perawat Widati, 30 tahun, asal Madura dan tinggal di Koloray selama
7 tahun. Untungnya, sekira 60% warga punya kartu layanan kesehatan gratis.
Setelah dari
Koloray, tujuan selanjutnya adalah Pulau Dodola. Inilah tujuan wisata bahari utama di
Morotai. Dodola juga jadi pusat Sail Morotai 2012. Alhasil, pulau ini memiliki
sejumlah penginapan berbentuk rumah panggung, jetski, banana boat, dan
kano. Di pulau ini terdapat
fasilitas air bersih berupa kamar mandi dan toilet, serta tempat untuk bilas
bagi wisatawan.
Beberapa catatan
hasil diskusi dengan instansi yang dikunjungi, terkait dengan penyediaan air
bersih dan sanitasi, antara lain: Penyakit yang banyak terjadi adalah penyakit
ginjal, gizi buruk, dan malaria karena kualitas air dan sanitasi yang buruk. Di
desa Totodoku selalu terjadi KLB Diarhe karena krisi air, dan juga Desa Juanga
yang memiliki krisis air dan hanya mengandalkan air hujan. Sebenarnya sudah ada
aliran PDAM namun kurang lancar.
Air di Morotai
mengandung kapur dan e-coli yang sangat tinggi, Dari lima kecamatan,
kondisi air bersih masih kurang. Kecamaran Morotai Selatan dan Kecamatan
Morotai Selatan Barat sebagai tujuan wisata sudah lumayan walau belum semua
terpenuhi, tapi di Morotai Jaya, Morotai Timur, dan Morotai Utara, masih sangat
kekurangan air bersih
PDAM hanya melayani
35% penduduk di Kabupaten Pulau Morotai, yaitu melayani 2281 pelanggan di 11
desa terlayanai di Kecamatan Morotai Selatan, dan untuk Kecamatan Morotai utara
dan Morotai Selatan Barat dulu sudah ada namun dalam proses perbaikan.
PDAM memiliki
sumber air baku dari air terjun SP2 Nakamura dan sumur bor. Sumber air baku
pada air terjun SP2 Nakamura memiliki debit 30 lt/detik dan keruh pada musim
penghujan. Sumber air pada sumur bor (3 titik) memang berkapur hingga saat ini
masih terkendala teknologi.
Peran PDAM untuk
pengembangan pariwisata, bergantung dari permintaan pemda, yang kemudian PDAM
merencanakan dan membangun, kemudian pengelolaan kembali ke Pemda.
Air bersih
dikawasan wisata Pulau Dodola sudah ada IPA, namun kualitas dan kuantitasnya
belum memenuhi saat musim wisatawan (bau, berasa, keruh, dan debit air kecil),
jadi saat wisatawan banyak datang, banyak mengantri untuk air.
Untuk air minum,
masyarakat banyak menggunakan air depot, namun sebagian belum teruji
kualitasnya. Terdapat 15 depot air minum, 13 depot memenuhi syarat fisik, namun
belum teruji untuk kandungannya. Krisis air bersih di
Kecamatan Morotai Selatan berada di desa Piloho, Pandanga, dan Juanga.
Terkait sanitasi,
sudah dibentuk Pokja Sanitasi di SKPD Kabupaten Pulau Morotai.
Tingkat BABs
mencapai 57%, yang langsung ke laut, masih terkendala dengan kurangnya
kesadaran dan kebiasaan masyarakat. Sebagian masyarakat di Daruba (pusat
kabupaten Pulau Morotai) juga hanya menggunakan WC gantung di rawa-rawa, atau
langsung kelaut.
Belum semua
masyarakat memiliki WC. Fasilitas WC Umum ada di Kecamatan Morotai Selatan
sebanyak 5 buah, dan di Dodola ada 3 Buah (bantuan APBN).
Saluran pembuangan septictank masyarakat sudah ada namun langsung dibuang mengendap ke bawah dan
pengelolaannya belum layak.
Sampah merupakan
salah satu permasalahan pada pengelolaan pariwisata di Morotai. Pola kebiasaan
masyarakat membuang sampah sembarangan masih belum dapat dirubah. Fasilitas
yang ada tidak digunakan bahkan dirusak.