Telaah Buku (Book
Review)
DATA BUKU
·
Judul: Cities and Climate Change (Global
Report on Human Settlements 2011)
·
Penulis: Mangiza, NDM, dkk.
·
Penerbit: United Nations Human Settlements Programme (UN-Habitat)
·
Cetakan: I, 2011
·
Tebal: xvii + 279 halaman
·
ISBN: 978-1-84971-371-9
Buku Cities and Climate Change yang disusun UN- Habitat
menjelaskan tiga hal utama terkait pembangunan wilayah perkotaan dan peristiwa
perubahan iklim, yaitu Kontribusi Kota terhadap Perubahan Iklim, Dampak
Perubahan Iklim pada Kota-kota dan Bagaimana Kota-kota Bermitigasi dan
Beradaptasi terhadap Perubahan Iklim. Untuk memastikan keberhasilan pembangunan
kota, perlu menempatkan strategi pembangunan yang tanggap perubahan iklim pada
semua tahap pengelolaan kota. Diperlukan upaya yang terencana dari pemangku
kepentingan di kota untuk memitigasi emisi GRK. Sebagai langkah awal, dapat dan
perlu dilakukan penyadaran pada semua lapisan (institusi, komunitas dan
lembaga) pemangku kepentingan, tentang adanya fenomena perubahan iklim dan
dampak yang menyertai.
Kata
kunci : kota,
kontribusi, dampak, perubahan
iklim
1.
Pendahuluan
Kota secara sosial
(Arifianto, Eko. 2008), dapat dilihat sebagai sebuah komunitas yang diciptakan
untuk meningkatkan produktivitas. Kondisi ini dicapai dengan adanya konsentrasi
dan spesialisasi tenaga kerja dan kekayaan intelektual, budaya, kegiatan
rekreatif. Kota menyediakan kebutuhan dan pelayanan yang dibutuhkan
penduduknya. Kota juga merupakan pusat konsentrasi penduduk. Tingkat
pertumbuhan fenomenal (Sherbinin, 2007)
sebagian kota besar, negara berpenghasilan rendah dialami dari tahun
1960 sampai 1980-an. Peristiwa –peristiwa bencana terkini mengungkapkan
kerentanan daerah perkotaan dengan ancaman perubahan iklim. Kenyataannya banyak
orang tinggal di kota-kota besar, termasuk di dekat garis pantai, dan bahwa
kota-kota terus mengalami pertumbuhan.
Akselerasi urbanisasi
merupakan kecenderungan yang penting pada isu permukiman perkotaan, terutama
terkait dengan dampak paparan dan kerentanan peristiwa ekstrim. Urbanisasi yang
cepat dan tidak terencana dapat memperburuk kerentanan terhadap risiko bencana
(Sánchez Rodríguez-dkk., 2005 dalam IPCC, 2012). Perubahan iklim merupakan
fungsi dari tiga fenomena yaitu cuaca ekstrim, iklim ekstrim dan perubahan
iklim itu sendiri. Kejadian ini yang kemudian berinteraksi dengan masyarakat
yang terutama berkonsentrasi di dalam entitas kota yang menyebabkan munculnya
tantangan perubahan iklim. Penelitian (IPCC, 2012) menemukan penyebab dampak
dan bencana perubahan iklim adalah hasil dari interaksi, faktor iklim dan
manusia serta faktor non iklim. Dampak tingkat keparahan perubahan iklim juga
terkait dengan faktor paparan yaitu keberadaan manusia, mata pencaharian, jasa
lingkungan dan sumber daya, infrastruktur, atau ekonomi, sosial, dan budaya
terkait aset di tempat-tempat terpengaruh, faktor lain terkait dengan
kerentanan yaitu kecenderungan untuk terpengaruh perubahan iklim.
Buku Cities and Climate Change (Global
Report on Human Settlements 2011) mengulas dampak dari urbanisasi dan
perubahan iklim secara konvergen, mengkaji ancaman lingkungan, stabilitas
ekonomi dan sosial. Buku ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan, terutama
bagi pemerintah dan semua pihak yang tertarik dalam pembangunan perkotaan dan
perubahan iklim, terkait kontribusi kota terhadap perubahan iklim, dampak
perubahan iklim pada kota, dan upaya kota melakukan mitigasi dan adaptasi
perubahan iklim.
2.
Metode Penelitian
Kajian literatur (Chariri, A. 2009.) adalah langkah
penting dalam penelitian kualitatif. Kajian literatur dilakukan untuk
memastikan kesesuaian teori yang dipakai untuk menjelaskan fenomena, selain itu
dapat menjadi penunjuk keterkaitan penelitian dengan penelitian terdahulu.
Teori yang didapat dari kajian literatur digunakan sebagai kacamata dalam
memaknai fenomena yang dihadapi.
Kajian literatur terkait pembangunan
perkotaan untuk dapat melihat fenomena perubahan iklim, sesuai dengan ilmu
normatif dan pengalaman empiris kota-kota di dunia, sehingga dapat dimanfaatkan
dalam konteks lokal.
Pentingnya melakukan kajian literatur
(Neumen 2003 dalam Chariri, A. 2009) antara lain sebagai berikut:
·
Menunjukkan pemahaman tentang pengetahuan
yang dimiliki dan kredibilitas peneliti.
Kajian literatur menjelaskan apa yang telah diketahui peneliti di
bidang pengetahuan yang sedang diteliti serta kompetensi, kemampuan dan latar
belakang peneliti.
·
Menunjukkan keterkaitan
penelitian dengan penelitian sebelumnya. Kajian literatur dapat
mengarahkan peneliti pada pertanyaan penelitian yang
paling tepat dan menunjukkan perkembangan pengetahuan.
·
Menciptakan koherensi dan menunjukkan
apa yang sudah dan belum diketahui. Kajian pustaka dapat dilakukan dengan mengelompokkan
dan mensintesiskan hasil-hasil penelitian yang berbeda.
·
Belajar dari pihak lain dan memunculkan ide baru.
Kajian pustaka dapat menjelaskan hal yang telah ditemukan, sehingga peneliti mendapat
manfaat dari apa yang telah dilaksanakan sebelumnya.
Analisis
data yang dilakukan dalam kajian literatur terkait dengan data dan informasi
yang dikumpulkan, dengan memilah dan mensintesa kembali data yang telah
divalidasi, sesuai dengan peubah peubah yang akan dianalisis, dan kemudian
interpretasi data.
3. Hasil dan Pembahasan
a. Kontribusi Kota terhadap Perubahan Iklim
Adanya
peningkatan urbanisasi, menjadikan perlunya memahami dampak perubahan iklim
terhadap lingkungan perkotaan. Lavell (1996) dalam IPCC, 2012 mengidentifikasi
delapan konteks kondisi kota yang dapat meningkatkan atau berkontribusi
terhadap risiko bencana dan kerentanan perubahan iklim:
1. Sinergitas sifat dan kebergantungan
bagian-bagian kota
2. Kurangnya redundansi dalam fungsi transportasi,
energi, dan sistem drainase
3. Konsentrasi fungsi wilayah kunci dan kepadatan
bangunan serta populasi
4. Penempatan lokasi yang tidak tepat
5. segregasi sosial-spasial
6. Degradasi lingkungan
7. Kurangnya koordinasi kelembagaan
8. Kontradiksi fungsi kota sebagai suatu sistem
yang berfungsi terpadu dan batas administrasi yang menghambat koordinasi

Nilai
ini, jika menggunakan metode berbasis konsumsi akan bernilai setinggi 60-70%.
Metode berbasis konsusmsi dihitung dengan menjumlahkan emisi gas rumah kaca
yang dihasilkan dari produksi semua barang yang dikonsumsi oleh penduduk
perkotaan, dengan tidak memperhatikan lokasi geografis produksi.
Sumber
utama emisi GRK dari perkotaan terkait dengan konsumsi bahan bakar fosil, termasuk
pasokan energi untuk pembangkit listrik (batubara, gas dan minyak bumi),
transportasi, penggunaan energi pada bangunan komersial dan perumahan (penerangan,
memasak, ruang pemanasan, dan pendinginan), produksi industri, dan limbah (gambar
2).
Emisi di perkotaan belum dapat diukur dengan akurat, karena tidak
ada metode yang diterima secara global untuk menentukan besarannya. Ukuran
emisi GRK untuk kota ditentukan oleh ukuran kota, pertumbuhan, struktur dan
kepadatan populasi. Sebagian besar kota-kota di dunia belum melakukan
inventarisasi emisi GRK.
Pemanasan udara di atmosfer dan wilayah lautan akibat GRK, sebagai
akibat dari aktivitas manusia telah diamati selama beberapa dekade. Penelitian
terkait perubahan iklim telah dapat memberikan penjelasan hubungan antara
pemanasan global dan perubahan siklus air di bumi. Pemanasan global telah
menyebabkan perubahan frekuensi dan intensitas curah hujan, aktivitas angin
siklon, pencairan es dan kenaikan permukaan laut.
Perubahan fisik, dan tanggapan terkait ekosistem dan ekonomi,
memiliki implikasi pada kota-kota di seluruh dunia. Kenaikan suhu menyebabkan
frekuensi pemanasan ekstrim semakin meningkat dengan pertumbuhan populasi,
mengakibatkan pertambahan kebutuhan akan air, beberapa tempat di dunia menjadi
lebih kering
dalam beberapa musim, jika pola ini berlanjut, keterbatasan sumber air akan
semakin parah.
b. Dampak Perubahan Iklim pada Kota-kota
Perubahan iklim merupakan tantangan untuk wilayah
perkotaan dan populasi yang diam di dalamnya. Dampak perubahan iklim di wilayah
perkotaan yaitu: kota-kota memiliki suhu yang lebih hangat dan lebih sering mengalami
siang dan malam yang panas di banyak wilayah; sedikit hari dan malam yang
dingin; peningkatan frekuensi angin/ gelombang; peningkatan frekuensi kejadian
hujan deras di beberapa wilayah; penambahan daerah yang terkena bencana kekeringan;
peningkatan aktivitas badai tropis yang intens, dan peningkatan insiden kenaikan
permukaan air laut tinggi ekstrim.
Dampak perubahan iklim, di beberapa kota juga
ditambah dengan masalah penyediaan sarana- prasarana dasar penghuninya.
Perubahan iklim juga dapat mempengaruhi kondisi ketersediaan air, infrastruktur
fisik, transportasi, permintamaan dan penawaran barang dan jasa, penyediaan
energi dan produksi industri. Dampak perubahan iklim akan mengganggu potensi
ekonomi lokal. Beberapa penduduk dapat kehilangan aset dan mata pencaharian. Dampak
perubahan iklim sangat dirasakan di wilayah pesisir atau yang memiliki elevasi
rendah. Terdapat 13% dari penduduk perkotaan dunia tinggal di wilayah ini.
Penelitian (IPCC, 2012) juga menemukan bahwa
peristiwa ekstrim akan memiliki dampak yang lebih besar pada sektor-sektor berkaitan
dengan unsur iklim, seperti air, pertanian dan sektor pangan, kehutanan,
kesehatan, dan pariwisata. Perubahan iklim memiliki potensi mempengaruhi sistem
pengelolaan air. Namun demikian, perubahan iklim bukan satu-satunya faktor perubah
masa depan. Iklim ekstrem juga terkait dengan pengelolaan infrastruktur.
Resiko perubahan iklim, terkait kerentanan
dan kapasitas adaptasi dapat beragam, yang memiliki fenomena atau sifat yang
dapat dijelaskan sebagai berikut. Dampak perubahan iklim berupa efek samping di
berbagai sektor kehidupan kota. Perubahan iklim tidak memiliki pengaruh yang
sama pada karakteristik manusia, yang berbeda menurut: jenis kelamin, usia, ras
dan kepemilikan, hal ini berdampak pada kerentanan individu dan kelompok. Kegagalan
perencanaan fungsi zonasi kewilayahan dan penataan standar bangunan dapat
membatasi kemampuan adaptasi berbasis infrastruktur dan meningkatkan resiko tempat
tinggal. Dampak perubahan iklim dapat
bertahan lama dan dapat bersifat menyebar.
Wilayah perkotaan dapat menambah atau
mengurangi dampak bahaya perubahan iklim (misalnya bencana banjir), sesuai
riwayat sosial dan lingkungan mereka. Populasi dapat menjadi rentan terhadap
cuaca ekstrim dan potensi bencana. Bahaya iklim seperti gelombang panas dapat diperparah
oleh peristiwa bencana lain, seperti polusi udara dan pemanasan perkotaan.
Dampak perubahan iklim seringkali merugikan
bagi kaum perempuan. Perempuan di beberapa wilayah memerlukan ijin dari suami
mereka, bahkan untuk kebutuhan evakuasi. Anak-anak juga memiliki resiko terkena
dampak merugikan dari perubahan iklim. Hal ini terkait dengan masa pertumbuhan
dan perkembangan anak yang mungkin terganggu oleh peristiwa cuaca buruk dan
bahaya iklim. Kejadian seperti kenaikan suhu, gelombang panas, hujan deras,
kekeringan dapat berpengaruh pada perkembangan organ, sistem saraf, pengalaman,
perilaku dan karakteristik anak.
Resiko bagi kaum perempuan dan anak-anak
dapat meningkat oleh karena kondisi kemiskinan ekonomi. Kaum lanjut usia juga
memiliki resiko yang lebih tinggi, dibandingkan dengan yang berusia kebih muda.
Gelombang panas (misalnya di Chicago (1995) dan Eropa (2003)) menjadi contoh
kematian kaum lanjut usia akibat perubahan iklim. Kaum lanjut usia juga
terbatas dalam hal mobilitas, misalnya dalam menghadapi bahaya banjir. Kaum
perempuan (anak maupun lanjut usia) menjadi kelompok yang paling rentan dampak
perubahan iklim.
c. Bagaimana Kota-kota Bermitigasi dan Beradaptasi
terhadap Perubahan Iklim
(Wlash et
al, 2011) mengemukakan respon kota mengatasi perubahan iklim
terbagi dalam dua kategori:
terbagi dalam dua kategori:
·
Mitigasi untuk mengurangi emisi GRK dan memperbanyak proses (alami
atau buatan) yang dapat menghilangkan GRK emisi dari atmosfer.
·
Adaptasi untuk mengurangi dampak perubahan yang berbahaya dan
mengoptimalkan pembangunan yang memiliki potensi menguntungkan.
mengoptimalkan pembangunan yang memiliki potensi menguntungkan.
Untuk melaksanakannya diperlukan manajemen
yang efektif untuk lingkungan perkotaan kita. Respon terpadu untuk tantangan
perkotaan sangat penting. Metode fasilitasi dan informasi yang terintegrasi
dapat membantu desain
ini tanggapan terpadu dari tiap tataran, mulai dari global sampai lokal.
ini tanggapan terpadu dari tiap tataran, mulai dari global sampai lokal.
Aksi lokal diperlukan untuk mewujudkan
komitmen nasional terkait perubahan iklim, yang sudah disepakati melalui forum internasional.
Permasalahannya adalah, sebagian besar mekanisme aksi perubahan iklim
internasional ditujukan terutama untuk pemerintah secara nasional, dan tidak menjelaskan
proses bagi peran pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lannya dalam
berkontribusi. Pada kenyataannya diperlukan sinergi dari semua pemangku
kepentingan untuk menjamin kepentingan secara global.
Aksi perubahan iklim di perkotaan dapat
dilakukan dengan pertimbangan bahwa tidak ditemukan adanya upaya mitigasi dan
kebijakan adaptasi tunggal yang sesuai untuk semua jenis kota. Diperlukan
pendekatan manajemen risiko dalam perspektif pembangunan kota berkelanjutan, terkait
dengan munculnya emisi GRK, resiko iklim dan pertimbangan kondisi sosial
ekonomi ke depan. Kebijakan pembangunan perkotaan harus dapat mengutamakan
adanya sinergi dan memberikan manfaat yang terbaik menanggapi perubahan iklim.
Kebijakan terkait perubahan iklim (gambar 3) harus dapat mengatasi dampak jangka
pendek dan jangka panjang. Kebijakan harus dapat mendukung aksi di berbagai lapisan
dan sektor.
Peran masyarakat global, terkait upaya perkotaan
dalam mitigasi dan adaptasi dapat berupa: penyediaan sumber daya keuangan yang
dapat diakses langsung oleh pemangku kepentingan lokal, perlunya penyederhanaan birokrasi sehingga
pemangku kepentingan lokal dapat mengakses dukungan internasional, penyediaan informasi
tentang pengetahuan dan pilihan mitigasi dan adaptasi.
Di
tingkat nasional, pemerintah nasional dapat membuat mekanisme yang memungkinkan
tindakan mitigasi dan adaptasi di tingkat lokal seperti: melibatkan pemangku
kepentingan lokal dalam perencanaan dan pelaksanaan strategi mitigasi dan adaptasi;
strategi insentif untuk investasi sumber energi alternatif dan penghematan
energi, mendorong pembangunan tanggap perubahan iklim, meningkatkan koordinasi
dan perampingan antara entitas sektoral dan administratif, mengembangkan
kemitraan dengan aktor-aktor non-pemerintah, dan mengantisipasi kemungkinan dampak
perubahan iklim yang lebih besar.
Pada tataran lokal, kebijakan perkotaan harus
dimulai dari kesadaran, inisiatif, preferensi dan pengetahuan lokal dalam
pembangunan daerah yang berbasis kebutuhan, pilihan, realitas dan potensi lokal
untuk inovasi. Pemerintah kota seharusnya dapat mengembangkan visi untuk pembangunan
yang tanggap perubahan iklim. Memiliki ruang partisipasi dan keterwakilan
sektor swasta, masyarakat (miskin dan akar rumput) untuk memastikan perspektif
yang luas dari pembangunan. Menggunakan pendekatan inklusif, dalam melakukan
penilaian kerentanan untuk mengidentifikasi dan mitigasi risiko rencana
pembangunan perkotaan.
4.
Kesimpulan
Kota sebagai sebuah entitas wilayah memiliki
kontribusi pada peningkatan emisi GRK. Dampak perubahan iklim juga dirasakan di
banyak kota di belahan dunia. Untuk memastikan keberhasilan pembangunan kota,
perlu menempatkan strategi pembangunan yang tanggap perubahan iklim pada semua
tahap pengelolaan kota. Lembaga internasional, nasional maupun lokal memiliki
peran dan tanggungjawab terkait mitigasi dan upaya adaptasi terhadap perubahan
iklim.
5.
Saran
Diperlukan upaya yang terencana dari pemangku
kepentingan di kota untuk memitigasi emisi GRK. Sebagai langkah awal, dapat dan
perlu dilakukan penyadaran pada semua lapisan (institusi, komunitas dan
lembaga) pemangku kepentingan, tentang adanya fenomena perubahan iklim dan
dampak yang menyertai.
7.
Daftar Pustaka
Arifianto Eko, 2008, Mengukur
Kinerja Kota di Indonesia Dengan Pendekatan City Development Index
(CDI): Kajian Studi Pada 32 Kota di Pulau Jawa, Universitas Indonesia, Jakarta
Chariri,
A. 2009. “Landasan
Filsafat dan Metode Penelitian Kualitatif”,
Workshop Metodologi Penelitian Kuantitatif dan
Kualitatif, Laboratorium Pengembangan Akuntansi
(LPA), Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang
IPCC, 2012: Summary for Policymakers. In: Managing the
Risks of Extreme Events and Disasters to Advance Climate Change Adaptation
[Field, C.B., V. Barros, T.F. Stocker, D. Qin, D.J. Dokken, K.L. Ebi, M.D.
Mastrandrea, K.J. Mach, G.-K. Plattner, S.K. Allen, M. Tignor, and P.M. Midgley
(eds.)]. A Special Report of Working Groups I and II of the Intergovernmental
Panel on Climate Change. Cambridge University Press, Cambridge, UK, and New
York, NY, USA, pp. 3-21.
Sherbinin Alex, dkk. 2007,
Vulnerability of Global Cities to Climate
Hazards, International Institute for Environment and Development (IIED). Vol
19(1): 39–64. DOI: 10.1177/0956247807076725 www.sagepublications.com
Walsh et al, 2011. Assessment of climate change mitigation and adaptation in cities Proceedings of the
Institution of Civil Engineers Urban Design and Planning 164 June 2011 Issue
DP2Pages 75–84 doi: 10.1680/udap.2011.164.2.75.
__, Pedoman Karya
Tulis Ilmiah, Peraturan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Nomor
04/E/2012