Wednesday, 24 November 2010

PREFERENSI WISATAWAN TERHADAP PARIWISATA BUDAYA ARSITEKTUR KRATON YOGYAKARTA

Yudha P. Heston1, DR. Ir. Arya Ronald2, Diananta P., ST, MSc. PhD3
Program Studi Teknik Arsitektur
Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada
ABSTRACT
Tourist preference represent the internal shares from individual person of human being. Preference representing important factor in decision making of tourism journey before and at moment reside in the location of tourism. Tourism experience in environment of Kraton Yogyakarta which depend on human character, not yet a lot of providing activity which can on the market to can be conducted by tourist. Cultural properties and architecture of planology of Kraton Yogyakarta which hence symbol and meaning need to earn be under arrest its existence meaning, newly limited to just by visible or looked into it. Though as a residence of king Kraton can be developed as a tourism which generating a circumstantial impression and confession of existence supremacy of empire. This research try to find out tourist preferences and appreciation to cultural properties, architecture and planology of Kraton Yogyakarta specially and empire tourism generally as development potency. Finding form model the activity of empire tourism which can fulfill the tourist expectation. Give the recommendation for development of Kraton Yogyakarta Tourism. Research conducted by focussed to tourist evaluated from preferences and behavioral to cultural properties, architecture and planology of Kraton Yogyakarta, and also related parties of tourism activity. Research conducted with the approach fenomelogi by using serial photo and interview. Variable weared by is going together behavior, preferences, cultural, architecture and planology and also tourism sociology. Analyse the result weared to use the approach of operational and dialiktik. Result from research in the form of cultural properties development aspect and artistry entangle the tourist majoring atmosphere of tourist emotion of past, feel the togetherness and familiarity, management of animal and vegetation, elementary requirement supporter facility of tourist, integration of schedule of activity and celebration, management of product marketing wisata, management of Guide and management of tourist current.
Keyword : behavioral, preference, cultural, architecture and planology and also tourism sociology
1Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Arsitektur, Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
2Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Arsitektur, Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
3Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Arsitektur, Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
1. Latarbelakang Penelitian
Adanya kegiatan Pariwisata di Kraton Yogyakarta mampu mendatangkan jumlah wisatawan yang tidak sedikit. Keuntungan dari kegiatan Pariwisata akibat datangnya wisatawan dari berbagai daerah di dalam dan luar negeri dapat dirasakan pengelola kegiatan Pariwisata Kraton Yogyakarta. Kraton Yogyakarta yang menyimpan banyak nilai – nilai budaya dan arsitektur memiliki kekuatan yang menyebabkan berdatangannya para wisatawan tersebut.
Penelitian dilakukan dengan premis dasar bahwa perancangan arsitektur ditujukan untuk manusia. Maka untuk mendapatkan perancangan yang baik arsitek perlu mengerti apa yang menjadi kebutuhan manusia. Atau dengan perkataan lain, arsitek perlu mengerti perihal perilaku manusia dalam arti luas (Laurens, 2004).
Kehidupan bangsawan dan tempat tinggal yang mereka diami serta kerabat dan abdi mereka merupakan suatu hal yang menarik bagi orang awam. Garis kehidupan maupun tuntutan untuk lebih unggul dari orang kebanyakan membuat kaum bangsawan mendapatkan tempat kedudukan yang tidak sama dengan kaum awam biasa.
Kraton Yogyakarta telah menjadi satu dari berbagai atraksi primer dalam dunia pariwisata kawasan Yogyakarta. Keberadaan Kraton sebagai Obyek dan Daya Tarik Wisata telah menarik perhatian wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Keberadaan Kraton terhadap struktur kota terutama pada awal terbentuknya kota hingga saat ini dirasakan sangat penting. Sehingga sektor pariwisatapun turut merasakan dampak keberadaan Kraton yang penting tersebut.
Wisatawan datang ke destinasi wisata dengan sebuah ekspektasi tertentu. Motivasi-motivasi yang melatarbelakangi kedatangannya ke destinasi wisata adalah hal yang memunculkan ekspektasi tersebut.
Perwujudan dari ekspektasi tersebut salah satunya dapat ditemukenali dari perilaku meruang sementara berada di lokasi destinasi wisata. Respon yang terjadi dari kepuasan atau ketidakpuasan wisatawan menjadi satu hal yang perlu untuk diteliti. Karena adanya pengakuan wisatawan akan kemampuan atrasksi wisata memenuhi ekspektasi merupakan nilai penting kegiatan pariwisata.
2. Masalah
Pengalaman berwisata di dalam lingkungan Kraton Yogyakarta yang sifatnya subyektif, belum banyak menyediakan kegiatan yang dapat ditawarkan untuk dapat dilakukan oleh wisatawan (kurang something to do), kekayaan budaya dan arsitektur tata ruang Kraton Yogyakarta yang memakai simbol dan pemaknaan perlu untuk dapat ditangkap arti keberadaannya, baru sebatas dapat dilihat atau dipandang saja (something to see). Pengaturan
alur kunjung wisatawan merupakan salah satu bagian yang masih lemah karena perhatian pengunjung yang monoton dan belum merata. Padahal sebagai sebuah tempat tinggal raja Kraton dapat dikembangkan sebagai sebuah wisata yang menimbulkan sebuah kesan mendalam dan pengakuan akan keagungan keberadaan kerajaan. Meskipun Kraton Yogyakarta tidak lagi berfungsi sebagai pusat pemerintahan yang sedikit banyak menimbulkan adanya degradasi wibawa keraton.
3. Tujuan
a. Menemukan preferensi dan penghargaan wisatawan terhadap kekayaan budaya, arsitektur dan tata ruang Kraton Yogyakarta khususnya dan pariwisata keraton pada umumnya sebagai potensi pengembangan.
b. Menemukan bentuk model kegiatan berwisata keraton yang dapat memenuhi ekspektasi wisatawan.
c. Memberi rekomendasi pengembangan Pariwisata Kraton Yogyakarta.
4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan masukan konstruktif terutama bagi manajemen pengelola dan juga pihak yang peduli terhadap keberadaan dan pengembangan Pariwisata Kraton Yogyakarta.
5. Kajian Pustaka
Ruang dimana manusia beraktivitas menjadi sebuah tempat yang memiliki pemaknaan tertentu. Dalam pencarian kebenaraan preferensi wisatawan terhadap pariwisata budaya arsitektur Kraton Yogyakarta, hal yang perlu untuk lebih diperhatikan adalah mengenai aspek perilaku manusia terutama karena preferensi mendominasi munculnya perilaku. Terutama ketika manusia berinteraksi dengan ruang dan benda di lokasi, manusia yang lain dan juga potensi sosial budaya di lokasi. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pendekatan penelitian mengenai pariwisata yang secara khusus bertema kebudayaan. Dan pengetahuan mengenai Pariwisata Kraton Yogyakarta.
a. Pendekatan Penelitian Pariwisata dan Kebudayaan
Preferensi wisatawan merupakan bagian dari proses pengambilan keputusan untuk berwisata. Menurut model yang dikembangkan (Schmoll,1977) dapat dilihat hubungan preferensi dan faktor yang mempengaruhinya.
Tabel Pengambilan Keputusan Berwisata
Iklan dan promosi
Literatur perjalanan
Perkataan wisatawan yang lain
Rekomendasi biro perdagangan wisata
Status sosial ekonomi
Corak individu
Pengaruh dan aspirasi sosial
Perilaku dan nilai
Motivasi
Preferensi/kebutuhan
Harapan
Preferensi berwisata
Pencarian informasi
Penerimaan/ pembandingan alternatif wisata
Keputusan
Kepercayaan terhadap intermediari
Image destinasi/ servis
Pengalaman berwisata
Penghitungan resiko
Relasi biaya/ nilai
Kualitas/ kuantitas informasi it
Tawaran atraksi/ amenitas
Tipe tawaran paket wisata
Kisaran kesempatan wisata
Karakteristik dan Corak dari Destinasi
Hambatan waktu dan biaya
Rangsangan bewisata
Pengaruh Pribadi dan Sosial dari Perilaku Wisata
Faktor Eksternal
Dalam Model yang dikembangkan oleh Schmoll (1977) dapat terlihat bahwa ada empat bidang yang menjadi pengaruh dalam pengambilan keputusan berwisata.
Bidang itu adalah:
o Rangsangan berwisata
Meliputi faktor rangsangan berwisata eksternal. Dengan bentuk komunikasi promosi, rekomendasi pribadi dan pelaku wisata.
o Pengaruh Pribadi dan Sosial dari Perilaku Wisata
Merupakan hal – hal yang menentukan tujuan konsumen dalam bentuk kebutuhan dan preferensi dari wisata, ekspektasi dan resiko obyektif dan subyektif yang berkaitan dengan wisata.
o Faktor Eksternal
Merupakan prospektif kepercayaan wisatawan dalam penyedia jasa, image destinasi, pengalaman pembelajaran dan biaya dan waktu.
o Karakteristik dan Corak dari Destinasi
Terdiri dari karakteristik yang berkaitan dengan destinasi atau jasa yang mempunyai hubungan tegas dengan pengambilan keputusan dan manfaat yang didapat.
Dalam tabel dapat dilihat bahwa preferensi, motivasi dan harapan dipengaruhi oleh status sosial – ekonomi, corak individu, pengaruh dan aspirasi sosial serta perilaku dan nilai.
Penelitian mengenai sosiologi pariwisata menurut buku Sosiologi Pariwisata (Pitana, 2005) menyebutkan beberapa hal berkaitan dengan penelitian pariwisata antara lain juga mengungkapkan ciri – ciri sosiologis Pariwisata (John Urry, 1990):
o Pariwisata adalah aktivitas bersantai atau aktivitas waktu luang. Bukan sebuah kewajiban
o Hubungan – hubungan pariwisata terjadi karena adanya pergerakan manusia. Pergerakan bersifat sementara.
o Dilihat dari sisi wisatawan, pariwisata adalah aktivitas yang dilakukan pada tempat dan waktu yang “tidak normal’ sementara
o Tempat dan atraksi adalah tempat dan atau peristiwa yang tidak langsung berhubungan dengan pekerjaan dan penghidupan wisatawan
o Banyak dari proporsi penduduk masyarakat modern terlibat dalam kegiatan pariwisata, yang kemudian menjadi wahana sosialisasi
o Destinasi wisata yang dikunjungi acapkali dipilih berdasarkan khayalan atau fantasi, atau karena citra (image) destinasi yang bersangkutan
o Perjalanan wisata adalah sesuatu yang bersifat ‘tidak biasa’
o Peranan simbol dan penanda (signs) sangat besar di dalam keberhasilan sebuah destinasi wisata
o Setiap destinasi wisata selalu mengalami pembaharuan dan penambahan produk – produk baru.
Ahli sosiologi pariwisata merumuskan motivasi wisatawan McIntosh (1977) dan murphy (1985) cf.Sharpley (1994) bahwa motivasi – motivasi tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok besar sebagai berikut:
o Motivasi yang bersifat fisik atau fisiologis antara lain untuk relaksasi, kesehatan, kenyamanan, berpartisipasi dalam kegiatan olah raga, bersantai dan sebagainya.
o Motivasi budaya, yaitu keinginan untuk mengetahui budaya, adat, tradisi dan kesenian daerah lain. termasuk juga ketertarikan akan berbagai objek tinggalan budaya.
o Motivasi yang bersifat sosial, seperti mengunjungi teman dan keluarga, menemui mitra kerja, melakukan hal – hal yang dianggap mendatangkan gengsi, melakukan ziarah, pelarian dari situasi – situasi yang membosankan, dan seterusnya.
o Motivasi karena fantasi, yaitu adanya fantasi bahwa di daerah lain seseorang akan bisa lepas dari rutinitas keseharian yang menjemukan dan mencari kepuasan psikologis.
Manfaat dari perjalanan wisata (Krippendorf, 1997: 39-42) dapat dirumuskan sebagai
o Perjalanan wisata merupakan wahana penyegaran dan regenarasi fisik dan mental.
o Perjalanan wisata merupakan kompensasi terhadap berbagai hal yang melelahkan, sekaligus juga berfungsi sebagai wahana integrasi sosial bagi mereka yang dirumahnya merasa teralienasi.
o Perjalanan wisata merupakan ‘pelarian’ dari situasi keseharian yang penuh ketegangan, rutinitas yang menjemukan, atau kejenuhan – kejenuhan karena beban kerja.
o Perjalanan wisata merupakan mekanisme bagi seseorang untuk dapat mengeluarkan perasaannya, melalui komunikasi dengan orang lain, termasuk dengan masyarakat lokal.
o Perjalanan wisata merupakan wahana untuk mengembangkan wawasan.
o Perjalanan wisata merupakan wahana untuk mendapatkan kebebasan dengan berbagai secular ritual, ataupun dengan berbagai ‘inversi’ yang dapat dilakukan.
o Perjalanan wisata merupakan wahana untuk realisasi diri.
o Perjalanan wisata memang merupakan sesuatu yang menyenangkan, membuat hidup lebih bahagia.
Terdapat beberapa faktor pendorong kegiatan wisata (Ryan, 1991)
o Pemenuhan keinginan
o Belanja
o Keinginan keluar dari kerutinan dan kejenuhan
o Memperoleh suasana santai
o Kesempatan untuk bermain
o Memperkuat suasana kekeluargaan
o Prestise
o Interaksi sosial
o Menambah pengetahuan
Sedangkan cara mendapatkan informasi pariwisata (Ryan, 1991)
o Teman – teman / keluarga
o Majalah/ suratkabar
o Perusahaan penerbangan / pelayaran
o Perusahaan perjalanan / pemimpin perjalanan
o Buku – buku pemandu wisata/brosur
o KBRI/konsulat
o Radio/TV/video
o Internet
o lainnya
Wisatawan mempunyai tiga hal yang dapat diungkapkan setelah melakukan kunjungan wisata ke obyek wisata :
o Lebih baik dari yang diharapkan
o Sesuai dengan yang diharapkan
o Lebih buruk dari yang diharapkan
Wisatawan juga memiliki kesan terhadap aspek – aspek (Ryan, 1991) yaitu:
o Alam
o Daya tarik kebudayaan
o Upacara adat
o Penduduk yang ramah
o Aman dan nyaman bagi wisatawan
b. Manusia dan Perilaku
Pandangan mengenai perilaku aktivitas manusia yang berkaitan dengan ruang dalam buku Arsitektur dan Perilaku, (Laurens, 2004) mengutip pandangan seorang arsitek lansekap, yang mengatakan bahwa perancangan umumnya lebih menekankan pentingnya penataan akivitas activity setting. Sementara itu, pemakai lebih mempertimbangkan siapa saja orang yang memakai fasilitas itu, atau dengan siapa mereka akan bersosialisasi dalam penggunaan fasilitas itu. Jadi, terlihat di sini adanya perbedaan prioritas pemenuhan kebutuhan dasar. (Randy Hester dalam Laurens, 2004).
Dari pandangan Randy Hester tersebut, jika diperbandingkan dengan kondisi obyek studi yaitu Kraton Yogyakarta maka akan ditemukan bahwa perancang dalam hal ini penguasa atau raja, akan lebih memperhatikan kebutuhan – kebutuhan apa saja yang akan diwadahi dalam ruang yang ia ciptakan. Sedangkan pemakai baik itu raja sendiri, pegawai – pegawainya, keluarga raja, orang biasa yang dapat mengakses ke ruang – ruang yang terdapat di Kraton Yogyakarta akan lebih memperhatikan dengan siapa ia akan berinteraksi ketika berada di ruangan tersebut.
Perilaku manusia di dalam sebuah ruang telah menjadi bahan studi. Dari penelitian sebelumnya ditemukan bahwa sebagai objek studi empiris, perilaku mempunyai ciri – ciri sebagai berikut
o Perilaku itu sendiri kasatmata, tetapi penyebab terjadinya perilaku secara langsung mungkin tidak dapat diamati.
o Perilaku mengenal berbagai tingkatan, yaitu perilaku sederhana dan stereotip, seperti perilaku binatang bersel satu; perilaku kompleks seperti perilaku sosial manusia; perilaku sederhana, seperti refleks, tetapi ada juga yang melibatkan proses mental biologis yang lebih tinggi.
o Perilaku bervariasi dengan klasifikasi: kognitif, afektif dan psikomotorik, yang menunjuk pada sifat rasional, emosional, dan gerakan fisik dalam berperilaku.
o Perilaku bisa disadari dan bisa juga tidak disadari.
(Laurens, 2004)
Interaksi manusia, bagaimana ia memiliki persepsi dan preferensi serta kemudian berinteraksi dengan setting secara skematis telah dikemukakan dalam sebuah bagan Hubungan integratif Manusia dengan Lingkungannya (Gilfford, 1987)
Tabel 6. Hubungan integratif Manusia dengan Lingkungannya
. Realitas Ukuran realitas Rencana sebelum memasuki setting Hasil dalam setting Hasil setelah memasuki setting Setting Manusia Sosio Budaya S1-nM1-nSB1-nSasaran, keputusan, maksud Perilaku Kognisi dan emosi Tubuh Manusia Perilaku Kognisi dan emosi Tubuh Manusia
Bagan Hubungan integratif Manusia dengan Lingkungannya di atas menjadi satu alat dalam penelitian mengenai preferensi wisatawan terhadap pariwisata budaya arsitektur Kraton Yogyakarta. Di mana preferensi masuk ke dalam bagian rencana sebelum memasuki setting, yang dipengaruhi oleh ukuran realitas dari setting, manusia dan sosio budaya. Sedangkan pengaruhnya akan mewarnai hasil dalam setting berkaitan dengan perilaku, kognisi dan emosi juga tubuh manusia.
Sedangkan dari sudut pandang ruang terdapat pengertian bahwa arsitektur tidak seperti bidang seni lain hadir dalam realitas sehari – hari. Arsitektur adalah ruang fisik untuk aktivitas manusia, yang memungkinkan pergerakan manusia dari satu ruang ke ruang lainnya, yang menciptakan tekanan antara ruang dalam bangunan dan ruang luar. Namun, bentuk arsitektur juga ada karena persepsi dan imajinasi manusia. (Laurens, 2004). Ruang di sini dalam pariwisata Kraton Yogyakarta dapat diartikan sebagai ruang antara Kraton dan lingkungan luarnya (dalam artian makro) dan ruang di dalam lingkungan Kraton Yogyakarta itu sendiri.
Proses individual dalam melakukan aktivitas meruang meliputi hal – hal sebagai berikut (Laurens, 2004):
o Persepsi lingkungan, yaitu proses bagaimana manusia menerima informasi mengenai lingkungan sekitarnya dan bagaimana informasi mengenai ruang fisik tersebut diorganisasikan ke dalam pikiran manusia.
o Kognisi spasial, yaitu keragaman proses berpikir selanjutnya, mengorganisasikan, menyimpan, dan mengingat kembali informasi mengenai lokasi, jarak, dan tatanan dalam lingkungan fisik.
o Perilaku spasial, menunjukkan hasil yang termanifestasikan dalam tindakan dan respons seseorang, termasuk deskripsi dan preferensi personal, respon emosional, ataupun evaluasi kecenderungan perilaku yang muncul dalam interaksi manusia dengan lingkungan fisiknya.
Pengujian derajat ketergantungan ini dapat ditinjau dalam berbagai dimensi antara lain meliputi: aktivitas, penghuni, kepemimpinan, populasi, ruang, waktu, objek, mekanisme perilaku. Untuk dapat mengetahui bagaimana proses sebuah perilaku terjadi perlu dilakukan pengamatan terhadap setting perilaku. Hal yang dapat mewakili data pengamatan setting perilaku meliputi:
o Manusia (siapa yang datang, ke mana dan mengapa, siapa yang mengendalikan setting, dll)
o Karakteristik ukuran (berapa banyak orang per jam ada di dalam setting, bagaimana ukuran setting secara fisik, berapa sering dan berapa lama setting itu ada)
o Objek (ada berapa banyak objek dan apa jenis objek yang dipakai dalam setting, kemungkinan apa saja yang ada bagi stimulasi, respons dan adaptasi)
o Pola aksi (aktivitas apa yang terjadi di sana, seberapa sering terjadi pengulangan yang dilakukan orang)
Ahli yang lain yang meninjau mengenai ruang dan perilaku yaitu Amos Rapoport (1990) menjelaskan hal – hal berikut:
Aspek dari aktivitas:
o Aspek instrumental yang paling dapat dilihat dari aktivitas
o Bagaimana aktivitas dilakukan
o Hubungan dengan sistem aktivitas yang ada
o Arti, makna dan maksud dari tindakan aktivitas
Sedangkan hubungan antara aktivitas dan arsitektur dimediasi oleh budaya. Budaya sendiri lebih nyata dan dapat dilihat dari ekspresi sosial seperti keluarga, struktur kekerabatan, institusi, status, peraturan merupakan gabungan dari pandangan luas, nilai, gaya hidup dan juga aktivitas.
Arsitektur memiliki kedekatan yang sangat dengan perilaku, yang membuat aktivitas membentuk arsitektur:
o Perilaku yang bermacam menjelaskan beragam lingkungan binaan yang dibentuk untuk aktivitas
o Aktivitas dilakukan atas dasar hubungan fungsi dan arti
o Aktivitas harus dipertimbangkan sebagai suatu bagian dari sebuah rangkaian aktivitas
Amos Rapoport memiliki pandangan tersendiri mengenai bagian dari setting perilaku yaitu:
o Elemen yang permanen (bangunan, tembok dll)
o Elemen semi permanen (furniture, taman dll)
o Elemen tidak permanen (orang dan akftivitas dan perilakunya)
6. Metode Penelitian
a. Variabel Penelitian
o Perilaku
o Preferensi
o Budaya, arsitektur dan tata ruang
o Sosiologi pariwisata
b. Subyek dan Tempat Penelitian
Bahan atau materi penelitian, yang difokuskan kepada wisatawan ditinjau dari sisi preferensi dan perilaku terhadap kekayaan budaya, arsitektur dan tata ruang Kraton Yogyakarta, serta pihak terkait kegiatan pariwisata pada lokasi studi
c. Teknik Pengumpulan Data
o Menggunakan literature berkait,
o Pengamatan visual dan sensual,
�� Penggunaan foto serial atau video: untuk menangkap perilaku wisatawan pada titik strategis lokasi penelitian
�� Wawancara: untuk mendapatkan keterangan dan alasan wisatawan melakukan kegiatan pada titik strategis lokasi penelitian. (mempergunakan daftar pertanyaan dan daftar lokasi strategis wisatawan)
d. Teknik Analisis Data
Analisis hasil menggunakan pendekatan penalaran operasional dan dialiktik
7. Hasil Peneitian dan Pembahasan
a. Identifikasi dan Pengelolaan Preferensi Wisatawan
Dari hasil penelitian dapat diketemukan preferensi wisatawan yang dapat diakomodasikan dalam pengembangan dan pengelolaan wisata Kraton Yogyakarta. Preferensi berkaitan dengan keinginan wisatawan menikmati suasana santai yang ada, kegiatan bersosialisasi dengan teman perjalanan dan orang lain, menikmati peran sebagai orang yang dilayani di sebuah rumah besar, menikmati kebebasan, memiliki kenangan akan Kraton Yogyakarta, serta mendapatkan kepuasan dalam berwisata di Kraton Yogyakarta.
b. Bentuk kegiatan Wisata
Bentuk – bentuk kegiatan wisata (something to do) yang dapat diakomodasikan dalam pengembangan dan pengelolaan wisata Kraton Yogyakarta, adalah sebuah upaya pengelola Kraton Yogyakarta untuk dapat mengembangkan kegiatan pariwisata. Pengelola pariwisata dapat melakukan pengembangan kegiatan sosialisasi antar wisatawan, kegiatan menggunakan sarana alat musik tradisional, kontak manusia dengan hewan dan tanaman yang ada di lingkungan Kraton Yogyakarta, kegiatan yang menyediakan hadiah, pengembangan kegiatan yang memiliki nilai kemuliaan lokal, pengenalan akan kerabat Kraton Yogyakarta, penyediaan kegiatan untuk wisatawan khusus.
c. Bentuk Pengelolaan Atraksi
Bentuk pengelolaan atraksi budaya dan arsitektur yang dapat memenuhi harapan dari wisatawan dan memunculkan pengakuan dari keberadaan Kraton Yogyakarta terutama berkaitan dengan penataan Pemandu Wisata, tanaman dan hewan, tempat – tempat istirahat (transisi), penataan dan pengembangan Jalur wisata, informasi dan jadwal Pariwisata.
d. Kesimpulan
Kesimpulan dari analisa yang dilakukan terhadap penelitian Preferensi Wisatawan terhadap Pariwisata Budaya Arsitektur Kraton Yogyakarta, dibagi menjadi tiga bagian utama sesuai dengan alat analisis yang berkaitan dengan perilaku, kognisi dan emosi serta tubuh manusia juga sosilogi pariwisata. Kesimpulan diambil dan dibagi menjadi tiga aspek utama. Aspek
dari kesimpulan berkaitan dengan : Identifikasi dan Pengelolaan Preferensi Wisatawan, Bentuk kegiatan Wisata, Bentuk Pengelolaan Atraksi.
Preferensi Wisatawan yang muncul dapat dikembangkan di lokasi Kraton Yogyakarta berkaitan dengan menikmati suasana kenangan dan kemuliaan Kerajaan, kebebasan berekspresi dengan tanpa tekanan dalam suasana santai.
Kegiatan Wisata yang seharusnya dikembangkan di Kraton Yogyakarta adalah kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan nilai kemuliaan lokal, dengan mengedepankan tindakan aktif dari wisatawan.
Pengelolaan atraksi budaya dan arsitektur Kraton Yogyakarta perlu dilakukan untuk dapat memenuhi harapan dari wisatawan dan memunculkan pengakuan dari keberadaan Kraton Yogyakarta.
e. Rekomendasi
o Pengembangan kekayaan budaya dan kesenian melibatkan wisatawan yang mengutamakan suasana emosi wisatawan akan masa lalu, rasa kebersamaan dan kekeluargaan
• Kraton dijadikan sebagai museum aktif (living museum) dari kekayaan budaya jawa (dalam hal ini Yogyakarta), seperti misalnya permainan anak tradisional, alat – alat kesenian tradisional, busana tradisional, dengan mengikut sertakan wisatawan sebagai bagian dari atraksi.
• Pengembangan daerah taman yang asri dan penataan jalur sirkulasi sebagai bagian dari relaksasi dan sosialisasi bagi wisatawan dengan menjaga kebersihan dan kerapian area kunjung
• Pengenalan tutur kata dan bahasa Jawa bagi wisatawan yang berasal dari luar suku Jawa oleh pemandu wisata.
• Penyediaan ruang khusus pemutaraan film kehidupan Kraton, yang menggambarkan kehidupan masa lalu bangsawan Kraton sampai pada masa kini. (baik kehidupan sehari – hari maupun pada waktu penyelenggaraan upacara – upacara tertentu)
o Satwa dan Vegetasi
• Penjelasan kepada wisatawan kekayaan koleksi satwa maupun vegetasi yang menyimpan nilai dan maksud kepada wisatawan dengan memberitahukan nama ilmiah atau latin. Sehingga menimbulkan kesan yang mendalam kepada wisatawan terhadap nilai keberadaan satwa maupun vegetasi milik Kraton Yogyakarta.
• Pembutan jalur peneduh pada daerah sirkulasi wisatawan.
o Penambahan fasilitas pendukung kebutuhan dasar wisatawan
• Kerjasama pengelola Kraton dengan perusahaan air minum kemasan untuk penyediaan tempat iklan dengan timbal balik penyediaan air minum kemasan gratis 10 kardus per hari
• Penyediaan tenaga pijat kaki dan rendam kaki dengan memperlihatkan empat tiket masuk
• Pemberian stiker dan tandatangan Sultan dalam sebuah paket hadiah bagi wisatawan yang dapat menunjukkan tiga tiket dalam tiga hari yang berbeda
• Kenaikan harga tiket dari Rp.5.000,- ke Rp. 6.000,- dengan perincian Rp.200,- untuk kamar mandi gratis, Rp.200,- untuk stiker gratis, Rp.500,- untuk tenaga pemijat. Dan Rp.100,- untuk air minum gratis.
• Pengembangan daerah istirahat dengan menyediakan air kran untuk mencuci tangan dan kaki, penyediaan alas duduk, atau tempat duduk yang dapat dimanfaatkan semua wisatawan.
• Bagian tiket menyediakan tempat untuk membantu wisatawan menyimpan barang berharga atau barang yang tidak perlu dibawa berkeliling Kraton
o Integrasi jadwal kegiatan dan perayaan
• Membuat papan pengumuman atau banner yang berisikan jadwal kegiatan yang ada di lingkungan Kraton. Di jalur – jalur strategis yang dilewati wisatawan.
• Menyebarkan informasi kegiatan pariwisata Kraton ke biro – biro perjalanan
• Menyediakan pegawai khusus yang dapat memberikan fasilitas tambahan bagi penyelenggara kegiatan luar Kraton yang menggunakan Kraton sebagai salah satu lokasi kegiatan, seperti spanduk penyambutan, barang souvenir yang dibuatkan khusus bagi rombongan dan jadwal pertemuan dengan kerabat Kraton.
• Membuka kraton berdasarkan permintaan untuk jadwal keliling Kraton di malam hari sambil menikmati pertunjukan kesenian budaya. Dengan tarif masuk 3 kali lipat dibanding siang hari.
o Manajemen pemasaran produk wisata
• Penyelenggaraan lomba bagi anak – anak dan remaja untuk mengenalkan budaya dan Pariwisata Kraton
• Pengembangan media promosi Kraton dengan melibatkan mahasiswa yang memiliki kompetensi terhadap seni dan budaya dengan membuat sayembara poster dan leaflet promosi Kraton. Yang hadiahnya diberikan langsung oleh Sri Sultan.
• Memberikan kaos bergambar Pariwisata Kraton kepada tukang becak di stasiun dan terminal.
• Membuat repro koleksi foto yang dipunyai perpustakaan Kraton.
• Penjualan komoditas barang yang dijual di kios resmi Kraton melalui majalah dan internet.
• Meningkatkan perasaan memiliki masyarakat dengan sayembara penulisan dan jajak pendapat tentang pengembangan Pariwisata Kraton melalui media masa.
• Melakukan nota kerjasama dengan pengelola daerah wisata lain yang strategis terhadap keberadaan Kraton Yogyakarta, misal candi Prambanan, candi Borobudur, Kraton Paku Alaman, Kraton Kasunanan Solo dan lain sebagainya.
o Manajemen Pemandu Wisata
• Menyiadakan ruang istirahat (semacam club pemandu) yang nyaman dan rileks sebagai sarana kesatuan dan pengembangan pemandu wisata
• Menyiapkan pemandu dengan kekhususan misalnya khusus wisatawan anak – anak, wanita dan segmen khusus lainnya yang dapat langsung dipilih wisatawan saat membeli tiket.
• Melakukan kegiatan outbond untuk pemandu wisata sehingga menguatkan rasa kekeluargaan antar pemandu
• Mendata,mengembangkan kemampuan dan pengetahuan dari pemandu wisata. Dengan melakukan kerjasama dengan instansi akademis Pariwisata
o Manajemen arus wisatawan
• Pengelola melakukan evaluasi terhadap daerah yang kurang mendapat kunjungan kemudian meningkatkan kualitas lingkungan yang ada
• Pengaturan rombongan yang ada sehingga tidak saling bersamaan mengunjungi suatu spot atraksi
Daftar Pustaka
Buku
Cooper, Chris dkk. 2005. Tourism Principles and Practice. Essex: Pearson Education Limited
Dharmmesta, Basu Swastha dan Handoko, T. Hani. 1997. Manajemen Pemasaran, Analisa Perilaku Konsumen. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
Endraswan, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta: Gadjah Mada University press
Heryanto, Fredy. 2006. Mengenal Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Yogyakarta: Warna Grafika
Laurens, Joyce Marcel. 2004. Arsitektur dan Perilaku Manusia. Jakarta: Grasindo

No comments:

Ads Inside Post