Yudha P. Heston, ST.
MT*); Dessy Febrianty, S.Sos *)
*) Peneliti Balai Litbang Sosial Ekonomi Lingkungan
Bidang Permukiman,
Pusat Litbang Sosial Ekonomi Lingkungan, Kementerian
Pekerjaan Umum
Jl. Adisucipto No. 165 Yogyakarta
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
TELAH DITERBITKAN DI
JURNAL SOSIAL EKONOMI PEKERJAAN UMUM
VOL 5, NO 1 (2013)
akses pdf pada link berikut:
http://jurnalsosekpu.pu.go.id/index.php/sosekpu/article/view/39
--------------------------------------------------------
Abstract
The Climate Change is the change of
physical earth atmosphere condition in example temperature and distribution of
rainfall that caused wide impact to human life in various conditions. The
Climate Change’s events also able to increase the water crisis, that caused by
the length of dry season on the region that has less water characterize. The
impact on water area, that influenced by Climate Change, can affect the human
social life. The concentration of human habitat in urban area has level of
increase in several previous years. City as the center of human activities has
become a vulnerable place caused by climate change. The research formulation of problem is suit
for this background, how is the precise strategy for the community of society
in every situation, how they adapt on the climate change especially about their
need of water supply.
Research has been conducted to find the
strategy of adaptation related to community readiness of climate change and
water supply. The study was conducted with qualitative – quantitative approach.
Analysis of the data using thematic analysis method, namely the inductive data
analysis based on a bunch of data collected, and then processed using the
principles of inductive reasoning, resulting theory is composed of a
hypothetical assumptions and then checked with the data. Quantitative analysis
followed by a statistical analysis of descriptive, inferential and valuation
adaptation.
The analysis showed adaptation efforts in
the availability of water in autonomous been done in context, content,
attributes and adaptation process. Areas with a history of a lack of water
(such as Kupang and Gunungkidul) has institutional and community preparedness
are better than areas with a history of a lot of water. However, they requires
more effort to adapt. Measurement of adaptation can be done with qualitative
data: Infrastructure and operations areas, and commercial businesses as well as
housing and health of the general population as well with qualitative data: the
readiness of individuals, communities and institutions.
Key
word: Adaptation,
Climate, Strategy
Abstraksi
Perubahan iklim yaitu berubahnya kondisi
fisik atmosfer bumi antara lain suhu dan distribusi curah hujan yang membawa
dampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan manusia Peristiwa perubahan
iklim dapat juga meningkatkan krisis air, yang disebabkan panjangnya musim
kemarau pada daerah dengan karakter sedikit air. Dampak pada sektor air, yang
dipengaruhi perubahan iklim dapat mempengaruhi kehidupan sosial manusia.
Konsentrasi habitat manusia di wilayah perkotaan menunjukkan kenaikan pada
beberapa tahun belakangan ini. Kota sebagai pusat aktivitas manusia, menjadi
suatu wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Rumusan masalah
penelitian sesuai dengan latar belakang adalah, bagaimana strategi yang dapat
dilakukan komunitas masyarakat dari berbagai kondisi, dalam beradaptasi
menghadapi perubahan iklim dalam ketersediaan air minum?
Penelitian dilakukan untuk menemukan upaya
adaptasi terkait kesiapan masyarakat, dalam beradaptasi menghadapi perubahan
iklim dalam ketersediaan air bersih. Penelitian dilakukan dengan pendekatan
kualitatif - kuantitatif. Analisis data menggunakan metode analisis tematik,
yaitu analisis data secara induktif yang didasarkan pada sekelompok data
terkumpul, kemudian diolah mempergunakan prinsip-prinsip penalaran induktif,
sehingga menghasilkan teori yang tersusun dari asumsi menjadi hipotesis untuk
kemudian diperiksa dengan data. Analisis kuantitatif dilanjutkan dengan
analisis statistik deskriptif, inferensial dan valuasi adaptasi.
Hasil analisis menunjukkan Upaya adaptasi
dalam ketersediaan air secara autonomous telah dilakukan sesuai konteks,
konten, atribut dan proses adaptasi. Daerah dengan riwayat kekurangan air
(seperti Kupang dan Gunungkidul) memiliki kesiapan komunitas dan kelembagaan
yang lebih baik daripada daerah dengan riwayat banyak air namun, memerlukan
upaya lebih dalam beradaptasi. Pengukuran adaptasi dapat dilakukan dengan data
kualitatif: Infrastruktur wilayah dan
operasinya, bisnis dan komersial serta kesehatan permukiman dan populasi umum
juga dengan data kualitatif : kesiapan individu, komunitas dan lembaga.
Kata
Kunci: Adaptasi, Iklim,
Strategi
I.
Pendahuluan
Perubahan iklim berdasarkan definisi dari
Kementerian Lingkungan Hidup adalah berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi
antara lain suhu dan distribusi curah hujan yang membawa dampak luas terhadap
berbagai sektor kehidupan manusia (Kementerian Lingkungan Hidup, 2001 dalam http://iklim.dirgantara-lapan.or.id). Perubahan kondisi fisik terkait suhu
dan distribusi curah hujan ditandai dengan beberapa karakteristik global
terkait dengan meningkatnya pemanasan suhu permukaan global terutama di
daratan; kenaikan konsentrasi karbondioksida di atmosfer sampai menjadi 379 ppm
(tahun 2005); peningkatan sekaligus pengurangan presipitasi di satu daerah dan
daerah lain dengan perbandingan yang tajam; kenaikan muka laut dengan rata-rata
global 0,17 meter; pengurangan tutupan salju rata-rata sampai 7% di kutub
utara; gletser yang mencair dan menghangatnya suhu di benua Arktik.
Akibat
perubahan iklim yang terkait dengan kehidupan manusia, yaitu adanya kenaikan
suhu sampai 3°C selama seratus tahun terakhir berpengaruh kepada ekosistem
penyedia makanan dan air, bertambahnya presipitasi di daerah lintang tinggi dan
pengurangan presipitasi di daerah subtropis (lihat gambar 1), kenaikan muka air
laut akibat meluasnya lautan dan melelehnya gletser. Penebalan gas rumah kaca
akibat konsentrasi karbon yang ada di atmosfer merupakan akibat dari kegiatan
ekonomi global seperti eksploitasi kayu di hutan, pembuangan limbah, pembakaran
batu bara, minyak dan gas bumi serta peningkatan kadar CFC (Klor, Fluor dan
Carbon) yang dihasilkan pendingin ruangan dan lemari pendingin.
Perubahan iklim memberi dampak juga
terhadap air, yaitu mempercepat siklus hidrologi akibat pemanasan. Peningkatan
suhu atmosfer menyebabkan bertambahnya simpanan air, yang meningkatkan potensi
presipitasi berbentuk hujan lebat. Kenaikan suhu dapat mempercepat proses
penguapan atau evaporasi, hal ini dapat mengurangi jumlah dan kualitas air
bersih. Perubahan kondisi global juga mempengaruhi penyebaran nyamuk malaria
dan penyakit lain. Penggunaan air bawah tanah tanpa kendali, menurunkan debit
air tanah yang dapat menyebabkan percepatan intrusi air laut ke darat (lihat
gambar2). Hal ini dapat menurunkan atau merembeskan tanah ke bawah, jika tidak
ditangani akan menyebabkan tenggelamnya tanah ke laut.
Peristiwa perubahan iklim dapat juga
meningkatkan krisis air, yang disebabkan panjangnya musim kemarau pada daerah
dengan karakter sedikit air. Krisis air ini dipicu oleh pergantian musim yang
tidak stabil. Ancaman lain di daerah subtropis dan tropis yang kering adalah
prediksi kekurangan air sampai 10-30% yang dapat menyebabkan bencana
kekeringan. Dampak pada sektor air, yang dipengaruhi perubahan iklim dapat
mempengaruhi kehidupan sosial manusia. Pola keterpengaruhan perubahan iklim,
dari penyebabnya sampai kembali kepada kehidupan manusia dapat dijelaskan
dengan sederhana melalui bagan 1.
Bagan 1.
Perubahan iklim dan kehidupan sosial
Aktivitas
ekonomi
|
à
|
||||||||||||||
Konsumsi
energi
|
à
|
||||||||||||||
Emisi Gas
Rumah Kaca
|
à
|
||||||||||||||
Konsentrasi
kumulatif GRK
|
à
|
||||||||||||||
Kenaikan
suhu global à
|
|||||||||||||||
Perubahan
iklim
|
à
|
||||||||||||||
Dampak
pada habitat manusia (air dll)
à
|
|||||||||||||||
Kehidupan
sosial
|
|||||||||||||||
Konsentrasi habitat manusia di wilayah
perkotaan menunjukkan kenaikan pada beberapa tahun belakangan ini. Kota sebagai
pusat aktivitas manusia, menjadi suatu wilayah yang rentan terhadap dampak
perubahan iklim. Penduduk Indonesia 52,03 persennya tinggal di perkotaan,
diperkirakan meningkat menjadi kurang lebih 68 persen pada tahun 2025 (gambar
3).
Pada wilayah perkotaan, perlu untuk diperhatikan
keberadaan komunitas yang dikategorikan sebagai masyarakat miskin. Masyarakat
miskin merupakan kelompok rentan terhadap dampak dari perubahan iklim. Kelompok
ini sulit untuk melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim,
dikarenakan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Konsentrasi penduduk
miskin, banyak ditemui di daerah pusat kota, terutama di lingkungan yang kurang
tertata atau kumuh.
Kementerian Pekerjaan Umum, sebagai
institusi teknis yang berkaitan dengan pengembangan wilayah memiliki tanggung
jawab dalam upaya mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim. Tanggung jawab
tersebut diterjemahkan dalam penyusunan kebijakan terkait penataan ruang,
transportasi, permukiman dan sumber daya air. Kebijakan sektor permukiman
dijabarkan lebih lanjut pada Direktorat Jenderal Cipta Karya dan Badan
Penelitian dan Pengembangan (Bagan 2).
Bagan
2. Keterlibatan dalam Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Permukiman
No
|
Sektor
|
Keterlibatan Mitigasi
dan Adaptasi Perubahan Iklim
|
1
|
Cipta Karya
|
Pelayanan prasarana dan sarana permukiman pada
kawasan perkotaan dan perdesaan yang bertujuan untuk mengurangi kerentanan
terhadap risiko banjir/ genangan serta krisis air bersih dan sanitasi.
|
2
|
Puslitbang Permukiman
|
Model permukiman berbasis Eco-settlements untuk hulu DAS. Model Perencanaan Perumahan
Perkotaan Rendah Emisi CO2. Teknologi Rumah Terapung untuk Kawasan Banjir,
peringkat Green Building
|
3
|
Puslitbang Sosekling
|
Melakukan kajian MAPI pada aspek sosial
ekonomi dan lingkungan. Mendukung grand
strategy / RAN MAPI PU melalui rekomendasi mitigasi/adaptasi berbasis
sosekling
|
Diolah dari Berbagai Sumber
Latar belakang dari pemanasan global
sehingga muncul perubahan iklim dan pengaruhnya dalam ketersediaan air minum,
disertai dengan semakin bertambahnya konsentrasi manusia di kota dengan daya
dukungnya yang terbatas. Rumusan masalah penelitian sesuai dengan latar
belakang adalah, bagaimana strategi yang telah dan dapat dilakukan masyarakat (didukung
pemerintah dan dunia usaha), dalam beradaptasi menghadapi perubahan iklim dalam
ketersediaan air minum?
II.
Landasan Teori
A. Adaptasi Perubahan Iklim
Hasil penelitian dari United Nations
Human Settlements Programme (UN-Habitat) yang didokumentasikan dalam laporan The State of Asian Cities, melihat titik
tolak adaptasi perubahan iklim dari tiga faktor utama yaitu: analisis dampak,
tingkat kerentanan, dan kapasitas adaptasi.
Keterkaitan pemicu perubahan iklim dari dimensi sosial, ekonomi dan
lingkungan dan dampaknya, terdapat dalam bagan 3.
Bagan 3.
Dimensi dan Dampak Sosial, Ekonomi dan Lingkungan dalam Perubahan Iklim
Aspek
|
Lingkungan
|
Ekonomi
|
Sosial
|
Dimensi
dari Perubahan Iklim
|
Perubahan tata guna
lahan:
perambahan, pemotongan dan pembakaran hutan, pengelolaan sampah padat, awan
kelabu pada atmosfer.
Urban sprawl: peningkatan jumlah penggunaan kendaraan
bermotor roda 2, kemacetan, pemeliharaan kendaraan.
|
Ekonomi “carbon”: ketergantungan pada
bahan bakar “fosil”, kurang memadainya investasi pada bahan bakar yang dapat
diperbarui.
Infrastruktur: perencanaan yang
buruk, menyebabkan konsumsi kota yang buruk – kebutuhan besar akan lahan dan
sumberdaya alam.
Globalisasi: pola konsumsi antar wilayah
yang menyebabkan transportasi barang penghasil limbah kimia.
|
Konsumsi dinamis
perkapita
di antara negara berkembang. Pola konsumsi bergerak dengan korelasi positif
sesuai peningkatan kesejahteraan dipandang
dari konsumsi kota secara keseluruhan.
|
Dampak
|
Peningkatan suhu: penyusutan air tanah,
kekurangan air, kekeringan, degradasi kualitas udara, efek pemanasan pulau.
Peningkatan presipitasi: peningkatan banjir,
peningkatan resiko tanah longsor atau lumpur longsor pada lereng yang
berbahaya.
Peningkatan muka air
laut:
banjir di pesisir, intrusi air laut ke cadangan air tanah, peningkatan
gelombang badai, peningkatan.
Peristiwa cuaca
ekstrim:
peningkatan intensitas banjir, peningkatan resiko tanah longsor.
Kehilangan kekayaan
biotik.
|
Penipisan sumber daya
alam yang esensial.
Kerusakan
infrastruktur:
pemadaman listrik, kerentanaan infrastruktur.
Keengganan investasi
asing
berkaitan dengan resiko lingkungan
Produksi yang tidak
efisien.
|
Kesehatan ekologis
tempat bermukim dan ketidakproporsional dampak kehidupan masyrakat
berpenghasilan rendah: relokasi, kehilangan tempat dan lahan, kehilangan
penghidupan, ketidakamanan makanan. Ketidakproporsional dampak terkait
nutrisi, penyediaan air dan energi, memburuknya ketidakadilan berbasis gender
terkait hak perumahan, sumberdaya, akses ke informasi.
Ketidakproporsionalan dampak
pada orang tua dan remaja: kekurangmampuan untuk menghindari dampak langsung atau
tidak langsung dari perubahan iklim, ketidak mampuan untuk mengatasi cidera
dan sakit
|
Sumber: Sustainable
Urbanization in Asia: A Sourcebook for Local Governments
Copyright © United
Nations Human Settlements Programme, 2012
Tindakan adaptasi juga perlu memasukkan
aspek kebutuhan finansial sebagai evaluasi sosial, ekonomi dan lingkungan dari keputusan
pilihan adaptasi. Perlu adanya upaya peningkatan kualitas infrastruktur
perkotaan dalam mengantisipasi perubahan iklim. Infrastruktur perkotaan yang
dimaksud, terutama terkait penyediaan air bersih dan sanitasi. Perencanaan
jangka panjang untuk menghadapi perubahan iklim harus menjadi bagian penganggaran
keuangan daerah. Upaya yang umum dilakukan, untuk mengurangi bencana banjir dan
menanggulangi kekeringan, adalah dengan memaksimalkan penangkapan air hujan dan
menambah cadangan air tanah. Pelaksanaannya dapat berupa membuat tampungan air
hujan dan membuat lubang-lubang pada perkerasan tutupan lahan.
Rekomendasi strategi adaptasi dari
lembaga World Bank (2009), lebih mengutamakan pada adaptasi berbasis ekosistem.
Upaya seperti menghijaukan kembali hutan untuk mengurangi aliran arus air
permukaan, merehabilitasi situ dan daerah tangkapan air untuk mengurangi
banjir, melakukan pengelolaan daerah pesisir, seperti penanaman kembali mangrove
dan rehabilitasi karang. Upaya penghijauan lainnya dapat dilakukan pada setiap
tempat mungkin, misalnya pada atap bangunan termasuk budidaya tanaman di
perkotaan.
Upaya penanganan dalam skala yang lebih
kecil terkait dengan lingkungan permukiman. Revitalisasi yang permukiman
membutuhkan biaya mahal, dapat diatasi dengan melakukan peningkatan kualitas
bangunan yang membutuhkan biaya lebih sedikit. Peningkatan kesiagaan bencana
menjadi ukuran penting adaptasi perubahan iklim terutama di kota tepian air. Penyediaan
peringatan dini berbasis komunitas dan sistem respon untuk koordinasi yang
lebih baik, serta kemampuan instatansi terkait untuk melayani kebutuhan
spesifik dari masyarakat. Peningkatan kapasitas adaptasi dapat dilakukan di
antara pemangku kepentingan, yaitu pada komunitas MBR perkotaan, pemerintah lokal dan
pusat, organisasi non pemerintah atau lembaga swadaya pemerintah.
Ukuran adaptasi terkait dampak perubahan
iklim dapat dibagi menjadi tiga ukuran yaitu infrastrukur wilayah, dunia usaha
dan populasi warga. Peran adaptasi dan dampak perubahan iklim ada pada bagan 4.
Bagan 4.
Dampak Perubahan Iklim dan Ukuran Adaptasi
Dampak Perubahan Iklim
|
Ukuran adaptasi
|
||
Infrastruktur wilayah dan operasinya
|
Bisnis dan komersial
|
Kesehatan permukiman dan populasi umum
|
|
Kode
(analisis)
|
R
|
F
|
B
|
Kenaikan
suhu rata-rata jangka panjang sampai 3°C
|
·
Perencanaan kota
·
Penanaman pohon
·
Konservasi air
·
Kontrol hama dan serangga
|
·
Aksi untuk mengurangi pemanasan termasuk perencanaan
bangunan dan ruang hijau
|
·
Ruang isolasi yang baik
·
Perencanaan pendingin yang lebih baik
·
Kontrol hama dan serangga
·
Konservasi air
|
Kuantitas
dan kualitas air permukaan dan dalam tanah
|
·
Pembatasan penggunaan air
·
Optimalisasi pelepasan dari tampungan air
·
Penambahan kapasitas penyimpanan
·
Penegakan aturan dalam pengambilan air permukaan dan air
tanah
|
·
Efisiensi air dan program konservasi
·
Harga air
·
Pengelolaan irigasi
|
·
Efisiensi air dan program konservasi
|
Kenaikan
muka air laut
|
·
Perencanaan tata guna lahan
·
Konstruksi dan peningkatan tanggul
·
Pembuatan tampungan air
|
·
Perlindungan daerah pesisir
·
Pengunduran bertahap bibir pantai
·
Modifikasi operasi pelabuhan
|
·
Perencanaan tata guna lahan
·
Proteksi ekosistem
|
Kejadian
terkait cuaca ekstrim (badai, hujan berkepanjangan, banjir, kekeringan)
|
·
Rencana tanggap bencana
·
Konstruksi dan peningkatan tanggul
·
Ketinggian bangunan
·
Perencanaan tata guna lahan
·
Peningkatan ketahanan dari jaringan listrik
·
Peningkatan komunikasi bencana
|
·
Rencana persiapan tanggap darurat
·
Bangunan tahan banjir
·
Ketinggian dari bangunan
|
·
Rencana persiapan tanggap darurat
·
Rumah tahan banjir
·
Asuransi banjir yang disponsori publik
·
Perubahan kebiasaan tanggap bencana
|
Peningkatan
frekuensi dan intensitas hujan lebat yang singkat
|
·
Peningkatan ukuran tangkapan badai
·
Peningkatan kapasitas penyerapan air dari lanskap kota
|
·
Peningkatan kapasitas penyerapan air dari wilayah lahan
tertutup perkerasan
|
·
Perlindungan berupa selokan badai
·
Rancangan bentang lahan untuk mengurangi aliran cepat
|
Peningkatan
frekuensi dan intensitas dari gelombang panas, kekeringan, dan asap
|
·
Penggunaan pengatur udara
·
Perencanaan kemungkinan panas
·
Pengurangan lalu lintas kota
·
Penanaman tanaman
|
·
Penggunaan pengatur udara
·
Penjadwalan proteksi ketika dibutuhkan
|
·
Penggunaan pengatur udara
·
Pendidikan masyarakat pada terkait kebiasaan dan budaya
|
Strategi adaptasi perubahan iklim terkait
ketersediaan air minum (Nickson, 2010 dalam UN Habitat, 2011) bertujuan untuk
menyeimbangkan ketersediaan dengan kebutuhan akan air. Strategi ini dilakukan
dengan (a) mengurangi kehilangan air, (b) mengurangi penggunaan dengan menambah
efisiensi penggunaan air di permukiman dan dunia usaha, (c) penggunaan air
ulang konsumsi selain untuk minum dan (d) mengembangkan sumber baru termasuk
pilihan sumber yang mempunyai dampak lingkungan terkecil.
B. Kapasitas Adaptasi
Penelitian Daniel Holt terkait kapasitas
adaptasi/ adaptif (Holt,2007), merupakan penilitian yang bertujuan untuk
memberikan pertimbangan kepada pengambil kebijakan terkait dengan identifikasi
kesenjangan antara keyakinan pimpinan terkait kesiapan dan keyakinan anggota
organisasi. Penelitian ini mendapatkan kesimpulan bahwa komitmen adaptif secara
normatif memiliki hasil positif terkait dengan context/ konteks,
content/konten, atribut individu, dan variabel proses.
Pengukuran konteks diperlukan untuk
mengukur penerimaan dari dukungan organisasi. Contoh dari konteks adalah
pernyataan, keberadaan pengembangan kinerja yang mendorong peningkatan performa
pekerjaan pegawai. Termasuk di dalamnya iklim komunikasi organisasi. Pengukuran
konten terkait dengan ketepatan dari inisiatif kesiapan organisasi. Pengukuran
atribut individual terkait dengan dampak positif dan negatif, terutama terkait
dengan antusiasme, keaktifan dan kewaspadaan. Atribut individu juga memasukkan
sifat inovatif yang dimiliki anggota organisasi. Variabel proses terkait dengan
dukungan manajemen, terkait kepemimpinan dan komitmen manajemen untuk melakukan
implementasi. Dalam proses dilihat juga partisipasi dan kualitas informasi yang
ada pada organisasi.
III.
Metodologi
A. Pendekatan Penelitian
Penelitian dilakukan untuk menemukan strategi
adaptasi terkait kesiapan masyarakat, dalam beradaptasi menghadapi perubahan
iklim dalam ketersediaan air bersih. Penelitian dilakukan dengan pendekatan
kualitatif - kuantitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan agar informasi dapat
digali sebanyak mungkin dari fenomena dengan lebih mendalam dan
terperinci. Studi kasus adalah penelitian pada suatu fenomena khusus yang hadir
dalam suatu konteks yang terbatasi (bounded context),
meskipun batas-batas antara fenomena dan konteks tidak jelas sepenuhnya. Dengan
menggunakan studi kasus, peneliti mendapatkan pemahaman yang utuh dan
terintegrasi tentang hubungan antar berbagai macam fakta dan dimensi dari kasus
yang ada.
Pengumpulan data didapat dari dua sumber
data yaitu primer dan sekunder. Data primer didapat dari wawancara ke
sekelompok orang yang dianggap memiliki kompetensi untuk memberikan gambaran
akan masalah yang perlu dipecahkan. Data sekunder didapat dari data literatur,
baik dari instansi maupun penulusuran website.
Analisis data menggunakan metode analisis
tematik, yaitu analisis data secara induktif yang didasarkan pada sekelompok
data terkumpul, kemudian diolah mempergunakan prinsip-prinsip penalaran
induktif, sehingga menghasilkan teori yang tersusun dari asumsi menjadi
hipotesis untuk kemudian diperiksa dengan data.
Analisis dilanjutkan dengan menggunakan
teknik statistik deskriptif, korelasi dan regresi. Analisis ini dilakukan
terhadap variabel kesiapan individu, kelompok dan lembaga. Setelah ditemukan
ukuran dalam variabel tersebut, analisis selanjutnya dilakukan dengan
menggunakan metode valuasi, untuk mendapatkan gambaran kebutuhan biaya dan
manfaat dari adaptasi yang dilakukan. Alir penelitian mulai dari latar belakang
sampai dengan disusunnya strategi terdapat dalam bagan 5.
B. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian dibagi dalam dua
kategori yaitu populasi kualitatif yang
terdiri dari pihak pemangku kepentingan terkait penyediaan air minum di lokasi penelitian (PU,
Bappeda, Kecamatan, Kelurahan)
dan kategori kuantitatif yang terdiri dari pengurus RT, RW dan pengurus KSM (untuk variabel analisis kesiapan komunitas, lembaga dan valuasi),
serta masyarakat (variabel
analisis kesiapan keluarga
dan valuasi).
Sampel penelitian kuantitatif dihitung
dengan menggunakan rumus
...........(1)
Keterangan:
(a.) P = Proporsi keadaan yang akan dicari:
keterlibatan sosial ekonomi masyarakat 76,3% terhadap peran serta masyarakat
dalam pengelolaan sumber air (Syahrani, dkk 2004)
(b.) d = Tingkat ketepatan absolute yang
dikehendaki (0,07)
(c.) α = Tingkat kemaknaan (0,05)
(d.) Q = (1-P), jadi bila P = 1-0,763 = 0,23
Berdasarkan
ketetapan di atas, maka besar sampel dalam penelitian ini adalah: 30 tokoh
masyarakat dan 142 KK/ lokasi
penelitian.
C. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini berada pada unit kelurahan
yang terletak di 3 Kecamatan pada 3 Kota/Kabupaten yaitu: Kelurahan Wareng,
Mulo dan Karangrejek, Kecamatan Wonosari Kabupaten Gunung Kidul Provinsi DIY, Kelurahan
Oesapa, Oesapa Barat dan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima Kupang Provinsi NTT
mewakili kondisi daerah dengan riwayat kekurangan air bersih, dan Kelurahan 3-4
Ulu, 5 Ulu dan 15 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang Provinsi
Sumatera Selatan dengan riwayat daerah yang berkelimpahan air.
IV.
Gambaran Umum
Gambaran umum wilayah penelitian di
Palembang, Kupang dan Gunung Kidul adalah sebagai sebagai berikut: Kota
Palembang merupakan ibukota provinsi Sumatera Selatan dan sekaligus sebagai
kota terbesar serta pusat kegiatan sosial ekonomi di wilayah Sumatera Selatan.
Luas wilayah Kota Palembang adalah sebesar 400,61 km2 atau 40.061 Ha. Dari segi hidrologi, di Kota
Palembang terdapat 4 sungai besar, yaitu Sungai Musi, Sungai Komering, Sungai
Ogan dan Sungai Keramasan. Selain sungai tersebut, terdapat sungai besar
lainnya yaitu Sungai Komering, Sungai Ogan, dan Sungai Keramasan yang terletak
di Seberang Ulu. Kebutuhan air bersih bagi warga Kota Palembang tidak dapat
dipisahkan dari PDAM Tirta Musi dan sebagian memanfaatkan air permukaan seperti
air sungai, kolam/rawa. Sumber air baku PDAM Tirta Musi berasal dari air
permukaan, yaitu Sungai Musi dan Sungai Ogan. Dalam kurun waktu % tahun
terakhir terdapat peningkatan pelanggan PDAM Tirta Musi sebesar 34,82% dimana
jumlah penduduk Kota palembang yang terlayani air bersih meningkat dari 43,18%
(2003) menjadi ± 80% (2009) yaitu sebanyak 1.073.267 jiwa, dengan target
pelayanan pada tahun 2012 ini diharapkan mampu melayani 95% penduduk Kota
Palembang.
Kota Kupang merupakan salah satu
Kabupaten di propinsi Nusa Tenggara timur yang terletak dibagian tenggara.
Secara geografis Kota Kupang terletak antara 100 36’ 14” - 100 39’ 58” Lintang
Selatan, 1230 32’ 23” - 1230 37’ 01” Bujur Timur. Kota Kupang yang memiliki
luas 165,3 Km2 terdiri dari 6 Kecamatan. Secara geologis wilayah ini terdiri
dari pembentukan tanah dari bahan keras dan bahan non vulkanis. Bahan-bahan
mediteran/rencina/liotsal terdapat di semua kecamatan. Kota Kupang memiliki
luas wilayah sebesar 180,27 Km2 atau 18.027 Ha. Persentase rumah tangga di Kota
Kupang pad atahun 2010 yang memiliki fasilitas air minum sendiri sebesar 49,98
persen. Selebihnya adalah milik bersama dan milik umum (Tabel 6). Rumah
tangga yang menggunakan leding meteran sebagai sumber air minum merupakan
kelompok yang paling banyak yaitu sebesar 42,24 persen. Sedangkan yang paling
sedikit adalah rumah tangga dengan sumber air minum mata air tidak terlindung
dan mata air terlindung yaitu sebesar 0,87 persen.
Fasilitas Air Minum
|
Persentase
|
Sendiri
|
49,98
|
Bersama
|
45,93
|
Umum
|
3.84
|
Tidak ada
|
0,25
|
Jumlah
|
100,00
|
Sumber : Indikator Kesra Kota
Kupang
Kabupaten
Gunungkidul merupakan salah satu dari lima kabupaten/kota di Provinsi DIY,
beribukota di Wonosari dan terletak 39 km sebelah tenggara Kota Yogyakarta.
Terletak pada daerah perbukitan dan pegunungan, secara geografis terletak
antara 110° 46‘ – 110° 50’ Bujur Timur dan 7° 46’- 8° 09’ Lintang Selatan.
Lahan di Kabupaten Gunungkidul mempunyai tingkat kemiringan bervariasi, 18,19% diantaranya merupakan daerah datar dengan
tingkat kemiringan 0°-2°, sedangkan daerah dengan tingkat kemiringan antara
15°-40° sebesar 39,54% dan untuk kemiringan lebih dari lebih dari 40° sebesar
15,95%. Di Kabupaten Gunungkidul terdapat dua daerah aliran sungai (DAS)
permukaan, yaitu DAS Opak-Oya dan DAS Dengkeng. Masing-masing DAS tersebut
terdiri dari beberapa SubDAS yang berfungsi untuk mengairi areal pertanian.
Selain itu juga terdapat DAS bawah permukaan, yaitu DAS Bribin. Air permukaan
(sungai dan mata air) banyak dijumpai di Gunungkidul wilayah utara dan tengah.
Di wilayah tengah beberapa tempat memiliki air tanah yang cukup dangkal dan
dimanfaatkan untuk sumur ladang. Wilayah selatan Gunungkidul merupakan kawasan
karst yang jarang ditemukan air permukaan. Di wilayah ini dijumpai sungai bawah
tanah seperti Bribin, Ngobaran, dan Seropan, serta ditemukan telaga musiman
yang multiguna bagi penduduk sekitar. Pemakaian air minum yang disalurkan oleh
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Kabupaten Gunungkidul tahun 2010 sebanyak
7.390.218 meter kubik. Sebagian besar konsumen PDAM adalah rumah tangga yang
tercatat mencapai 33.638 atau sekitar 93,67 persen dari seluruh pelanggan yang
ada.
V.
Hasil dan Pembahasan
A. Data penelitian
Data kualitatif dari hasil penelitian
yang dimasukkan ke dalam matrik, kemudian diberikan kode, dengan membandingkan
antara variabel konteks, konten, atribut individu dan proses dengan lokasi
serta ukuran adaptasi untuk dapat dijadikan sebagai indeks kualitatif.
Tabel 7.
Kumulatif Data Penelitian
Variabel
|
Indikator
|
Gunungkidul
|
Palembang
|
Kupang
|
Konteks
|
Lembaga yang dapat menambah kemampuan, iklim komunikasi.
|
Sebagian warga hanya mengandalkan bak penampungan air hujan
(PAH), ada juga yang beli air melalui tanki. B
Jogjakarta Plaza Hotel (JPH) memberikan bantuan air bersih pada warga
Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul, sebagai bentuk kepedulian terhadap
masalah kekeringan.
15 tangki air bersih yang masing-masing berkapasitas 5.000 liter per
tangki, disalurkan ke tiga desaF
|
Untuk menjernihkan air warga menggunakan taburan kaporit.
Agar air tersebut layak digunakan untuk mencuci dan mandi serta
aktivitas lainnya mereka menambahkan tawas atau pemutih air selanjutnya
disaring.
saat musim kemarau air rawa dan sungai pun kering sehingga mereka terpaksa
membeli air. ketika musim hujan air untuk konsumsi (minum, masak) saja yang
beli kepada tukang galon yang rutin datang ke perkampungan.
Musim kemarau yang melanda Palembang dua bulan terakhir, mengancam
ketersediaan air bersih. B
|
warga berjalan kaki antara 1-2 kilometer untuk mengambil air bersih di
sumur milik warga lainnya yang belum mengering.
di kelurahan tersebut masih ada delapan sumur yang memiliki air.
Namun, debit air telah mencapai titik terendah sehingga tidak mampu memenuhi
kebutuhan seluruh warga yang jumlahnya mencapai ribuan orang.
Kadang tidak ada air untuk mandi. Sementara untuk konsumsi rumah
tangga, kami harus membeli air mineral setiap hari. B
|
Mendapatkan air lebih murah dari kelembagaan PAMASKARTA dibandingkan
dengan PDAM
Menggunakan kesempatan arisan untuk membayar iuran air sesuai tagihan
meteran yang sudah dicatat
B
|
Mengambil air sungai yang gratis walau kualitasnya kurang B
|
Memenuhi kebutuhan air bersih untuk rumah tangga, karena air PDAM
tidak tetap keluarnya (1 minggu 1 kali) R
Alat pengolah air sebagai salah satu mas kawin B
|
||
Konten
|
Ketepatan dan keuntungan keberadaan lembaga, keuntungan individu,
kemajuan atau kemunduran.
|
Permasalahan air di Gunungkidul masih belum berhenti. Beberapa tempat
yang ada di Gunungkidul, bahkan harus mengalami tersendatnya aliran air
melalui pipa perusahaan daerah air minum (PDAM) Tirta Handayani. R
Dua bulan pertama kemarau, warga Dusun Ploso, Purwosari, Gunung Kidul,
Provinsi DI Yogyakarta, kembali mengantre untuk mendapatkan air bersih. B
Air dari sumber Gua Cerme yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer mengalir
ke bak penampungan di permukiman mereka tiga hari sekali. R
|
Air sungai sudah makin keruh, terlebih saat musim air musi surut warga
kesulitan mendapatkan air sungai, karena limbah dari rumah sakit. B
meskipun sudah diberi kaporit air tetap saja. kotor dan berwarna
kuning coklat.
Kebocoran pipa PDAM karena marak pemasangan illegal dan kondisi pipa
yang memang sudah tua. R
kadang-kadang air rawa langsung digunakan untuk mandi, mencuci
juga berwudhu tanpa diproses terlebih
dahulu terutama ketika musim hujan karena air tidak terlalu kotor. B |
Empat Kelurahan masih rawan kekurangan air bersih di Kota Kupang. B
Kecenderungan kekurangan air bersih terjadi karena topograpi daerah yang
kountur tanahnya berbukit, kurangnya sumber air baku, serta jumlah penduduk
semakin bertambah. R
Sudah lebih dari dua bulan, air juga tidak lagi mengalir lewat ledeng
(PDAM). R
Warga yang selama ini menggunakan sumur bawah tanah sebagai sumber air
bersih, mulai mengeluh setelah debit air menurun tajam, bahkan kering. B
|
Sumber air mengalami perpindahan setelah/ akibat gempa 27 Mei 2006. R
Sumber air alternatif dari truk tangki F
|
Sumber air untuk memenuhi kebutuhan dari sungai (Musi dan Ogan) R
|
Sumber air alternatif membeli air tangki dan air isi ulang F
|
||
Atribut Individu
|
Pengaruh, kemampuan, inovasi.
|
warga bisa membeli air bersih dari truk tangki. Namun, harganya cukup
mahal, Rp 100.000 untuk ukuran 5.000 liter. Adapun air dari bak penampungan harganya
Rp 50 per jeriken ukuran 20 liter dan Rp 100 untuk jeriken 30 liter. F
walau sudah memasuki musim penghujan, warga belum
bisa menggunakan air hujan yang biasanya ditampung di bak penampungan. Air
hujan baru siap dikonsumsi setelah 4 sampai 5 hujan pertama, sedangkan saat
ini di daerah Tepus, dua hujan pertama turun satu minggu yang lalu, lalu
berhenti. R
|
untuk memenuhi kebutuhan air
bersih warga terpaksa menggunakan air aliran sungai musi. R
Air rawa tersebut mereka sedot dengan menggunakan mesin pompa kemudian
ditampung di bak atau drum penyimpan air. B
Akibat debit air di Sungai Musi yang terus
menyusut, berdampak pada penurunan produksi air hingga 50 persen. R
warga diimbau untuk menghemat penggunaan air. B
|
Warga lainnya membeli air seharga dengan harga bervariasi antara
Rp50.000-Rp60.000 per 5.000 liter. Air ditampung dalam bak penampung yang
sudah disiapkan masing-masing keluarga. F
pada puncak kemarau di Oktober seluruh sumur air
minum mengering, pengambilan air sumur dibatasi yakni pada pagi dan sore. B
sebagian warga terpaksa mengkonsumsi air berkapur, atau membeli air seharga
Rp125.000-Rp200.000 per tangki. F
Di wilayah Alak, hanya terdapat satu sumur umum. Harus antri sampai
dini hari baru bisa mengambil air.
B
Kondisi itu memaksa sebagian warga mendatangi
sumber air di kota tersebut untuk mengambil air demi memenuhi kebutuhan
sehari-hari, antar lain minum, memasak, mandi, dan mencuci. Sumber air yang
biasanya didatangi warga ialah Oepura, Airnona, Dendeng, dan Tarus. B
|
Saat musim kemarau air sangat sulit didapat. Harga air sebesar anak
sapi (sama berharganya) F
|
Penyediaan air bukan merupakan permasalahan B
|
Air sebagai emas F
Air sebagai benda mulai, diperlambangkan sebagai sesuatu yang ilahi. B
Datangya hujan yang mengiringi kedatangan orang, sebagai membawa
berkat. B
|
||
Proses
|
Dukungan kebijakan, partisipasi, dan kualitas informasi.
|
Sesuai dengan nota dinas nomor 460/753 tentang laporan hasil rapat
persiapan dropping air tahun 2012, terdapat delapan kecamatan dan 27 desa
yang akan mendapat dropping air. B
Megaproyek Bribin kerja sama RI-Jerman di Dusun Sindon, Desa Dadapayu,
Kecamatan Semanu, yang menelan dana Rp 65 miliar bersumber dari APBN dan APBD
sejak 2004 silam, hingga kini belum ada tanda-tanda berhasil difungsikan. R
jika proyek tersebut sudah ada kepastian dapat dioperasikan dengan
sempurna, PDAM segera berkoordinasi dengan Pemkab Gunungkidul guna persiapan
pengelolaan distribusi air di empat wilayah krisis air bersih. R
|
warga lorong Terusan I Kel 5 Ulu, melakukan unjuk rasa ke kantor
Walikota Palembang menuntut janji PDAM Tirta Musi yang akan memasang instalasi
air bersih untuk MBR. B
PDAM berjanji akan memasang instalasi air bersih dari bantuan USAID. R
PDAM Tirta Musi Palembang berjuang memerangi kebocoran air bersih
terutama di kawasan paling banyak pelanggaran. R
menertibkan pelanggan secara rutin, penggantian pipa dan meteran baru
juga menjadi solusi. R
pemerintah setempat menerapkan sistem subsidi untuk pemasangan saluran
air bersih (Rp.750.000 seharusnya Rp. 1.100.000).
Subsidi hanya diberikan kepada warga yang dinilai layak mendapatkan keringanan biaya pasang sesuai kreteria. F |
Dinas PU Kota Kupang mencoba memberikan pelayanan kepada masyarakat
dengan membangun enam embung penampung air hujan, yang dapat digunakan oleh
PDAM untuk diolah menjadi air bersih. R
dinas PU Kota Kupang terus mencari sumber air untuk kebutuhan air
bersih seperti dari mata air Kali Dendeng, Kali Liliba, dan mata air Sago. R
Selain itu dilakukan pengeboran air tanah di beberapa kelurahanR
|
Perlu adanya juru tagih, di tingkat desa R
Satker air minum provinsi (cipta karya), kerjasama dengan bank,
akademisi (UGM) R F
Sms dan menyampaikan keluhan langsung ke pengurus PAMASKARTA
Kabupaten, Dinas PU R
|
Satker air minum provinsi (cipta karya), kerjasama dengan pihak
pegadaian
Cipta Karya, PDAMR F
|
Prakarsa banyak ada di fasilitator kelurahan
Dinas Cipta Karya, NGO, perusahaan swasta
Pokja AMPL, Bappeda R F
|
Temuan hasil penelitian yang telah diberi
kode, kemudian disusun dalam tabel untuk menemukan indeks adaptasi secara
kualitatif berdasarkan kondisi yang ada. Menggunakan asumsi jika ukuran
adaptasi tidak ada diberi angka 0, jika ada tetapi fenomenanya kecil 1, jika
ada dan fenomenanya banyak diberi angka 2. Jumlah fenomena tiap variabel
kemudian dibagi dengan nilai maksimum yang ada, misal ada 2 jumlah fenomena
konteks, maka dibuat indeks 2 dibagi 6 (nilai maksimum)= 0,3. Ditulis 2/ 0,3.
Tabel 7.
Indeks Fenomena Data Penelitian
Variabel
|
Indikator
|
Gunungkidul
|
Palembang
|
Kupang
|
|||
Konteks
|
Lembaga yang dapat menambah kemampuan, iklim komunikasi.
(struktural)
|
B
|
Ada (1)
|
B
|
Ada (2)
|
B
|
Ada (2)
|
F
|
Ada (1)
|
F
|
Tidak ada (0)
|
F
|
Tidak ada (0)
|
||
R
|
Tidak ada (0)
|
R
|
Tidak ada (0)
|
R
|
Ada (1)
|
||
Sub total (jumlah/indeks)
|
2/ 0,3
|
2/0,3
|
3/ 0,5
|
||||
Konten
|
Ketepatan dan keuntungan keberadaan lembaga, keuntungan individu,
kemajuan atau kemunduran.
(non struktural)
|
B
|
Ada (1)
|
B
|
Ada (2)
|
B
|
Ada (2)
|
F
|
Ada (1)
|
F
|
Tidak ada (0)
|
F
|
Ada (1)
|
||
R
|
Ada (2)
|
R
|
Ada (1)
|
R
|
Ada (2)
|
||
Sub total (jumlah/indeks)
|
4/0,6
|
3/0,5
|
5/0,83
|
||||
Atribut Individu
|
Pengaruh, kemampuan, inovasi.
(non struktural)
|
B
|
Tidak ada (0)
|
B
|
Ada (2)
|
B
|
Ada (2)
|
F
|
Ada (2)
|
F
|
Tidak ada (0)
|
F
|
Ada (2)
|
||
R
|
Ada (1)
|
R
|
Ada (2)
|
R
|
Tidak ada (0)
|
||
Sub total (jumlah/indeks)
|
3/ 0,5
|
4/ 0,67
|
4/0,67
|
||||
Proses
|
Dukungan kebijakan, partisipasi, dan kualitas informasi.
(strukturual)
|
B
|
Ada (1)
|
B
|
Ada (1)
|
B
|
Tidak ada (0)
|
F
|
Ada (1)
|
F
|
Ada (2)
|
F
|
Ada (1)
|
||
R
|
Ada (2)
|
R
|
Ada (2)
|
R
|
Ada (2)
|
||
Sub total (jumlah/indeks)
|
4/ 0,67
|
4/ 0,67
|
3/ 0,5
|
||||
Total Indeks Kota/Kabupaten
|
0,5175
|
0,535
|
0,625
|
Total indeks kemudian diklasifikasikan
lagi dalam 4 ukuran yaitu buruk (0-0,25), kurang (0,26-0,5), cukup baik (0,51-
0,75) dan baik (0,76-1). Dari hasil penelitian kualitatif, terlihat bahwa di
tiga wilayah penelitian masih masuk pada indeks usaha adapatasi cukup baik.
Dengan melihat fenomena yang ditemukan
dari hasil penelitian, terlihat bahwa kota Kupang memiliki indeks tertinggi
dibanding wilayah lain. Hal ini dapat dipahami oleh karena kondisi riwayat
wilayah yang menuntut untuk memiliki upaya adaptasi. Lebih lagi terlihat bahwa
di tiga lokasi penelitian upaya non struktural masih lebih tinggi dibanding
dengan upaya struktural (grafik 2). Walau perbedaan tidak begitu besar, namun
terlihat bahwa masyarakat sendiri telah melakukan inisiatif tindakan reflektif
menghadapi kerentanan perubahan iklim.
Grafik 2.
Perbandingan Penduduk Kota dan Desa
Di tiga lokasi penelitian, hampir semua
strategi terkait ketersediaan air telah dilakukan, kecuali untuk upaya
menggunakan air hasil olah ulang. Upaya lain yang belum sepenuhnya dilakukan
adalah mengurangi penggunaan air dan menambah efisiensi penggunaan air (tabel
8).
Tabel 8. Fenomena
Strategi Adaptasi Ketersediaan Air minum
Strategi
|
Palembang
|
Kupang
|
Gunungkidul
|
Mengurangi kehilangan air
|
Membuat wadah tampungan di dekat sungai.
PDAM memperbarui pipa-pipa sambungan.
|
Dinas PU Kota Kupang mencoba memberikan pelayanan kepada masyarakat
dengan membangun enam embung penampung air hujan, yang dapat digunakan oleh
PDAM untuk diolah menjadi air bersih.
|
Air hujan ditampung di wadah bak.
|
Mengurangi penggunaan dengan menambah efisiensi
|
Air rawa tersebut mereka sedot dengan menggunakan mesin pompa kemudian
ditampung di bak atau drum penyimpan air
|
Kadang tidak ada air untuk mandi. Sementara untuk konsumsi rumah tangga,
harus membeli air mineral setiap hari.
|
Belum
|
Penggunaan air ulang
|
Belum
|
Belum
|
Belum
|
Mengembangkan sumber baru
|
PDAM berjanji akan memasang instalasi air bersih dari bantuan USAID
|
Dinas PU Kota Kupang mencoba memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan
membangun enam embung penampung air hujan, yang dapat digunakan oleh
PDAM untuk diolah menjadi air bersih
|
Megaproyek Bribin kerja sama RI-Jerman di Dusun Sindon, Desa Dadapayu
|
B. Pembahasan (verifikasi, dialog pustaka
dan konteks)
Kualitatif
Potensi resiko yang dimiliki kota
Palembang, kota Kupang dan Kabupaten Gunungkidul terhadap perubahan iklim
berbeda sesuai konteks geografis dan demografisnya. Pertumbuhan dan urbanisasi
penduduk, dihadapkan pada kondisi peningkatan intensitas dan frekuensi cuaca
ekstrim, membutuhkan kapasitas adapatasi dalam menghadapi perubahan iklim.
Kota Palembang bertumbuh menjadi kota
besar dengan banyak dijumpai permukiman padat di berbagai sudut kota, terutama
di tepian sungai Musi. Kota Kupang menjadi daerah tujuan mencari pekerjaan dan
penghidupan bagi penduduk sekitarnya, bahkan ditemui perantau dari luar pulau
Timor. Dinamika Kota Palembang dan Kupang terkait pergerakan kendaraan dan
populasi memberikan kontribusi dampak gas rumah kaca. Kota Palembang dan kupang
merupakan pusat kota, populasi dan sektor ekonomi bagi daerah yang ada
disekelilingnya.
Kemajuan inovasi penanganan air bersih
dicatat PDAM Kota Palembang, yang melakukan ekspansi pelayanan hampir mencakup
seluruh kota. Walaupun kendala ketersediaan air baku ternyata masih juga
dijumpai. Kota Kupang melalui Dinas Cipta Karya berusaha untuk mencari dan
menampung sumber-sumber air, dengan sumber air alami dan buatan yaitu misal
pembangunan Water Treatment Plant di Kali Dendeng, dan pembuatan embung
tangkapan air hujan. Kabupaten Gunungkidul berupaya mengembangkan penangkapan
air sungai bawah tanah yang sudah dirintis bekerjasama dengan institusi dari
Jerman. Selain itu PDAM Gunungkidul juga berupaya meluaskan layanan, walau
tidak seekstensif di kota Palembang.
Perubahan iklim yang terjadi telah
mempengaruhi ketersediaan misalnya di Palembang terkait berkurangnya kapasitas
sungai Musi, kualitas air di Kupang yang tercampur kapur dan berkurangnya
ketersediaan air di Gunungkidul. Selain itu kenaikan suhu dan perubahan pola
presipitasi menyebabkan pengolahan dan distribusi air terpengaruh, misalnya air
melalui pipa di Kupang dan Gunungkidul tidak mengalir selama musim sulit air.
Perubahan iklim terkait perubahan
presipitasi dan tinggi muka air laut terbukti menurunkan kualitas dan
pengolahan air di perkotaan. Intrusi air laut, yang meningkat intensitasnya mengkontaminasi
air tanah dan permukaan, hal ini dapat mengurangi suplai air minum dan
menyebarkan polutan berbahaya melalui sistem pengelolaan air kota. Panas yang
ditimbulkan bangunan dan permukaan jalan yang diperkeras, menyebabkan peningkatan
panas kota di pulau, pemanasan ini menyebabkan peningkatan suhu di tampungan air.
Hal ini dapat memicu peningkatan jumlah algal, bakteri dan jamur yang
terkandung di dalam air. Peningkatan ini akan menambah biaya pengolahan untuk penyediaan
air bersih siap minum.
Adaptasi juga terkait komunikasi
pemerintah daerah dengan populasi yang memiliki resiko di wilayahnya. Seperti
pemanfaatan air Bribin di Gunungkidul, penambahan jaringan PDAM di Palembang
dan pemanfaatan air embung dan waduk di Kupang. Walau demikian masih ditemui
kekurangan dalam penyediaan infrastruktur.
Dari hasil pengamatan dan penelusuran
literatur ditemukan pentingnya kesadaran dan aksi rumah tangga dan komunitas
dalam menghadapi perubahan iklim. Walaupun pemerintah, pemerintah daerah memiliki
tanggung jawab untuk mengambil tindakan adaptasi, namun pengurangan resiko dan
ketahanan terhadap perubahan akan kembali diukur dalam skala rumah tangga dan
komunitas. Inisiatif komunitas terlihat dalam kasus di Gunungkidul. Ketika
peran pemerintah untuk menyediakan jaringan perpipaan kurang kuat dan efektif,
maka diperlukan peran aktif komunitas dan rumah tangga untuk meningkatkan
ketahanan terhadap perubahan iklim. Demikian juga di Kupang, peran aktif
komunitas yang diwadahi dalam program “Pamsimas” terbukti dapat meningkatkan
pelayanan penyediaan air bersih di daerah.
Peran rumah tangga pada adaptasi terhadap
perubahan iklim, berkait erat dengan perilaku manusia, yaitu semua kegiatan
untuk mengurangi kerentanan pada sebuah sistem kota, populasi, atau pada
individu. Peningkatan kesejahteraan dan akses kepada kepemilikan, informasi
atau jaringan sosial dapat membantu individu dan rumah tangga untuk mengurangi
resiko negatif.
Upaya penanganan perubahan iklim dalam
skala lokal, menjadi satu aspek penting dari strategi adaptasi total pada area
perkotaan. Pada tiga lokasi penelitian, dapat terlihat perbedaan karakter yang
akan menentukan pola strategi penanganan. Misalnya untuk daerah tepi sungai
Musi, berbeda dengan yang tidak di tepi sungai. Daerah tepi laut di Kupang dan
daerah di tengah kota di Wonosari, berbeda karakter dengan wilayah lain di Kota
atau Kabupaten yang sama.
Kuantitatif
Pengukuran kesiapan yang diberikan 3
indikasi belum siap, dukungan kolektif, proaktif, dibagi menjadi 3 variabel kesiapan yaitu individu,
komunitas dan kelembagaan (tabel 9). Pengukuran dengan menggunakan metode
statistik kemudian digambarkan ke dalam grafik untuk melihat peta kondisi
kesiapan yang ada.
Tabel 9. Variabel Kesiapan
Kesiapan individu
|
Kesiapan komunitas
|
Kesiapan kelembagaan
|
|||
1
|
Pengetahuan
|
1
|
Kearifan lokal
|
1
|
Jaringan
|
2
|
Persepsi
|
2
|
Pengelolaan air musim langka air
|
2
|
Ketersediaan informasi
|
3
|
Perilaku
|
3
|
Keterlibatan anggota
|
3
|
Saluran/ channel
|
4
|
Perilaku
penggunaan air sehari-hari
|
4
|
Kepemimpinan
|
4
|
Kesepakatan program dan dukungan kebijakan
|
5
|
Sakit karena
air
|
5
|
Keberadaan organisasi
|
5
|
manfaat
|
6
|
penggunaan air
saat musim langka
|
||||
7
|
Perilaku
pemanfaatan air
|
Tidak ada perbedaan yang
signifikan dari Kabupaten Gunung Kidul, Kota Kupang dan Kota Palembang pada kesiapan
individu. Ada
perbedaan yang signifikan antara Kabupaten Gunung Kidul dengan Kota Palembang
serta Kota Kupang dengan Kota Palembang, namun tidak ada perbedaan yang
signifikan antara Kabupaten Gunung Kidul dengan Kota Kupang pada kesiapan komunitas dan lembaga.
Adaptasi wilayah, diperlukan sehingga
dapat menarik investasi ekonomi, sehingga daerah dapat memiliki dana untuk
pengembangan infrastruktur. Infrastruktur yang dimaksud terkait peringatan dan
penanganan dini bencana, penerapan standar bangunan dan konstruksi, serta
peningkatan sistem drainase.
Potensi adaptasi yang ditemukan di lokasi
penelitian, jika digabung dengan indeks usaha adaptasi yang sudah ditemukan,
dapat digambarkan dalam atribut data peta informasi geografis yang sudah
dihasilkan Cipta Karya terkait dengan peta indikasi potensi air tanah. Contoh
upaya pembuatan upaya adaptasi pada gambar 3.
Belum
siap (0-0,25)
| |
Dukungan
kolektif (0,26-0,75)
| |
baik
(0,76-1)
|
Valuasi adaptasi
Biaya adaptasi penyediaan sumber air
minum terdiri dari biaya investasi awal, biaya operasional dan pemeliharaan
sarana serta biaya iuran/pengeluaran rutin. Biaya awal diprediksikan
sebagaimana disajikan pada Tabel 10.
Biaya awal meliputi biaya pengadaan perlengkapan/instalasi serta biaya
lain-lain, seperti tukang, konsumsi, dan lainnya yang diasumsikan 10% dari
biaya pengadaan.
Tabel 10. Biaya Awal Pengusahaan Air Minum Rumah Tangga
Komponen
|
Gunungkidul
|
Kupang
|
Palembang
|
Biaya
Pengadaan Perlengkapan/Instalasi
|
Rp. 1.010.500
|
Rp. 1.357.500
|
Rp.
1.210.000
|
Biaya lain-lain (10%)
|
Rp. 101.000
|
Rp.
135.750
|
Rp.
121.000
|
Total
|
Rp. 1.111.500
|
Rp. 1.493.250
|
Rp. 1.331. 000
|
Biaya di atas dikeluarkan seluruhnya pada
tahun pertama. Tahap selanjutnya dikeluaran
biaya untuk operasional dan pemeliharaan (OP) sarana seta biaya
iuran/pengeluaran.
Tabel 11. Biaya Rutin Penyediaan Air Minum Rumah Tangga Per Tahun
Komponen
|
Gunungkidul
|
Kupang
|
Palembang
|
Biaya OP
|
12 Bulan x Rp. 29.700 =
Rp. 356.400
|
12 Bulan x Rp. 81.300 =
Rp.
975.600
|
12 Bulan x Rp. 119.200 = Rp. 1.430.400
|
Biaya Iuaran/Pembelian Sumber Air Minum Musim
Langka Air
|
6 Bulan x Rp. 62.000 = Rp. 372.000
|
6 Bulan x Rp. 115.300 =
Rp. 691.800
|
6 Bulan x Rp. 112.400 = Rp. 674.400
|
Biaya Iuaran/Pembelian Sumber Air Minum Musim
Penghujan
|
6 Bulan x Rp. 30.400 = Rp. 182.400
|
6 Bulan x Rp. 73.500 =
Rp. 441.000
|
6 Bulan x Rp. 97.300 = Rp. 583.800
|
Total
|
Rp. 910.800
|
Rp. 2.108.400
|
Rp. 2.688.600
|
Variabel berikutnya adalah untuk manfaat.
Manfaat langsung dari adaptasi yang dilakukan penduduk antara lain efisiensi
pengeluaran penduduk dalam penyediaan air minum serta efisiensi pengeluaran
dari penurunan penyakit/peningkatan kesehatan lingkungan. Efisiensi total yang
diperoleh masyarakat dari pengeluaran air minum dalam satu tahun (tabel 12).
Tabel 12. Total Efisiensi Pengeluaran Rumah Tangga untuk Konsumsi Air
Minum Per Tahun
Kabupaten/Kota
|
Pengeluaran Eksisting
|
Analogi Pengeluaran Air Kemasan*
|
Total Efisiensi
|
Gunungkidul
|
Rp. 910.800
|
4 orang x 7 liter x 365 hari x Rp. 500 = Rp. 5.110.000
|
Rp. 4.199.200
|
Kupang
|
Rp. 2.108.400
|
Rp. 3.001.600
|
|
Palembang
|
Rp. 2.688.600
|
Rp. 2.421.400
|
Ket: * 1 galon air minum (20 liter) = Rp.
10.000, 1 liter = Rp. 500
Manfaat selanjutnya adalah efisiensi
karena penurunan penderitaan penyakit lingkungan akibat air dan sanitasi. Dalam
hal ini diasumsikan terjadi efisiensi tiap KK adalah 50 % dari pengeluaran
untuk kesehatan saat ini per tahun (Tabel 13).
Tabel 13. Total Efisiensi Pengeluaran Rumah Tangga untuk Kesehatan Per
Bulan
Kabupaten/Kota
|
Pengeluaran Eksisting
|
Asumsi Pengeluaran Pasca Ketersediaan Air Minum
|
TotalEfisiensi
|
Gunungkidul
|
Rp. 51.600
|
50% x Rp. 51.600 = Rp. 25.800
|
Rp. 25.800
|
Kupang
|
Rp. 151.400
|
50% x Rp. 151.400= Rp. 75.700
|
Rp. 75.700
|
Palembang
|
Rp. 203.000
|
50% x Rp. 203.000= Rp. 101.500
|
Rp. 101.500
|
Berdasarkan biaya dan manfaat di atas,
dapat divaluasi kelayakan ekonomi adaptasi yang dilakukan menggunakan asumsi
umur program 20 tahun dan tingkat bunga diskonto 15 %. Tabel 5 menunjukkan nilai manfaat tunai (net
benefit) didapat melebihi net cost-nya. Selisih keduanya adalah nilai manfaat
bersih berdasarkan nilai sekarang (NPV). NPV di semua kabupaten/kota adalah
positif, artinya cost-benefit ratio akan di atas 1 (terbukti pada Tabel 14).
Tabel 14. Hasil Analisis
Cost-Benefit Ratio
Parameter
|
Gunungkidul
|
Kupang
|
Palembang
|
Net Cost (15%)
|
Rp.
6.752.084
|
Rp.
11.471.748
|
Rp. 14.235.172
|
Net Benefit (15%)
|
Rp. 27.922.998
|
Rp. 24.214.630
|
Rp. 15.624.320
|
Net Present Value
|
Rp
21.170.914
|
Rp. 12.742.882
|
Rp. 1.389.147
|
Cost-Benefit Ratio
|
4, 14
|
2,11
|
1,10
|
VI.
Kesimpulan
Semua kegiatan adaptasi yang dilakukan di
tiga wilayah penelitian merupakan kegiatan reflektif terhadap potensi bencana
lokal. Hal ini dapat dipahami oleh karena baik pihak pemerintah maupun
masyarakat belum sepenuhnya mawas terhadap perubahan iklim dan dampak yang
diakibatkan olehnya. Strategi adaptasi dalam ketersediaan air sebenarnya secara
tidak sadar (autonomous) telah dilakukan hanya saja upaya penggunaan air olah
ulang dan efisiensi penggunaan belum sepenuhnya dilakukan.
Usaha adaptasi secara umum dapat dibagi
menjadi tahapan sebelum dilakukan tindakan adaptasi terhadap perubahan iklim, disebut
sebagai tahap persiapan tindakan. Tahap ini terdiri dari upaya identifikasi
pilihan adaptasi, terutama dilakukan dengan membuat data inventaris sumber air
yang mungkin untuk dikelola. Tahap lainnya adalah dengan mempertimbangkan upaya
sinergi kebijakan yang sudah ada dengan adaptasi perubahan iklim, termasuk
didalamnya terkait aspek kearifan lokal dan integrasi pengelolaan lingkungan.
Daerah dengan riwayat kekurangan air (seperti
Kupang dan Gunungkidul) memiliki kesiapan komunitas dan kelembagaan yang lebih
baik daripada daerah dengan riwayat banyak air namun, memerlukan upaya lebih
dalam beradaptasi.
Pengukuran
adaptasi dapat dilakukan dengan data kualitatif: Infrastruktur wilayah dan operasinya, bisnis
dan komersial serta kesehatan permukiman dan populasi umum juga dengan data
kualitatif : kesiapan individu, komunitas dan lembaga.
Pengembangan program oleh sektor
berdasarkan tingkat kerentanan dan kesiapan wilayah dibagi dalam matrik berikut
(tabel 15).
Tabel 15. Pengembangan
Program dan Upaya Adaptasi
Tingkat kerentanan
|
Kesiapan masyarakat
|
||
Belum
siap
|
Dukungan
kolektif
|
Proaktif
|
|
Resilience
|
Informasi
|
Diskusi
|
Monitoring
|
At
risk
|
Mengikat pada komitmen
|
Membangun infrastruktur sosial
|
Mengembangkan lembaga
|
Vulnerable
|
Intervensi paksa
|
Intervensi persuasif
|
Intervensi partisipatif
|
VII.
Rekomendasi
Dari hasil penelitian dapat dirumuskan rekomendasi,
dalam konteks kewilayahan di lokasi penelitian, sebagai berikut:
1.
Perlunya peningkatan kapasitas pengelolaan lingkungan
yang menjadi sumber air Perlu mengembangkan data kewilayahan tematik adaptasi dengan
menggunakan data peta dasar yang sudah ada (dari Dirjen Cipta Karya),
yaitu dengan menindih (layering) data sumber air tanah dengan digitasi ukuran
adaptasi. (untuk
pengambil kebijakan)
2.
Strategi adaptasi
dapat dilakukan dengan pengukuran, pemetaan dan penghitungan. (untuk
praktisi pengelola air minum)
3.
Penelitian dilanjutkan untuk menyempurnakan formula penghitungan
kesiapan adaptasi dan grafik prediksinya.
VIII.
Daftar Pustaka
Holt
D.,Dkk, 2007, The Development of an
Instrument to Measure Readiness for Knowledge Management, Operational
Research Society Ltd, USA
Kusnanto
H., 2011, Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim, BPFE, Yogyakarta.
United
Nations Human Settlements Programme (UN-Habitat), 2003, Global Report on Human Settlement, Earthscan Publications Ltd, 120
Pentonville Road, London, N1 9JN, United Kingdom
United
Nations Human Settlements Programme (UN-Habitat), 2010, The State of Asian Cities 2010/2011, Fukuoka, Japan
United
Nations Human Settlements Programme (UN-Habitat), 2012, Sustainable Urbanization in Asia: A Sourcebook for Local Governments, Nairobi, Kenya
--, Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional, Buku II Bab 8
Website:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar