telah diterbitkan di jurnal sosial ekonomi pekerjaan umum vol7. no 3. november 2015
V.
Reza Bayu Kurniawan1), Yudha Pracastino Heston2), Chitra
Widyasani P.3)
Abstrak
Evaluasi kinerja sangat
penting bagi perusahaan. Kaitannya dengan Perusahaan
Daerah Air Minum (PDAM), evaluasi kinerja tahunan merupakan tugas Badan
Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM). Indikator kinerja
PDAM dikategorikan dalam empat aspek yaitu keuangan, pelayanan, operasional,
dan sumber daya manusia. Berdasarkan aspek penilaian tersebut, dapat dilakukan
penilaian lebih komprehensif (finansial
– non finansial) melalui indikator produktivitas. Penelitian ini bertujuan
untuk mengevaluasi dan menganalisa sistem manajemen PDAM melalui pengukuran
produktivitas dan memberikan rekomendasi perbaikan kinerja PDAM yang lebih
komprehensif. Objek penelitian ini adalah enam PDAM di Indonesia yaitu PDAM
Kabupaten Badung, PDAM Kabupaten Gunung Kidul, PDAM Kabupaten Tegal, PDAM
Kabupaten Sintang, PDAM Kota Balikpapan, dan PDAM Kabupaten Lombok Utara.
Pengukuran produktivitas dilakukan menggunakan konsep dasar dari model
matematis Overal Equipment Effectiveness (OEE) yang terdiri dari indikator
availability, performance efficiency, dan quality rate. Hasil pengukuran
produktivitas adalah PDAM Kota Balikpapan memiliki nilai produktivitas
tertinggi, sebesar 66.98%
dengan nilai availability 95.83%, nilai performance efficiency 96.40%, dan
nilai quality rate 72.50%. Sedangkan nilai produktivitas terendah adalah PDAM
Kabupaten Sintang sebesar 10.18% dengan nilai availability 37.50%, nilai performance
efficiency 41.30%, dan nilai quality rate 65.70%. Rekomendasi pengukuran
produktivitas PDAM dapat menjadi pertimbangan untuk digunakan oleh BPPSPAM.
Kata Kunci:
evaluasi
kinerja PDAM, produktivitas, availability, performance efficiency, quality rate
Abstract
Performance
evaluation is important for bussiness enterprise. For Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM) annual
performance evaluation is Badan Pendukung Pengembangan Sistem Air Minum
(BPPSPAM) task. The indicators to determine performance of PDAM are being
categorized into four aspects, they are financial, service, operational, and
human resources. Based
on the performance evaluation, in depth and comprehensive assesment (financial –
nonfinancial) can be
done through productivity indicators. This
research purposes to evaluate and analyze PDAM management system through
productivity measurement and then give recommendation, that productivity measurement can be done
through indicators that have been determined to get more comprehensive result.
The objects of this research
are six PDAM in Inonesia, they are PDAM Kabupaten Badung, PDAM Kabupaten Gunung
Kidul, PDAM Kabupaten Tegal, PDAM Kabupaten Sintang, PDAM Kota Balikpapan, and
PDAM Kabupaten Lombok Utara. Productivity measurement can be performed using
basic concept of Overall Equipment Effectiveness mathematic model, that consist of availability
indicator, performance, efficiency, and quality rate. The results are PDAM Kota
Balikpapan has the highest productivity value 66.98 % with availability value
95,83 %, performance efficincy value 96.40% and quality rate value 72,50%.
Meanwhile the lowest productivity value is PDAM Kabupaten Sintang, that is
10,18%. PDAM productivity recommendation can be considered for BPPSPAM to use.
Key Word: PDAM performance evaluation, productivity,
availability, performance efficiency, quality rate
A.
Pendahuluan
Evaluasi kinerja
perusahaan merupakan hal yang sangat penting. Umpan balik atas hasil
evaluasi kinerja perusahaan atau biasanya dijelaskan melalui gap dapat berupa saran atau perbaikan
untuk peningkatan kinerja dan dapat digunakan oleh manajemen tingkat atas untuk
mengambil keputusan. Mahsun (2006) dalam Huda
(2013) menyebutkan manfaat dari pengukuran kinerja meliputi
menyamakan pemahaman terkait standar yang digunakan dalam mencapai kinerja,
memastikan capaian rencana kinerja, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan
kinerja, memberikan apresiasi dan hukuman secara obyektif atas capaian kinerja,
menjadi alat komunikasi dalam mencapai sasaran kinerja, menjadi alat ukur
kepuasan pelanggan, menjadi alat bantu pemahaman proses kegiatan, memastikan
obyektivitas
pengambilan keputusan, menunjukkan upaya peningkatan yang perlu dilaksanakan,
dan mengungkapkan permasalahan.
Evaluasi kinerja
perusahaan dilakukan oleh setiap perusahaan. Kaitannya dengan Perusahaan Daerah
Air Minum (PDAM), evaluasi kinerja tahunan merupakan tugas dari Badan Pendukung
Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM). Sesuai dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
(SPAM), disebutkan bahwa salah satu fungsi BPPSPAM adalah melaksanakan evaluasi
terhadap standar kualitas dan kinerja pelayanan penyelenggaraan SPAM. Evaluasi
kinerja PDAM dilakukan oleh BPPSPAM dengan mendasarkan pada hasil audit kinerja
PDAM oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) atau Kantor Akuntan
Publik (KAP) yang ditunjuk, sehingga hasil evaluasi kinerja dapat
dipertanggungjawabkan.
BPPSPAM sebagai
badan yang ditunjuk oleh pemerintah untuk melakukan evaluasi kinerja PDAM,
bersama dengan BPKP, PERPAMSI dan beberapa PDAM telah menyusun indikator
penilaian/evaluasi kinerja PDAM. Indikator-indikator ini merupakan hasil
pengembangan pada tahun 2010 meliputi empat aspek penilaian yaitu aspek
keuangan, pelayanan, operasional, dan sumber daya manusia. Hasil dari penilaian
keempat aspek tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori yaitu PDAM
Sehat, PDAM Kurang Sehat, dan PDAM Sakit.
Pembobotan keempat
aspek yang telah disusun oleh BPPSPAM bersama dengan BPKP, PERPAMSI dan
beberapa PDAM tersebut relatif berimbang dan proporsional. Berdasarkan
karakteristiknya, bobot masing-masing aspek yaitu aspek keuangan sebesar 25%,
aspek pelayanan sebesar 25%, aspek operasional sebesar 35%, dan aspek sumber
daya manusia sebesar 15%. Dari keempat aspek yang digunakan sebagai indikator
pencapaian hasil kinerja, aspek operasional merupakan aspek dengan bobot yang paling
besar dalam penilaian hasil/evaluasi kinerja PDAM yaitu sebesar 35%. Dasar
pertimbangan tersebut dijelaskan melalui buku Kinerja PDAM 2014 oleh BPPSPAM
bahwa aspek operasional memiliki peranan yang sangat penting dalam perolehan
pendapatan. Sesuai dengan Buku Kinerja PDAM, beberapa indikator yang digunakan
untuk menilai aspek operasional yaitu efisiensi produksi, tingkat kehilangan
air, jam operasi pelayanan, tekanan air pada sambungan pelanggan, dan
penggantian meter air pelanggan.
Berdasarkan
keempat aspek penilaian kinerja PDAM yang telah disusun oleh BPPSPAM, dapat
dilakukan penilaian secara lebih detail dan komprehensif melalui indikator produktivitas.
Penilaian produktivitas perusahaan juga menjadi salah satu dasar penilaian yang
sangat penting bagi perusahaan. Dengan produktivitas yang
semakin meningkat, diharapkan dapat meningkatkan perkembangan dan kemajuan
perusahaan (Supriyanto dan Wisnubroto 2014). Menurut Utami (2002)
produktivitas menjadi faktor yang penting karena menggambarkan kinerja ekonomis
perusahaan yang meliputi dua hal yaitu kinerja operasional dan kinerja
keuangan. Dijelaskan bahwa kinerja operasional dinilai dari
aliran input-proses-aliran output, sedangkan kinerja keuangan
dinilai berdasarkan aliran keluar dan masuknya dana.
Pengukuran tentang
produktivitas di suatu perusahaan dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan.
Indriati dkk (2014) mengukur produktivitas dengan menggunakan metode green
productivity. Pendekatan green productivity digunakan sekaligus untuk mengukur
kinerja lingkungan dengan environmental performance indicator. Pengukuran
produktivitas dengan metode green productivity bertujuan untuk mengurangi
dampak limbah ke lingkungan akbat hasil produksi. Widyastuti dkk (2014) juga
menggunakan metode green productivity dalam rangka reduksi limbah dan
pengelolaan lingkungan sehingga dapat meningkatkan produktivitas perusahaan. Widyastuti
dkk (2014) menyimpulkan bahwa dengan menggunakan metode green productivity
dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan produktivitas perusahaan
sebesar 1.25% serta kontribusi terhadap perbaikan kualitas lingkungan. Dewi dkk
(2013) melakukan pengukuran dan perbaikan produktivitas dengan menggunakan
metode objective matrix (OMAX) dan
perbaikan dengan prinsip 5S. Hasil yang didapatkan di suatu objek yang diteliti
menunjukkan peningkatan produktivitas sebesar 117%. Metode OMAX juga digunakan
oleh Tanaamah dkk (2013) dalam penelitiannya untuk mengidentifikasi kriteria
dan mengukur produktivitas dengan objek hotel. Dari berbagai pendekatan yang
digunakan untuk mengukur produktivitas dapat disimpulkan bahwa produktivitas
memiliki peranan yang sangat penting bagi perusahaan. Phusavat (2013)
menjelaskan bahwa terminologi produktivitas digunakan untuk menunjukkan tingkat
seberapa kompetitif suatu perusahaan. Pada penelitian ini, penilaian
produktivitas PDAM dapat dihitung dari indikator-indikator yang telah dihimpun
di dalam laporan kinerja PDAM oleh BPPSPAM sehingga nantinya penilaian akan
evaluasi kinerja PDAM dapat dilakukan dan diinterpretasikan dengan lebih baik.
Secara konseptual,
pengukuran produktivitas merupakan bagian dari aspek operasional yang memiliki
pengaruh paling besar dalam penilaian evaluasi dan kinerja PDAM. Untuk itu, pengukuran
produktivitas PDAM ini dilakukan untuk menganalisa sistem manajemen PDAM dari
indikator-indikator yang telah ditetapkan oleh BPPSPAM.
Pengukuran produktivitas ini menjadi unsur kebaruan yang ditawarkan dalam
tulisan ini.
B. Kajian Pustaka
Penetapan
indikator penilaian/evaluasi kinerja PDAM menggunakan pendekatan Balanced Scorecard. Chaeronsuk dan
Chansa-ngavej (2008) menjelaskan bahwa pendekatan Balanced Scorecard menghubungkan antara kinerja keuangan (financial performance) dan kinerja non-keuangan
(non-financial performance). Dengan
menggunakan pendekatan ini, dapat diberikan gambara terkait
kinerja keuangan, pelanggan, proses bisnis internal dan proses pembelajaran
serta pertumbuhan. Pendekatan balanced
scorecard (Nawirah 2014) dapat dipakai untuk organisasi publik
dengan beberapa penyesuaian. Dari keempat aspek tersebut dihasilkan nilai
evaluasi dan disimpulkan ke dalam tiga klasifikasi yaitu PDAM Sehat, PDAM
Kurang Sehat, dan PDAM Sakit. Perhitungan masing-masing aspek ditampilkan pada
Tabel 1.
Tabel 1. Indikator Kinerja, Model Matematis dan Keterangan Indikator
Kinerja PDAM untuk Aspek Keuangan, Pelayanan, Operasional, dan Sumber Daya
Manusia
No
|
Indikator
Kinerja
|
Model
Matematis
|
Keterangan
|
Keuangan
|
|||
1
|
Rentabilitas: Kemampuan perusahaan memperoleh
laba
|
||
a.
ROE
|
|||
b.
Rasio
Operasi
|
Indikator ini menunjukkan kemampuan dalam
melakukan efisiensi dan peningkatan pendapatan untuk menutup biaya operasi.
|
||
2
|
Likuiditas: Kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajibannya
|
||
a.
Rasio Kas
|
Indikator Rasio Kas digunakan untuk
melihat kemampuan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
|
||
b.
Efektivitas
Penagihan
|
Indikator ini menunjukkan kemampuan
mengelola pendapatan dari hasil penjualan air kepada pelanggan (piutang air)
secara efektif sehigga menjadi penerimaan PDAM.
|
||
3
|
Solvabilitas: Kemampuan memenuhi
kewajibannya saat dilikuidasi
|
Indikator ini digunakan untuk mengetahui
kemampuan aktiva/aset dalam menjamin kewajiban/hutang jangka panjangnya.
|
|
Pelayanan
|
|||
1
|
Cakupan Pelayanan
|
Indikator ini digunakan untuk melihat
kemampuan dalam melakukan pelayanan air di wilayah pelayanan.
|
|
2
|
Pertumbuhan Pelanggan (% per tahun)
|
Indikator ini menggambarkan aktivitas
PDAM dalam menambah jumlah pelanggannya.
|
|
3
|
Tingkat Penyelesaian Aduan
|
Indikator ini menggambarkan upaya
menyelesaikan aduan yang berasal dari pelanggan atau bukan.
|
|
4
|
Kualitas Air Pelanggan
|
Indikator ini menggambarkan sejauh mana
PDAM mampu melayani pelanggannya dengan kualitas air minum (3K) sebagaimana
yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/MENKES/PER/IV/2010
tentang persyaratan kualitas air minum.
|
|
5
|
Konsumsi Domestik
|
Indikator ini untuk mengetahui tingkat
rata-rata konsumsi air per pelanggan runah tangga dalam satu bulan dalam
tahun yang bersangkutan, lebih jauh maka dapat pula diketahui rata-rata
konsumsi liter per orang per hari, hal ini penting mengingat pendekatan
konsumsi minimal (Basic Needs Approach/BNA).
|
|
Operasional
|
|||
1
|
Efisiensi Produksi
|
Efisiensi produksi merupakan indikator
yang menunjukkan tingkat efisiensi PDAM dalam memanfaatkan kapasitas
terpasangnya.
|
|
2
|
Kehilangan Air/Tidak Berekening
|
Indikator ini menjelaskan kemampuan
mengendalikan penjualan air minum melalui sistem distribusi perpipaan.
|
|
3
|
Jam Operasi Layanan
|
Indikator ini menjelaskan kemampuan
mempertahankan pelayanan pegaliran air kepada pelanggannya dengan tingkat
kontinyu 1 x 24 jam per hari.
|
|
4
|
Tekanan Air Pada Sambungan Pelanggan
|
Indikator ini digunakan untuk mengetahui
capaian tekanan air PDAM pada rata-rata pipa pelanggannya.
|
|
5
|
Penggantian Meter Pelanggan
|
Indikator ini digunakan untuk menilai
tingkat penggantian meter pelanggannya sesuai ketentuan yang berlaku.
|
|
Sumber Daya Manusia
|
|||
1
|
Rasio Jumlah pegawai/1000 pelanggan
|
Indikator ini digunakan untuk mengukur
efisiensi pegawai PDAM terhadap pelanggan.
|
|
2
|
Rasio Diklat Pegawai
|
Indikator ini digunakan untuk menilai
tingkat kompetensi pegawai PDAM.
|
|
3
|
Biaya Diklat terhadap Biaya Pegawai
|
Indikator ini untuk mengetahui tingkat
apresiasi dalam mengupayakan pegawai lainnya agar kompeten.
|
Sumber: Badan
Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
Metode pengukuran produktivitas sistem mengacu pada konsep
dasar Overal Equipment Effectiveness
(OEE). OEE merupakan metode yang digunakan
untuk mengukur kinerja dari suatu sistem produksi. Dalam sistem kehandalan, OEE
digunakan sebagai alat ukur (metrik) dalam penerapan program TPM (Total Productive Maintenance) guna
menjaga peralatan pada kondisi ideal. OEE merupakan besaran efektivitas
peralatan atau mesin. OEE dihitung berdasarkan kemampuan dari alat-alat
perlengkapan, efisiensi kinerja dari proses, dan tingkat mutu produk:
Penerapan metode OEE
memberikan beberapa manfaat yaitu dapat digunakan untuk menentukan starting point dari perusahaan ataupun
peralatan/mesin, selain itu dapat juga digunakan utnuk mengidentifikasi
kejadian bottleneck di dalam
peralatan/mesin, mengidentifikasi kerugian produktivitas (true productivity loses), dan menentukan prioritas dalam usaha (Ansori
dan Mutajib, 2013). Erwin (2014) menggunakan metode OEE untuk melakukan
efisiensi yang tepat sasaran dan meningkatkan produktivitas proses produksi
dengan studi kasus perusahaan pembuat baterei kering dan baterei Lithium Coin. Menurut Erwin (2014), OEE
dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur dan mengevaluasi seberapa efektif
kinerja peralatan (dalam hal ini mesin) secara keseluruhan. Kaitannya dengan
pengukuran keefektifan mesin dengan menggunakan metode OEE, juga dilakukan oleh
Mohammad (2015) yang menyatakan bahwa metode OEE secara tepat dapat mengukur
keefektifan mesin pada proses produksi dan mampu mengidentifikasi faktor-faktor
yang mempengaruhi keefektifan mesin serta dapat menjadi bahan perbaikan untuk
penerapan Total Productive Maintenance
(TPM) bagi perusahaan. Ahmad dkk (2013) menggunakan metode OEE sebagai alat
untuk mengukur dan mengetahui kinerja mesin dan peralatan di departemen forging studi kasus PT APP. Habib dan Supriyanto (2012) dalam penelitiannya menggunakan
metode OEE sebagai perbaikan efektivitas mesin dengan objek CNC cutting. Djunaidi dan
Natasya (2013) melakukan pengukuran produktivitas mesin dengan menggunakan
metode OEE. Penerapan metode OEE untuk menghitung produktivitas mesin telah
diteliti dengan objek yang berbeda-beda. Pada penelitian ini, metode OEE
digunakan sebagai dasar konsep untuk menghitung produktivitas sistem manajemen
PDAM. Indikator-indikator yang digunakan untuk menghitung produktivitas sistem
manajemen PDAM sesuai dengan indikator-indikator yang telah dievaluasi oleh
BPPSPAM. Nilai produktivitas sistem manajemen PDAM nantinya dapat
menginterpretasikan kinerja dari aspek finansial dan non-finansial, serta dapat
digunakan oleh pengambil keputusan dalam perbaikan sistem manajemen di PDAM
hanya melalui satu paramater (produktivitas). Model matematis untuk menghitung indikator OEE
ditampilkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Deskripsi Indikator OEE: Availability, Performance Efficiency dan Quality Rate, dan Model Matematis
No
|
Indikator
|
Model
Matematis
|
Keterangan
|
1
|
Availability
|
Availability merupakan
suatu rasio yang menggambarkan pemanfaatan waktu yang tersedia untuk kegiatan
operasi mesin atau peralatan.
|
|
2
|
Performance Efficiency
|
Performance efficiency merupakan
suatu rasio yang menggambarkan kemampuan dari peralatan dalam menghasilkan
barang
|
|
3
|
Quality Rate
|
Quality Rate merupakan
suatu rasio yang menggambarkan kemampuan peralatan dalam menghasilkan produk
yang sesuai standar.
|
Sumber: Ansori
dan Mutajib, 2013
Menurut Nakajima (1988)
dalam Ansori dan Mutajib (2013), kondisi ideal untuk OEE setelah
dilaksanakannya TPM pada suatu perusahaan yaitu nilai availability >90%, nilai performance
efficiency >95% dan nilai quality
rate >99% sehingga kondisi ideal pencapaian nilai OEE adalah >85%.
Perhitungan matematis OEE selanjutnya akan disesuaikan dengan
indikator-indikator BPPSPAM untuk menilai produktivitas PDAM.
B.
Metode Penelitian
Objek pada penelitian
ini adalah enam PDAM di Indonesia yang meliputi PDAM Kabupaten Badung, PDAM
Kabupaten Gunung Kidul, PDAM Kabupaten Tegal, PDAM Kabupaten Sintang, PDAM Kota
Balikpapan, dan PDAM Kabupaten Lombok Utara. Pemilihan keenam PDAM tersebut
berdasarkan karakteristik PDAM yang meliputi hasil penilaian kinerja PDAM (PDAM
Sehat, PDAM Kurang Sehat, dan PDAM Sakit), skala bisnis PDAM (PDAM Kota dan
PDAM Kabupaten), dan tingkat Non-Revenue Water PDAM.
Untuk kategori PDAM dengan kondisi tidak sehat dan NRW bermasalah diwakili oleh
PDAM Kabupaten Gunungkidul DIY, PDAM Kabupaten Tegal Jawa Tengah, dan PDAM
Kabupaten Sintang Kalimantan Barat. Sedangkan untuk kategori PDAM dengan NRW
tidak bermasalah diwakili oleh PDAM Kabupaten Badung-Bali, PDAM Kota
Balikpapan, dan PDAM Kabupaten Lombok Utara.
Data yang dihimpun
untuk mengukur produktivitas masing-masing PDAM adalah data sekunder dari Buku
Kinerja PDAM Wilayah I, II, III, dan IV oleh BPPSPAM tahun 2014. Dari
indikator-indikator penilaian/evaluasi kinerja PDAM selanjutnya dihitung produktivitas
di masing-masing sampel PDAM dengan menggunakan konsep dasar model matematis
OEE. Model matematis untuk menghitung nilai PDAM Availability, PDAM Efficiency,
dan PDAM Quality Rate ditampilkan
pada Tabel 3. Pengukuran produktivitas PDAM dihitung dengan menggunakan rumus:
Pada pengukuran
produktivitas PDAM, nilai kondisi ideal perlu dipertimbangkan lagi karena
rata-rata PDAM di seluruh Indonesia memiliki tingkat NRW sebesar 20%-40% dan
waktu operasi aktual yang bervariasi sehingga akan mempengaruhi nilai
produktivitas PDAM.
C.
Hasil dan Pembahasan
Data yang memuat
variabel-variabel actual operating time,
actual volume, dan Non-Revenue Water (NRW) amount yang akan dihitung dengan
menggunakan tiga indikator produktivitas di enam PDAM sampel ditampilkan pada
Tabel 4.
Dari data yang sudah
dikumpulkan, selanjutnya dilakukan pengukuran produktivitas PDAM yang meliputi availability, performance efficiency, dan
quality rate. Hasil pengukuran tiga indikator produktivitas (availability, performance efficiency, dan
quality rate) di setiap sampel PDAM ditampilkan pada Tabel 5.
Tabel 4. Data Actual Operating Time, Actual
Volume dan NRW Amount di Enam
Sampel PDAM (BPPSPAM, 2014)
No
|
Wil
|
PDAM
|
Actual
Operating Time
(detik/tahun)
|
Actual Volume
(lt/tahun)
|
NRW Amount
(lt/tahun)
|
1
|
IV
|
Kab. Badung
|
28.908.000
|
32.637.132.000
|
9.889.050.996
|
2
|
II
|
Kab. Gunung Kidul
|
23.652.000
|
6.291.432.000
|
1.616.898.024
|
3
|
II
|
Kab. Tegal
|
31.536.000
|
4.730.400.000
|
1.281.938.400
|
4
|
III
|
Kab. Sintang
|
11.826.000
|
650.430.000
|
223.097.490
|
5
|
III
|
Kota Balikpapan
|
30.222.000
|
34.936.632.000
|
9.607.573.800
|
6
|
IV
|
Kab. Lombok Utara
|
30.222.000
|
1.843.542.000
|
597.307.608
|
Tabel 5. Hasil Pengukuran PDAM Availability, PDAM Efficiency, PDAM Quality Rate,
dan Nilai Produktivitas PDAM
No
|
Wil
|
PDAM
|
Availability (%)
|
Performance Efficiency (%)
|
Quality Rate (%)
|
Produktivitas (%)
|
1
|
IV
|
Kab. Badung
|
91.67
|
69.80
|
69.70
|
44.60
|
2
|
II
|
Kab. Gunung Kidul
|
75.00
|
38.80
|
74.30
|
21.62
|
3
|
II
|
Kab. Tegal
|
100.00
|
77.40
|
72.90
|
56.42
|
4
|
III
|
Kab. Sintang
|
37.50
|
41.30
|
65.70
|
10.18
|
5
|
III
|
Kota Balikpapan
|
95.83
|
96.40
|
72.50
|
66.98
|
6
|
IV
|
Kab. Lombok Utara
|
95.83
|
40.60
|
67.60
|
26.30
|
Berdasarkan data yang
ditampilkan pada Tabel 5, nilai produktivitas terbesar adalah PDAM Kota
Balikpapan dan nilai produktivitas terendah adalah PDAM Kabupaten Sintang. PDAM
Kota Balikpapan memiliki nilai produktivitas sebesar 66.98% dengan nilai availability sebesar 95.83%, nilai performance efficiency sebesar 96.40%,
dan nilai quality rate sebesar
72.50%. Sedangkan nilai produktivitas terendah dari keenam sampel PDAM yang
dipilih adalah PDAM Kabupaten Sintang yang memiliki nilai produktivitas sebesar
10.18%. PDAM Kabupaten Sintang memilki nilai availability sebesar 37.50%, performance
efficieny sebesar 41.30%, dan quality
rate sebesar 65.70%. Selain PDAM Kota Balikpapan yang memilik nilai
produktivitas tertinggi, PDAM Kota Tegal juga memiliki nilai ketiga indikator
produktivitas yang konsisten ditunjukkan dengan nilai availability yang mencapai 100%, performance efficieny sebesar 77.40%, dan quality rate sebesar 72.90%.
Availability
menunjukkan kemampuan PDAM dalam melayani kebutuhan penyediaan air kepada
pelanggannya dalam satu tahun. Berdasarkan data nilai availability yang ditunjukkan pada Tabel 5, PDAM Kabupaten Tegal
memiliki nilai availability tertinggi
mencapai 100% yang berarti bahwa PDAM Kabupaten Tegal memiliki waktu operasi
selama 24 jam dalam satu hari. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pelayanan yang
dilakukan oleh PDAM Kabupaten Tegal kepada pelanggannya sangat baik. Dari
keenam sampel PDAM yang dipilih, nilai availability
terendah adalah PDAM Kabupaten Sintang sebesar 37.50%. Nilai availability yang begitu rendah di PDAM
Kabupaten Sintang menunjukkan bahwa PDAM Kabupaten Sintang hanya menggunakan
waktu operasinya sebesar 37.50% dari waktu operasi PDAM yang direkomendasikan
selama satu tahun.
Indikator kedua untuk
menghitung nilai produktivitas adalah performance
efficiency. Berdasarkan data performance
efficiency yang ditunjukkan pada Tabel 5, PDAM Kota Balikpapan memiliki
nilai performance efficiency
tertinggi sebesar 96.40% dan PDAM Kabupaten Gunung Kidul memiliki nilai performance efficiency terendah sebesar
38.80%. Performance efficiency
merupakan rasio antara volume aktual yang didistribusikan dengan total jam operasi
aktual. Dari data performance efficiency,
PDAM Kota Balikpapan sangat efisien dalam mengoperasikan unit instalasi pengolahan
airnya, ditunjukkan dengan besarnya nilai efisiensi yang mencapai 96.40%. Besarnya
nilai performance efficiency dapat
memberikan dua kesimpulan yaitu bahwa PDAM Kota Balikpapan mampu menunjukkan
tingkat efisiensi operasi yang baik melalui volume riil yang didistribusikan,
dan yang kedua menunjukkan bahwa PDAM Kota Balikpapan hampir 100% telah
menggunakan kapasitas produksi unit instalasi pengolahan airnya dengan
maksimal. Hal ini menjadi tantangan bagi PDAM Kota Balikpapan. Dengan nilai
efisiensi sebesar 96.40%, PDAM Kota Balikpapan harus mulai merencanakan untuk
menambah kapasitas produksi unit instalasi pengolahan airnya dengan
mengimplementasikan berbagai rekomendasi kebijakan jangka panjang dan jangka
pendek. Penambahan kapasitas jangka panjang dapat dilakukan dengan membangun
unit instalasi pengolahan air yang baru. Pembangunan baru unit instalasi
pengolahan air memerlukan biaya yang besar (capital
expenditure) namun juga memberikan dampak berupa penambahan kapasitas yang
sangat besar. Pembangunan unit instalasi pengolahan air yang baru minimal dapat
memberikan penambahan kapasitas sebesar dua kali dari kapasitas produksi saat
ini. Rekomendasi jangka panjang dilakukan untuk mengantisipasi prediksi
pertumbuhan jumlah pelanggan eksponensial.
Alternatif kebijakan
kedua yang dapat dilakukan oleh PDAM Kota Balikpapan dalam mengantisipasi
kekurangan kapasitas (capacity backlog)
dibandingkan permintaan (demand) yang
terus meningkat adalah penambahan kapasitas jangka pendek dengan menerapkan
teknologi uprating. Teknologi uprating merupakan salah satu metode
optimalisasi peningkatan kapasitas produksi unit pengolahan air dengan biaya
rendah. Pamekas (2015) menjelaskan bahwa uprating
adalah upaya peningkatan kapasitas produksi air minum dengan tidak menambah
luas lahan dan unit instalasi baru. Teknologi ini disebut sebagai optimasi
instalasi pengolahan air atau peningkatan kapasitas produksi. Objek pada unit
instalasi pengolahan air yang akan dioptimasi dengan mengimplementasikan
teknologi uprating terletak pada bak
pengendap kedua (secondary sedimentation)
dengan cara menambah luas bidang pengendapan partikel tersuspensi yang telah
membentuk gumpalan (flok) pada
kondisi aliran laminer. Implementasi teknologi uprating dapat meningkatkan kapasitas produksi PDAM Kota Balikpapan
untuk mengantisipasi pertumbuhan pelanggan dalam jangka pendek dengan biaya
yang rendah.
Indikator ketiga untuk
mengukur nilai produktivitas PDAM adalah quality
rate. Nilai quality rate
menunjukkan tingkat Non-Revenue Water
(NRW) atau air tidak berekening di suatu PDAM. Tingkat NRW merupakan salah satu
indikator penting yang digunakan untuk menilai tingkat kesehatan PDAM. Dari
tingkat NRW dapat disimpulkan kinerja PDAM dari berbagai aspek mulai dari aspek
pelayanan, aspek keuangan, aspek operasional, dan aspek sumber daya manusia. Berdasarkan
data yang ditampilkan pada Tabel 5, PDAM Kabupaten Gunung Kidul memiliki nilai quaity rate tertinggi sebesar 74.30%.
Nilai ini lebih besar dibandingkan dengan nilai quality rate PDAM Kota Balikpapan walau PDAM Kota Balikpapan
memiliki nilai produktivitas tertinggi.
Pengukuran
produktivitas dapat menunjukkan analisa kinerja PDAM dengan lebih komprehensif
melalui tiga indikator pembentuknya (avalability,
performance efficiency dan quality rate).
Hal ini menunjukkan kinerja finansial dan non-finansial PDAM. Evaluasi secara
kualitatif dan validasi metode ini dapat dilakukan dengan observasi instansi
sehingga memberikan rekomendasi kepada PDAM yang bersangkutan terkait
rekomendasi perbaikan yang harus dilakukan sesuai dengan data-data yang
ditunjukkan. Grafik nilai indikator masing-masing produktivitas PDAM (availability, performance efficiency, dan quality
rate) ditampilkan pada Gambar 1.
D.
Kesimpulan
Dari hasil pengukuran
produktivitas, PDAM Kota Balikpapan memiliki nilai availability, performance efficiency
dan quality rate yang cenderung
tinggi berturut-turut sebesar 95.83%, 96.40%, dan 72.50%. Berbeda dengan grafik
PDAM Kab. Sintang yang lebih cenderung ke titik Quality Rate. Besar nilai availability
dan efficiency di PDAM Kab. Sintang
adalah 37.50% dan 41.30%, sedangkan nilai quality
rate sebesar 65.70%. Grafik proporsi nilai produktivitas yang seimbang
terletak di PDAM Kab Tegal dan Kota Balikpapan.
Rekomendasi produktivitas
PDAM ini dapat menjadi pertimbangan untuk digunakan oleh BPPSPAM dengan
mengukur produktivitas PDAM dari variabel jam kerja, volume yang
didistribusikan, dan tingkat NRW.
E.
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih disampaikan penulis kepada BPPSPAM Kemen PUPR,
Perpamsi, PDAM Badung, PDAM Gunung Kidul, PDAM Tegal, PDAM Sintang, PDAM
Balikpapan, PDAM Lombok Utara, AKATIRTA, Balitbang PUPR, Yun Prihantina ST.
MSc, Wahyu K, S.Sos, M. Jauharul, SE, MM, Nur Alvira, SKM, MPH, Balai Litbang
Sosekling Bid. Kim, PKPT dan semua pihak terkait.
F.
Daftar Pustaka
Ahmad, Soenandi, I., dan Aprilia, C. 2013.
Peningkatan Kinerja Mesin Dengan Pengukuran Nilai OEE Pada Departemen Forging
Di PT. APP. Jurnal Ilmiah Teknik Industri
(2013), Vol. 1 No. 2,67-74.
Ansori, N., dan Mustajib, I.F. 2013. Sistem Perawatan Terpadu: Edisi Pertama.
Penerbit Graha Ilmu. Indonesia.
BPPSPAM. 2014. Buku Kinerja PDAM 2014 Wil I. Jakarta.
BPPSPAM. 2014. Buku Kinerja PDAM 2014 Wil II. Jakarta.
BPPSPAM. 2014. Buku Kinerja PDAM 2014 Wil III. Jakarta.
BPPSPAM. 2014. Buku Kinerja PDAM 2014 Wil IV. Jakarta.
BPPSPAM. 2014. Petunjuk Teknis Evaluasi Kinerja PDAM. Jakarta.
Chaeronsuk, C., dan
Chansa-ngavej, C. 2008. Intangible Asset Management Framework for Long-term
Financial Performance. Journal of
Industrial Management & Data Systems, Vol. 108 No. 6 pp.812-828.
Dewi, M.P., Rosiawan, M., dan Sari, Y.
2013. Penerapan Good Manufacturing Practices dan 5S Untuk Peningkatan
Produktivitas Di PT. Catur Pilar Sejahtera Surabaya. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol. 2 No. 1 (2013).
Erwin, H. 2014. Thesis: Evaluasi Proses Produksi Baterei Lithium Coin Berdasarkan
Pendekatan Overall Equipment Effectiveness Studi Pada PT FDK Indonesia.
Yogyakarta: Perpustakaan Pusat Universitas Gadjah Mada.
Djunaidi, M., dan Natasya, R. 2013.
Pengukuran Produktivitas Mesin Dengan Overall Equipment Effectiveness (OEE) Di
PT. Sinar Sosro KPB. Cakung. Simposium
Nasional Teknologi Terapan (SNTT) 2013.
Habib, A.S., dan Supriyanto, H. 2012.
Pengukuran Nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE) Sebagai Pedoman
Perbaikan Efektivitas Mesin CNC Cutting. Jurnal
Teknik POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-6.
Huda, M. dan
Riharjo I.B. 2013. Analisis Pelaporan Kinerja pada Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Jurnal
Ilmu & Riset Akuntansi, Vol. 2 No. 12 (2013).
Indriati, N.N., Rahman, A., Tantrika, C.F.M.
2014. Analisis Produktivitas dan Environmental Performance Indicator (EPI) Pada
Produk SKM Dengan Metode Green Productivity Pada Perusahaan Rokok Adi Bungsu
Malang. Jurnal Rekayasan dan Manajemen
Sistem Industri, Vol. 2 No. 5 (2014).
Mohammad, I.R. 2015. Skripsi: Penerapan Overall Equipment Effectiveness (OEE) Dalam
Implementasi Total Productive Maintenance (TPM) Studi Kasus Di PT. Adi Satria
Abadi Kalasan. Fakultas Teknik, Sains dan Matematika, Jurusan Elektro dan
Ilmu Komputer, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.
Nawirah. 2014. Penerapan Sistem
Manajemen Strategi Berbasis Balance Scorecard pada Organisasi
Sektor Publik. El Muhasaba: Jurnal Akuntansi Vol 4:2, 2014
(E-ISSN:2442-8922).
Pamekas. 201f5. NRW dan Uprating Instalasi Pengolahan Air Minum-Bahan
Paparan. Jakarta 31 Juli 2015.
Phusavat, K. 2013. Productivity Management in an Organization: Measurement and Analysis.
ToKnowPress, Thailand.
Rahayu, D.D. 2015. Pengukuran Kinerja Perusahaan dengan
Menggunakan Pendekatan Balanced Scorecard Pada Perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM) Kota Batu.
Jurnal
Ilmiah Mahasiswa FEB
Supriyanto F.T., dan Wisnubroto,
M.Y.P. 2014. Analisis Produktivitas Menggunakan Metode Cobb Douglas dan Metode
Habberstad (POSPAC) (Studi Kasus di Pabrik Pengecoran Logam “PT Baja Kurnia”). Jurnal REKAVASI, Vol. 2, No. 1, Mei 2014,
25-32 ISSN: 2338-7750 25.
Tanaamah, A.R., Beeh, Y.R., dan Ngemba,
H.R. 2013. Produktivitas Hotel Menggunakan Metode OMAX (Studi Kasus: Hotel Le
Beringin Salatiga). Jurnal Teknologi
Informasi-Aiti, Vol. 10 No. 2, Agustus 2013: 101-200.
Utami, C.W. 2002. Peningkatan Nilai
Perusahaan Melalui Perbaikan Produktivitas Dan Kualitas Pada Sektor Jasa Sebuah
Analisis Konseptual. Jurnal Manajemen & Kewirausahaan, Vol. 4
No. 1: 56-64.
Widyastuti, N., Parwati, C.I., dan Asih
E.W. 2014. Analisis Produktivitas Pada Proses Penyepuhan Dengan Metode Green
Productivity. Jurnal REKAVASI, Vol. 2,
No. 1, Mei 2014, 33-38.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar