* telah diterbitkan di Buletin Dinamika Riset Balitbang PUPR, 2016
Yudha P. Heston* dan Arif K. Hernawan
Sambil menyisihkan
sampah, Jajang, 56 tahun, menyeka keringatnya. Meski medio Februari 2016 itu
sudah memasuki musim hujan, siang itu matahari bersinar sangat terik. “Kalau
musim kemarau sampah hanya 1 kubik perhari, tapi kalau musim hujan sampah bisa
sampai 4-5 kubik perhari,” kata warga Desa Bojongsoang, Kecamatan Bojongsoang,
Kabupaten Bandung itu.

Gambar 1. Jajang memberikan
informasi
Sumber: peneliti, 2016
Jajang salah satu
petugas di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Bojongsoang. Tugasnya
membersihkan sampah-sampah yang menyumbat di saluran dan kolam pada IPAL yang
berlokasi di dua desa yakni Bojongsoang dan Bojongsari ini.
IPAL berfungsi untuk
mengolah air buangan rumah tangga menjadi air yang aman untuk dimanfaatkan di
lingkungan. Dibangun pada 1990, IPAL Bojongsoang beroperasi sejak 1992. Berdiri
di atas lahan 85 hektar, IPAL ini meliputi area kolam pengolahan yang terdiri
14 kolam.
Bukan hanya
mengolah limbah, IPAL Bojongsoang juga ditata dengan cantik dan asri. IPAL
dihiasi tanaman bunga seperti anggrek, sedapmalam, bahkan tanaman obat, juga
sejumlah satwa dan puluhan burung yang dilepasliarkan. Pemandangan di
kolam-kolam IPAL juga mempesona dengan latar belakang Gunung Geulis dan Batu
Asahan. Sejumlah sekolah dan instansi bahkan wakil beberapa negara menjadikan IPAL
Bojongsoang sebagai tujuan wisata edukasi.
Instalasi ini menjadi
instalasi pengolahan air buangan domestik terbesar di Indonesia bahkan Asia
Tenggara karena berasal dari aliran Sungai Citarum. Sungai Citarum adalah
sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat. Untuk predikat tersebut di Pulau
Jawa, Citarum menempati posisi ketiga.
Oleh karena itu, kondisi badan sungai dan daerah aliran sungai (DAS) Citarum, juga pengelolaannya beserta peran serta semua
pemangku kepentingan di sungai itu menjadi amat penting.
Negeri seribu sungai
Sebagai negeri
maritim, Indonesia bukan hanya terdiri atas ribuan pulau dan kepulauan
melainkan juga dialiri banyak sungai. Indonesia memiliki lebih dari 5500 sungai
dengan 65 ribu anak sungai. Panjang total sungai utama mencapai 94.573 km
dengan luas daerah aliran sungai mencapai 1.512.466 kilometer persegi.
Masyarakat
menjadikan sungai sebagai bagian kehidupan mereka. Sebab sekitar 80% dari 250
juta masyarakat Indonesia tidak memiliki akses air melalui pipa. Selama
1999-2000, penggunaan sungai untuk air minum berada di kisaran 22%, dan terus
meningkat. Pada periode yang sama terjadi
peningkatan penggunaan air sungai untuk mandi dan mencuci sebanyak 66%.
Kebutuhan
dan Konsumsi air bersih terus meningkat secara signifikan. Namun sebagai
penyumbang 6% dari sumberdaya air dunia, dan 21% dari Asia-Pasifik, Endah
Murniningtyas (2015) menyatakan, Indonesia justru mengalami masalah besar dalam
penyediaan air bersih. Total permintaan
air tahun 2000 sekitar 156 juta meter kubik
per tahun. Tahun 2015 jumlah itu diperkirakan menjadi dua kali lipat
atau sekira 356,575 juta meter kubik per tahun.
Namun
penyediaan air bersih menurun karena degradasi lingkungan dan polusi air.
Tingkat degradasi sumberdaya air sekitar 15-35% per kapita per tahun. Kondisi
tersebut lepas dari kondisi DAS sebagai sistem hidrologi yang jadi regulator
untuk mengatur masukan air dari hujan menjadi keluaran dalam bentuk aliran air
sungai. DAS juga menampung, menyimpan dan mengalirkan air dari curah hujan ke
outlet seperti danau dan laur secara alami.
DAS
meliputi seluruh wilayah daratan yang menjadi satu kesatuan antara sungai dan
anak-anaknya. Salah satu ciri DAS yang sehat adalah kemampuannya untuk menjaga
ketersediaan air dari segi kualitas, kuantitas dan kontinuitas air.
Air pada DAS terdiri atas air hijau dan air biru. Green Water merupakan
air yang tersimpan di dalam pori-pori tanah, juga air yang diikat oleh butiran
tanah, serta air yang ada
dalam
tanaman. Jumlah idealnya 65 %. Adapun Blue
Water adalah semua air segar atau tawar yang berada dalam sungai, danau,
rawa, kolam/tambak dan air bawah tanah serta air aliran permukaan senilai 35 %.
Namun kini
proporsi Blue Water di dalam DAS semakin tinggi dibandingkan dengan Green
water. Misalnya blue water yang mengalir di Jakarta sudah mencapai
lebih dari 40 %. Bahkan terdapat DAS dengan proporsi keduanya yang
berkebalikan: blue waternya lebih tinggi daripada green water.
Mayoritas
DAS di Indonesia pun digolongkan dalam kondisi kritis. Dari total 458 DAS, 22 DAS dalam kondisi kritis pada tahun 1984.
Jumlah itu bertambah menjadi 39 DAS pada
1992, kemudian naik lagi jadi 62 DAS pada 2005, dan catatan terakhir 68 DAS
kritis pada tahun 2012. Kurang dari tiga dekade, peningkatan kerusakan DAS di
Indonesia meningkat lebih dari tiga kali lipat.
Suratman
(2015), akademisi Universitas Gadjah Mada sekaligus koordinator Gerakan
Restorasi Sungai Yogyakarta, bahkan merinci bahwa terdapat 60 DAS dalam kondisi
kritis berat, 222 kritis, dan 176 berpotensi kritis. Selain itu, sebanyak 50
dari 155 DAS di Jawa tutupan hutannya sangat rendah.
Setidaknya,
menurut pengajar ITB Nana Mulyana Arifjaya (2015), masalah DAS di Indonesia dikategorikan dalam 18 aspek.
Pertama, 14 masalah besar dalam aspek biofisik, yaitu banjir, sampah, perambahan kawasan, kerusakan bentang
alam, erosi dan sedimentasi tinggi, juga produktivitas lahan menurun. Selain itu, teknik budidaya tidak ramah lingkungan,
kelangkaan air bersih, pendangkalan sungai, limpasan permukaan tinggi,
penurunan kualitas air, penurunan kuantitas air, dan kerusakan DTA.
Pada aspek lain,
ada tiga masalah besar meliputi kapasitas
SDM, kelembagaan dan hukum yang lemah; kemudian implementasi tata ruang masih
rendah; dan partisipasi masyarakat masih minim. Tidak kalah penting terdapat
masalah DAS dalam aspek sosial-ekonomi menyangkut kesejahteraan dan kualitas
hidup yang menurun.
Pemerintah
menetapkan lima DAS prioritas untuk dijaga
atau dipulihkan kondisinya. Upaya itu antara lain dengan indikasi terjaga atau
meningkatnya jumlah mata air melalui
konservasi sumber daya air. Kelima DAS tersebut adalah DAS Ciliwung, Citarum,
Serayu, Bengawan Solo, dan Brantas.
Restorasi Citarum
Sebagai
sungai terbesar di Jawa Barat, dan ketiga di Pulau Jawa, Sungai Citarum menjadi
situs penting dan strategis. Citarum termasuk sungai purba. Ia berhulu di
Gunung
Wayang,
Kabupaten Bandung, dengan ketinggian 1.700 m dpl dan mengalir sejauh 297 kilometer menuju muaranya
di pantai utara Pulau Jawa, di Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi. DAS
Citarum mencapai 30 ribu hektar.
Potensi
sumber daya air Sungai Citarum diperkirakan mencapai 13 milyar m3/tahun, namun
pemanfaatannya baru sekitar 7,5 milyar m3/tahun. Potensi inilah yang membuat
bendungan terbesar di Indonesia dibangun di sungai ini yakni Bendungan Jatiluhur pada 1957, kemudian bendungan Saguling (1985) dan
Cirata (1988).
Pemanfaatan
air Sungai Citarum digunakan untuk pemenuhan kebutuhan lainnya seperti sebagai
sumber air irigasi pertanian, pendukung kegiatan industri, serta sebagai sumber
air
minum
penduduk Bandung, Cimahi, Cianjur, Purwakarta, Bekasi, Karawang, dan pemenuhan
air baku untuk 80% penduduk Jakarta.
Namun kondisi
Citarum memprihatinkan. Di hulu Citarum, tata guna lahan tidak sesuai
peruntukan. Karena kekurangan lahan tanam, warga menjadikan kawasan hutan
lindung sebagai lahan pertanian konvensional. Dengan demikian, fungsi
konservasi hutan berkurang. Pada pertanian itu, pupuknya pun menggunakan pupuk
kimia. Akibatnya kualitas tanah menurun berkurang dan ketika hujan terjadi
erosi sehingga tanah turun ke sungai.
Daerah resapan bukan hanya berkurang di bagian
hulu melainkan
juga di tengah Citarum. Bantaran sungai digunakan untuk
perumahan secara tidak tepat. Kemudian terjadi kerusakan
dasar dan alur sungai karena penambangan pasir dan kerikil.
Penggunaan lahan bekas sudetan sungai ikut tak
terkendali.
Problem
selanjutnya adalah pencemaran limbah industri dan sampah domestik seperti plastik
dan kotoran manusia juga kotoran ternak. Beban pencemaran terbanyak disumbang
oleh sektor domestik yakni sebesar 245,95 ton BOD per hari.
Jumlah itu disusul
sektor industri dan UMKM dengan 185,17 ton BOD per hari limbah. Bidang
peternakan, pertanian, dan lain-lain membebani Citarum dengan pencemaran
masing-masing 12,58 ton, 3,01 ton, dan 6,5 ton BOD per hari.
Dari total beban
pencemaran 453,21 ton BOD per hari, angka pencemaran sektor domestik
berkontribusi terhadap lebih dari separuh beban pencemaran tersebut.
Dengan kondisi
demikian, kualitas air menurun dibandingkan dengan standar baku/ kelas peruntukan sungai (tercemar
ringan sampai sedang). Tidak kalah penting berkurangnya
keanekaragaman hayati di sepanjang Citarum.
Sungai Citarum pun
tercatat mengalami sedimentasi hingga 10 juta meter kubik per tahun dan
kerugianya mencapai 923 ribu dolar. Sebuah media internasional menobatkan
Sungai Citarum sebagai sungai paling kotor di dunia.
Restorasi dan
pengelolaan Sungai Citarum pun menjadi langkah mendesak. Meski tiap sungai
memiliki karakter berbeda, suksesnya restorasi sungai bisa dilihat di Sungai
Cheonggye, Seoul, Korea Selatan. sungai itu jadi permukiman kumuh dan kotor
pada 1950, namun kini berkembang asri jadi kawasan ekonomi dan tujuan wisata.
Restorasi untuk meningkatkan eksistensi dan mengembalikan esensi sungai, seperti
disebutkan Agus
Maryono (http://nasional.republika.co.id/) mencakup lima konsep. Antara lain restorasi hidrologi : yakni
pemantauan
kuantitas dan kualitas air; restorasi ekologi dengan pemantauan terhadap flaura dan fauna; restorasi morfologi dengan meninjau kembali bentuk keaslian sungai.
Selain itu, dengan
restorasi sosial ekonomi yang bertujuan melihat manfaat sungai secara ekonomis serta mengajak
masyarakat ikut serta untuk memperoleh ilmu pengetahuan di bidang sungai dan
menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan; dan restorasi Kelembagaan dan peraturan yang fokus untuk
membuat peraturan- peraturan yang dapat menjaga kelestarian sungai.
Adapun tujuan
restorasi sungai, seperti yang ditawarkan Suratman, demi menjadikan sungai
memiliki predikat Pancadaya Kali Istimewa. Pertama, “kali urip” yakni sungai
yang bisa memberikan pengkayaan sumber kehidupan yang lestari bagi makhluk
hidup.
Kedua “kali waras”
di mana ekosistem dan sosiosistem sungai terjaga secara harmonis dengan sumber
air berkualitas, multiguna, dan memenuhi kehidupan manusia. Selanjutnya “kali
wasis” yaitu sungai yang tak pernah surut mendukung inovasi dan kreativitas
masyarakat, juga menginspirasi
kecerdasan intelektual, sosial, dan spiritual.
Berikutnya “kali
digdaya”, sungai yang memiliki ketangguhan dalam pengelolaan ancaman bencana
dan punya keunggulan pengelolaan gotong royong. Hingga pada puncaknya, “kali
rahayu” sungai mengalirkan derajad kesejahteraan, keselamatan, dan kebahagiaan.
Untuk hulu Sungai
Citarum, sejumlah langkah konservasi lahan dan konservasi air sudah ditempuh
sejumlah pihak pemangku kepentingan Citarum. Antara lain dengan pengaturan tata
guna lahan dengan membandingkan secara proporsional cathment area dan lahan
pertanian juga ladang.
Penataan rumah
warga di bantaran pun coba mengacu pada konsep 3M: madhep, mundur, munggah (menghadap, mundur,
naik dari sungai). Selain itu, menjaga
hutan sebagai tampungan buatan, membuat sumur resapan dan biopori. Berbagai
langkah tersebut memerlukan upaya lebih optimal dan kontinyu untuk menunjukkan
hasil.
Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pun telah menyusun masterplan restorasi
hulu Sungai Citarum. Masterplan ini berupaya mewujudkan adanya pemodelan
kualitas air, strategi pengendalian pencemaran air, juga pengnedalian erosi,
sedimentasi, dan banjir.
Mengingat beban
pencemaran terbesar datang dari sektor domestik, pengendalian pencemaran di
sektor ini mendapat prioritas. Selain itu, karena sektor ini bersentuhan
langsung sekaligus melibatkan peran serta masyarakat dan komunitas bantaran
hulu Sungai Citarum.
Mengoptimalkan
IPAL
Wujud pengendalian
pencemaran sektor domestik adalah dengan pembangunan dan perbaikan tata kelola
instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan instalasi pengolahan IPLT. Berbagai
upaya dan rencana untuk membuat IPAL telah dicetuskan, seperti wacana
pembangunan IPAL raksasa di aliran Sungai Citarum lama sampai rencana
menggandeng pihak Korea Selatan yang berpengalaman dalam merestorasi sungai.
Hingga kini
sejumlah IPAL dan IPLT skala domestik telah dibangun. Namun jumlah dan kondisi
IPAL domestik masih jauh dari harapan. Pemerintah sedang dalam tahap
perencanaan pembangunan IPAL domestik di Kota Cimahi. Namun, dari segi
kebutuhan, IPAL domestik juga perlu dibangun di Kopo Sayati, Cilampeni-Soreang,
Rancaekek, dan Majalaya.
IPAL-IPAL baru
tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk menunjang fungsi IPAL yang sudah
berdiri seperti IPAL Bojongsoang. Sejak beroperasi pada 1992, IPAL ini belum
melakukan pengembangan.
Bagian depan IPAL
Bojongsoang berupa manual bar screen untuk memisahkan sampah-sampah dari air
limbah secara manual. Air limbah kemudian mengalir ke crew pump atau pompa
ulir yang menyedot air dan memompanya ke
bak penampungan. Alat ini terdiri atas tiga penyedot dengan tiga mesin motor
berkapasitas besar yang bekerja secara bergantian.

Gambar 2. Petugas mengambil sampah organik
Sumber: tim peneliti, 2016
Air limbah
kemudian disalurkan ke kolam penampungan
biologi. Sebanyak 14 kolam biologi melakukan tiga proses biologis yaitu proses
anaerobik, fakultatif dan maturasi.
Kolam anaerobik
dalamnya 4 meter dan luas 4,04 hektar. Proses Anaerobik merupakan upaya
penurunan bahan organik secara anaerobik dengan bantuan mikroba anaerob.
Karakteristik kolam anaerobik antara lain dengan debit 80,835 m3 /hari, beban
volumetrik 275 g BOD/m3/hari. Kolam ini
memiliki total beban organik 20,100 kg BOD/hari, waktu detensi 2 hari, temperatur
22,5 0C. BOD influent 360 mg/l dan BOD efluent 144 mg/l.

Gambar 3. Kolam anaerob
Sumber: tim peneliti, 2016
Proses fakultatif
adalah upaya penurunan bahan organik secara anaerob dan aerob untuk stabilisasi
air buangan. Karakteristik kolam ini debit 80,835 m3/hari, beban volumetrik 300
gr BOD/m3/hari, total beban organik 11,640 kg BOD/ hari. Waktu detensi 5,6-7 hari. Kedalaman kolam ini
2 m dengan luas area 29,8 ha dan bertemperatur
22,5 0C. BOD influent 144 mg/l dan BOD efluent 50 mg/l.
Proses maturasi
atau pematangan merupakan proses
pematangan air buangan sebagai penyempurnaan dari kualitas efluen akhir sesuai
dengan standar baku mutu yang berlaku sebelum dibuang ke perairan luar.
Karakteristik kolam maturasi yaitu debit 80,835 m3 /hari, fecal coli 5000
MPN/100ml, dengan waktu detensi 3 hari.
Kedalaman kolam ini 1,5 m dengan luas area 32,2 ha dan temperatur 22,5
0C. BOD influent 50 mg/l dan BOD efluent 30 mg/l. Outlet kolam-kolam ini menuju
ke anak sungai Citarum.
Dengan segala
teknologi pengolahan air limbah itu, IPAL Bojongsoang ternyata masih memerlukan
peningkatan kapasitas dan pengelolaan. Sekitar 50 staf IPAL harus melakukan
perawatan rutin untuk mesin dan pompa hingga pengurasan kolam tiga bulan
sekali.
Hal itu mengingat
mesin dan pompa IPAL berusia tua, bahkan sejak jaman Belanda. Selain susahnya suku cadang, tingkat
korosinya juga tinggi sehingga alat mudah berkarat. Kondisi ini diperburuk
dengan suplai listrik yang hanya mengandalkan aliran PLN. “Kalau listrik PLN mati,
pompa tidak beroperasi. Genset hanya untuk lampu. Tapi kalau emergency, bisa
cepat nyala kembali,” ujar Kepala IPAL Bojongsoang Dadang Juarsa.
Tantangan lain
pengelolaan IPAL ini yakni masyarakat belum sepenuhnya sadar pentingnya IPAL. Pada
saluran sepanjang tiga kilometer, petani dan warga yang mengelola perikanan tak
jarang membendung aliran IPAL untuk keperluan mereka. Padahal pihak IPAL sudah melakukan
sosialisasi ke masyarakat dengan membuat papan peringatan. Sejauh ini relasi
antar warga dan pihak IPAL juga baik, dengan adanya pengecekan kualitas air
sumur warga oleh staf IPAL, juga berbagai kegiatan sosial.
Begitu pula halnya
untuk IPLT. Kendati telah berdiri di Majalaya, Ciparay, dan Soreang, keberadaan
IPLT untuk buangan tinja tersebut masih amat minim karena setidaknya diperlukan
sembilan IPLT tinja lagi di bantaran sungai di hulu Citarum.
Selain IPAL
domestik dan IPLT tinja, warga bantaran hulu Sungai Citarum juga memerlukan
IPAL komunal. Sarana ini hendaknya didirikan di tiap kecamatan dengan jumlah
seluruhnya mencapai 63 instalasi.
Di Kecamatan
Majalaya misalnya, pemerintah telah dianggarkan pembangunan IPAL komunal senilai Rp 127 miliar untuk dua zona yang
meliputi enam desa. Zona pertama untuk 2.670 sambungan rumah dan zona kedua
5.624 rumah. Total daya tampung limbah IPAL komunal ini mencapai 2.700 meter
kubik per hari.
Namun penggunaan
IPAL dirasa tidak optimal. Hal ini seperti terjadi di Desa Cikawau, Kecamatan
Pacet. Dengan dana tiap IPALRp 500 juta, 5 dari 7 IPAL komunal yang dibangun
sejak 2012 terbengkalai. “IPAL dibangun salah tempat sehingga sekadar menjadi
monumen, “ kata wakil Yayasan Elemen Lingkungan, Dani.
IPAL terbengkalai karena jauh dari
permukiman warga, yakni 2-3 kilometer dengan medan menanjak. IPAL dibangun jauh
dari warga karena mengejar syarat penyediaan lahan hibah. Selain itu, IPAL ini
tidak diserati pipa induk. Bangunan pun terlalu bagus untuk ukuran warga
setempat. “Jangan ada kesan untuk hidup sehat itu harus mahal. Masyarakat tidak
perlu mewah,” kata Dani.
Adapun dua IPAL komunal bisa dikelola
warga dan komunitas dengan baik. Skalanya kecil, hanya untuk 50 KK, dan
kualitas infrastrukturnya skala desa. Namun metode pelaksanaan tetap melibatkan
masyarakat sehingga sarana tersebut dapat digunakan secara efektif.
Partisipasi
bersama
Keberadaan dan
kebutuhan pembangunan IPAL dan IPLT beserta penggunaanya memang tidak lepas
dari dukungan dan partisipasi bersama antara pemerintah, warga, dan komunitas setempat. Sebab
masyarakat di sekitar hulu Sungai Citarum mendapat dampak langsung terhadap
baik-buruknya sungai tersebut.
Pemerintah
Propinsi Jawa Barat telah mencanangkan program “Citarum Bestari” untuk
restorasi Citarum, bahkan menargetkan air Citarum bisa diminum pada 2019. Sejauh
ini, sejumlah komunitas pun telah turut berupaya peduli terhadap kebersihan
sungai Citarum.
Ini seperti ditunjukkan Komunitas Bangkit
Bersama di Kilometer 77 Citarum, yang mengolah sampah plastik dan eceng gondok
menjadi produk bernilai jual. Komunitas
Warga Peduli Lingkungan (WPL) bahkan membuat filter air sehingga sungai air
Citarum sehat untuk dikonsumsi. “Kami membuat kegiatan yang memang diperlukan oleh masyarakat supaya
warga merasa ikut memiliki sungai,” ujar Yogantara dari WPL sekaligus anggota
TKPSDA.
Juga beberapa
komunitas yang melakukan aktivitas susur sungai guna mendokumentasikan kondisi
hayati Citarum dan melakukan langkah konservasi. Tidak ketinggalan pula langkah
konservasi dari komunitas budaya seperti gelaran Festival Citarum 2014 lalu.
Namun, tidak bisa
dimungkiri pula, masih ada warga di bantaran Sungai Citarum yang kurang peduli
terhadap sungai ini. Sebagian warga masih menganggap dan berperilaku seakan
sungai adalah tempat sampah.
Sehingga tak
mengherankan jika hingga kini masih ditemukan buangan rumah tangga yang
mengotori aliran Sungai Citarum. Tim TKPSDA Citarum bahkan mencatat 40-45% dari
3,5 juta warga Kabupaten Bandung belum punya akses sanitasi sehingga limbah
dibuang ke sungai terutama Citarum.
Oleh karena itu,
bukan hanya penyediaan dan peningkatan fasilitas pengendalian pencemaran air
seperti IPAL dan IPLT, upaya restorasi hulu Sungai Citarum juga sangat
memerlukan cara pandang, perilaku, dan budaya warga yang lebih peduli terhadap
lingkungan, terutama untuk sungai terbesar di Jawa Barat tersebut.
Sebagai tambahan informasi, Balai Litbang Sosekling Bidang Permukiman,
Balitbang, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada tahun anggaran
2016 ini melakukan kegiatan penelitian Perbaikan Tata Kelola IPAL dan IPLT
untuk Mengatasi Pencemaran Air Baku DAS Citarum, yang akan menghasilkan
rekomendasi kebijakan.
Referensi:
Dirjen
Pengendalian DAS dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup,
Peranan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai untuk Mendukug Pelestarian
Sumber Daya Air, Jakarta 2015
Endah
Murniningtyas, Meningkatkan Efektivitas Perencanaan Pengelolaan Sumber
Daya Air Terpadu di Indonesia, Banjarnegara, 2015
Nana Mulyana
Arifjaya, Tata Ruang DAS untuk Kesejahteraan Masyarakat, Banjarnegara,
2015
PDAM Tirtawening,
Instalasi Pengolahan Air Limbah Bojongsoang, Bandung,
tanpa tahun.
Suratman, Renaisan
Yogya untuk Gerakan Restorasi Sungai Indonesia, Yogyakarta,
2015.
Tim Roadmap
Program pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu di Wilayah Sungai
Citarum, Aliran Kehidupan di Sungai Citarum, Jakarta, 2013.
Website: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/12/07/nyzk1u284-pakar-ugm-bangun-konsep-restorasi-sungai-diy
diakses 29 Februari 2016
*) Peneliti Madya bidang Sosiologi Permukiman, Puslitbang Kebijakan dan
Penerapan Teknologi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar