Telah dipublikasikan di Prosiding Seminar SCAN UAJY 2015
https://www.researchgate.net/publication/277014424_Pengembangan_Rumah_RISHA_dengan_Teknologi_Knockdown_sesuai_Kebutuhan_Kontekstual_Lokal/link/555ec78508ae8c0cab2c7a42/download
https://www.researchgate.net/publication/277014424_Pengembangan_Rumah_RISHA_dengan_Teknologi_Knockdown_sesuai_Kebutuhan_Kontekstual_Lokal/link/555ec78508ae8c0cab2c7a42/download
Yudha Pracastino Heston1)
Peneliti, Balai Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi
Lingkungan Bidang Permukiman, Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat,
Jalan Laksda Adisucipto 165 Yogyakarta 552811)
ABSTRAK
Kebutuhan rumah di Indonesia masih terus ada dan
bertambah, bahkan pada tahun 2014 tercatat kekurangannya/ backlog hampir
mencapai 15 juta unit. Salah satu upaya pemenuhannya adalah dengan menyediakan
teknologi membangun rumah yang cepat, aman dan juga nyaman. Salah satu produk
teknologi perumahan yang berbentuk panel struktur adalah teknologi (Rumah
Instan Sederhana) RISHA, yang dihasilkan oleh Puslitbang Permukiman Kementerian
Pekerjaan Umum. Sebagai teknologi pembentuk rumah, RISHA perlu dapat menyesuaikan dengan desain standar minimal sebuah rumah
tinggal. Penelitian dilakukan dengan memperbandingkan kondisi rumah type
standar 36 dengan rumah RISHA yang seukuran. Penelitian dilakukan dengan
menggunakan 107 orang sampel, penghuni RISHA yang ada di Mataram, Bandung dan
Palembang, menggunakan data penelitian tahun 2008 yang dikerjakan Balai
Pemberdayaan Bidang Ke-PU-an Yogyakarta. Hasil penelitian berupa rekomendasi
pengembangan teknologi rumah sesuai kebutuhan kontekstual lokal, untuk
teknologi yang memiliki karakteristik seperti teknologi RISHA.
Kata kunci: rumah,
RISHA, teknologi
1. PENDAHULUAN
Fenomena pertumbuhan penduduk terjadi
akibat terjadinya keseimbangan dinamis antara kekuatan menambah dan mengurangi
jumlah penduduk (Nilatus, 2014). Jumlah penduduk akan selalu dipengaruhi oleh
kelahiran bayi dan juga jumlah kematian yang terjadi pada semua tingkat usia.
Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi sistem kependudukan sebagai unsur
integral (Goldscheider dalam Nilatus, 2014) yaitu struktur penduduk terkait
sebaran umur dan jenis kelamin, komposisi penduduk atau faktor sosio-demografis
terkait status perkawinan, pendapatan, ras, pendidikan, pekerjaan atau agama,
terakhir terkait distribusi penduduk yang mencakup sebaran dan lokasi penduduk di
wilayah tertentu. Pertumbuhan penduduk, selalu berhubungan dengan munculnya
peningkatan kebutuhan utama seperti sandang, pangan dan papan. Kebutuhan akan
papan atau rumah merupakan kebutuhan yang sifat utamanya adalah kebutuhan fisik
dan juga memiliki sifat psikologis. Sifat psikologis dari kebutuhan rumah
(Putra, 2014) terkait dengan pemenuhan kebutuhan keamanan, kehidupan sosial,
upaya bertahan hidup, dan pemuasan serta prestise atau harga diri.
Laju pertumbuhan penduduk Republik
Indonesia berdasarkan catatan BPS, pada tahun 2000 – 2010 adalah 1,49 persen.
Jika kita melihat data jumlah penduduk pada tahun 2014, jumlah penduduk
Indonesia sebesar 237,56 juta, maka rata-rata pertambahan penduduk pada kisaran
3,5 juta jiwa per tahun. Konsentrasi penduduk Indonesia masih berada di pulau
Jawa. Sampai akhir tahun 2013 (Oktanto, dkk, 2015) jumlah masyarakat miskin
yang berada di 6 (enam) provinsi di pulau Jawa mencapai angka 17 juta jiwa. Masyarakat
pada kelompok ini memiliki keterbatasan kemampuan untuk dapat mengakses rumah
yang layak huni. Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan, Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyebutkan angka kekurangan rumah
(backlog) di Indonesia pada tahun 2014 adalah sebesar 13,5 juta unit.
Pertambahan kebutuhan rumah di Indonesia adalah sebanyak 800.000 unit per
tahun, di mana pemerintah hanya dapat menyediakan 400.000 unit di dalamnya.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa
intervensi pemerintah untuk sektor perumahan belumlah optimal (Bramantyo, 2012). Penyediaan perumahan masih banyak
dilakukan oleh masyarakat dan swasta. Kendala pembangunan perumahan yang sudah
dapat diidentifikasi (Bramantyo, 2012)
terkait dengan masalah keterbatasan dari aspek supply perumahan, terjadinya peningkatan jumlah rumah tidak layak
huni dan sarana dan prasarana perumahan yang belum memadai, serta semakin
luasnya wilayah permukiman kumuh.
Sesuai amanat UU No. 1 tahun 2011 terdapat
pembagian tugas pemerintah dan pemerintah daerah terkait upaya penyediaan
perumahan. Tugas tersebut (Bramantyo, 2012) adalah bahwa pemerintah pusat menyiapkan alokasi dana
untuk mewujudkan perumahan bagi MBR dan melakukan fasilitas penyediaan
perumahan dan permukiman bagi MBR. Sedangkan bagi pemerintah daerah, diberikan
tugas untuk menyiapkan tanah/ lahan untuk pembangunan perumahan dan permukiman
bagi MBR, serta menyiapkan prasarana dan sarana pembangunan bagi MBR di tingkat
Kabupaten/ Kota.
Terkait upaya penyediaan rumah tersebut,
pemerintah melalui Puslitbang Permukiman, Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan telah menghasilkan teknologi rumah instan sederhana yang diberi nama
RISHA. Teknologi yang ditawarkan adalah berupa teknologi struktur beton pra
cetak/pre-cast sistem knockdown,
yang bertujuan untuk
mempersingkat waktu pemasangan, menjamin mutu kualitas kehandalana terutama
struktur bangunan dan mempermudah pembangunan rumah. Inovasi RISHA ini telah
diterapkan dibeberapa lokasi di Indonesia seperti di Aceh beberapa waktu
setelah terjadi bencana alam gempa bumi dan tsunami, di Palembang untuk
perumahan PT.Lonsum, dan beberapa tempat lainnya.
Sebagai sebuah inovasi struktur yang membentuk ruang, RISHA perlu ditinjau
kemampuannya dalam menyediakan kenyamanan arsitektural, manakala RISHA dibangun
dengan mengikuti panduan pembangunan rumah type standar 36 m2, yang
menjadi ukuran standar rumah untuk MBR. Penelitian ini perlu dilakukan supaya
kemampuan struktural RISHA dapat diikuti oleh kemampuan arsitekturalnya dalam
menyediakan hunian rumah yang terjangkau dan nyaman terutama bagi MBR.
2.
KAJIAN PUSTAKA
Teknologi Beton dan RISHA
Penerapan teknologi pracetak di
Indonesia bukan merupakan hal yang baru (Hariandja dkk, 2011), di tahun 70an pembangunan
rumah susun di Sarijadi Bandung. Contoh lainnya adalah pembangunan rumah dengan
menggunakan sistem waffle-crete di Cilincing, Cengkareng dan Batam di tahun
1995. Hingga kini terdapat kurang lebih 40 sistem beton pracetak yang sudah
diterapkan untuk pembangunan rumah susun. RISHA merupakan salah satu varian
dari beton pracetak, dengan 3 komponen utama, yaitu sambungan berbentuk c, dan
dua balok standar (gambar 1).
Beton
(Alizhar, 2009) merupakan material yang terjadi akibat fungsi bahan semen
hidrolik (portland cement), agregat
kasar, agregat halus, air dan bahan tabahan lainnya (admixture ataupun
additive). Definisi lain (Nawy dalam Alizhar, 2009) menyebutkan beton sebagai
kumpulan interaksi mekanis dan kimiawi dari material pembentuknya. Beton
merupakan struktur bahan konstruksi (Khasani dkk, 2013) satu bahan konstruksi
paling umum digunakan. Beton apabila dikerjakan dengan baik sesuai standar akan
menjadi bahan yang kuat dan awet. Beton memiliki sifat fleksibel sesuai
kebutuhan bentuk yang diperlukan, dan harganya relatif murah.
Teknologi
RISHA merupakan salah satu varian beton precast
yang dikembangkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Dengan prinsip modular dan bersifat
bongkar pasang (knock down), proses
pembangunan untuk tipe 36 m2 dihitung hanya perlu 2 hari. Struktur dan
Konstruksinya sudah diuji di laboratorium Puslitbangkim dan juga secara nyata
saat gempa di Aceh setahun setelah tsunami. Seluruh bagian RISHA dapat diproduksi
di work shop sebelum dipasang (prefabrication), untuk memastikan
presisi dari komponen.
Komponen
RISHA di sambung dengan mur-baut. Komponen terdiri dari 3 (tiga) panel beton
sebagai elemen struktur. Komponen ini dapat membetuk struktur pondasi, sloof,
kolom, balok, dan kuda-kuda, selain itu komponen dapat juga berfungsi sebagai
tiang pagar, drainase, carport, dan tangga (optional). Dinding pengisi, penutup
lantai dan atap, pintu dan jendela dapat disesuaikan sesuai kebutuhan. Komponen
dapat membentuk modul ruang berukuran 1.80 x 180; 1.80 x 3.00; 3.00 x 3.00; bahkan
untuk satu lantai dapat berukuran modul 3.00 x 4.20. Dengan prinsip modular ini
tidak ada batasan luas bangunan yang dapat dibuat, namun tetap modul kelipatan
9 m2. Ukuran standar RISHA adalah 6.00x6.00 atau tipe 36, sesuai prinsip ukuran
rumah sederhana sehat.
Rumah Sederhana
Rumah
sederhana sehat memiliki ukuran 36 m2 dengan pembagian fungsi (Putra, 2014)
yaitu dua ruang tidur, ruang tamu menyatu dengan ruang makan, dapur, serta satu
kamar mandi (gambar 2). Pengaturan ruang pada rumah tipe 36, terutama juga
ditentukan oleh pengaturan perabot yang
ada di dalamnya, karena keterbatasan luas ruang. Penempatan perabot dapat memunculkan
adanya fungsi ganda ruangan. Fungsi ganda ruangan, perlu didesain sehingga
tidak mengurangi kenyamanan hunian.
Kenyamanan
tinggal di unit hunian rumah sederhana tipe 36 dipengaruhi oleh faktor (Kwanda
dkk, 2003): kualitas bangunan, desain bangunan sarana dan prasarana, serta
lokasi. Faktor yang paling dominan mempengaruhi penghuni rumah sederhana tipe
36 terutama terkait faktor kualitas bangunan. Kualitas bangunan yang dimaksud
terkait kekuatan atap, kekuatan dinding, kebocoran, kerusakan cat dalam dan
luar rumah, kekuatan lantai, kekuatan engsel, ketahanan plafon; sirkulasi udara
atau jendela untuk kamar tidur, dapur dan kamar mandi, kualitas pencahayaan di kamar
tidur, dapur dan kamar mandi. RISHA secara kualitas telah teruji sebagai sebuah
komponen struktur, untuk keberadaanya sebagai sebuah unit hunian, penelitian
ini mencoba untuk mendeskripsikan lebih jauh sesuai dengan kebutuhan dari
penghuni. Penelitian lain menyebutkan faktor yang mempengaruhi keputusan
konsumen dalam membeli rumah (Firdaos dalam Widiastuti, 2013) adalah lokasi
relatif rumah terhadap kota, pertambahan penduduk, pendapatan atau kemampuan konsumen,
kemudahan terhadap akses pembiayaan, kelengkapan atau ketersediaan fasilitas
dan sarana umum, harga pasar rumah, dan peraturan perundangan terkait ijin, hak
dan kewajiban.
3. METODE PENELITIAN
Statistik deskriptif
Penelitian
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian statistik
deskriptif kuantitatif. Deskriptif kuantitatif (Tiara, 2014) merupakan metode
yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data, menafsirkannya, dan
mengklasifikasikan sehingga data yang didapat baik untuk memberikan gambaran
yang jelas terkait masalah yang diteliti. Definisi lain mengungkapkan
statistika deskriptif sebagai ilmu untuk mengolah, menyajikan data
tanpa mengambil keputusan untuk populasi. Metode ini
berguna untuk melihat gambaran secara umum dari data yang didapatkan.
Responden dan Lokasi Penelitian
Penelitian
dilakukan di Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Barat (gambar 3)
dengan pertimbangan bahwa di daerah tersebut RISHA dihuni oleh responden yang
memiliki karakter sosial ekonomi berbeda. Sampel penelitian ini terdiri dari empat
kelompok responden; yaitu penguna RISHA dari perusahaan swasta, perseorangan,
pemerintah dan non konsumen. Jumlah kuesioner yang didistribusikan berjumlah
200 eksemplar dan yang kembali dan terjawab dengan baik berjumlah 107
eksemplar.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Profil responden
Responden
penelitian terdiri dari 87 orang laki-laki dan 20 orang wanita (gambar 4),
dengan data ini terlihat bahwa walau dominasi pria menentukan kualitas dalam
menilai unit hunian, namun wanita juga memiliki kemampuan untuk menilai unit
hunian.
Pekerjaan
responden sebelum tinggal dan sesudah tinggal di rumah RISHA, sedikit mempunyai
perbedaan (gambar 5). Pekerjaan responden yang dominan adalah wiraswasta dan
petani. Ada perubahan pekerjaan sebelum yaitu wiraswasta dari 40 orang menjadi
36, nelayan sebanyak 13 menjadi hanya 4, dan tidak punya pekerjaan pada saat
setelah tinggal di RISHA sebanyak 6 orang. Penambahan jumlah terlihat pada
profesi petani dari 27 menjadi 31. Hal ini menjelaskan bahwa ada perubahan profesi
responden, dimana sektor seperti petani dan nelayan akan sangat terpengaruh
oleh lokasi domisili yang bersangkutan.
Kisaran
jumlah anggota keluarga sebelum dan sesudah menghuni RISHA (gambar 6), hampir
serupa yaitu pada kisaran satu sampai sepuluh orang. Jumlah penghuni dominan
sebelum adalah empat orang, sedangkan dominan setelah adalah tiga orang. Jumlah
anggota keluarga yang tinggal di unit hunian RISHA yang relatif tidak berbeda
dengan sebelumnya membuktikan, bahwa unit hunian modular tidak mempengaruhi
kebutuhan untuk tinggal bersama keluarga inti, yang biasanya berjumlah 4-5
orang.
Responden
yang tinggal di rumah RISHA, memiliki penghasilan dominan sebanyak Rp.500.000
ke bawah, kemudian di rentang Rp.500.000 sampai Rp.1.000.000. Jika dilihat atau
diperbandingkan dengan penghasilan sebelum menghuni (gambar 7), responden
terlihat ada penurunan jumlah penghasilannya. Kondisi ini tidak terlepas dari
perubahan lokasi tinggal dan perubahan profesi yang dialami.
Kondisi
rumah RISHA yang digunakan, menurut persepsi responden sebagaian besar
merupakan bangunan permanen (gambar 8). Persepsi ini dapat muncul, terkait
pilihan bahan material yang telah digunakan terutama untuk menyekat ruang dalam
dan luar. Hanya 42% responden yang memiliki persepsi bahwa rumah RISHA mereka
adalah bangunan semi permanen atau bongkar pasang. Status lahan yang digunakan
untuk mendirikan RISHA, sebagian besar merupakan lahan pemerintah, sehingga
dapat terlihat bahwa sebagian besar rumah RISHA masih merupakan upaya bantuan
hunian dari pemerintah.
Pembahasan
Rumah RISHA
yang digunakan masih dirasakan cukup memadai bagi penghuninya. 60% responden
menyetujui pernyataan ini (gambar 9). Namun juga ada sekitar 40% responden yang
merasa luas bangunan standar tipe 36 ini perlu ditambah. Jika kita melihat
jumlah penghuni di dalam rumah yang ada terdapat lebih dari 4 orang, tentunya
dapat dipahami bahwa ukuran standar 1 orang adalah 9 m2. Sehingga
memunculkan kondisi kebutuhan ruang yang lebih luas.
Rumah RISHA menurut responden telah cukup
menyediakan satu kamar terpisah, namun masih juga terdapat 20% responden yang
belum puas dengan keberadaan kamar yang terpisah. Kondisi ini menjelaskan bahwa
partisi yang digunakan belum cukup baik memberikan privasi bagi kamar yang
tersedia.
Kondisi sangat kurang terlihat dari
kebutuhan akan dapur, keberadaan dapur penting, karena setiap fungsi kegiatan
dalam hunian selalu terkait dengan keberadaan dapur. Misalnya pagi hari ketika
bangun kita perlu ke dapur untuk mencari minum, atau memasak. Kebutuhan
menyimpan, mengolah dan menyediakan makanan terletak di ruang yang disebut
dapur.
Kebutuhan akan ventilasi merupakan kondisi
yang terlihat perlu ada peningkatan, karena masih ada 40% responden yang
merasakan kurangnya ventilasi, atau angin-angin. Kondisi ini dapat diperbaiki
dengan menyediakan lebih jendela dan angin-angin pada bagian atas bangunan. Kinerja
RISHA untuk kebutuhan pencahayaan sudah cukup, karena terdapat 90% responden
yang menyatakan kepuasan untuk kebutuhan pencahayaan.
Kondisi atap yang digunakan untuk rumah
RISHA, di beberapa tempat masih memerlukan penyempurnaan, terutama terkait
dengan kondisi atap ketika terjadi hujan. Masih terdapat 40% responden (gambar
10) yang merasakan atap RISHA yang bocor, dan mengganggu kenyamanan tinggal di
dalam rumah.
Walaupun RISHA telah teruji kekuatannya
secara laboratorium maupun lapangan, namun kemampuan ini belum sepenuhnya
diterima oleh responden, karena hasil penelitian menemukan ada 45% responden
yang meragukan kemampuan ini.
Rumah RISHA sudah memiliki kinerja cukup
baik dalam membagi wilayah batas pribadi dan ruang publik. Kemampuan ini
terbaca dari data 80% responden yang mengaku puas untuk pembedaan ruang milik
pribadi dan ruang publik.
Kebutuhan sanitasi hunian masih perlu
untuk ditingkatkan, karena masih ada 45% responden yang belum dapat mengolah
air kotor yang dihasilkan, dan perlu untuk dialirkan ke luar lingkungan.
Kondisi bangunan, terkait struktur RISHA,
untuk pemasangan komponennya sebagian besar (60%) nya sudah menyatakan sesuai,
sedangkan 40% lainnya masih menunjukkan kebutuhan untuk meningkatkan mutu
pemasangan struktur (gambar 11). Kemampuan RISHA untuk didirikan dengan cepat,
sudah baik, hal ini didukung dengan data penelitian yaitu sebesar 75% responden
menyetujui kecepatan pembangunan dari RISHA.
Pengawasan dari produsen sudah pada taraf
yang cukup, hampir 70% responden menyetujui pernyataan ini. Untuk pembangunan
oleh tukang yang terlatih, masih perlu ditingkatkan kinerjanya, karena masih
ada 40% responden yang memiliki pendapat pembangunan RISHA mereka tidak
dilakukan oleh tukang terlatih.
Kinerja rumah RISHA untuk kebutuhan ruang
hunian dengan konteks lokal, dapat dilihat dari tiga hal, yaitu perlu tidaknya
modifikasi ruangan, material dan struktur serta kesesuaian bangunan dengan
konteks lokal. Kemampuan yang paling kuat dari RISHA tipe standar adalah
terkait dengan pembentukan ruang hunian yang dapat mencukupi 50% responden.
RISHA juga telah menyesuaikan keberadaannya dengan kondisi lokal, pernyataan
ini didukung oleh persepsi dari 75% responden.
Kebutuhan responden terutama untuk
memenuhi konteks kebutuhan lokal, adalah terkait dengan material bangunan yang
digunakan untuk finisihing bangunan.
Hal ini dikuatkan dengan data persepsi 60% responden yang menyatakan kebutuhan
untuk modifikasi material. Sedangkan kebutuhan untuk modifikasi struktur yang
digunakan dinyatakan oleh kurang dari 60% responden.
5. KESIMPULAN
Dari
penelitian dan pengukuran yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa
perubahan profesi dipengaruhi atau terpengaruh oleh lokasi domisili responden
setelah menggunakan RISHA, perubahan profesi ini juga mempengaruhi pendapatan
keluarga. Berdasarkan penelitian sebagian besar rumah RISHA yang dihuni,
merupakan bantuan hunian dari pemerintah.
Keberadaan
RISHA sebagai unit hunian modular tidak mempengaruhi jumlah keluarga yang
tinggal. Namun ada 40% responden yang merasa luas bangunan standar tipe 36 ini
perlu ditambah. RISHA secara umum telah cukup menyediakan satu kamar terpisah,
namun untuk peningkatan perlu dipertimbangkan bahan partisi yang lebih baik.
Kondisi baik ditunjukkan dari keberadaan pencahayaan. Selain itu kinerja
pembagian wilayah privat dan publik sudah baik. Kinerja baik juga ditunjukkan
dari proses pemasangan yang cepat. Hal ini juga ditunjang dari pengawasan dari
produsen yang baik.
Kondisi yang sangat perlu diperbaiki
adalah kebutuhan akan dapur di dalam unit hunian. Selain itu kebutuhan akan jumlah bukaan atau ventilasi
perlu ada peningkatan, karena masih ada 40% responden yang merasakan kurang. Kondisi
atap juga masih memerlukan penyempurnaan, terutama ketika terjadi hujan. Hal
lain yang perlu ditingkatkan adalah kebutuhan sanitasi hunian. Pembangunan
perlu dipastikan dilakukan oleh tukang yang terlatih.
Kinerja rumah RISHA yang baik terutama
adalah terkait kesesuaian bangunan dengan konteks lokal dan kemampuan RISHA
dalam membentuk ruang. Kinerja yang perlu perbaikan terkait dengan material struktur
yang digunakan.
Dari penelitian terlihat bahwa dari segi
penyediaan ruang hunian RISHA (gambar 13) yang diupayakan oleh pemerintah,
tidak dapat mengabaikan kebutuhan untuk melakukan kontekstualisasi terhadap
lingkungan sosial, ekonomi dan lingkungan serta kebutuhan ruang pribadi,
preferensi material dan keyakinan kekuatan struktur dan konstruksi dari
persepsi konsumen rumah.
6. UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih
disampaikan kepada tim penelitian RISHA Balai
Litbang Sosekling Bidang Permukiman di tahun 2007 dan 2008.
7. DAFTAR PUSTAKA
1.
Alizar, Teknologi
Bahan & Konstruksi MODUL KE-6, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan , Universitas Mercu
Buana
2.
Binsar H. Hariandja, Hari Nugraha Nurjaman, Sutadji
Yuwasdiki, HR. Sidjabat, 2011, Standar
Nasional Indonesia Tentang Tata Cara Perancangan Struktur Beton Pracetak Dan
Prategang Untuk Bangunan Gedung
3.
Bramantyo, 2012, Efektivitas Regulasi Perumahan Di Indonesia dalam Mendukung
Penyediaan Rumah Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MB), Widyariset, Vol. 15 No.1,
April 2012
4.
Kwanda Timoticin, Jani Rahardjo, Bonivasius
Risa Wibowo, 2003, Analisis Kepuasan Penghuni Rumah Sederhana Tipe 36
Dikawasan Sidoarjo Berdasarkan Faktor Kualitas Bangunan,
Lokasi, Desain, Sarana Dan Prasarana, Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 31, No. 2,
Desember 2003: 124-132
5.
Makmur Khasani, Ir.Chundakus Habsya, M.SA, Budi Siswanto,
S.Pd., M.Ars., Perancangan
Komponen Prapabrikasi Rumah Tinggal Tumbuh, Pendidikan Teknik
Bangunan, Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan, FKIP
UNS
6.
Putra GH, 2014, Efektivitas Ruang dalam Rumah Tipe 36
Ditinjau dari Perletakan Perabot terhadap Ruang Gerak
Penghuni, E-Journal Graduate Unpar Part D –
Architecture, Vol. 1, No. 2 (2014) ISSN: 2355-4274
7.
Ronggo Suseno, 2012, Comparative Study Precast Concrete Material
And Hebel, Gunadarma University Library :
Http://Library.Gunadarma.Ac.Id 1
8.
Soleh, 2014, Ekombis Review, Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis, Vol 2, No 2 (2014) >,
ISSN : 2338-8412
9.
Syaadah Nilatus, 2014, Analisis Dampak Pertambahan Penduduk
Terhadap Penyerapan Angkatan Kerja, Jurnal Ilmiah Pendidikan Geografi, Vol. 2 no.
1 oktober 2014
10.
Tiara, S., 2014, Analisis Atribut-Atribut Yang Mempengaruhi Penerimaan
Pajak Bumi Dan Bangunan (PBB) Terhadap Pendapatan Daerah Di Kota Medan
11.
Oktanto Erwan, Hasiolan Leonardo Budi, Minarsih Maria
Magdalena, 2015, Pengaruh Bantuan
Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) dan Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak
(BBM) terhadap Perilaku Konsumtif Masyarakat di Kelurahan Banyumanik Kota
Semarang, Journal of Management. ISSN : 2442-4064, Universitas
Pandanaran, http://jurnal.unpad.ac.id/.
12.
Widiastuti Erni dan Handayani SWE, 2013, Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Keputusan Pembelian Rumah Bersubsidi dengan Menggunakan Analisis Regresi,
Prosiding Seminar Nasional Statistika Universitas
Diponegoro ISBN: 978-602-14387-0-1.
13.
https://ucupkelings.wordpress.com/sejarah-statistika/
14.
http://nasional.news.viva.co.id/print_detail/printing/183708-inilah-rincian-penduduk-ri-per-provinsi
1 komentar:
What's up friends, fastidious piece of writing and good arguments commented here,
I am in fact enjoying by these.
Posting Komentar