Selasa, 19 April 2022
FACTORS CAUSING URBAN LIFE DISRUPTIONS: A CASE STUDY ON COVID-19 PANDEMIC IN YOGYAKARTA
Selasa, 22 Maret 2022
Webinar Kelola Air Tanahku demi Kelestarian Generasi Kita, Direktorat Sekolah Dasar, Kemendikbud
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Yuda Pracastino Heston ST., MT., Dosen Politeknik Pekerjaan Umum, Teknik Tata Bangunan dan Perumahan memaparkan, dalam pengelolaan air tanah ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama terkait dengan pengendalian atau pengambilan pemanfaatan air tanah, kedua pengolahan kualitas, yang ketiga adalah pengendalian pencemaran dan pemulihan kerusakan.
“Tiga hal tersebut yang perlu diperhatikan agar kita bisa mengelola air tanah demi melestarikan generasi bangsa,” ujarnya.
Pengenalan pengelolaan air di satuan pendidikan dapat dimulai melalui sanitasi sekolah, oleh karenanya sangat diperlukan satuan pendidikan memiliki sanitasi yang layak. Yuda Pracastino mengungkapkan ada enam poin terkait dengan prinsip sanitasi yang ada di sekolah.
Pertama adalah terkait dengan perspektif perilaku, dalam hal ini adalah perilaku hidup bersih dan sehat. Yang kedua terkait dengan ketersediaan air minum. Definisi air minum adalah air bersih yang sudah melalui proses pengolahan, misalnya sudah direbus menjadi air layak diminum.
“Lalu yang ketiga adalah terkait dengan fasilitasi keberadaan proyek atau jamban, termasuk di dalamnya adalah pengolahan air limbah yang disebut dengan septic tank,” sebutnya.
Poin yang keempat adalah penyediaan fasilitas. Kelima saluran air sebagai sistem drainase. Dan yang keenam adalah tempat sampah atau tempat penampungan sementara.
“Di dalam panduan penyusunan dokumen perencanaan strategis dalam sanitasi sekolah kami mencatat, ada tujuh poin yang perlu diperhatikan oleh bapak dan ibu di dalam melakukan penilaian terkait dengan kondisi sanitasi yang ada di sekolah,” kata Yuda.
Tujuh poin yang perlu diperhatikan dalam implementasi sanitasi di satuan pendidikan pertama adalah toilet murid dengan guru, serta toilet anak perempuan dan laki-laki harus terpisah. Kemudian ketersediaan air yang mencukupi, pengelolaan toilet secara baik, fasilitas septic tank harus dipastikan memadai.
“Lalu juga yang tidak kalah penting adalah fasilitas untuk siswi yang datang bulan. Seperti yang kita ketahui bahwa dewasa ini banyak murid-murid SD wanita yang sudah mengalami menstruasi,” kata Yuda.
Selanjutnya adalah adanya fasilitas cuci tangan menjadi perhatian bersama apalagi ketika memasuki era pandemi Covid-19. Tidak hanya tersedia air di sekolah namun juga harus dilengkapi dengan ketersediaan sabunnya.
“Kemudian yang tidak kalah penting juga adalah pengelolaan sampah serta saluran air yang baik, saluran air dari fasilitas cuci tangan maupun saluran air dari kamar mandi yang harus terpisah dengan saluran air yang dari toilet. Jangan lupa untuk mengontrol kebersihan saluran air keluar,” tambahnya.
Jumat, 07 Januari 2022
Pandemi, Air Minum, dan Visi Kementerian PUPR
Melihat utuh wajah orang lain saat kita berpapasan di jalan menjadi sesuatu yang langka saat ini. Hal ini kita alami sejak menghadapi pandemi Covid-19. Kita pun menutup sebagian
wajah untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona. Kita juga mesti berjauhan,
menjaga jarak, dan sering-sering mencuci tangan.
Fenomena ini
menunjukkan betapa pentingnya kesehatan dalam kehidupan
kita. Hidup sehat dan bugar perlu diupayakan melebihi hal–hal lain yang
mengutamakan penampilan atau estetika.
Namun di masa pandemi, ada satu tempat di mana kita dapat merasakan kembali
suasana layaknya di masa normal seperti saat sebelum Covid-19 mewabah. Tempat
itu adalah rumah makan. Di sana, setidaknya kita dapat melihat kembali wajah –
wajah yang sebelumnya ditutup dengan masker. Ketika makan dan minum, mau tidak
mau orang-orang melepas masker dan membuka utuh wajahnya.
Dengan begitu, kondisi ini menunjukkan makan dan minum menjadi unsur dasar
yang menunjang kehidupan manusia. Apalagi keberadaan air, sebagai elemen
terbesar yang ada di bumi, konon menopang kehidupan individu lebih dari sebuah
makanan.
Apalagi kalau menilik hubungan antara masker dan wajah dengan kebutuhan
manusia akan air, kita dapat melihat bahwa seperti halnya kita menghindarkan
‘wajah’ kita dari virus Corona, maka kita pun memerlukan upaya untuk menjaga
kualitas air minum, sehingga memenuhi semua parameter dan layak kita konsumsi.
Parameter itu meliputi aspek fisik, biologi, dan kimiawi. Selain sisi
kualitas itu, kita juga mengerti bahwa ada kebutuhan untuk menjaga kuantitas,
waktu penyediaan, dan keterjangkauan air minum.
Untuk itu, sebagai upaya memenuhi dan menjaga kelayakann konsumsi air
minum, Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat (PUPR) telah menetapkan
berbagai program, kebijakan, dan strategi soal air minum.
Selama ini, ditargetkan air minum layak tersedia 100% pada 2019. Namun
sayangnya sampai akhir tahun 2019 target tersebut baru mencapai 76,16%.
Direktorat Jenderal Cipta Karya mencatat beberapa permasalahan dalam upaya
mencapai 100% cakupan layanan air minum.
Pendanaan dalam penyelenggaraan air minum di skala nasional terbatas dan
memerlukan solusi inovatif. Misalnya dengan menjalin kemitraan
pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Untuk
penyediaan air minum perpipaan, ditemukan catatan kritis terhadap kinerja
beberapa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Antara lain banyak PDAM tidak memenuhi full
cost recovery dalam penetapan tarif air minum. Selain itu, ada masalah kebocoran atau on-revenue for water (NRW).
Full cost recovery atau pemulihan biaya adalah[1]
tertutupnya dana operasional yang didapat dari selisih antara perhitungan tarif
rata-rata dibandingkan dengan biaya operasional.
Saat ini 143 dari 380[2]
PDAM di Indonesia telah menetapkan tarif
FCR. Jumlah itu menunjukkan bahwa lebih dari separuh PDAM belum menetapkan
tarif FCR.
Adapun NRW adalah faktor determinan inefisiensi PDAM. Hasil penelitian[3]
menunjukkan bahwa semakin tinggi NRW maka pendapatan PDAM akan semakin rendah,
khususnya dari penjualan air. Penyebab NRW terutama terkait ketidakakuratan
meteran pelanggan.
Akselerasi akses air minum perpipaan
Untuk itu, diperlukan
upaya untuk mengatasi inefisiensi perusahaan, khususnya soal
operasional PDAM.
Dalam soal PDAM ini,
audit jaringan perlu dilakukan--meminjam istilah Pak Prabowo pasca-pemilu
lalu--secara sistematis, masif,
dan terstruktur. Audit itu akan dikorelasikan
dengan catatan rekening. Tak kalah penting, manajemen meteran
wilayah dan penyederhanaan tipe pipa juga perlu dilakukan.
Upaya meminalisasi
NRW dapat ditempuh dengan pendekatan digitalisasi sistem bisnis,
termasuk dalam pembayaran dan tagihan, manajemen aset,
dan menciptakan manajemen perusahaan yang andal.
Dengan kata lain, penyelenggaraan air minum pada dasarnya merupakan kerja
kolaborasi antara berbagai kepentingan. Pemerintah pusat melalui
Kementerian PUPR sebagai salah satu pemangku kepentingan
penyediaan air
tentunya membutuhkan kerjasama dan komitmen dari pemerintah daerah
serta komunitas
di masyarakat.
Upaya-upaya ini
diperlukan untuk mencapai visi Kementerian Pekerjaan Umum 2020-2024, yaitu
terwujudnya ‘Infrastruktur
dan SDM PUPR yang Andal untuk Indonesia Maju, Adil, dan Makmur’.
Dengan meningkatkan pemenuhan kebutuhan infrastruktur permukiman, khususnya di bidang
air minum, hal ini dapat menjadi lokomotif penggerak
keberhasilan pencapaian visi kementerian.
Dengan ketersediaan
air minum yang baik, hidup sehat dan bugar akan selangkah
lebih dekat dari kita.
[1] https://koranseruya.com/tarif-full-cost-recovery-untuk-kesinambungan-pelayanan-spam.html#:~:text=Pemulihan%20biaya%20untuk%20menutup%20kebutuhan,rata%20harus%20menutup%20biaya%20penuh.
Diakses 26 november 2020 pukul 14:56
[2] http://www.pdamtirtabenteng.co.id/berita/bppspam-pdam-belum-memenuhi-full-cost-recovery-membuat-investor-enggan-bekerja-sama.
Diakses 26 november 2020 pukul 15:01
[3] https://pracastino.blogspot.com/search?q=full+cost.
Diakses 26 november 2020 pukul 15;15
Kamis, 04 November 2021
Pengurangan Emisi Karbon, dan Gedung Hijau Perkotaan
Bulan ini dunia kembali memperingati Hari Habitat, yang
jatuh pada tanggal 4 Oktober 2021. Tema tahun ini adalah mempercepat aksi
perkotaan untuk dunia bebas karbon. Peringatan
ini merupakan saat tepat untuk melakukan refleksi, terhadap interaksi manusia,
ekosistem lingkungan dan bangunan yang terbangun. Interaksi yang secara masif
terlihat di wilayah yang disebut sebagai kota.
Penduduk kota sejak tahun 2007, proporsinya terus melebihi
penduduk desa, akan terus bertambah. Bahkan berdasarkan proyeksi, akan mencapai
85% dibandingkan penduduk desa, pada tahun 2050. Peningkatan populasi kota,
berimbas pada peningkatan aktivitas di kota, yang jika tidak dikendalikan dapat
mengancam daya dukung dan daya tampung lingkungan. Belum lagi ancaman efek gas
rumah kaca, yang menyebabkan pemanasan global.
Kegiatan yang diidentifikasi menghasilkan emisi gas
rumah kaca antara lain, deforestasi atau laju perambahan hutan, menyumbangkan
kontribusi 37% efek rumah kaca di Indonesia. Selanjutnya, polusi transportasi
berperan dalam produksi 114 juta ton CO2 (2015). Konsumsi energi yang digunakan
untuk menghasilkan listrik, dengan menggunakan batubara, minyak bumi dan gas,
belum mengutamakan penggunaan energi terbarukan. Produksi sampah di Indonesia
yang termasuk besar, berpengaruh terhadap emisi gas rumah kaca, karena adanya produksi
Metana, dapat mengurangi kadar oksigen pada atmosfer bumi.
Tantangan perkotaan tersebut,
perlu ditangani, secara komprehensif dan sistematis, yaitu dengan mengelola
bangunan terbangun. Bangunan gedung menurut (IPCC, 2007), berkontribusi
terhadap konsumsi 1/3 sumber daya energi dunia, 12% total air bersih, dan 40%
dari total emisi.
Kementerian PUPR, telah menginisiasi
pembangunan berbasis Bangunan Gedung Hijau (BGH), di beberapa proyek gedung. Direktur
Jenderal Cipta Karya, Kementerian PUPR menyatakan bahwa penggunaan konsep Bangunan Gedung Hijau
(BGH), merupakan salah satu upaya mengurangi emisi karbon (4/10/2021). Beberapa bangunan telah menerapkan prinsip BGH, misalnya pembangunan
beberapa kampus, pasar, rumah susun, termasuk juga bangunan arena olahraga yang
digunakan pada PON XX Papua.
Penerapan pembangunan dengan menggunakan atribut
gedung hijau, didasari oleh beberapa peraturan terkait, yaitu Permen PUPR Nomor
9 Tahun 2021 tentang Pedoman Penyelengggaraan Konstruksi Berkelanjutan. Selanjutnya,
Permen PUPR Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penilaian Kinerja BGH. Dua peraturan
lainnya terkait yaitu Permen PU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Rencana Aksi
Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim tahun 2012 – 2020, dan Permen
PUPR Nomor 02 tahun 2015 tentang Bangunan Gedung Hijau. Peraturan – peraturan
ini diperlukan untuk menjadi acuan normatif pengurangan emisi gas rumah kaca,
yang bersumber dari bangunan gedung.
Kontribusi keberadaan bangunan gedung hijau, dapat
mempengaruhi iklim mikro di sekitar gedung. Penerapan prinsip gedung hijau, dapat
meningkatkan efektifitas dan efisiensi konsumsi listrik, air dan energi. Hal
ini pada gilirannya dapat menjaga kelestarian lingkungan. Manfaat penerapan BGH
lainnya adalah untuk menurunkan biaya operasional dan pemeliharaan gedung.
Penghematan energi berkorelasi pada kontribusi pengurangan emisi CO2 dan
penghematan finansial.
Kesadaran untuk menggunakan energi, yang meminimalisir produksi
karbon, juga dilakukan beberapa kota di dunia. Misalnya saja kota Vancouver di
Kanada, yang mengoptimalkan pemanfaatan tenaga air, angin dan juga matahari
pada bangunan. Di Kota Vancoucer, berdiri gedung hemat energi tertinggi di
dunia, setinggi 178 meter, yang diberi nama Gedung 1075 Nelson Street. Bangunan
ini menggunakan kaca lapis tiga dengan kinerja sampai 40%, dinding berinsulasi
super 60%. Penggunaan kaca ini berguna untuk mengantisipasi kehilangan panas,
melalui selubung kulit bangunan dan memenuhi kebutuhan panas untuk bangunan.
Di sisi lain, Sekjen Perserikatan Bangsa – Bangsa Antonio
Guterres mengingatkan, rencana pemulihan ekonomi akibat pandemi COVID-19,
memberi kesempatan kepada seluruh generasi untuk menjadikan aksi iklim, energi
terbarukan, dan pembangunan berkelanjutan sebagai pusat strategi dan kebijakan
perkotaan. Menurutnya, hanya dengan adanya partisipasi aktif kota-kota, maka
target untuk mencapai emisi karbon nol dapat tercapai. Konstruksi dan
bahan bangunan yang ramah lingkungan harus digunakan disegala tempat. Serta
bangunan itu sendiri harus hemat energi. Dengan hal ini, akan membawa
manfaat dalam hal pengurangan polusi dan risiko iklim, peningkatan lapangan
kerja, peningkatan kesehatan dan kesejahteraan.
Kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan dalam
konteks mengurangi emisi karbon, penting untuk dilakukan. Hal ini perlu
dilakukan untuk menjadi dasar pembangunan ke depan yang lebih bersifat terbuka,
inklusif, dan berkelanjutan untuk semua.
Kamis, 11 Maret 2021
Problem and Technology Solution Improving Water Quality in Morotai Island (A Case Study in Koloray, Muhajirin and Juanga)
Morotai is one of the regions which has become a new growth center in North Maluku Province (Malut). Meanwhile, the development carried out at Morotai is still constrained by the limited supply of clean water in three regions. This research was conducted to: 1) Clean water problems based on geographical conditions; 2) Map technology needs and propose technologies which can be used to provide clean water in Morotai Island; 3) Factors related to people's willingness to pay for the application of water technology. Research was carried out through an action research with a case study method in three regions in Morotai in which has tourist attractions based on different geographical conditions. The sample of this study was 70 households in each location. Data were analyzed descriptively and in comparison. The result of this study shows that the main obstacles to provide clean water are poor quality of raw water due to high salt concentrations in Koloray, pollution load caused by flood in rainy season in Muhajirin, and lack of raw water especially in the dry season in Juanga. Appropriate technology is needed to solve the problem such as rainwater treatment, brackish water treatment, utilization of ACS, and merotek models of rainwater. Factors related to people's willingness to pay for the application of water technology are perception towards clean water problem, head of household income, number of family members, technology needs for clean water improvement.
LINK 🠋
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0160791X21000270?dgcid=author
Jumat, 07 Agustus 2020
Menuntaskan Tata Kelola IPAL/IPLT di DAS Citarum Hulu
Yudha Pracastino
Heston*)
Sungai Citarum sebagai sungai
terbesar di Jawa Barat, memiliki banyak fungsi penting, salah satu yang utama adalah
sebagai sumber air baku bagi masyarakat Jawa Barat dan Daerah Khusus Ibukota
Jakarta. Wilayah hulu sungai Citarum meliputi Kota Bandung, Kabupaten Bandung,
Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung Barat.
Kualitas sungai Citarum sampai
saat ini cenderung masih memprihatinkan karena tercemar oleh berbagai limbah.
Pencemaran sungai ditandai dengan adanya polutan organik terlarut (BOD dan
COD), yang melebihi ambang batas dan mengakibatkan berkurangnya kadar oksigen
di dalam air. Limbah domestik berupa sampah, limbah cair dan tinja menjadi
sumber pencemar terbesar sungai.
Sebagai upaya mencegah pencemaran
limbah domestik cair dan tinja, telah disiapkan instalasi pengolahan air limbah
disingkat IPAL dan IPLT (lumpur tinja). Sampai saat ini secara jumlah,
kebutuhan IPAL/IPLT masih belum mencukupi, selain itu terdapat beberapa masalah
dalam tata kelola, yaitu aspek pengambilan keputusan pengelolaan IPAL/IPLT.
Tulisan ini menjadi ekstraksi
dari laporan penelitian berjudul Perbaikan Tata Kelola IPAL dan IPLT untuk
Mengatasi Pencemaran Air Baku DAS Citarum, Balai Litbang Penerapan Teknologi Permukiman,
di tahun 2016, yang dikerjakan penulis bersama tim peneliti.
Masalah Tata Kelola
Masalah non teknis terkait tata
kelola IPAL/IPLT di DAS Citarum yang dapat teridentifikasi, misalnya terkait
dengan regulasi atau aspek peraturan. Sampai saat ini belum terdapat aturan
setingkat undang-undang dan peraturan pemerintah, yang spesifik mengatur
pengolahan air limbah domestik, sebagai sumber pencemar utama sungai Citarum.
Acuan aturan dalam pengelolaan limbah domestik saat ini, lebih mengikuti
peraturan menteri lingkungan hidup. Hal ini juga diikuti dengan upaya penegakan
peraturan yang juga cenderung masih lemah dan permisif.
Sumber pendanaan untuk kebutuhan investasi
alat dan operasional IPAL/IPLT terpusat, selain IPAL Bojongsoang milik PDAM
Tirta Wening Kota Bandung, masih lebih mengandalkan anggaran pemerintah (daerah
maupun pusat). Sehingga ditemukan kesulitan ketika IPAL memerlukan pemeliharaan
dalam skala besar dan kebutuhan pengembangan layanan.
Masalah lain terkait ketersediaan
tenaga kerja sektor limbah, terbukti dengan banyak operator yang masuk usia
purna bakti dan masih dikaryakan, tenaga kerja yang tidak sebanding dengan luas
daerah layanan dan jumlah pelanggan. Kompetensi petugas untuk kebutuhan
pekerjaan teknis maupun administratif yang kurang sesuai. Pelatihan teknis dan administratif menjadi
sebuah kebutuhan, yang perlu diadakan secara berkala dan berkelanjutan, bagi para pegawai selama menjalankan tugas dan tanggungjawabnya. Struktur organisasi pengelolaan juga
menjadi bagian yang perlu
ditinjau kembali.
Solusi Tata Kelola
Untuk mewujudkan tata kelola IPAL/IPLT yang baik, diperlukan perbaikan kebijakan dalam tiga aspek utama,
sebagaimana dibahas, yaitu regulasi,
pendanaan, dan kelembagaan. Solusi kebijakan terkait aspek regulasi, yang dapat dilakukan misalnya
dengan melakukan kajian menyeluruh
mengenai regulasi terkait tata kelola IPAL/IPLT, sehingga dapat diidentifikasi kesenjangan peraturan dan peraturan
yang tumpang tindih. Jikalau diperlukan dapat dibentuk tim
khusus untuk merumuskan peraturan-peraturan sebagai payung hukum pengelolaan
IPAL/IPLT, yang meliputi
pengelolaan air limbah (domestik), struktur organisasi (termasuk uraian tugas dan jabatan) pengelolaan air limbah, penentuan retribusi atau tarif, perlindungan
kesehatan dan keselamatan kerja, dan
sanksi yang perlu untuk diterapkan. Peninjauan, pembentukan atau penguatan lembaga pengelola air limbah, perlu
dilakukan setelah dilakukan penjajakan kebutuhan.
Beberapa contoh solusi
dari aspek pendanaan, yaitu diperlukan priotisasi alokasi dana,
terutama dari APBD untuk operasional
dan perbaikan sarana-prasarana pengelolaan air limbah, agar pengelolaan air limbah berkelanjutan. Kebutuhan kolaborasi dengan pihak swasta sehingga dapat membantu penyediaan kebutuhan pendanaan IPAL/IPLT. Kemitraan dengan pihak swasta ini bertujuan untuk mewujudkan penyediaan sanitasi yang aman terutama sarana pengelolaan air limbah
domestik.
Perbaikan kelembagaan dapat dilakukan sesuai kemampuan daerah dan kebutuhan
pelayanan, dengan pilihan
bentuk berupa Unit Pelayanan Teknis
Badan (UPTB), Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), Badan Usaha Milik Daerah
(BUMD), maupun kerjasama dengan Badan Usaha (swasta). Diperlukan adanya kajian akademis terkait pembagian wewenang dalam
pembangunan, operasi, pengembangan, dan pengawasan IPAL/IPLT.
Selanjutnya diperlukan penyusunan dokumen
prosedur standar operasional, untuk memastikan proses tata kelola IPAL/IPLT
dapat berjalan sesuai
dengan tujuan yang akan dicapai. Upaya
peningkatan kualitas dan kuantitas sumber
daya manusia, yang terlibat dalam pengelolaan limbah, melalui pelatihan, supervisi, pengawasan dan evaluasi secara rutin dan berkala. Pemberian penghargaan bagi pengelola
instalasi berprestasi dapat dikembangkan untuk mengapresiasi kinerja. Dapat
juga ditingkatkan lagi peran penilik sanitasi, untuk dapat mengawasi kinerja fasilitas sanitasi keluarga dan
komunitas.
Selain rekomendasi kebijakan dalam aspek regulasi, pendanaan, dan
kelembagaan, beberapa strategi tambahan untuk mewujudkan tata kelola IPAL/IPLT berkelanjutan, yaitu memberdayakan
masyarakat dalam tahap persiapan dan pengelolaan instalasi, juga berpartisipasi
dalam menjaga pentingnya sarana prasarana, perilaku sanitasi yang benar dan pentingnya pembayaran retribusi. Sebagai catatan akhir diperlukan upaya yang sungguh dari pengelola,
sehingga muncul keuntungan
pengelolaan IPAL/IPLT minimal 2-3% dari total biaya, sehingga dapat dialokasikan untuk pengembangan, yang didukung penerapan inovasi teknologi memanfaatkan bahan
lokal.
KAJIAN PEMANFAATAN PROGRAM PENYEDIAAN AIR MINUM DAN SANITASI BERBASIS MASYRAKAT (PAMSIMAS) DI LINGKUNGAN PERMUKIMAN
KAJIAN PEMANFAATAN PROGRAM PENYEDIAAN AIR MINUM
DAN SANITASI BERBASIS MASYRAKAT (PAMSIMAS)
DI LINGKUNGAN PERMUKIMAN
THE STUDY OF WATER SUPPLY PROGRAM AND COMMUNITY
BASED SANITATION (PAMSIMAS) UTILIZATION
IN ENVIRONMENTAL SETTLEMENT
Yudha
Pracastino Heston
Balai Penelitian dan Pengembangan Sosial
Ekonomi Bidang Permukiman
Jl.Adisucipto No.165,
Yogyakarta
Email: pracastino@yahoo.com
Abstrak: Program Pamsimas adalah program berbasis
masyarakat, dan pemanfaatan dari
penyediaan air Pamsimas, sangatlah tergantung pada perilaku masyarakat sebagai penerima
manfaat. Demikian sebaliknya, pilihan
penggunaan air jugaakan mempengaruhi perilaku masyarakat dalam kehidupan keseharian.Untuk
melihat bagaimana kinerja
pemanfaatan air bersih dari program Pamsimas, perlu dilakukan pembandingan dengan instansi penyedia air yang lain.Analisis dilakukan dengan
menggunakan statistik deskriptif, tabulasi silang dan korelasi. Dengan
mempertimbangkan 7 aspek yaitu: asal instansi penyedia air bersih, dari mana diperoleh sebagian
besar air bersih yang digunakan, jarak sumber air dengan tempat tinggal, layanan air bersih tersebut
dipergunakan 24 jam sehari, layanan tersebut memenuhi untuk kebutuhan rumah tangga, apakah terdapat perbedaan
ketersediaan, jumlah dan mutu air berdasarkan musim,
dan pemanfaatan pengumpulan air. Dari kajian yang dilakukan terhadap pelaksanaan program Pamsimas di
Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Banjar, dan Kota Kupang, pengelola perlu
mendapat gambaran mengenai perilaku penggunaan air pada masyarakat penerima
manfaat.Kinerja Pamsimas di lokasi penelitian menurut perbandingan performa
kinerja dengan instansi penyedia air bersih lainnya adalah baik.Penilaian ini
dilihat untuk aspek yang diteliti yaitu jarak sumber air, layanan air 24 jam
sehari, layanan memenuhi kebutuhan, kualitas air dan ketersediaan berdasarkan
musim. Sehingga Pengelola Pamsimas dan masyarakat penerima manfaat perlu lebih
tepat menentukan lokasi hidran umum dan menjamin tersedianya akses air yang
tetap baik dari jumlah dan kualitas.
Kata kunci: pemanfaatan, penyediaan, air minum, dan masyarakat.
Abstract: PAMSIMAS program is community-based programs, and utilization of
PAMSIMAS water supply depends heavily on the behavior of society as
beneficiaries. The choice of water use will also affect people's behavior in
daily life. To see how the performance of the utilization of clean water from
PAMSIMAS program, agencies need to do comparisons with other water
providers.Analyses were performed using descriptive statistics, cross
tabulation and correlation. Taking into account the seven aspects: the origin
agency clean water providers, from whence most of the water used, the distance
of water sources with shelter, clean water services are used 24 hours a day,
for such services meet the needs of the household, whether there are
differences in the availability , the number and quality of water based on the
season, and utilization of water collection.From studies conducted on the
implementation of PAMSIMAS in Tasikmalaya District, Banjar District, and Kota
Kupang, managers need to get an idea about the behavior of water use in the
beneficiary communities. PAMSIMAS performance at the study site according to
the performance comparisons with other agencies providers of clean water is
good. This assessment visits to the investigational aspects of the distance of
water sources, water service 24 hours a day, service needs, water quality and
availability based on the season. So the manager PAMSIMAS and beneficiaries
need to more precisely determine the location of public hydrants and ensuring
availability of water remains good access from the quantity and quality.
Keywords: utilization, supply,
drinking water, and community.
PENDAHULUAN
Pemenuhan kebutuhan
akan air bersih, merupakan salah satu indikator
keberlanjutan pembangunan dalam Millenium Development Goals (MDGs).Pemerintah
Indonesia telah mencanangkan untuk dapat memenuhi target MDGs
tersebut sampai tahun 2015. Penyediaan air bersih merupakan bagian target MDG’s yang kesepuluh (Masduqi,
2007). Pemerintah mengharapkan, sebanyak 67,8% penduduk
dapat menikmati akses air bersih. Sementara sampai tahun 2011, menurut Direktur
Bina Program Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum akses pelayanan baru
dirasakan 47% penduduk Indonesia.
Sebagai upaya untuk mewujudkan target tersebut, berbagai
upaya dilakukan, salah satunya dengan mengoptimalkan peran Perusahaan Daerah
Air Minum (PDAM) dan mengembangkan program-program penyediaan air bersih. Salah
satu program pemerintah terkait dengan penyediaan air bersih adalah program Penyediaan Air
Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS).
Pamsimas merupakan program dan aksi nyata pemerintah dan masyarakat dengan
dukungan Bank Dunia (Pamsimas, 2009).
Dari hasil
penelitian yang dilakukan Balai Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi dan
Lingkungan Bidang Permukiman, terdapat dua temuan penting terkait Pamsimas,
yaitu kegiatan pemberdayaan tidak dapat dilaksanakan bersamaan dengan proyek
pembangunan fisik, sehingga perlu disiapkan waktu pada tahun yang berbeda
(prosesnya lebih dahulu dikerjakan, sehingga jika waktu pemberdayaan kurang,
masih ada waktu di tahun pelaksanaan pembangunan fisik). Temuan kedua berkaitan
dengan pengelola, yang perlu memperhatikan ketersediaan sumber air, kualitas
air (fisik, kimia, biologi) dan kuantitas (liter/keluarga) yang disalurkan ke
masyarakat penerima manfaat.
Program Pamsimas adalah program
berbasis masyarakat, dan pemanfaatan dari penyediaan air Pamsimas,
sangatlah tergantung pada perilaku masyarakat sebagai penerima
manfaat. Sehingga pengukuran kinerja dan pemanfaatannya
seharusnya dilihat dari sudut pandang masyarakat.Kajian yang dilakukan
adalah untuk melihat, bagaimana kinerja pemanfaatan air bersih dari
masing-masing instansi, peruntukan pemanfaatan air, dan pelaku pemanfaatan air, dari sudut pandang masyarakat penerima manfaat.
DATA DAN ANALISIS
Penelitian dilakukan dari bulan Februari
2010 sampai Oktober 2010. Populasi penelitian adalah masyarakat penerima
manfaat di kota Kupang, Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Banjar. Besar sampel,
menggunakan kuota per kabupaten/ kota sebesar 64 responden (Sosekkim, 2010).
Pengambilan
sampel dilakukan acak dengan rancangan Cluster
Proportional to Population Size diakukan dengan cara, membagi daerah
Penelitian kabupaten atau kota yang masuk dalam program Pamsimas ke dalam
Klaster Kecamatan yang diambil secara acak, kemudian dari klaster kecamatan
akan diturunkan ke tingkat desa/kelurahan. Menetapkan
jumlah klaster yang akan dipilih atas dasar kesatuan analisis sampel yang
dikehendaki yaitu dari kecamatan ke desa (tabel 1).
Tabel 1. Teknik pengambilan sampel dengan klaster.
|
Kota Kupang |
Kabupaten Tasikmalaya |
Kabupaten Banjar |
|||
|
Kecamatan |
Kelurahan |
Kecamatan |
Desa |
Kecamatan |
Desa |
|
Alak |
Nunbaun Sabu |
Bantarkalong |
Wakap |
Karang Intan |
Awang Bangkal
Barat |
|
Maulafa |
Naikolan. |
Cigalontang |
Cidugaleun |
Mataraman |
Lok Tamu |
|
Oebobo |
Liliba |
GN Tanjung |
Cinunjang |
Simpang Empat |
Sungkai Baru |
Menetapkan jumlah sampel tiap desa melalui
proportional to population size dengan menggunakan (rumus 1):
Sehingga ditemukan jumlah sampel per kelurahan/desa
(tabel 2).
Tabel 2. Distribusi jumlah sampel.
|
|
Kelurahan/Desa |
Jumlah Jiwa |
Jumlah sampel (n) |
|
Kota Kupang |
Nunbaun Sabu |
142 |
7 |
|
Naikolan |
399 |
19 |
|
|
Liliba |
791 |
38 |
|
|
Kabupaten Tasikmalaya |
Wakap |
512 |
24 |
|
Cidugaleun |
623 |
30 |
|
|
Cinunjang |
212 |
10 |
|
|
Kota Banjar |
Awang Bangkal Barat |
814 |
31 |
|
Lok Tamu |
463 |
17 |
|
|
Sungkai Baru |
429 |
16 |
Data
dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, dengan
menggunakan pertanyaan tertutup. Analisis statistik dilakukan terhadap
variabel-variabel penelitian, dengan terlebih dahulu
mengkompilasi data. Analisis terhadap variabel dilakukan dengan:
1)
Distribusi
frekuensi
Dilakukan untuk
memaparkan distribusi frekuensi
dari variabel terpilih, dan kemudian melakukan interpretasi.
2)
Analisis
tabulasi silang
Dilakukan dengan membuat pembandingan antara variabel yang sudah ditentukan.
3)
Korelasi
Dilakukan dengan menggunakan metode Pearson,
dengan tingkat kepercayaan 95%.
Kajian pemanfaatan air dilakukan dengan memperbandingkan
7 aspek penyediaan air bersih, ditambah dengan aspek
pemanfaatan air yang sudah didapatkan (tabel 3).
Tabel 3.
Definisi operasional.
|
No. |
Aspek |
Keterangan |
|
1 |
asal instansi penyedia air bersih, |
Pamsimas, PDAM, swadaya masyarakat, swadaya rumah
tangga |
|
2 |
dari mana diperoleh
sebagian besar air bersih yang digunakan, |
Danau, sumur, kran/hidran umum, air perpipaan, air
dalam kemasan |
|
3 |
jarak sumber air dengan
tempat tinggal, |
< 10 meter, 10-500 meter, 500-1000 meter, >
1000 meter |
|
4 |
layanan air bersih
tersebut dipergunakan 24 jam sehari, |
Ya, tidak |
|
5 |
layanan tersebut memenuhi
untuk kebutuhan rumah tangga, |
Ya, tidak |
|
6 |
Kualitas air yang diterima
|
Ya, tidak |
|
7 |
perbedaan ketersediaan
jumlah dan mutu air berdasarkan musim |
Ya, tidak |
|
8 |
pemanfaatan
pengumpulan air |
Memasak, mandi, mencuci, sanitasi, berkebun di halaman, beternak, membersihkan rumah |
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa hampir 50 %
dari masyarakat penerima manfaat program Pamsimas, menggunakan air yang
disediakan program (tabel 4). Dilihat dari kepentingan program, angka 50% dapat terlihat sebagai
sebuah kekurang tepatan melakukan analisis penerima manfaat. Sebagai sebuah
kebutuhan, air bersih dari Pamsimas dialirkan dari sumber mata air ke hidran
umum, yang dapat dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Sebanyak 121 (seratus dua
puluh satu) keluarga dari 3 lokasi penelitian menggunakan air dari Pamsimas,
melalui hidran umum yang disediakan oleh program. Sedangkan sisanya sebagian
besar memanfaatkan sumur, baik yang diupayakan secara bersama oleh masyarakat,
ataupun diupayakan oleh keluarga.
|
Tabel 4. Darimana
mendapatkan pelayanan
PAB. |
||
|
Frequency |
% |
|
|
Pemerintah Pusat (PAMSIMAS) |
123 |
47.9 |
|
Pemerintah Daerah (PDAM) |
12 |
4.7 |
|
Swadaya Masyarakat |
64 |
24.9 |
|
Swadaya Rumah Tangga |
36 |
14.0 |
|
Pamsimas dan swadaya rumah tangga |
1 |
0.4 |
|
PDAM dan swadaya rumah tangga |
21 |
8.2 |
|
Total |
257 |
100.0 |
Program Pamsimas memang tidak menyediakan air bersih
sampai ke rumah, yang biasa diistilahkan sebagai sambungan rumah, akan tetapi
dari hasil penelitian ditemukan 2 (dua) keluarga dapat memiliki sambungan
rumah. Hal ini dapat dilihat sebagai upaya keluarga tersebut, untuk menyambung
air dari hidran umum dengan pipa atau selang sehingga, air dapat sampai ke
rumah. Hal ini tidak menjadi pelanggaran dari ketentuan program, sejauh tidak
mengurangi kapasitas dan kualitas ketersediaan air bagi keluarga yang lain.
Hasil
analisis korelasi antara penyedia air bersih dan sumber air bersih ditemukan
angka signifikan korelasi 100%, hal ini mengindikasikan bahwa penyedia air
bersih memiliki kesamaan dengan sumber air bersih yang dipilih. Sebagai contoh
program Pamsimas, hampir mutlak masyarakat akan mengambil air dari hidran umum.
Sedangkan untuk swadaya masyarakat dan rumah tangga, hampir pasti menggunakan
sumber air dari sumur.
Penyedia
air bersih, jika ditinjau dari 3(tiga) lokasi penelitian, seperti terlihat pada
(gambar 1). Maka akan terlihat bahwa kota Kupang memiliki variasi paling banyak,
untuk instansi penyedia air bersih. Pulau Timor merupakan daerah yang termasuk
sulit untuk mendapatkan sumber air bersih. Walau demikian di kota Kupang masih
terdapat sumur yang dapat dimanfaatkan oleh keluarga dan tetangga sekitar
sumur. Bahkan di musim kemarau masyarakat harus membeli air dari truk tangki.
Pelaksanaan pekerjaan instalasi air bersih dari program Pamsimas, diperbolehkan
dengan mengumpulkan air dari sumber PDAM dan dimasukkan ke hidran umum, untuk
dapat dimanfaatkan bagi masyarakat. Bagi masyarakat yang sudah memiliki sumber
air bersih, maka tidak perlu bagi mereka memanfaatkan air dari program
Pamsimas.
|
Gambar 1. Darimana mendapatkan
pelayanan PAB menurut Kota/Kabupaten. |
Di 2
(dua) lokasi penelitian selain Kupang, masyarakat responden belum mendapatkan
akses pelayanan dari PDAM, sehingga program Pamsimas dapat dirasakan
manfaatnya. Walau demikian, terdapat juga masyarakat yang telah memiliki sumber
air berupa sumur.
Dari data tabulasi silang
antar instansi penyedia dan asal air, Pemanfaat Pamsimas sebagian besar (98%),
sesuai dengan sumber air yang didesain dari program, memperoleh air dari kran/
hidran umum. Pemanfaat PDAM berdasarkan penelitian, hanya sebesar 33% yang
menggunakan air perpipaan, bahkan 50% mengaku mendapat air dari air dalam
kemasan, dan 16% dari sumur. Fakta ini menunjukkan bahwa jawaban valid untuk
pemanfaat dari jasa PDAM hanya 33%. Untuk swadaya masyarakat 60% menjawab
menggunakan sumur, dan 28% dari sumber mata air. Sedangkan pemanfaat swadaya
masyarakat mengaku mendapat air dari sumur (100%).
Klasifikasi pengukuran jarak
dibagi dalam empat kelompok. Yang pertama mewakili jarak lingkungan rumah yaitu
kurang dari dan sama dengan 10 meter. Yang kedua lebih besar dari 10 meter
sampai dengan 500 meter, yaitu lingkup lingkungan antar rumah (biasa
diistilahkan sebagai lingkup Rukun Tetangga (RT). Kemudian jarak sumber air
dengan rumah tangga sejauh 500 meter sampai 1000 meter. Dan terakhir kelompok
jarak di atas 1000 meter.
Program Pamsimas, menurut
masyarakat penerima manfaat sebagian besar berada pada jarak kurang dari 500
meter. Sebesar 95% responden memiliki jarak kurang dari 500 meter ke sumber air
pamsimas dari rumah mereka. Sebagian kecil masih berada lebih dari 500 meter,
akan tetapi sudah terdapat 35% masyarakat responden yang mendapat air Pamsimas
dari jarak kurang dari 10 meter
(gambar 2).
Gambar 2. Jarak sumber air.
Hasil
penelitian mengenai jarak sumber air dengan penyedia air menemukan tingkat
signifikansi yang sangat erat. Nilai signifikansi hampir mencapai 100% (99,5%).
Bagi Program Pamsimas, hal ini menunjukkan keberhasilan program, yaitu untuk
mendekatkan sumber air ke penerima manfaat.
Tingkat signifikansi
hubungan antara penyedia air dengan jarak sumber air ke rumah, dapat memberikan
petunjuk karakter penyedia air. Pertama desain Pamsimas yang menyediakan air
dalam hubungannya dengan pengembangan komunitas, sehingga berada pada lingkup
antara 10 sampai 500 meter dari rumah. Untuk sumber air dari PDAM sifatnya per
rumah, sambungannya biasa disebut sambungan rumah, sehingga jaraknya berada
pada lingkup 10 meter. Demikian juga untuk swadaya rumah tangga, yang berupa
sumur ada pada lingkup yang sama. Untuk swadaya masyarakat, dominasi pengguna
ada pada jarak yang sama dengan Pamsimas, yaitu pada lingkup 10 sampai 500
meter.
Keberadaan Pamsimas yang
menempatkan hidran umum di lingkup RT, dirasakan manfaatnya terutama di dua
lokasi penelitian, yaitu Kabupaten Banjar dan Tasikmalaya. Di Awang Bangkal
Barat, Kabupaten Banjar sebelum ada air dari program Pamsimas, masyarakat harus
mengumpulkan air jauh dari rumah mereka beberapa kilometer melewati hutan.
Sedangkan di Tasikmalaya, keberadaan air Pamsimas di sekitar lingkungan rumah
juga memberikan manfaat lebih, terutama karena di lokasi penelitian kondisi
geografis permukiman yang kurang baik dan belum mudah untuk dapat dicapai,
karena jalan menuju permukiman yang belum baik.
Air
Pamsimas menurut responden penelitian, dapat digunakan selama 24 jam sehari.
Sebanyak 95% responden menyatakan hal ini. Sumber air lainnya secara umum juga memiliki
kemampuan untuk menyediakan air secara berkesinambungan dalam 24 jam sehari.
Hanya saja sumber air dari PDAM yang belum dapat secara berkesinambungan
menyediakan air 24 jam sehari di lokasi penelitian. Berturut – turut dari yang
terbaik, menurut kemampuan menyediakan air selama 24 jam adalah pertama dari
swadaya masyarakat, Pamsimas, swadaya rumah tangga dan terakhir dari PDAM (tabel 5).
Dari hasil uji korelasi
ditemukan bahwa tidak terdapat signifikansi hubungan antara penyedia air dengan
kemampuan penyediaan air selama 24 jam, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa
kemampuan penyediaan air selama 24 jam tidak tergantung dari instansi penyedia
jasa, tetapi lebih pada ketersediaan sumber air, lokasi sumber dan penerima
manfaat dan kondisi geografi, dan iklim.
|
Tabel 5. Layanan air bersih 24 jam. |
||||||
|
Pengguna |
Layanan Air Bersih Tersebut
Dipergunakan 24 jam Sehari |
Total |
|||
|
Iya |
Tidak |
||||
|
Pemerintah Pusat
(PAMSIMAS) |
47.9% |
Count |
115
|
8 |
123 |
|
% |
93.5%
|
6.5%
|
100.0%
|
||
|
Pemerintah Daerah (PDAM) |
4.7% |
Count |
6 |
6 |
12 |
|
% |
50.0%
|
50.0%
|
100.0%
|
||
|
Swadaya Masyarakat |
24.9% |
Count |
61 |
3 |
64 |
|
% |
95.3%
|
4.7%
|
100.0%
|
||
|
Swadaya Rumah Tangga |
14.0% |
Count |
27 |
8 |
36 |
|
% |
75.0%
|
22.2%
|
100.0%
|
||
|
Pamsimas dan swadaya rumah
tangga |
0.4% |
Count |
1 |
0 |
1 |
|
% |
100.0%
|
.0%
|
100.0%
|
||
|
PDAM dan swadaya rumah
tangga |
8.2% |
Count |
21 |
0 |
21 |
|
% |
100.0%
|
.0%
|
100.0%
|
||
|
|
231
|
25 |
257
|
||
|
89.9%
|
9.7%
|
100.0%
|
|||
Di
lokasi penelitian Kota Kupang di mana permintaan air terhadap PDAM yang tinggi,
karena kurang banyaknya sumber air yang didapatkan oleh masyarakat, sering
terkendala adanya pematian sumber listrik dari PLN. Pemutusan sumber listrik
dari PLN seringkali juga menyebabkan matinya aliran air yang didapat dari PDAM.
Di dua lokasi penelitian di Kota Kupang, sumber air di Hidran Umum Pamsimas
berasal dari aliran air PDAM. Untuk air Pamsimas, dari sumber air PDAM, dapat
menyediakan air 24 jam, oleh karena sudah terlebih dahulu ditampung di hidran
umum, pada saat air mengalir atau tidak terkendala pemadaman listrik.
Dari
persepsi responden pengguna air Pamsimas, diketahui bahwa kebutuhan masyarakat
akan air bersih bagi konsumsi rumah tangga telah dapat dicukupi. Dari hasil
pertanyaan mengenai jumlah air yang dikumpulkan per harinya, jawaban terbesar
adalah mengumpulkan air sebesar 80-100 liter untuk keperluan primer dan 20
liter untuk keperluan sekunder. Jawaban lain juga memberi gambaran bahwa
responden mengumpulkan air secukupnya menurut ukuran kebutuhan mereka.
Tidak hanya dari program
Pamsimas persepsi kecukupan air dari responden penerima manfaat, responden
pengguna air PDAM, swadaya masyarakat dan swadaya rumah tangga pun menyatakan
kecukupan mereka akan air yang disediakan. Kondisi ini dapat dibaca sebagai
kebutuhan primer akan air, menyebabkan segala upaya dilakukan untuk dapat
mencukupinya. Halangan berupa jarak, waktu, biaya akan dikalahkan untuk
memenuhi kebutuhan ini. Ditinjau dari kekuatan hubungan korelasi, alokasi
kecukupan air kaitannya dengan penyedia air, berada pada posisi signifikan
dengan tingkat kepercayaan 95%. Hal ini menunjukkan bahwa semua bentuk pilihan
penyediaan air harus dapat mencukupi kebutuhan dari konsumen, karena jika tidak
maka konsumen akan mencari bentuk penyediaan air lainnya.
Jika kuantitas penyediaan
air, oleh masyarakat pemanfaatan dirasakan cukup memenuhi, kondisi kualitas air
yang digunakan cenderung relatif baik. Kondisi ini dimiliki oleh semua instansi
penyedia air di lokasi penelitian. Hal ini juga menjadi bukti bahwa kebutuhan
akan air, diikuti dengan kebutuhan akan kuantitas dan kualitas air standar yang
diperlukan untuk konsumsi.
Aspek selanjunya dari
pemanfaatan air ialah, kondisi ketersediaan, jumlah dan mutu air berdasarkan
musim. Kondisi negara Indonesia dengan dua musim, menciptakan perbedaan sumber
air di musim kemarau.Pada aspek ini dapat terlihat keunggulan dari Pamsimas,
yang menggunakan survey sumber air untuk dapat menyuplai Hidran Umum yang
terbangun. Akan tetapi untuk menjadi catatan, di beberapa titik survey (di
Kabupaten Tasikmalaya), peneliti menemukan lokasi Pamsimas yang belum melewati
kondisi kemarau, karena infrastruktur Pamsimas yang baru jadi beberapa bulan.
Hal ini sedikit banyak berpengaruh terhadap jawaban, walau kemudian responden
memberikan perkiraan mereka, peneliti dapat setuju karena di titik tersebut air
di dapat dari sumber mata air.
Jawaban responden
masyarakat, secara umum menyatakan ada pengaruh perbedaan musim terhadap
kemampuan penyedia air memberikan jumlah dan mutu air bersih. Pemakai Pamsimas
dengan jawaban tidak terdapat perbedaan antara musim kemarau dan penghujan,
dalamketersediaan mutu dan jumlah air, memiliki prosentase jawaban yang tidak
begitu dominan. Prosentase respoden yang menjawab sama adalah 60% sedangkan
yang menjawab tidak atau berbeda adalah 40%
(gambar 3).
Urutan daftar penyedia,
mulai dari yang paling tidak terpengaruh terhadap perubahan musim sampai yang
paling terpengaruh adalah sebagai berikut:Pamsimas, swadaya masyarakat, PDAM,
swadaya rumah tangga. Dari analisis korelasi yang dilakukan, ditemukan hasil
bahwa sumber penyedia air berkorelasi dengan perbedaan ketersediaan kuantitas
dan mutu air berdasarkan musim di lokasi penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa
di lokasi penelitian terjadinya musim kemarau menyebabkan penurunan jumlah dan
mutu air bersih yang dapat disediakan oleh program baik itu yang disediakan
oleh Pamsimas, PDAM maupun swadaya masyarakat dan rumah tangga.
Gambar 3. Perbedaan ketersediaan, jumlah, dan mutu air.
Gambaran
kinerja pemanfaatan air dari empat instansi dapat dilihat dalam (tabel 6). Terlihat bahwa Pamsimas
dibanding dengan sumber penyedia jasa lain di lokasi penelitian sudah memiliki
kemampuan yang baik untuk dalam pemanfaatannya. Hanya saja untuk aspek jarak
sumber air, belum dapat mencapai rumah. Sehingga dalam pengembangan ke depan
masih perlu dikembangkan pengurangan jarak dari rumah ke hidran umum terdekat.
|
Tabel 6. Perbandingan kinerja penyedia air bersih. |
|
No. |
Aspek |
Pamsimas
|
PDAM |
Swadaya
RT |
Swadaya
Masy. |
|
1 |
Jaraksumber air |
10-500 meter |
0-10 meter |
0-10 meter |
10-500 meter |
|
2 |
Layanan air 24 jam sehari |
Ya |
Tidak |
Ya |
Ya |
|
3 |
Layananmemenuhi kebutuhan |
Ya |
Ya |
Ya |
Ya |
|
4 |
Kualitas air |
Baik |
Baik |
Baik |
Baik |
|
5 |
Ketersediaanberdasarkan
musim |
Sama (60-40) |
Tidak sama |
Tidak sama |
Tidak sama |
Pemanfaatan
sumber air utama, berdasarkan hasil penelitian digunakan untuk terutama untuk
kepentingan memasak, mandi dan mencuci. Untuk kebutuhan sanitasi, kebersihan
rumah, berkebun dan berternak dapat dimengerti sebagai tidak semua responden
melakukan dengan sumber air utama. Atau tidak melakukan aktifitas berkebun dan
beternak.
Dari penelitian juga
terlihat peran ibu rumah tangga yang besar dalam pengumpulan air untuk
pemanfaatan utama air. Untuk memasak, mandi dan mencuci, sanitasi serta
membersihkan rumah, sebagian besar air dikumpulkan oleh ibu rumah tangga.
Sedangkan untuk kebutuhan berkebun dan beternak air dikumpulkan sebagian besar
oleh suami/kepala rumah tangga. Dengan adanya kemudahan dan jaminan akses air,
akan memberikan manfaat yang lebih kepada ibu rumah tangga atau kaum perempuan,
dalam menyediakan air untuk keperluan seluruh keluarga.
|
Tabel 7. Pengumpulan air bersih. |
|
No. |
Pemanfaatan pengumpulan air |
jumlah |
% |
Keterangan |
|
1 |
Memasak |
256 |
100 |
dikumpulkan
isteri, 79% |
|
2 |
Mandi |
256 |
100 |
dikumpulkan
seluruh keluarga, 84% |
|
3 |
Mencuci |
246 |
96 |
dikumpulkan
isteri, 67% |
|
4 |
Sanitasi |
192 |
75 |
dikumpulkan
isteri, 37% |
|
5 |
Berkebun di halaman |
49 |
19 |
dikumpulkan
suami, 39% |
|
6 |
Beternak |
41 |
16 |
dikumpulkan
suami, 54% |
|
7 |
Membersihkan rumah |
192 |
75 |
dikumpulkan
isteri, 73% |
KESIMPULAN
Kinerja
Pamsimas di lokasi penelitian menurut
perbandingan performa kinerja, dibanding dengan instansi penyedia air bersih
lainnya adalah baik.
Penilaian ini dilihat untuk aspek yang diteliti yaitu jarak sumber air, layanan air 24 jam sehari,
layanan memenuhi kebutuhan, kualitas air dan ketersediaan berdasarkan musim.
Sehingga perlu dikembangkan ke depan program-program penyediaan air yang
berbasis masyarakat, seperti Pamsimas. Jarak
sumber air Pamsimas dapat lebih
didekatkan ke
rumah penerima manfaat dengan upaya swadaya rumah tangga, yaitu menambah jaringan ke rumah,
tanpa mengganggu ketersediaan air untuk umum.
Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan gambaran biaya dan manfaat kepada
konsumen, sehingga mereka mau untuk mengutamakan swadaya dalam memenuhi
kebutuhan sambungan rumah tangga. Kendala musim yang menyebabkan penurunan jumlah dan mutu air, memerlukan solusi sumber air alternatif di musim kemarau, misalnya dengan air laut, air hujan dan upaya melakukan penjernihan. Upaya yang dapat
dilakukan adalah melakukan penyebarluasan teknologi penjernihan air yang sudah
tersedia di lembaga penelitian milik pemerintah maupun swasta. Pengelola
Pamsimas dan masyarakat penerima manfaat perlu lebih tepat menentukan lokasi
hidran umum, sehingga dapat memberikan jaminan akan tersedianya akses air yang tetap baik dari jumlah dan kualitas
kesejahteran keluarga (ibu rumah tangga).
Selain itu perlu terus dilakukan sosialisasi ke (ibu) rumah tangga terkait pola
perilaku konsumsi dan penggunaan air yang tepat untuk meningkatkan kualitas
kesehatan keluarga.
Saran
Penelitian yang dapat dilakukan
selanjutnya berkaitan dengan penilaian terukur terhadap manajemen pengelolaan
Pamsimas dibandingkan dengan instansi penyedia air lainnya, penghitungan biaya
manfaat pemasangan sambungan rumah secara swadaya, analisis lokasi dan
teknologi penjernihan air dan perhitungan tingkat kualitas kesejahteraan dan
kesehatan rumah tangga terhadap jarak akses air minum
Daftar
Pustaka
Chatib, Benny. “Sistem
Penyediaan Air Bersih.” Diklat Tenaga Teknik PAM.Bandung: LPM-ITB, 1996.
Kodoatie, Robert J.
Pengantar Manajemen Infrastruktur. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar, 2003.
Masduqi, Ali, dkk. “Capaian Pelayanan Air Bersih Perdesaan Sesuai
Millennium Development Goals – Studi Kasus di Wilayah DAS Brantas.” Surabaya:
ITS, Jurnal Purifikasi 8 (2) (2007).
Soemarwoto, Otto. “Atur
Diri Sendiri: Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup.” Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, (2001)
_____.“Pedoman Pengelolaan Pamsimas.” Central Project Management Unit, Direktorat
Jenderal Cipta Karya, (2009)
____.”Laporan
Kajian Sosial Ekonomi Pengelolaan Pamsimas, Yogyakarta.” Balai Litbang Sosial
Ekonomi Bidang Permukiman, (2010).
"Sekolah Rakyat dalam Cermin Pengalaman SMK Jawa Tengah"
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------...
-
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------...
-
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------- telah dipresentasikan dalam...
-
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------...