KAJIAN PEMANFAATAN PROGRAM PENYEDIAAN AIR MINUM
DAN SANITASI BERBASIS MASYRAKAT (PAMSIMAS)
DI LINGKUNGAN PERMUKIMAN
THE STUDY OF WATER SUPPLY PROGRAM AND COMMUNITY
BASED SANITATION (PAMSIMAS) UTILIZATION
IN ENVIRONMENTAL SETTLEMENT
Yudha
Pracastino Heston
Balai Penelitian dan Pengembangan Sosial
Ekonomi Bidang Permukiman
Jl.Adisucipto No.165,
Yogyakarta
Email: pracastino@yahoo.com
Abstrak: Program Pamsimas adalah program berbasis
masyarakat, dan pemanfaatan dari
penyediaan air Pamsimas, sangatlah tergantung pada perilaku masyarakat sebagai penerima
manfaat. Demikian sebaliknya, pilihan
penggunaan air jugaakan mempengaruhi perilaku masyarakat dalam kehidupan keseharian.Untuk
melihat bagaimana kinerja
pemanfaatan air bersih dari program Pamsimas, perlu dilakukan pembandingan dengan instansi penyedia air yang lain.Analisis dilakukan dengan
menggunakan statistik deskriptif, tabulasi silang dan korelasi. Dengan
mempertimbangkan 7 aspek yaitu: asal instansi penyedia air bersih, dari mana diperoleh sebagian
besar air bersih yang digunakan, jarak sumber air dengan tempat tinggal, layanan air bersih tersebut
dipergunakan 24 jam sehari, layanan tersebut memenuhi untuk kebutuhan rumah tangga, apakah terdapat perbedaan
ketersediaan, jumlah dan mutu air berdasarkan musim,
dan pemanfaatan pengumpulan air. Dari kajian yang dilakukan terhadap pelaksanaan program Pamsimas di
Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Banjar, dan Kota Kupang, pengelola perlu
mendapat gambaran mengenai perilaku penggunaan air pada masyarakat penerima
manfaat.Kinerja Pamsimas di lokasi penelitian menurut perbandingan performa
kinerja dengan instansi penyedia air bersih lainnya adalah baik.Penilaian ini
dilihat untuk aspek yang diteliti yaitu jarak sumber air, layanan air 24 jam
sehari, layanan memenuhi kebutuhan, kualitas air dan ketersediaan berdasarkan
musim. Sehingga Pengelola Pamsimas dan masyarakat penerima manfaat perlu lebih
tepat menentukan lokasi hidran umum dan menjamin tersedianya akses air yang
tetap baik dari jumlah dan kualitas.
Kata kunci: pemanfaatan, penyediaan, air minum, dan masyarakat.
Abstract: PAMSIMAS program is community-based programs, and utilization of
PAMSIMAS water supply depends heavily on the behavior of society as
beneficiaries. The choice of water use will also affect people's behavior in
daily life. To see how the performance of the utilization of clean water from
PAMSIMAS program, agencies need to do comparisons with other water
providers.Analyses were performed using descriptive statistics, cross
tabulation and correlation. Taking into account the seven aspects: the origin
agency clean water providers, from whence most of the water used, the distance
of water sources with shelter, clean water services are used 24 hours a day,
for such services meet the needs of the household, whether there are
differences in the availability , the number and quality of water based on the
season, and utilization of water collection.From studies conducted on the
implementation of PAMSIMAS in Tasikmalaya District, Banjar District, and Kota
Kupang, managers need to get an idea about the behavior of water use in the
beneficiary communities. PAMSIMAS performance at the study site according to
the performance comparisons with other agencies providers of clean water is
good. This assessment visits to the investigational aspects of the distance of
water sources, water service 24 hours a day, service needs, water quality and
availability based on the season. So the manager PAMSIMAS and beneficiaries
need to more precisely determine the location of public hydrants and ensuring
availability of water remains good access from the quantity and quality.
Keywords: utilization, supply,
drinking water, and community.
PENDAHULUAN
Pemenuhan kebutuhan
akan air bersih, merupakan salah satu indikator
keberlanjutan pembangunan dalam Millenium Development Goals (MDGs).Pemerintah
Indonesia telah mencanangkan untuk dapat memenuhi target MDGs
tersebut sampai tahun 2015. Penyediaan air bersih merupakan bagian target MDG’s yang kesepuluh (Masduqi,
2007). Pemerintah mengharapkan, sebanyak 67,8% penduduk
dapat menikmati akses air bersih. Sementara sampai tahun 2011, menurut Direktur
Bina Program Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum akses pelayanan baru
dirasakan 47% penduduk Indonesia.
Sebagai upaya untuk mewujudkan target tersebut, berbagai
upaya dilakukan, salah satunya dengan mengoptimalkan peran Perusahaan Daerah
Air Minum (PDAM) dan mengembangkan program-program penyediaan air bersih. Salah
satu program pemerintah terkait dengan penyediaan air bersih adalah program Penyediaan Air
Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS).
Pamsimas merupakan program dan aksi nyata pemerintah dan masyarakat dengan
dukungan Bank Dunia (Pamsimas, 2009).
Dari hasil
penelitian yang dilakukan Balai Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi dan
Lingkungan Bidang Permukiman, terdapat dua temuan penting terkait Pamsimas,
yaitu kegiatan pemberdayaan tidak dapat dilaksanakan bersamaan dengan proyek
pembangunan fisik, sehingga perlu disiapkan waktu pada tahun yang berbeda
(prosesnya lebih dahulu dikerjakan, sehingga jika waktu pemberdayaan kurang,
masih ada waktu di tahun pelaksanaan pembangunan fisik). Temuan kedua berkaitan
dengan pengelola, yang perlu memperhatikan ketersediaan sumber air, kualitas
air (fisik, kimia, biologi) dan kuantitas (liter/keluarga) yang disalurkan ke
masyarakat penerima manfaat.
Program Pamsimas adalah program
berbasis masyarakat, dan pemanfaatan dari penyediaan air Pamsimas,
sangatlah tergantung pada perilaku masyarakat sebagai penerima
manfaat. Sehingga pengukuran kinerja dan pemanfaatannya
seharusnya dilihat dari sudut pandang masyarakat.Kajian yang dilakukan
adalah untuk melihat, bagaimana kinerja pemanfaatan air bersih dari
masing-masing instansi, peruntukan pemanfaatan air, dan pelaku pemanfaatan air, dari sudut pandang masyarakat penerima manfaat.
DATA DAN ANALISIS
Penelitian dilakukan dari bulan Februari
2010 sampai Oktober 2010. Populasi penelitian adalah masyarakat penerima
manfaat di kota Kupang, Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Banjar. Besar sampel,
menggunakan kuota per kabupaten/ kota sebesar 64 responden (Sosekkim, 2010).
Pengambilan
sampel dilakukan acak dengan rancangan Cluster
Proportional to Population Size diakukan dengan cara, membagi daerah
Penelitian kabupaten atau kota yang masuk dalam program Pamsimas ke dalam
Klaster Kecamatan yang diambil secara acak, kemudian dari klaster kecamatan
akan diturunkan ke tingkat desa/kelurahan. Menetapkan
jumlah klaster yang akan dipilih atas dasar kesatuan analisis sampel yang
dikehendaki yaitu dari kecamatan ke desa (tabel 1).
Tabel 1. Teknik pengambilan sampel dengan klaster.
Kota Kupang |
Kabupaten Tasikmalaya |
Kabupaten Banjar |
|||
Kecamatan |
Kelurahan |
Kecamatan |
Desa |
Kecamatan |
Desa |
Alak |
Nunbaun Sabu |
Bantarkalong |
Wakap |
Karang Intan |
Awang Bangkal
Barat |
Maulafa |
Naikolan. |
Cigalontang |
Cidugaleun |
Mataraman |
Lok Tamu |
Oebobo |
Liliba |
GN Tanjung |
Cinunjang |
Simpang Empat |
Sungkai Baru |
Menetapkan jumlah sampel tiap desa melalui
proportional to population size dengan menggunakan (rumus 1):
Sehingga ditemukan jumlah sampel per kelurahan/desa
(tabel 2).
Tabel 2. Distribusi jumlah sampel.
|
Kelurahan/Desa |
Jumlah Jiwa |
Jumlah sampel (n) |
Kota Kupang |
Nunbaun Sabu |
142 |
7 |
Naikolan |
399 |
19 |
|
Liliba |
791 |
38 |
|
Kabupaten Tasikmalaya |
Wakap |
512 |
24 |
Cidugaleun |
623 |
30 |
|
Cinunjang |
212 |
10 |
|
Kota Banjar |
Awang Bangkal Barat |
814 |
31 |
Lok Tamu |
463 |
17 |
|
Sungkai Baru |
429 |
16 |
Data
dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, dengan
menggunakan pertanyaan tertutup. Analisis statistik dilakukan terhadap
variabel-variabel penelitian, dengan terlebih dahulu
mengkompilasi data. Analisis terhadap variabel dilakukan dengan:
1)
Distribusi
frekuensi
Dilakukan untuk
memaparkan distribusi frekuensi
dari variabel terpilih, dan kemudian melakukan interpretasi.
2)
Analisis
tabulasi silang
Dilakukan dengan membuat pembandingan antara variabel yang sudah ditentukan.
3)
Korelasi
Dilakukan dengan menggunakan metode Pearson,
dengan tingkat kepercayaan 95%.
Kajian pemanfaatan air dilakukan dengan memperbandingkan
7 aspek penyediaan air bersih, ditambah dengan aspek
pemanfaatan air yang sudah didapatkan (tabel 3).
Tabel 3.
Definisi operasional.
No. |
Aspek |
Keterangan |
1 |
asal instansi penyedia air bersih, |
Pamsimas, PDAM, swadaya masyarakat, swadaya rumah
tangga |
2 |
dari mana diperoleh
sebagian besar air bersih yang digunakan, |
Danau, sumur, kran/hidran umum, air perpipaan, air
dalam kemasan |
3 |
jarak sumber air dengan
tempat tinggal, |
< 10 meter, 10-500 meter, 500-1000 meter, >
1000 meter |
4 |
layanan air bersih
tersebut dipergunakan 24 jam sehari, |
Ya, tidak |
5 |
layanan tersebut memenuhi
untuk kebutuhan rumah tangga, |
Ya, tidak |
6 |
Kualitas air yang diterima
|
Ya, tidak |
7 |
perbedaan ketersediaan
jumlah dan mutu air berdasarkan musim |
Ya, tidak |
8 |
pemanfaatan
pengumpulan air |
Memasak, mandi, mencuci, sanitasi, berkebun di halaman, beternak, membersihkan rumah |
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa hampir 50 %
dari masyarakat penerima manfaat program Pamsimas, menggunakan air yang
disediakan program (tabel 4). Dilihat dari kepentingan program, angka 50% dapat terlihat sebagai
sebuah kekurang tepatan melakukan analisis penerima manfaat. Sebagai sebuah
kebutuhan, air bersih dari Pamsimas dialirkan dari sumber mata air ke hidran
umum, yang dapat dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Sebanyak 121 (seratus dua
puluh satu) keluarga dari 3 lokasi penelitian menggunakan air dari Pamsimas,
melalui hidran umum yang disediakan oleh program. Sedangkan sisanya sebagian
besar memanfaatkan sumur, baik yang diupayakan secara bersama oleh masyarakat,
ataupun diupayakan oleh keluarga.
Tabel 4. Darimana
mendapatkan pelayanan
PAB. |
||
Frequency |
% |
|
Pemerintah Pusat (PAMSIMAS) |
123 |
47.9 |
Pemerintah Daerah (PDAM) |
12 |
4.7 |
Swadaya Masyarakat |
64 |
24.9 |
Swadaya Rumah Tangga |
36 |
14.0 |
Pamsimas dan swadaya rumah tangga |
1 |
0.4 |
PDAM dan swadaya rumah tangga |
21 |
8.2 |
Total |
257 |
100.0 |
Program Pamsimas memang tidak menyediakan air bersih
sampai ke rumah, yang biasa diistilahkan sebagai sambungan rumah, akan tetapi
dari hasil penelitian ditemukan 2 (dua) keluarga dapat memiliki sambungan
rumah. Hal ini dapat dilihat sebagai upaya keluarga tersebut, untuk menyambung
air dari hidran umum dengan pipa atau selang sehingga, air dapat sampai ke
rumah. Hal ini tidak menjadi pelanggaran dari ketentuan program, sejauh tidak
mengurangi kapasitas dan kualitas ketersediaan air bagi keluarga yang lain.
Hasil
analisis korelasi antara penyedia air bersih dan sumber air bersih ditemukan
angka signifikan korelasi 100%, hal ini mengindikasikan bahwa penyedia air
bersih memiliki kesamaan dengan sumber air bersih yang dipilih. Sebagai contoh
program Pamsimas, hampir mutlak masyarakat akan mengambil air dari hidran umum.
Sedangkan untuk swadaya masyarakat dan rumah tangga, hampir pasti menggunakan
sumber air dari sumur.
Penyedia
air bersih, jika ditinjau dari 3(tiga) lokasi penelitian, seperti terlihat pada
(gambar 1). Maka akan terlihat bahwa kota Kupang memiliki variasi paling banyak,
untuk instansi penyedia air bersih. Pulau Timor merupakan daerah yang termasuk
sulit untuk mendapatkan sumber air bersih. Walau demikian di kota Kupang masih
terdapat sumur yang dapat dimanfaatkan oleh keluarga dan tetangga sekitar
sumur. Bahkan di musim kemarau masyarakat harus membeli air dari truk tangki.
Pelaksanaan pekerjaan instalasi air bersih dari program Pamsimas, diperbolehkan
dengan mengumpulkan air dari sumber PDAM dan dimasukkan ke hidran umum, untuk
dapat dimanfaatkan bagi masyarakat. Bagi masyarakat yang sudah memiliki sumber
air bersih, maka tidak perlu bagi mereka memanfaatkan air dari program
Pamsimas.
Gambar 1. Darimana mendapatkan
pelayanan PAB menurut Kota/Kabupaten. |
Di 2
(dua) lokasi penelitian selain Kupang, masyarakat responden belum mendapatkan
akses pelayanan dari PDAM, sehingga program Pamsimas dapat dirasakan
manfaatnya. Walau demikian, terdapat juga masyarakat yang telah memiliki sumber
air berupa sumur.
Dari data tabulasi silang
antar instansi penyedia dan asal air, Pemanfaat Pamsimas sebagian besar (98%),
sesuai dengan sumber air yang didesain dari program, memperoleh air dari kran/
hidran umum. Pemanfaat PDAM berdasarkan penelitian, hanya sebesar 33% yang
menggunakan air perpipaan, bahkan 50% mengaku mendapat air dari air dalam
kemasan, dan 16% dari sumur. Fakta ini menunjukkan bahwa jawaban valid untuk
pemanfaat dari jasa PDAM hanya 33%. Untuk swadaya masyarakat 60% menjawab
menggunakan sumur, dan 28% dari sumber mata air. Sedangkan pemanfaat swadaya
masyarakat mengaku mendapat air dari sumur (100%).
Klasifikasi pengukuran jarak
dibagi dalam empat kelompok. Yang pertama mewakili jarak lingkungan rumah yaitu
kurang dari dan sama dengan 10 meter. Yang kedua lebih besar dari 10 meter
sampai dengan 500 meter, yaitu lingkup lingkungan antar rumah (biasa
diistilahkan sebagai lingkup Rukun Tetangga (RT). Kemudian jarak sumber air
dengan rumah tangga sejauh 500 meter sampai 1000 meter. Dan terakhir kelompok
jarak di atas 1000 meter.
Program Pamsimas, menurut
masyarakat penerima manfaat sebagian besar berada pada jarak kurang dari 500
meter. Sebesar 95% responden memiliki jarak kurang dari 500 meter ke sumber air
pamsimas dari rumah mereka. Sebagian kecil masih berada lebih dari 500 meter,
akan tetapi sudah terdapat 35% masyarakat responden yang mendapat air Pamsimas
dari jarak kurang dari 10 meter
(gambar 2).
Gambar 2. Jarak sumber air.
Hasil
penelitian mengenai jarak sumber air dengan penyedia air menemukan tingkat
signifikansi yang sangat erat. Nilai signifikansi hampir mencapai 100% (99,5%).
Bagi Program Pamsimas, hal ini menunjukkan keberhasilan program, yaitu untuk
mendekatkan sumber air ke penerima manfaat.
Tingkat signifikansi
hubungan antara penyedia air dengan jarak sumber air ke rumah, dapat memberikan
petunjuk karakter penyedia air. Pertama desain Pamsimas yang menyediakan air
dalam hubungannya dengan pengembangan komunitas, sehingga berada pada lingkup
antara 10 sampai 500 meter dari rumah. Untuk sumber air dari PDAM sifatnya per
rumah, sambungannya biasa disebut sambungan rumah, sehingga jaraknya berada
pada lingkup 10 meter. Demikian juga untuk swadaya rumah tangga, yang berupa
sumur ada pada lingkup yang sama. Untuk swadaya masyarakat, dominasi pengguna
ada pada jarak yang sama dengan Pamsimas, yaitu pada lingkup 10 sampai 500
meter.
Keberadaan Pamsimas yang
menempatkan hidran umum di lingkup RT, dirasakan manfaatnya terutama di dua
lokasi penelitian, yaitu Kabupaten Banjar dan Tasikmalaya. Di Awang Bangkal
Barat, Kabupaten Banjar sebelum ada air dari program Pamsimas, masyarakat harus
mengumpulkan air jauh dari rumah mereka beberapa kilometer melewati hutan.
Sedangkan di Tasikmalaya, keberadaan air Pamsimas di sekitar lingkungan rumah
juga memberikan manfaat lebih, terutama karena di lokasi penelitian kondisi
geografis permukiman yang kurang baik dan belum mudah untuk dapat dicapai,
karena jalan menuju permukiman yang belum baik.
Air
Pamsimas menurut responden penelitian, dapat digunakan selama 24 jam sehari.
Sebanyak 95% responden menyatakan hal ini. Sumber air lainnya secara umum juga memiliki
kemampuan untuk menyediakan air secara berkesinambungan dalam 24 jam sehari.
Hanya saja sumber air dari PDAM yang belum dapat secara berkesinambungan
menyediakan air 24 jam sehari di lokasi penelitian. Berturut – turut dari yang
terbaik, menurut kemampuan menyediakan air selama 24 jam adalah pertama dari
swadaya masyarakat, Pamsimas, swadaya rumah tangga dan terakhir dari PDAM (tabel 5).
Dari hasil uji korelasi
ditemukan bahwa tidak terdapat signifikansi hubungan antara penyedia air dengan
kemampuan penyediaan air selama 24 jam, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa
kemampuan penyediaan air selama 24 jam tidak tergantung dari instansi penyedia
jasa, tetapi lebih pada ketersediaan sumber air, lokasi sumber dan penerima
manfaat dan kondisi geografi, dan iklim.
Tabel 5. Layanan air bersih 24 jam. |
||||||
|
Pengguna |
Layanan Air Bersih Tersebut
Dipergunakan 24 jam Sehari |
Total |
|||
|
Iya |
Tidak |
||||
|
Pemerintah Pusat
(PAMSIMAS) |
47.9% |
Count |
115
|
8 |
123 |
|
% |
93.5%
|
6.5%
|
100.0%
|
||
|
Pemerintah Daerah (PDAM) |
4.7% |
Count |
6 |
6 |
12 |
|
% |
50.0%
|
50.0%
|
100.0%
|
||
|
Swadaya Masyarakat |
24.9% |
Count |
61 |
3 |
64 |
|
% |
95.3%
|
4.7%
|
100.0%
|
||
|
Swadaya Rumah Tangga |
14.0% |
Count |
27 |
8 |
36 |
|
% |
75.0%
|
22.2%
|
100.0%
|
||
|
Pamsimas dan swadaya rumah
tangga |
0.4% |
Count |
1 |
0 |
1 |
|
% |
100.0%
|
.0%
|
100.0%
|
||
|
PDAM dan swadaya rumah
tangga |
8.2% |
Count |
21 |
0 |
21 |
|
% |
100.0%
|
.0%
|
100.0%
|
||
|
|
231
|
25 |
257
|
||
|
89.9%
|
9.7%
|
100.0%
|
|||
Di
lokasi penelitian Kota Kupang di mana permintaan air terhadap PDAM yang tinggi,
karena kurang banyaknya sumber air yang didapatkan oleh masyarakat, sering
terkendala adanya pematian sumber listrik dari PLN. Pemutusan sumber listrik
dari PLN seringkali juga menyebabkan matinya aliran air yang didapat dari PDAM.
Di dua lokasi penelitian di Kota Kupang, sumber air di Hidran Umum Pamsimas
berasal dari aliran air PDAM. Untuk air Pamsimas, dari sumber air PDAM, dapat
menyediakan air 24 jam, oleh karena sudah terlebih dahulu ditampung di hidran
umum, pada saat air mengalir atau tidak terkendala pemadaman listrik.
Dari
persepsi responden pengguna air Pamsimas, diketahui bahwa kebutuhan masyarakat
akan air bersih bagi konsumsi rumah tangga telah dapat dicukupi. Dari hasil
pertanyaan mengenai jumlah air yang dikumpulkan per harinya, jawaban terbesar
adalah mengumpulkan air sebesar 80-100 liter untuk keperluan primer dan 20
liter untuk keperluan sekunder. Jawaban lain juga memberi gambaran bahwa
responden mengumpulkan air secukupnya menurut ukuran kebutuhan mereka.
Tidak hanya dari program
Pamsimas persepsi kecukupan air dari responden penerima manfaat, responden
pengguna air PDAM, swadaya masyarakat dan swadaya rumah tangga pun menyatakan
kecukupan mereka akan air yang disediakan. Kondisi ini dapat dibaca sebagai
kebutuhan primer akan air, menyebabkan segala upaya dilakukan untuk dapat
mencukupinya. Halangan berupa jarak, waktu, biaya akan dikalahkan untuk
memenuhi kebutuhan ini. Ditinjau dari kekuatan hubungan korelasi, alokasi
kecukupan air kaitannya dengan penyedia air, berada pada posisi signifikan
dengan tingkat kepercayaan 95%. Hal ini menunjukkan bahwa semua bentuk pilihan
penyediaan air harus dapat mencukupi kebutuhan dari konsumen, karena jika tidak
maka konsumen akan mencari bentuk penyediaan air lainnya.
Jika kuantitas penyediaan
air, oleh masyarakat pemanfaatan dirasakan cukup memenuhi, kondisi kualitas air
yang digunakan cenderung relatif baik. Kondisi ini dimiliki oleh semua instansi
penyedia air di lokasi penelitian. Hal ini juga menjadi bukti bahwa kebutuhan
akan air, diikuti dengan kebutuhan akan kuantitas dan kualitas air standar yang
diperlukan untuk konsumsi.
Aspek selanjunya dari
pemanfaatan air ialah, kondisi ketersediaan, jumlah dan mutu air berdasarkan
musim. Kondisi negara Indonesia dengan dua musim, menciptakan perbedaan sumber
air di musim kemarau.Pada aspek ini dapat terlihat keunggulan dari Pamsimas,
yang menggunakan survey sumber air untuk dapat menyuplai Hidran Umum yang
terbangun. Akan tetapi untuk menjadi catatan, di beberapa titik survey (di
Kabupaten Tasikmalaya), peneliti menemukan lokasi Pamsimas yang belum melewati
kondisi kemarau, karena infrastruktur Pamsimas yang baru jadi beberapa bulan.
Hal ini sedikit banyak berpengaruh terhadap jawaban, walau kemudian responden
memberikan perkiraan mereka, peneliti dapat setuju karena di titik tersebut air
di dapat dari sumber mata air.
Jawaban responden
masyarakat, secara umum menyatakan ada pengaruh perbedaan musim terhadap
kemampuan penyedia air memberikan jumlah dan mutu air bersih. Pemakai Pamsimas
dengan jawaban tidak terdapat perbedaan antara musim kemarau dan penghujan,
dalamketersediaan mutu dan jumlah air, memiliki prosentase jawaban yang tidak
begitu dominan. Prosentase respoden yang menjawab sama adalah 60% sedangkan
yang menjawab tidak atau berbeda adalah 40%
(gambar 3).
Urutan daftar penyedia,
mulai dari yang paling tidak terpengaruh terhadap perubahan musim sampai yang
paling terpengaruh adalah sebagai berikut:Pamsimas, swadaya masyarakat, PDAM,
swadaya rumah tangga. Dari analisis korelasi yang dilakukan, ditemukan hasil
bahwa sumber penyedia air berkorelasi dengan perbedaan ketersediaan kuantitas
dan mutu air berdasarkan musim di lokasi penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa
di lokasi penelitian terjadinya musim kemarau menyebabkan penurunan jumlah dan
mutu air bersih yang dapat disediakan oleh program baik itu yang disediakan
oleh Pamsimas, PDAM maupun swadaya masyarakat dan rumah tangga.
Gambar 3. Perbedaan ketersediaan, jumlah, dan mutu air.
Gambaran
kinerja pemanfaatan air dari empat instansi dapat dilihat dalam (tabel 6). Terlihat bahwa Pamsimas
dibanding dengan sumber penyedia jasa lain di lokasi penelitian sudah memiliki
kemampuan yang baik untuk dalam pemanfaatannya. Hanya saja untuk aspek jarak
sumber air, belum dapat mencapai rumah. Sehingga dalam pengembangan ke depan
masih perlu dikembangkan pengurangan jarak dari rumah ke hidran umum terdekat.
Tabel 6. Perbandingan kinerja penyedia air bersih. |
No. |
Aspek |
Pamsimas
|
PDAM |
Swadaya
RT |
Swadaya
Masy. |
1 |
Jaraksumber air |
10-500 meter |
0-10 meter |
0-10 meter |
10-500 meter |
2 |
Layanan air 24 jam sehari |
Ya |
Tidak |
Ya |
Ya |
3 |
Layananmemenuhi kebutuhan |
Ya |
Ya |
Ya |
Ya |
4 |
Kualitas air |
Baik |
Baik |
Baik |
Baik |
5 |
Ketersediaanberdasarkan
musim |
Sama (60-40) |
Tidak sama |
Tidak sama |
Tidak sama |
Pemanfaatan
sumber air utama, berdasarkan hasil penelitian digunakan untuk terutama untuk
kepentingan memasak, mandi dan mencuci. Untuk kebutuhan sanitasi, kebersihan
rumah, berkebun dan berternak dapat dimengerti sebagai tidak semua responden
melakukan dengan sumber air utama. Atau tidak melakukan aktifitas berkebun dan
beternak.
Dari penelitian juga
terlihat peran ibu rumah tangga yang besar dalam pengumpulan air untuk
pemanfaatan utama air. Untuk memasak, mandi dan mencuci, sanitasi serta
membersihkan rumah, sebagian besar air dikumpulkan oleh ibu rumah tangga.
Sedangkan untuk kebutuhan berkebun dan beternak air dikumpulkan sebagian besar
oleh suami/kepala rumah tangga. Dengan adanya kemudahan dan jaminan akses air,
akan memberikan manfaat yang lebih kepada ibu rumah tangga atau kaum perempuan,
dalam menyediakan air untuk keperluan seluruh keluarga.
Tabel 7. Pengumpulan air bersih. |
No. |
Pemanfaatan pengumpulan air |
jumlah |
% |
Keterangan |
1 |
Memasak |
256 |
100 |
dikumpulkan
isteri, 79% |
2 |
Mandi |
256 |
100 |
dikumpulkan
seluruh keluarga, 84% |
3 |
Mencuci |
246 |
96 |
dikumpulkan
isteri, 67% |
4 |
Sanitasi |
192 |
75 |
dikumpulkan
isteri, 37% |
5 |
Berkebun di halaman |
49 |
19 |
dikumpulkan
suami, 39% |
6 |
Beternak |
41 |
16 |
dikumpulkan
suami, 54% |
7 |
Membersihkan rumah |
192 |
75 |
dikumpulkan
isteri, 73% |
KESIMPULAN
Kinerja
Pamsimas di lokasi penelitian menurut
perbandingan performa kinerja, dibanding dengan instansi penyedia air bersih
lainnya adalah baik.
Penilaian ini dilihat untuk aspek yang diteliti yaitu jarak sumber air, layanan air 24 jam sehari,
layanan memenuhi kebutuhan, kualitas air dan ketersediaan berdasarkan musim.
Sehingga perlu dikembangkan ke depan program-program penyediaan air yang
berbasis masyarakat, seperti Pamsimas. Jarak
sumber air Pamsimas dapat lebih
didekatkan ke
rumah penerima manfaat dengan upaya swadaya rumah tangga, yaitu menambah jaringan ke rumah,
tanpa mengganggu ketersediaan air untuk umum.
Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan gambaran biaya dan manfaat kepada
konsumen, sehingga mereka mau untuk mengutamakan swadaya dalam memenuhi
kebutuhan sambungan rumah tangga. Kendala musim yang menyebabkan penurunan jumlah dan mutu air, memerlukan solusi sumber air alternatif di musim kemarau, misalnya dengan air laut, air hujan dan upaya melakukan penjernihan. Upaya yang dapat
dilakukan adalah melakukan penyebarluasan teknologi penjernihan air yang sudah
tersedia di lembaga penelitian milik pemerintah maupun swasta. Pengelola
Pamsimas dan masyarakat penerima manfaat perlu lebih tepat menentukan lokasi
hidran umum, sehingga dapat memberikan jaminan akan tersedianya akses air yang tetap baik dari jumlah dan kualitas
kesejahteran keluarga (ibu rumah tangga).
Selain itu perlu terus dilakukan sosialisasi ke (ibu) rumah tangga terkait pola
perilaku konsumsi dan penggunaan air yang tepat untuk meningkatkan kualitas
kesehatan keluarga.
Saran
Penelitian yang dapat dilakukan
selanjutnya berkaitan dengan penilaian terukur terhadap manajemen pengelolaan
Pamsimas dibandingkan dengan instansi penyedia air lainnya, penghitungan biaya
manfaat pemasangan sambungan rumah secara swadaya, analisis lokasi dan
teknologi penjernihan air dan perhitungan tingkat kualitas kesejahteraan dan
kesehatan rumah tangga terhadap jarak akses air minum
Daftar
Pustaka
Chatib, Benny. “Sistem
Penyediaan Air Bersih.” Diklat Tenaga Teknik PAM.Bandung: LPM-ITB, 1996.
Kodoatie, Robert J.
Pengantar Manajemen Infrastruktur. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar, 2003.
Masduqi, Ali, dkk. “Capaian Pelayanan Air Bersih Perdesaan Sesuai
Millennium Development Goals – Studi Kasus di Wilayah DAS Brantas.” Surabaya:
ITS, Jurnal Purifikasi 8 (2) (2007).
Soemarwoto, Otto. “Atur
Diri Sendiri: Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup.” Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, (2001)
_____.“Pedoman Pengelolaan Pamsimas.” Central Project Management Unit, Direktorat
Jenderal Cipta Karya, (2009)
____.”Laporan
Kajian Sosial Ekonomi Pengelolaan Pamsimas, Yogyakarta.” Balai Litbang Sosial
Ekonomi Bidang Permukiman, (2010).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar